
Xian duduk di bawah pohon yang rindang, merenungkan pertemuannya dengan Lu Chen dan tawaran yang diajukan. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menciptakan cahaya oranye yang memancar di langit senja.
Dia tahu bahwa keputusan ini akan memengaruhi jalannya ke depan. Bergabung dengan kelompok kultivator yang memiliki tujuan yang serupa dengan filosofinya adalah kesempatan besar. Namun, dia juga memiliki tanggung jawab kepada murid-muridnya di Perguruan Guyon.
Dia memikirkan murid-muridnya yang telah belajar darinya selama bertahun-tahun. Mereka telah tumbuh menjadi kultivator yang kuat, dan dia merasa bangga melihat perkembangan mereka. Namun, apakah dia harus meninggalkan mereka sekarang?
Tiba-tiba, bayangan wajah Mei Mei dan Cin Xiu muncul di pikirannya. Mereka adalah pemimpin Perguruan Guyon sekarang, dan dia percaya mereka akan menjaga filosofi Guyon dengan baik. Xian tahu bahwa dia bisa pergi untuk sementara waktu dan kemudian kembali lagi untuk melanjutkan pengajaran.
Namun, ada juga pertimbangan lain. Xian adalah pribadi yang suka menjelajah dan belajar dari pengalaman. Bergabung dengan kelompok Lu Chen akan memberinya kesempatan untuk bertemu dengan kultivator-kultivator yang berbeda dan memperluas wawasan serta pengetahuannya.
Dengan berat hati, Xian akhirnya membuat keputusan. Dia akan menerima tawaran Lu Chen untuk bergabung dengan kelompok kultivator tersebut. Namun, dia akan memberi tahu Mei Mei dan Cin Xiu tentang rencananya, dan dia akan kembali ke Perguruan Guyon untuk memberi pengarahan dan berbicara dengan murid-muridnya.
Setelah membuat keputusan itu, Xian merasa lega. Dia merasa bahwa ini adalah langkah yang benar untuknya. Dia akan memulai petualangannya yang baru dengan semangat yang sama seperti ketika dia pertama kali meninggalkan desanya.
Malam itu, di bawah langit bintang yang gemilang, Xian merenungkan perjalanan baru yang akan dia jalani. Dia merasa optimis tentang masa depan dan siap untuk menghadapi tantangan apa pun yang akan datang.
Setelah mengambil keputusan untuk menerima tawaran Lu Chen, Xian merencanakan pertemuan dengan Mei Mei dan Cin Xiu untuk memberi tahu mereka tentang rencananya. Dia ingin memastikan bahwa Perguruan Guyon akan tetap kuat dan berlanjut meskipun dia tidak ada di sana.
Pada pagi yang cerah, Xian pergi ke aula utama perguruan. Mei Mei dan Cin Xiu sudah menunggu di sana, duduk di kursi dewan. Mereka tampak serius, tetapi ada sorotan harap di mata mereka saat melihat Xian.
__ADS_1
"Xian, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Cin Xiu dengan penuh perhatian.
Xian tersenyum, "Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu berdua. Aku telah menerima tawaran dari kelompok kultivator yang ingin berbagi filosofi Guyon. Mereka memiliki tujuan yang serupa dengan kita, dan aku merasa ini adalah kesempatan baik untukku."
Mei Mei dan Cin Xiu saling pandang, dan ada keraguan di wajah mereka. Mei Mei akhirnya berbicara, "Tapi Xian, apa artinya ini bagi Perguruan Guyon? Apakah kamu akan pergi begitu saja?"
Xian menggeleng, "Tentu tidak. Aku akan pergi untuk sementara waktu, tapi aku berencana untuk kembali. Kalian berdua adalah pemimpin yang hebat, dan aku percaya kalian dapat menjaga perguruan dengan baik selama aku pergi."
Cin Xiu menambahkan, "Kami berdua akan melakukan yang terbaik untuk menjaga filosofi Guyon tetap hidup di sini. Tapi kami juga ingin kamu tahu bahwa Perguruan Guyon akan selalu menjadi rumahmu, dan pintu selalu terbuka bagimu."
Xian tersenyum lega. "Terima kasih, Mei Mei, Cin Xiu. Kalian adalah keluargaku, dan aku tahu kalian akan menjalankan perguruan dengan baik. Aku akan selalu mengingat ini sebagai rumahku."
Namun, ada satu lagi hal yang perlu dia lakukan sebelum pergi. Dia ingin memberi tahu murid-muridnya tentang kepergiannya dan memberikan mereka semangat dan nasihat terakhir sebelum meninggalkan perguruan untuk sementara waktu.
Setelah berbicara dengan Mei Mei dan Cin Xiu, Xian merasa perlu untuk memberi tahu murid-muridnya tentang kepergiannya. Dia ingin memberi mereka semangat dan nasihat terakhir sebelum meninggalkan perguruan untuk sementara waktu. Pada hari yang telah ditentukan, dia memanggil semua murid ke aula utama.
Aula utama dipenuhi dengan murid-murid yang duduk berderet dengan penuh rasa penasaran. Mereka tahu bahwa Xian memiliki pengumuman penting untuk dibagikan.
Xian berdiri di atas panggung dan melihat ke wajah-wajah muda yang penuh semangat. Dia merasa bangga melihat perkembangan mereka selama ini.
__ADS_1
"Dear murid-muridku," Xian memulai dengan suara yang tenang, "Saya tahu banyak dari kalian telah bekerja keras dan mengikuti ajaran Guyon dengan baik. Kalian adalah generasi yang luar biasa, dan saya sangat bangga menjadi guru kalian."
Sebuah sorotan harap muncul di mata para murid saat mereka mendengar pujian dari guru mereka.
Namun, Xian melanjutkan dengan serius, "Saya memiliki pengumuman yang sulit hari ini. Saya akan pergi untuk sementara waktu. Saya telah menerima tawaran untuk berbagi ajaran Guyon dengan kelompok kultivator lain. Tujuan kami sama, yaitu menyebarkan kebahagiaan dan tawa melalui persilatan."
Para murid terdiam, dan ekspresi kebingungan muncul di wajah-wajah mereka. Xian adalah guru mereka, dan ide bahwa dia akan pergi adalah sesuatu yang sulit diterima.
Xian melihat ke sekeliling aula dan melanjutkan, "Namun, saya percaya pada kalian semua. Mei Mei dan Cin Xiu akan menjadi pemimpin perguruan selama saya pergi, dan saya tahu mereka akan menjaga Guyon tetap hidup di sini. Saya ingin kalian terus berlatih dan berkembang. Jangan pernah lupakan nilai-nilai yang telah saya ajarkan, terutama kegembiraan dan tawa."
Seorang murid berani mengangkat tangan dan bertanya, "Berapa lama Anda akan pergi, Guru Xian?"
Xian menjawab dengan tulus, "Saya tidak tahu pasti, tetapi saya akan kembali. Dan saat itu, saya ingin melihat kalian semua telah menjadi kultivator yang lebih baik."
Setelah pengumuman itu, Xian berbicara dengan setiap murid secara individu. Dia memberikan kata-kata semangat, nasihat, dan bahkan lelucon untuk mengangkat semangat mereka. Meskipun ada kekecewaan karena kepergiannya, murid-murid Guyon merasa terinspirasi dan lebih kuat dalam tekad mereka untuk melanjutkan ajaran Guyon.
Sebagai perpisahan, Xian memberikan kepada setiap murid sepotong batu giok kecil yang memiliki makna khusus dalam ajaran Guyon. Batu giok itu adalah simbol kebahagiaan dan tawa, sesuatu yang mereka harus selalu ingat dan junjung tinggi.
Dalam suasana haru, murid-murid Guyon memberikan Xian tepuk tangan meriah sebagai tanda penghormatan mereka. Meskipun perpisahan itu sulit, mereka tahu bahwa ini adalah langkah yang diperlukan untuk misi lebih besar dalam menyebarkan ajaran Guyon ke dunia luar.
__ADS_1