
Matahari terbit dengan perlahan di langit biru, mewarnai pedesaan dengan cahaya keemasan. Desa kecil tempat Xian tinggal tampak damai dan indah, hamparan hijau yang luas dan pepohonan rindang membentuk lanskap yang mengagumkan. Tapi ketenangan itu hanya sesaat. Di sebuah sudut desa yang sunyi, Xian sedang sibuk mengatur sebuah pesta ulang tahun yang sangat spesial.
Xian adalah seorang pemuda yang suka iseng dan penuh guyon, dan angsa putih peliharaannya, Xiao Fei, adalah sahabat setianya. Hari itu adalah ulang tahun Xiao Fei, dan Xian ingin memberinya pesta yang tak terlupakan. Dia telah memasang tenda, menggantung lentera-lentera warna-warni, dan menyiapkan meja makan dengan makanan-makanan lezat.
"Selamat ulang tahun, Xiao Fei!" kata Xian sambil meraih sayap angsa putih itu dan memberinya kecupan di kepala. Xiao Fei hanya menggelengkan kepala dengan bahagia, seakan-akan dia mengerti kata-kata Xian.
Namun, saat pesta sedang berlangsung dengan meriah, ada suara ribut di langit yang mengganggu keramaian. Semakin dekat, suara itu semakin keras hingga akhirnya terdengar deburan angin yang kuat.
Xian dan Xiao Fei menoleh ke atas, dan mata mereka membulat kaget saat melihat Ratu Siluman muncul dari langit dengan kemilau energi yang mempesona. Ratu Siluman adalah seorang wanita cantik dengan rambut panjang berwarna merah dan mata hijau seperti permata. Dia mengenakan pakaian yang megah dan mengancam.
"Kau, pemuda desa rendahan!" serunya sambil mendarat dengan grasi di tengah pesta. "Aku adalah Ratu Siluman, dan aku datang untuk mengambil kembali batu giokku yang telah kau curi!"
Xian segera mengerti bahwa Ratu Siluman mencari batu giok yang telah dia temukan di tepi sungai. Dia menghela nafas dalam-dalam dan mencoba menjelaskan, "Tidak ada yang mencuri apa pun, Ratu Siluman. Batu giok itu datang kepada saya dengan sendirinya."
Ratu Siluman tidak mendengarkan penjelasan Xian. Dengan marah, dia melancarkan serangan energi yang menghancurkan sebagian besar hiasan pesta. Tapi tiba-tiba, Xiao Fei, si angsa putih, melompat ke tengah-tengah dan memulai tarian aneh yang lucu.
"Kwaak! Kwaak!" Xiao Fei bergerak dengan lincah, menari dengan gemulai di antara serangan-serangan energi Ratu Siluman. Kesenangannya mengundang tawa dari Xian, bahkan dalam situasi yang serius.
Tarian angsa tersebut menarik perhatian Ratu Siluman, yang awalnya marah kini jadi bingung. "Apa yang kau coba lakukan dengan seekor angsa?" tanyanya dengan rasa heran.
Xian tertawa sambil menjawab, "Xiao Fei hanya ingin menghibur, Ratu Siluman. Mungkin kita bisa berbicara dengan tenang dan menyelesaikan masalah ini dengan damai."
Ratu Siluman masih ragu, tapi akhirnya setuju untuk berbicara. Mereka duduk bersama di rerumputan yang tenang, di antara reruntuhan pesta ulang tahun. Angsa putih itu masih menari di belakang mereka, menciptakan suasana ajaib yang lucu.
"Bicaralah, pemuda desa. Tapi aku ingin batu giok itu kembali," kata Ratu Siluman dengan tegas.
Xian menjelaskan kembali asal usul batu giok tersebut dan bagaimana dia tidak sengaja mengaktifkannya. Dia mengakui bahwa dia tidak tahu bagaimana mengembalikannya, bahkan jika dia ingin melakukannya.
Ratu Siluman merenung sejenak, lalu tiba-tiba tertawa. "Aku tidak pernah berpikir aku akan berurusan dengan seorang pemuda desa dan seekor angsa dalam masalah seperti ini. Baiklah, jika kau benar-benar tidak tahu cara mengembalikan batu giok itu, aku akan mencari bantuan dari orang lain."
Xian menghela nafas lega. "Terima kasih, Ratu Siluman. Semoga kau menemukan jawabannya."
Ratu Siluman terbang ke langit dengan keindahan yang anggun, meninggalkan Xian, Xiao Fei, dan reruntuhan pesta ulang tahun. Mereka berdua hanya bisa tertawa melihat kejadian yang tak terduga ini.
"Kwaak! Kwaak!" kata Xiao Fei, seolah-olah dia mengatakan, "Apa pun yang terjadi, kita selalu bisa menemukan kebahagiaan dalam kehidupan kita."
Xian setuju sambil tersenyum. "Benar sekali, Xiao Fei. Hari ini adalah hari yang tak terlupakan, meskipun segalanya berantakan."
Begitulah, mereka berdua merayakan ulang tahun Xiao Fei di tengah-tengah kehancuran yang lucu, dengan tawa dan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Dan meskipun Ratu Siluman muncul sebagai ancaman, mereka belajar bahwa kebahagiaan bisa ditemukan bahkan dalam situasi yang sulit, asalkan mereka bersama.
__ADS_1
Hari itu, Xian dan Ratu Siluman berdiri di tepi danau mistis yang tenang. Air danau berkilauan dengan warna biru kehijauan yang mempesona, dan pepohonan rindang berada di sekitarnya, menciptakan suasana yang damai. Namun, kehadiran kedua kultivator yang kuat mengubah suasana menjadi tegang.
Ratu Siluman memandang Xian dengan tatapan tajam. "Pemuda desa, waktu untuk bermain-main telah berakhir. Sekarang, kita akan menyelesaikan ini."
Xian mengangguk serius. "Baiklah, Ratu Siluman. Mari kita lihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang."
Mereka berdua melangkah ke tengah-tengah danau, berdiri satu sama lain dengan jarak beberapa meter. Angin sepoi-sepoi bertiup, memainkan rambut panjang Ratu Siluman dan mengibaskan jubah Xian.
"Persiapan... Mulai!" seru Xian, dan pertarungan pun dimulai.
Pertama-tama, mereka saling berhadapan dalam serangkaian pertukaran serangan energi. Kilatan cahaya dan dentuman bergemuruh memenuhi udara. Xian dan Ratu Siluman bergerak dengan cepat dan lincah, menghindari serangan-serangan lawan sambil mencoba mencapai satu sama lain.
"Kamu lebih kuat dari yang kubayangkan, pemuda desa," ujar Ratu Siluman sambil tersenyum sinis.
Xian tertawa. "Tidak ada yang bisa menghentikan saya ketika saya bersenang-senang!"
Mereka terus bertarung di tepi danau, menghancurkan pepohonan dan menciptakan riak air yang besar saat serangan-serangan mereka bertabrakan. Gelombang energi terlihat seperti kilatan petir, menerangi langit.
Tiba-tiba, tengah-tengah pertempuran yang sengit, sebuah kelompok bebek liar muncul di langit. Mereka terbang dalam formasi yang teratur, terlihat seperti tanda alamiah yang aneh di tengah kekacauan pertempuran.
Xian dan Ratu Siluman terpaksa menghentikan serangan mereka dan menatap bebek-bebek itu dengan heran. Bebek-bebek itu terus terbang lebih rendah dan lebih rendah, hingga akhirnya mereka mendarat di permukaan air danau dengan lembut.
Xian melihat kesempatan dalam kekacauan ini. Dia dengan cepat mengambil seikat roti dari saku bajunya dan melemparkannya ke arah bebek-bebek itu. Roti-roti tersebut melayang di atas air danau, dan bebek-bebek itu dengan senang hati menyambut makanan tersebut.
Ratu Siluman tidak tahan melihat pemandangan ini dan berhenti sejenak. "Pemuda desa, apa yang kau lakukan?"
Xian tersenyum. "Mungkin kita bisa berhenti sebentar, memberi makan bebek-bebek ini, dan melanjutkan setelahnya. Bagaimana menurutmu?"
Ratu Siluman mengangguk dengan enggan, dan keduanya duduk di tepi danau sambil memberi makan bebek-bebek liar itu. Atmosfer yang sebelumnya tegang sekarang berubah menjadi santai.
"Siapa yang akan menyangka bahwa kita akan berhenti duel karena bebek?" kata Xian dengan candaan.
Ratu Siluman tertawa. "Ini adalah salah satu pertempuran yang paling aneh yang pernah saya alami."
Setelah bebek-bebek itu kenyang, Xian dan Ratu Siluman kembali berdiri di tengah-tengah danau, tetapi suasana sudah berubah. Mereka tidak lagi bertarung dengan kebencian yang sama seperti sebelumnya, dan pertarungan menjadi lebih seperti sebuah ujian kekuatan daripada pertempuran yang kejam.
Mereka saling mengukur, lalu dengan hormat, mereka mengakui satu sama lain sebagai lawan yang kuat. Akhirnya, pertarungan di tepi danau itu berakhir tanpa ada yang kalah.
Ratu Siluman tersenyum. "Kau adalah pemuda yang unik, Xian. Aku pikir aku akan pergi sekarang, tapi ingatlah bahwa batu giok itu masih milikku."
__ADS_1
Xian mengangguk. "Terima kasih, Ratu Siluman. Semoga kita tidak pernah bertemu dalam pertarungan seperti ini lagi."
Ratu Siluman terbang ke langit dan menghilang, meninggalkan Xian di tepi danau yang tenang. Dia tersenyum sambil melihat bebek-bebek liar itu berenang ke arahnya.
Mungkin pertarungan itu tidak selesai dengan keputusan tegas, tapi setidaknya mereka telah menemukan momen kebahagiaan dan kedamaian di tengah-tengahnya. Dan di mata Xian, itu adalah kemenangan tersendiri.
Xian dan Ratu Siluman masih berdiri di tepi danau yang tenang setelah pertempuran yang tidak menentu. Mereka telah mengakui kekuatan masing-masing dan memilih untuk menghindari pertempuran lebih lanjut. Namun, kejutan lain menunggu mereka, sebuah kejadian yang sama sekali tidak terduga.
Tiba-tiba, di tengah-tengah keheningan, sejenis portal muncul dengan tiba-tiba di depan mereka. Portal ini terbuat dari energi berkilauan yang memancarkan cahaya ajaib. Sebelum mereka bisa bereaksi, portal itu menyeret mereka masuk, dan dalam sekejap, mereka berdua tersedot ke dalam dimensi yang sama sekali berbeda.
Mereka mendarat di dalam labirin yang gelap dan misterius. Dinding labirin tampak terbuat dari batu-batu kuno yang tertutup lumut, dan lorong-lorong bercabang menjauh dari titik tempat mereka berdiri. Atmosfer di dalam labirin itu terasa tebal dan menakutkan.
Xian memegang senjatanya dengan hati-hati, sementara Ratu Siluman menempatkan tangan di dekat pemberiannya. Mereka tahu bahwa mereka harus berhati-hati. Labirin ini mungkin penuh dengan bahaya yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
"Pertama-tama, kita harus mencoba mencari jalan keluar dari sini," kata Xian sambil mencoba tetap tenang.
Ratu Siluman mengangguk, dan mereka memasuki salah satu lorong yang tampaknya lebih terang daripada yang lain. Mereka berjalan dengan hati-hati, mencoba menghindari jebakan yang mungkin ada di sepanjang jalan.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka tiba di sebuah ruangan yang lebih besar. Di tengah ruangan itu, ada pintu besar yang tampaknya menjadi satu-satunya jalan keluar. Namun, pintu itu terkunci dengan erat, dan tidak ada kunci yang terlihat.
Xian mengamati pintu itu dan mencoba untuk membukanya dengan kekuatannya, tetapi tidak berhasil. "Sepertinya kita harus mencari kunci atau cara lain untuk membuka pintu ini," katanya.
Ratu Siluman menyetujui dan mereka mulai menyelidiki ruangan itu. Mereka mencari di sekitar, mencoba untuk menemukan petunjuk atau kunci yang mungkin tersembunyi di tempat itu. Tapi tiba-tiba, Xian melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
Di sudut ruangan, ada sebuah panel dinding yang tampaknya dapat diputar. Ketika Xian mencoba memutarnya, sebuah bagian dari dinding terbuka dan mengungkapkan ruangan tersembunyi di baliknya. Di ruangan tersebut, terdapat lantai yang dilapisi dengan pola-pola yang aneh.
Ratu Siluman mendekati lantai itu dan melihat dengan lebih cermat. "Ini adalah teka-teki," katanya. "Kita harus menyelesaikan teka-teki ini agar pintu terbuka."
Xian dan Ratu Siluman mulai memeriksa pola-pola di lantai dan mencoba mengidentifikasi pola pergerakan yang benar. Setiap kali mereka salah, dinding di sekitar mereka akan bergetar dan suara terkikik aneh terdengar.
Mereka mencoba beberapa kombinasi berbeda, tetapi semuanya salah. Akhirnya, mereka mendekati satu pola yang tampaknya benar, tetapi itu memerlukan gerakan berpasangan. Mereka berdua saling beradu tatapan, seolah-olah mencoba mengerti apa yang harus mereka lakukan.
Lalu, dengan malu-malu, mereka memulai gerakan bersama, mengikuti pola pergerakan di lantai. Gerakan mereka agak canggung pada awalnya, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka mulai bergerak dengan lebih lancar.
Mereka menari bersama di lantai labirin ajaib itu, mengikuti irama yang telah mereka temukan. Mereka tertawa terbahak-bahak saat melihat satu sama lain menari dengan canggung. Tarian mereka semakin akrab, dan dengan tiba-tiba, pintu besar di depan mereka terbuka dengan lembut.
Mereka berhenti menari dan saling menatap dengan senyum. "Tarian kita berhasil membuka pintu," kata Xian dengan gembira.
Ratu Siluman mengangguk. "Kita berhasil melalui teka-teki ini bersama-sama."
__ADS_1
Mereka melangkah keluar dari ruangan tersebut dan melanjutkan perjalanan mereka melalui labirin. Meskipun petualangan ini telah membawa mereka ke tempat yang aneh dan penuh bahaya, mereka telah menemukan momen kebersamaan dan kebahagiaan yang tak terduga. Dan dengan tekad yang lebih kuat, mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari jalan keluar dari labirin yang misterius ini.