
Hari-hari menjelang konfrontasi besar dengan Xue Long semakin dekat, dan perguruan Persilatan Guyon berada dalam suasana yang tegang. Para murid bersiap dengan sangat serius, berlatih dengan keras, dan memahami filosofi Guyon lebih dalam lagi. Di sisi lain, Cin Xiu dan Mei Mei terus berkoordinasi dengan para murid untuk menyusun strategi terbaik.
Namun, tidak selalu ada keadaan tegang di perguruan. Terkadang, ada momen keceriaan yang muncul dari tempat yang tak terduga. Suatu sore, ketika murid-murid sedang istirahat sejenak, salah satu murid, Xiao Ming, menunjukkan bakatnya dalam bermain biola. Dengan gemulai, dia mulai memainkan melodi yang indah.
Suara biola Xiao Ming mengisi ruangan dengan keindahan, dan semua orang di perguruan merasa terpesona. Meskipun mereka berada dalam situasi yang tegang, musik ini memberikan mereka sedikit kenangan kebahagiaan yang lama mereka rasakan.
Tetapi tidak hanya Xiao Ming yang memberikan momen kebahagiaan. Para murid lainnya juga berusaha membantu dalam cara-cara mereka sendiri. Mereka mengumpulkan bahan makanan untuk membuat hidangan lezat dan mengatur pesta kecil untuk menghilangkan stres sejenak.
Pada suatu pagi, ketika semua orang berkumpul untuk sarapan, Lin, salah satu murid yang selalu ceria, mendekati Xian. Dalam tangannya, dia memegang seikat bunga liar yang dia ambil dari hutan di sekitar perguruan.
"Ini untukmu, Guru Xian," kata Lin dengan senyum ceria. "Bunga-bunga ini mewakili keindahan alam dan kebahagiaan yang selalu Anda ajarkan kepada kami."
Xian tersenyum dan menerima bunga-bunga itu. "Terima kasih, Lin. Bunga-bunga ini sangat indah, dan mereka mengingatkan saya pada semangat dan kebahagiaan kalian."
Semakin mendekati hari konfrontasi, persiapan semakin intens. Cin Xiu dan Mei Mei memberikan panduan terakhir kepada para murid, mengevaluasi strategi mereka, dan memastikan semua orang dalam kondisi fisik yang prima. Meskipun tekanan semakin besar, mereka tetap kuat dan bersatu.
Suasana di perguruan berubah menjadi campuran antara ketegangan dan harapan. Semua orang menyadari pentingnya misi mereka dan tekad untuk melindungi warisan Guyon. Mereka mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi mereka siap menghadapinya dengan keberanian dan semangat yang tinggi.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba dengan cepat. Konfrontasi dengan Xue Long semakin mendekat, dan ketegangan di perguruan Persilatan Guyon semakin memuncak. Para murid berkumpul di aula utama, siap untuk menerima instruksi terakhir dari Cin Xiu dan Mei Mei.
__ADS_1
Namun, ada satu yang tidak tahu tentang perencanaan strategi ini. Seorang murid yang berusia 16 tahun, Liang, tampaknya selalu menghindari pelatihan khusus dan pertemuan strategi. Dia dikenal sebagai murid yang cerdik dan lincah tetapi juga kurang sabar.
Suatu malam, ketika semua orang sudah tertidur, Liang keluar dari kamar asrama. Dia memiliki rencana rahasia yang tidak pernah dia bagikan kepada siapa pun. Dia telah menjalin hubungan dengan Xue Long dan berjanji untuk memberikan informasi rahasia tentang rencana perguruan Persilatan Guyon.
Ketika dia tiba di tempat yang telah disepakati dengan Xue Long, dia melihat Xue Long dan beberapa pengikutnya menunggunya. Ekspresi takut dan ragu terpancar di wajah Liang, tetapi dia terus maju.
"Kau membawa informasi yang kita butuhkan?" tanya Xue Long dengan suara serak.
Liang menelan ludahnya, lalu dengan gemetar, dia memberikan selembar kertas yang berisi detail strategi perguruan Persilatan Guyon.
Xue Long melihat kertas itu dengan senyum jahat. "Baik sekali, Liang. Kau telah membantu kami dengan baik."
Kembali ke perguruan, persiapan terus berlanjut, meskipun sekarang mereka tidak menyadari bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Semakin mendekati hari konfrontasi, ketegangan semakin terasa.
Pada suatu pagi, ketika murid-murid tengah berlatih di halaman, Xian merasa ada yang tidak beres. Dia merasa ada yang hilang dalam rencana strategi mereka. Meskipun dia mencoba mencari tahu apa yang salah, dia tidak bisa mendapatkan jawaban yang pasti.
Sementara itu, Liang terus hidup dalam kecemasan dan penyesalan. Dia ingin membatalkan pengkhianatannya, tetapi ketakutan akan kemungkinan bahaya yang akan menimpanya jika dia melakukannya membuatnya ragu.
Kegelapan merajalela di malam hari ketika Cin Xiu duduk sendirian di kamarnya, menggulung sehelai kertas berisi strategi perguruan Persilatan Guyon. Meskipun dia adalah pemimpin perguruan yang bijaksana, ada satu senjata rahasia yang belum pernah dia gunakan, yaitu cambuk sakti yang telah dia pelajari selama bertahun-tahun.
__ADS_1
Cambuk itu adalah cambuk yang tidak biasa. Terbuat dari kulit naga yang langka dan dirancang untuk memanipulasi energi chi dengan sangat presisi. Ini adalah senjata yang sangat berbahaya jika digunakan dengan benar, dan Cin Xiu belum pernah merasa perlu untuk menggunakannya sebelumnya.
Namun, ketika dia memeriksa kertas strategi sekali lagi, dia merasa ada sesuatu yang hilang. Beberapa detail tampaknya tidak masuk akal. Dia menduga bahwa ada pengkhianat di perguruan, tetapi tidak tahu siapa yang bisa dipercaya.
"Cambuk Sakti," gumamnya, memutuskan untuk mencoba senjata itu. Dia mengambil cambuk dari tempat penyimpanannya dan merasakan energi yang kuat mengalir melaluinya. Ini adalah senjata yang mematikan jika digunakan dengan benar, tetapi juga bisa menjadi senjata yang mematikan jika jatuh ke tangan yang salah.
Sementara itu, Mei Mei duduk di teras, merasa cemas. Dia juga merasa ada yang tidak beres dengan rencana strategi perguruan. Dia merasa bahwa Cin Xiu semakin tertekan oleh tekanan untuk memastikan kemenangan perguruan Persilatan Guyon dalam konfrontasi mendatang.
Tiba-tiba, dia mendengar langkah-langkah pelan di belakangnya. Dia berpaling dan melihat Cin Xiu berdiri di sana dengan cambuk sakti di tangannya.
"Cin Xiu, apa yang kau lakukan dengan cambuk itu?" tanya Mei Mei dengan khawatir.
Cin Xiu menatap cambuk itu dengan serius. "Aku merasa ada pengkhianat di perguruan ini, Mei Mei. Aku harus mencari tahu siapa itu, dan jika perlu, aku akan menggunakan cambuk ini untuk melindungi perguruan."
Mei Mei mengangguk, meskipun dia juga merasa cemas tentang penggunaan senjata yang kuat itu. Mereka berdua sama-sama sadar akan bahaya yang mengintai, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka harus melindungi perguruan dan murid-murid mereka.
Cin Xiu memegang cambuk itu dengan erat, siap untuk menghadapi ancaman apa pun yang mungkin mengancam perguruan Persilatan Guyon. Dia adalah pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab, dan dia akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi perguruan dan filosofi tawa yang telah mereka anut selama ini.
Namun, pertarungan mendatang akan menjadi yang paling sulit dan berbahaya yang pernah mereka hadapi.
__ADS_1