Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Pertarungan Boneka vs Kekuatan


__ADS_3

Seiring matahari tenggelam, cahaya senja yang merah muda memayungi desa, menciptakan suasana yang dramatis. Namun, suasana ini segera terpotong oleh kedatangan kembali rombongan Sekolah Persilatan Elang Putih. Mereka kembali dengan lebih banyak anggota dan wajah yang lebih serius.


Xian berdiri di tengah alun-alun desa dengan wajah tenang, tetapi dalam hatinya ia merasa cemas. Ia tahu pertarungan tak terhindarkan lagi. Sambil meraih tas bonekanya, ia mengambil napas dalam-dalam.


"Kau memilih jalan yang sulit, Xian," kata pemuda pemimpin Elang Putih dengan suara dingin. "Kali ini, kami tidak akan tertipu dengan trik boneka tanganmu."


"Siapa yang bilang aku akan menggunakan trik?" balas Xian dengan senyum nakal. Dengan cepat, ia mengeluarkan boneka tangan naga dan harimau dari tasnya.


Seorang murid Elang Putih, dengan yakin, melompat maju, menyerang Xian dengan gerakan kungfu cepat. Namun, Xian dengan lincah menggunakan boneka tangan naga untuk 'menyerang' kembali, membuat gerakan kocak yang mirip dengan kungfu. Hasilnya, murid tersebut terjatuh oleh serangan 'naga' tersebut, membuat semua orang terkejut.


"Apakah... Apakah itu kungfu boneka tangan?" gumam salah satu murid Elang Putih dengan mata terbelalak.


Xian tertawa, "Ayo, siapa lagi yang ingin mencoba? Mungkin harimau ini?" Ia menunjukkan boneka tangan harimau dengan ekspresi ganas yang sebenarnya terlihat lucu.


Seorang murid lain bergerak maju, tetapi sebelum bisa menyerang, Xian membuat boneka harimau meniru gerakan khas kungfu Elang Putih. Semua orang, termasuk murid Elang Putih yang menyerang, terdiam, kemudian meledak dalam tawa.


"Ini... ini lucu sekali!" kata murid tersebut sambil tertawa.


Pemuda pemimpin Elang Putih melihat kebingungan di wajah murid-muridnya. "Cukup!" katanya dengan keras. "Kita bukan datang ke sini untuk tertawa!"


Xian, dengan ekspresi serius, menatap pemuda tersebut. "Kalian datang ke sini untuk batu giok, bukan? Tetapi, apa sebenarnya makna batu ini bagi kalian? Kenapa kalian begitu berambisi memilikinya?"


Sejenak, alun-alun desa menjadi hening. Semua orang menunggu jawaban pemuda tersebut. Dengan suara rendah, ia menjawab, "Batu giok tersebut memiliki kekuatan yang bisa meningkatkan kultivasi kami. Kami membutuhkannya untuk melindungi sekolah kami dari ancaman."


Xian mengangguk, "Aku mengerti. Tetapi kekuatan tanpa bijaksana hanya akan menyebabkan kehancuran. Kekuatan sejati datang dari hati, bukan dari batu giok."


Pemuda pemimpin Elang Putih menatap Xian, mata mereka bertemu. Setelah beberapa saat yang terasa lama, ia menghela napas, "Mungkin kau benar, Xian. Kami akan pergi, tetapi ini bukan akhir dari cerita kita."


Xian tersenyum, "Aku tahu. Dan aku siap kapan saja."


Ketika rombongan Elang Putih pergi meninggalkan desa, warga berkerumun mengelilingi Xian, memujinya atas keberaniannya. Namun, Xian hanya tersenyum sambil mengangkat boneka tangan naga dan harimau, "Kreditnya untuk mereka!" ujarnya sambil tertawa.

__ADS_1


Dekap malam menyelimuti desa, dihiasi cahaya bulan purnama yang mencerminkan keperakan pada danau kecil di pinggiran desa. Bayangan pepohonan bambu bergerak-gerak ditiup angin malam, menciptakan suara berdesir halus.


Xian sedang berlatih di tepi danau, ketika ia mendengar suara langkah mendekat. Mengangkat pandangannya, ia melihat seorang pria berusia paruh baya dengan jubah putih, wajahnya tenang namun memiliki aura yang kuat, memberi petunjuk tentang kemampuannya dalam persilatan. Di belakangnya, rombongan murid Sekolah Persilatan Elang Putih mengikuti dengan sikap hormat.


"Apa kau Master Ling?" tanya Xian, memulai percakapan.


Master Ling mengangguk, "Benar. Aku mendengar tentangmu, pemuda dengan boneka tangan."


Xian tersenyum, "Ah, jadi kabar tentangku sudah sampai ke telingamu. Bagaimana perasaanmu melihat murid-muridmu kalah oleh boneka tangan?"


Master Ling tersenyum tipis, "Aku datang ke sini bukan untuk membicarakan kegagalan murid-muridku, melainkan untuk melihat batu giok tersebut dan... mungkin beradu keahlian denganmu."


Xian mengangkat sebelah alisnya, "Beradu keahlian? Dengan boneka?"


Master Ling tertawa pelan, "Tentu saja. Aku ingin merasakan sendiri bagaimana seorang pemuda desa mampu mengalahkan murid-murid terbaikku dengan boneka tangan."


Xian menarik nafas dalam-dalam, "Baiklah. Tetapi kita lakukan dengan cara yang berbeda. Aku menantangmu dalam 'duel' boneka tangan."


Xian mengeluarkan dua boneka dari tasnya, seekor naga dan seekor feniks. "Kau pilih salah satu, dan kita gunakan boneka ini untuk 'bertarung'. Boneka yang jatuh atau rusak lebih dulu, pemiliknya kalah."


Master Ling tersenyum, "Sebuah pertarungan yang unik. Baiklah, aku memilih feniks."


Pertarungan dimulai dengan gerakan boneka yang lincah dan dinamis. Xian dengan piawai menggerakkan naga, membuat serangan-serangan cepat, sementara Master Ling, meski awalnya canggung, cepat menguasai cara menggerakkan feniks dan menyerang balik. Dengan refleksi cepat, keduanya memblokir dan menghindari serangan lawan, membuat penonton terpaku.


Wajah Xian berkonsentrasi penuh, keringat mengucur dari dahinya, sementara Master Ling tampak tenang. Feniks dan naga berputar-putar di udara, kadang bertabrakan, kadang berjarak. Ekspresi mereka, terutama mata mereka, menunjukkan seberapa serius duel ini.


Setelah beradu selama beberapa menit, keduanya sama-sama kelelahan. Xian, dengan napas terengah-engah, berkata, "Kau hebat, Master Ling. Aku belum pernah bertemu lawan sepadan dalam duel boneka tangan seperti ini."


Master Ling tersenyum, "Dan kau, pemuda, benar-benar unik. Aku datang ke sini dengan niat lain, tetapi kini aku merasa puas dengan duel ini. Tentang batu giok... biarkan ia tetap bersamamu. Aku percaya kau akan menggunakan kekuatannya dengan bijaksana."


Xian mengangguk dengan rasa terharu, "Terima kasih, Master Ling. Semoga kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik."

__ADS_1


Master Ling mengangguk, "Semoga demikian," katanya sebelum perlahan berjalan pergi, meninggalkan Xian di tepi danau dengan pikiran-pikirannya dan boneka tangan yang telah memberinya kemenangan yang tidak biasa.


Hari beranjak pagi. Cahaya matahari perlahan menerobos celah-celah pepohonan bambu, menyinari tepi danau tempat Xian dan Master Ling duduk bersebelahan. Suara gemericik air danau dan nyanyian burung menciptakan suasana damai yang kontras dengan ketegangan yang terjadi beberapa saat sebelumnya.


Master Ling memandang ke permukaan danau yang tenang, refleksi dirinya dan Xian tampak jelas. "Xian," katanya pelan, "aku harus mengaku, awalnya aku meremehkanmu. Namun, kemampuanmu bermain dengan boneka tangan itu, dan bagaimana kau memanfaatkannya dalam pertarungan, sungguh mengejutkan."


Xian tersenyum sambil mengangguk, "Terima kasih, Master Ling. Namun, bagi saya, boneka-boneka itu bukan hanya alat pertarungan. Mereka adalah teman, pelarian dari kesendirian."


Master Ling menoleh ke arah Xian, "Kesendirian?"


Xian menarik nafas, "Ya. Sejak kecil, saya ditinggalkan oleh orang tua saya. Boneka-boneka tangan inilah yang menjadi teman saya. Mereka mengajari saya banyak hal, termasuk kungfu."


Master Ling terkejut, "Jadi, itu sebabnya kau mampu mengalahkan murid-muridku dengan boneka tangan? Kau belajar kungfu darinya?"


Xian mengangguk, "Ya, dalam bayangan dan imajinasiku. Mereka menjadi guru dan temanku."


Master Ling tertawa pelan, "Sungguh kisah yang unik. Aku memahami sekarang. Dan... mungkin suatu hari, jika kau mau, kau bisa bergabung dengan Sekolah Persilatan Elang Putih. Kau memiliki potensi yang luar biasa."


Xian memandang Master Ling dengan tajam, "Mungkin. Namun, untuk saat ini, saya ingin tetap di desa ini. Tempat dimana saya tumbuh besar."


Master Ling mengangguk mengerti. "Sebelum aku pergi," katanya, "bisakah kau mengajariku bagaimana membuat dan bermain dengan boneka tangan?"


Xian terkejut namun kemudian tertawa, "Tentu saja, Master Ling!"


Keduanya kemudian berdiri. Xian mengambil selembar kain dan mulai menunjukkan cara memotong dan menjahitnya menjadi boneka tangan. Master Ling mengikuti dengan penuh ketekunan, setiap gerakan tangannya diperhatikan oleh Xian. Setelah selesai, Master Ling menggerakkan boneka tangan buatannya, mencoba menirukan gerakan kungfu. Keduanya tertawa melihat boneka buatan Master Ling yang masih kaku.


"Kau harus berlatih lebih keras, Master Ling!" canda Xian.


Master Ling tertawa, "Ya, tampaknya aku harus!"


Keduanya kemudian duduk kembali di tepi danau, menikmati kebersamaan dan damai yang mereka rasa. Suasana hari itu, dengan matahari yang terus naik dan bayangan pepohonan bambu yang bergerak-gerak, menjadi saksi dari pertemuan dua insan yang berbeda namun memiliki persamaan dalam hati.

__ADS_1


Seiring waktu, Master Ling meninggalkan desa dengan hati penuh rasa hormat terhadap Xian. Keduanya berjanji akan bertemu lagi, dan mungkin, suatu saat, di medan pertarungan yang berbeda. Namun, untuk saat itu, keduanya puas dengan kedamaian yang mereka temukan.


__ADS_2