Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Duel Memasak


__ADS_3

Pepohonan rimbun menghiasi tepi arena kompetisi memasak yang tiba-tiba muncul di tengah hutan. Daun-daun hijau yang bermain-main dengan cahaya matahari, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di tanah. Di tengah arena, meja panjang dengan peralatan memasak telah tersedia, menunggu kedua kontestan.


Xian mulai dengan langkah pasti, mengeluarkan berbagai bumbu dari desanya. Bumbu-bumbu tersebut tampak sederhana, namun setiap kali Xian membuka satu kemasan, aroma yang kuat dan menggoda segera menyebar. "Ini adalah bumbu warisan desaku," kata Xian sambil menunjukkan seikat rempah berwarna kuning keemasan, "Dikenal dengan nama 'Bumbu Emas', bisa mengubah masakan biasa menjadi luar biasa."


Ratu Siluman, dengan senyuman percaya diri di wajahnya, mulai mengeluarkan bahan-bahannya. Sebuah kotak kristal bercahaya diletakkannya di atas meja, dan ketika kotak tersebut dibuka, berbagai bahan eksotis muncul. Ada buah berwarna pelangi, daging yang berdenyut-denyut, dan bahan lainnya yang tampak asing di mata Xian.


“Ah, ini adalah salah satu favoritku,” kata Ratu sambil menunjukkan sebatang jamur berwarna ungu dengan titik-titik bercahaya. “Jamur Tertawa, sangat cocok untuk sajian penutup.”


Seorang pelayan Ratu, yang penasaran, tanpa sengaja menyentuh Jamur Tertawa. Dalam sekejap, tawa yang riang mulai terdengar dari mulutnya. Tak lama, tawa itu menular ke pelayan lainnya, lalu menyebar ke seluruh kamp. Tawa riang, tawa geli, hingga tawa terbahak-bahak menggema di seluruh hutan.


Xian, yang awalnya kaget, segera bergabung dalam gelak tawa. “Ah, aku belum pernah tertawa sebebas ini,” katanya sambil menepuk punggung Ratu Siluman.


Ratu Siluman, yang juga ikut tertawa, mencoba berbicara di tengah-tengah tawanya, “Oh, aku lupa memberi tahu! Efek Jamur Tertawa! Tapi jangan khawatir, efeknya hanya beberapa menit.”


Setelah tawa mereda dan kamp kembali tenang, keduanya melanjutkan persiapan. Xian dengan telaten memotong sayuran dan memilih daging terbaik, sementara Ratu Siluman tampak fokus mencampur bahan-bahannya, menciptakan aroma yang kuat dan eksotis.


“Kau benar-benar membuatku penasaran dengan hasil masakanmu,” kata Xian sambil tersenyum pada Ratu Siluman.


Ratu Siluman membalas senyumannya, “Begitu pula aku. Tapi kita lihat saja nanti siapa yang akan menang.”


Mereka kembali fokus pada persiapan masing-masing, namun suasana kini tampak lebih ringan dan penuh tawa. Meski mereka adalah kontestan dalam sebuah kompetisi, namun di balik itu semua, keduanya saling menghormati dan menikmati setiap proses yang mereka lalui.

__ADS_1


Arena yang tadinya dipenuhi tawa, kini kembali serius. Di bawah langit biru yang cerah, dengan angin sepoi-sepoi membawa aroma rempah, kedua kontestan berdiri berhadapan, masing-masing di belakang meja memasak mereka. Penonton mengelilingi arena, menunggu dengan napas tertahan.


Dengan sebuah tiupan sangkakala, kompetisi memasak dimulai.


Xian mulai dengan meracik bumbu rempah untuk sup ayam pedas khas desanya. Gerakan tangannya lincah, menggiling rempah dengan lesung batu, menciptakan pasta yang wangi dan berwarna merah menyala. “Aroma bumbu ini mengingatkanku pada masa kecilku,” Xian bergumam, “Ayahku sering membuatnya saat musim dingin.”


Ratu Siluman dengan tenang mengangkat tangannya, membiarkan energi magis keluar dan berputar di sekitar tangannya. Dengan gerakan anggun, dia menciptakan hidangan mewah yang tampak seperti bintang-bintang berkedip di piring. “Lihatlah, Xian,” Ratu berkata dengan bangga, “Ini adalah 'Langit Bintang', hidangan langka dari kerajaanku.”


Xian mengangguk, kagum. “Itu tampak luar biasa, tapi rasa lebih penting daripada tampilan.”


Salah satu hidangan yang paling menonjol dari Xian adalah sup ayam pedas. Aroma sup tersebut begitu kuat dan menggoda, namun ada sesuatu yang Xian lupakan. Dia terlalu banyak menambahkan cabai. Beberapa penjaga yang tidak sabar, mencoba sup tersebut dan seketika wajah mereka memerah, berlari-lari mencari air sambil menari-nari karena kepedasannya.


“Hahaha, sepertinya supmu terlalu pedas, Xian,” Ratu Siluman tertawa sambil memandang para penjaga yang kebingungan.


Dengan anggun, Ratu mencicipi sup tersebut. Untuk beberapa detik, ekspresinya tidak berubah. Namun tiba-tiba, air mata mengalir dari matanya. “Ini...” Ratu mencari kata-kata, “ini benar-benar pedas, tapi enak!”


Keduanya tertawa, menikmati momen tersebut. Meski kompetisi, keduanya saling menghormati dan saling belajar dari yang lain.


Seiring waktu berjalan, kedua kontestan terus memasak, menciptakan hidangan demi hidangan yang memikat. Xian dengan cara tradisionalnya, mengingatkan pada kehangatan rumah dan kenangan masa lalu. Ratu Siluman dengan sihirnya, menciptakan hidangan yang tampak seperti mimpi dan penuh keajaiban.


Saat matahari mulai terbenam, kompetisi memasak pun berakhir. Keduanya berdiri di tengah arena, menunggu keputusan.

__ADS_1


Namun, terlepas dari siapa pemenangnya, keduanya telah memenangkan hati penonton dan satu sama lain dengan hidangan-hidangan mereka. Dan lebih dari itu, mereka telah membagikan kenangan dan tawa di hari yang tak akan pernah mereka lupakan.


Matahari perlahan-lahan tenggelam di cakrawala, mengecat langit dengan gradasi oranye dan ungu. Di tengah arena, dua meja panjang berjejer dengan aneka hidangan yang mengundang selera. Di satu sisi, hidangan mewah yang cemerlang seperti permata berkilauan dibuat dengan sihir oleh Ratu Siluman. Di sisi lain, hidangan tradisional yang sederhana namun penuh dengan kenangan dan rasa rumah oleh Xian.


Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Seorang hakim yang ditunjuk mendekati meja dan mencicipi makanan dari kedua kontestan. Penonton menahan napas, penasaran dengan keputusannya.


Setelah mencoba semua hidangan, hakim mengambil napas dalam-dalam dan berkata, “Kedua kontestan telah memberikan yang terbaik. Hidangan Ratu Siluman memukau mata dan menggoda indera, sedangkan hidangan Xian membangkitkan kenangan dan menenangkan hati.”


Semua orang menunggu dalam ketegangan. Hakim kemudian melanjutkan, “Namun, pemenang dari kompetisi memasak ini adalah... Xian!”


Sebuah tepuk tangan meriah pecah di arena. Xian, dengan mata berbinar, menunjukkan rasa syukurnya dengan membungkuk rendah.


Ratu Siluman tersenyum tipis, wajahnya menunjukkan kekaguman sekaligus kekecewaan. "Kau benar-benar luar biasa, Xian," katanya, mendekati pemuda tersebut. "Aku mungkin kalah dalam memasak, tapi aku menemukan seseorang yang benar-benar menarik."


Xian tertawa, "Terima kasih, Ratu. Meskipun hidanganmu luar biasa, mungkin rasa rumah dan kenangan masih menjadi yang terbaik."


Malam semakin gelap, bintang-bintang mulai bersinar di langit. Sebagai perayaan, Xian mengajak semua orang untuk menari bersama di sekitar api unggun. Dengan ritme musik dari alat tradisional desa, Xian mulai menari dengan gerakan yang kocak.


"Bagaimana kalau kau ikut menari, Ratu?" ajak Xian sambil tertawa.


Ratu Siluman tampak ragu sejenak, namun akhirnya tersenyum dan mengangguk. "Kenapa tidak?" Dengan sedikit canggung, dia mencoba mengikuti langkah tari Xian. Namun, seiring waktu berjalan, dia mulai menikmatinya dan tertawa riang bersama semua orang.

__ADS_1


Suasana malam itu penuh dengan tawa dan kebahagiaan. Api unggun membakar hangat, menari-nari mengikuti irama musik. Bintang-bintang di langit seolah menjadi saksi dari persahabatan yang baru terjalin antara Xian dan Ratu Siluman, serta kenangan indah yang akan mereka ingat selamanya.


__ADS_2