
Kekuatan artefak yang telah mereka aktivasi membawa perubahan signifikan dalam kekuatan kelompok Qinglian. Namun, seperti yang Mei Mei peringatkan, dengan kekuatan besar datanglah tanggung jawab besar. Mereka sekarang harus belajar mengendalikan kekuatan ini dengan bijak dan menjalani ujian yang lebih besar daripada sebelumnya.
Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menjalani pelatihan yang lebih intensif, memanfaatkan kekuatan artefak untuk meningkatkan kemampuan bertarung mereka. Mereka menghadapi rintangan-rintangan yang datang dari kekuatan artefak itu sendiri, yang terkadang tampaknya sulit dikendalikan. Gerakan energi yang kuat kadang-kadang membuat mereka hampir kehilangan kendali.
Suasana di perguruan Qinglian menjadi lebih tegang ketika kekuatan mereka semakin kuat. Namun, mereka terus berlatih dan saling mendukung. Percakapan mereka sering kali mengenai bagaimana mereka harus menggunakan kekuatan mereka untuk kebaikan dan bagaimana menjaga keseimbangan dalam kultivasi mereka.
Tetapi bahaya dan tantangan sejati datang ketika mereka menghadapi makhluk-makhluk rohaniah yang ada di sekitar perguruan Qinglian. Makhluk-makhluk itu muncul secara tiba-tiba, seolah-olah mereka merasa terancam oleh kekuatan kelompok Qinglian. Mereka harus berhadapan dengan serangan yang tak terduga dan mencari cara untuk mengendalikan dan menaklukkan makhluk-makhluk ini.
Salah satu makhluk yang paling menakutkan adalah Naga Roh, makhluk yang sangat kuat dan bijaksana. Naga Roh tersebut muncul dalam wujud yang indah dan menakjubkan, tetapi kekuatannya sangat besar. Xian dan kelompoknya harus bekerja sama dengan penuh tekad untuk menghadapi Naga Roh ini dan meyakinkannya bahwa mereka tidak bermaksud merusak keharmonisan alam.
Di luar jalur cerita utama, Cin Xiu, yang selalu humoris, membuat guyonan tentang bagaimana mereka harus berhati-hati agar tidak terlalu ceroboh atau "terlalu pintar" dalam menghadapi bahaya. Namun, mereka juga menyadari bahwa bahaya yang mereka hadapi serius dan memerlukan kewaspadaan maksimal.
Selama waktu ini, kelompok Qinglian tidak hanya menghadapi bahaya fisik, tetapi juga menghadapi ujian dalam memahami diri mereka sendiri dan kekuatan mereka. Mereka harus belajar untuk mengendalikan emosi mereka dan menjaga keseimbangan dalam kultivasi mereka.
Dalam serangkaian pertempuran dan pelatihan yang sengit, mereka mulai merasa semakin kuat dan siap menghadapi apa pun yang akan datang. Mereka menyadari bahwa mereka telah memasuki fase baru dalam perjalanan kultivasi mereka dan bahwa tantangan dan bahaya adalah bagian dari proses menjadi lebih kuat dan bijaksana. Dengan tekad dan persahabatan yang kokoh, mereka siap menghadapi semua yang akan datang.
Suasana di perguruan Qinglian tetap tegang ketika Xian dan kelompoknya terus menjalani pelatihan intensif untuk mengendalikan kekuatan artefak dan menghadapi makhluk-makhluk rohaniah yang datang menguji mereka. Setelah sebelumnya berhasil menghadapi beberapa makhluk roh yang kuat, Cin Xiu mulai merasa tertarik untuk mencoba obat Salbutamol yang mereka temukan bersama artefak misterius.
Cin Xiu adalah salah satu anggota kelompok yang selalu memiliki sifat humoris dan suka mencoba hal-hal baru. Setelah berkali-kali melihat obat itu, rasa ingin tahunya semakin besar, dan akhirnya, dia memutuskan untuk mencoba obat tersebut. Dia melaporkan kepada Xian dan Mei Mei bahwa dia ingin mengetahui apakah obat itu dapat memberikan kekuatan tambahan yang berguna dalam pertarungan.
Xian dan Mei Mei merasa waspada, tetapi mereka juga ingin tahu apa efek dari obat tersebut. Mereka memutuskan untuk mengawasi Cin Xiu dengan cermat saat dia mencoba obat itu.
Malamnya, di dalam ruang pertemuan yang sepi, Cin Xiu duduk dengan wajah antusias. Dia memegang obat Salbutamol di tangannya dan berkata, "Baiklah, mari kita lihat apa yang obat ini bisa lakukan."
__ADS_1
Dia menelan obat tersebut dengan hati-hati dan kemudian duduk dalam meditasi untuk merasakan efeknya. Suasana ruangan menjadi hening, hanya dihiasi oleh suara napas Cin Xiu yang tenang.
Beberapa saat kemudian, Cin Xiu mulai merasakan perubahan di dalam dirinya. Rasanya seolah-olah energi tambahan telah mengalir ke dalam dirinya. Matanya bersinar, dan dia merasa lebih kuat. Dia mulai menggerakkan tangan dan kaki dengan cepat, menguji reaksi tubuhnya terhadap obat tersebut.
Xian dan Mei Mei melihat dengan kagum bagaimana Cin Xiu tampak lebih cepat dan lebih kuat dalam gerakan-gerakannya. Mereka bisa merasakan kekuatan tambahan yang diberikan oleh obat itu.
Namun, ketika percobaan berlanjut, Cin Xiu mulai merasakan efek samping yang tidak diinginkan. Jantungnya berdebar lebih cepat, dan dia merasa sedikit kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Matanya mulai memudar, dan dia terengah-engah.
Xian dan Mei Mei melihat tanda-tanda bahwa obat tersebut memiliki efek yang berlebihan pada tubuh Cin Xiu. Mereka segera mendekati Cin Xiu dan mencoba membantu mengendalikan keadaannya.
"Cin Xiu, tarik nafas dalam-dalam," kata Xian dengan suara tenang. "Cobalah mengendalikan energi dalam dirimu."
Cin Xiu mencoba mengikuti nasihat Xian dan mulai fokus pada pernapasannya. Dia mencoba meredakan kegelisahannya dan mengembalikan keseimbangan energi dalam dirinya.
Cin Xiu dengan susah payah meredakan keadaannya, dan lambat laun, efek obat mulai mereda. Dia merasa lelah dan letih, tetapi setidaknya dia sudah berhasil mengendalikan dirinya sendiri.
Setelah kejadian itu, Cin Xiu menghela nafas dalam-dalam dan berkata, "Saya rasa kita sudah belajar pelajaran yang berharga. Kekuatan tambahan dari obat ini mungkin memang kuat, tetapi kita harus sangat berhati-hati dalam menggunakannya. Efek sampingnya bisa berbahaya."
Xian dan Mei Mei mengangguk setuju. Mereka merasa bersyukur bahwa Cin Xiu berhasil mengendalikan dirinya sendiri, dan mereka semua merasa lebih bijak dalam menghadapi kekuatan dan potensi yang mereka miliki.
Malam itu, mereka semua duduk bersama di taman perguruan, mengobrol tentang pengalaman Cin Xiu dan apa yang telah mereka pelajari. Mereka merasa lebih dekat satu sama lain dan siap untuk menghadapi masa depan dengan tekad yang lebih kuat. Dalam petualangan dan pelatihan mereka, mereka belajar bahwa kekuatan sejati adalah mengendalikan diri sendiri dan menggunakan kekuatan dengan bijak.
Ketegangan masih terasa di perguruan Qinglian ketika Xian dan kelompoknya terus berupaya untuk mengatasi rintangan yang datang bersama dengan kekuatan artefak. Mereka merasa perlu untuk menemukan petunjuk yang lebih dalam tentang bagaimana mengendalikan kekuatan tersebut dengan bijak. Salah satu petualangan mereka membawa mereka ke dalam hutan yang sangat lebat, tempat mereka bertemu dengan seseorang yang tidak biasa.
__ADS_1
Pagi itu, Xian dan kelompoknya memasuki hutan dengan harapan menemukan petunjuk yang lebih dalam tentang kekuatan artefak. Mereka berjalan melalui hutan yang lebat dengan dedaunan hijau dan suara burung yang riuh-rendah. Tapi, semakin dalam mereka masuk, semakin tebal rimbunnya hutan, hingga matahari tidak dapat tembus lagi. Mereka merasa seolah-olah berada di dunia yang berbeda.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang pelan terdengar di belakang mereka. Mereka berhenti dan berbalik, hanya untuk melihat seorang tua yang mengenakan jubah hijau. Wajahnya keriput dan matanya memancarkan kebijakan.
Xian mendekati orang tua itu dengan penuh hormat dan bertanya, "Siapa Anda, Tuan?"
Orang tua itu tersenyum dan menjawab dengan suara lembut, "Saya adalah Teke-Teke, seorang pendeta tua yang telah hidup di hutan ini selama bertahun-tahun. Saya melihat bahwa Anda mencari petunjuk tentang kekuatan yang Anda bawa. Ikuti saya, dan saya akan memberikan Anda pelajaran yang Anda butuhkan."
Dengan penuh rasa ingin tahu dan hormat, Xian dan kelompoknya mengikuti Teke-Teke lebih dalam ke dalam hutan. Mereka merasa seperti mengikuti seorang guru yang bijaksana, siap menerima pengetahuan yang akan diajarkan.
Setelah beberapa jam berjalan, mereka tiba di sebuah tempat yang sangat indah. Di sana terdapat sebuah danau kecil yang tenang dengan air yang jernih, dikelilingi oleh pepohonan hijau dan bunga-bunga yang mekar. Suasana tenang dan damai seolah-olah memenuhi seluruh tempat itu.
Teke-Teke duduk di samping danau dan memandang mereka dengan penuh makna. "Inilah tempat yang tepat untuk belajar tentang kultivasi dan kekuatan yang Anda bawa," kata Teke-Teke.
Dia kemudian mulai mengajarkan mereka tentang hubungan antara kekuatan alam dan kultivasi. Dia mengungkapkan bahwa artefak yang mereka temukan memiliki keterkaitan yang dalam dengan roh hutan, yang dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana mengendalikan kekuatannya dengan bijak.
Teke-Teke kemudian meminta mereka untuk duduk di sekitar danau dan bermeditasi. Dia mengajarkan mereka cara menghubungkan diri mereka dengan alam, mendengarkan suara angin, air, dan alam sekitar. Mereka merasa energi alam mulai mengalir ke dalam diri mereka, memberikan rasa kedamaian yang mendalam.
Selama berjam-jam, mereka mengikuti pelajaran Teke-Teke dengan penuh kesungguhan. Mereka merasa bahwa mereka semakin dekat dengan alam dan semakin memahami bagaimana mengendalikan kekuatan mereka dengan bijak.
Saat matahari mulai tenggelam di langit, Teke-Teke berkata, "Kekuatan alam adalah bagian dari diri kita. Kita harus menghormati dan menjaga keseimbangan dengan alam. Kekuatan yang Anda bawa adalah anugerah, dan Anda harus menggunakan kekuatan itu untuk kebaikan, bukan untuk diri sendiri."
Xian dan kelompoknya merasa terinspirasi oleh pelajaran Teke-Teke. Mereka menyadari bahwa kultivasi adalah tentang lebih dari sekadar kekuatan fisik, tetapi juga tentang pengertian dan keseimbangan dengan alam.
__ADS_1
Mereka meninggalkan hutan dengan hati yang ringan dan tekad yang lebih kuat. Mereka merasa bahwa mereka telah belajar pelajaran yang berharga dan siap untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dalam perjalanan kultivasi mereka. Dengan kebijaksanaan Teke-Teke dan tekad mereka sendiri, mereka yakin bahwa mereka akan mencapai puncak kultivasi mereka dan membawa perdamaian ke seluruh Kerajaan.