
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat saat Xian mendekati desanya yang terletak di lereng bukit hijau yang lembut. Dia menghirup udara segar desa yang telah lama ia rindukan. Desanya dikelilingi oleh ladang hijau yang beraneka warna, dan pepohonan berdaun hijau seakan menyambutnya dengan merangkul langit biru.
Sebagai matahari terbenam, sinar senja menghadirkan warna keemasan yang membelai rumah-rumah pedesaan. Xian merasa hatinya hangat saat ia melihat wajah-wajah akrab yang sudah lama tidak ditemui. Beberapa anak kecil berlari ke arahnya dengan senyuman ceria, dan penduduk desa yang lebih tua mengangguk hormat saat melewati Xian.
Xian mencapai gerbang desa yang terbuat dari kayu tua dengan ornamen tradisional. Gerbang ini adalah penanda akhir perjalanannya. Sebuah perasaan haru terbesit di hatinya ketika ia melangkah melewati gerbang itu. Ini adalah tempat di mana dia tumbuh, tempat di mana kenangan indah masa kecilnya tercipta.
Namun, saat melangkah melewati gerbang itu, sesuatu yang tak terduga terjadi. Xian melihat seekor kambing yang berdiri di tepi jalan. Matanya yang gemas langsung mengenalinya. Itu adalah kambing peliharaannya yang dulu bernama "Tutu." Xian tanpa ragu mendekati kambing itu dan mencoba memeluknya seperti yang biasa ia lakukan saat kecil.
"Tutu, kau masih ingat aku, kan?" kata Xian sambil berusaha merangkul kambing itu. Namun, yang terjadi adalah sebuah peristiwa yang menggelikan. Kambing itu, yang sekarang lebih besar dan lebih kuat dari yang dulu, tiba-tiba melompat ke udara dengan hebat, melepaskan diri dari pelukan Xian.
Penduduk desa yang melihat adegan itu langsung tertawa. Beberapa dari mereka mengenali Xian sebagai anak desa yang selalu iseng dan ceria. Mereka tahu bahwa kemampuan Xian untuk membuat kekacauan tak pernah berubah.
"Xian, kau masih sama seperti dulu!" kata seorang nenek desa sambil tertawa. Dia tersenyum lebar, menyambut kembalinya Xian dengan hangat.
Xian yang merah padam akibat kejadian itu bergabung dalam tawa bersama penduduk desa. "Ternyata Tutu sudah tumbuh besar dan kuat!" kata Xian sambil mengelus kepala kambing itu.
Malam itu, desa itu gemerlap dengan lampu lentera dan kebahagiaan. Xian berbicara dengan banyak penduduk desa yang menanyakan petualangannya dan ingin tahu tentang dunia di luar desa mereka. Mereka duduk bersama di bawah langit berbintang sambil menikmati makanan dan minuman yang disediakan untuk festival tahunan desa.
Xian bercerita tentang pertemuannya dengan sekolah persilatan, petualangan di Gunung Es, dan kisah-kisah lucu yang dialaminya di sepanjang perjalanan. Penduduk desa terpesona oleh ceritanya, dan tawa riang terus bergema di malam itu.
Setelah lama tertawa dan berbicara, Xian merasa bahwa dia benar-benar pulang. Meskipun dunianya telah berubah dan dia telah mengalami banyak hal, desa ini tetap menjadi tempat di mana hatinya merasa tenang.
Ketika malam semakin larut, Xian berdiri di bawah pohon besar di tengah desa, menatap langit yang penuh bintang. Dia merenung tentang perjalanan hidupnya dan bagaimana desa ini selalu menjadi tempat di mana dia merasa diterima apa adanya.
Tiba-tiba, suara tawa riang anak-anak kecil yang bermain di dekatnya mengalihkan perhatiannya. Xian tersenyum dan bergabung dengan permainan mereka. Di antara gemerlap bintang dan canda tawa, dia merasa bahwa dia telah menemukan kembali akar-akarnya dan kebahagiaan di desa yang dia sebut sebagai rumah.
Pagi yang cerah menyambut Xian di desa yang dia sebut sebagai rumah. Penduduk desa telah mulai bergerak dengan semangat tinggi untuk mempersiapkan festival tahunan mereka. Desa itu bergetar dengan kegiatan: beberapa orang memasang tenda-tenda sederhana, sementara yang lain mengatur panggung untuk pertunjukan dan lomba.
Xian, dengan semangat yang tak kalah, bergabung dengan sekelompok pemuda yang sibuk memasang lampion di sepanjang jalan-jalan desa. Mereka berbicara dengan riang, tertawa, dan sesekali melemparkan lelucon satu sama lain. Itu adalah saat-saat yang dia rindukan selama petualangannya.
__ADS_1
Namun, saat Xian mulai menggantung lampion, sesuatu yang tak terduga terjadi. Dalam kegirangan, ia tanpa sadar melepaskan sejumlah energi kultivasi yang telah ia kumpulkan selama perjalanan. Lampion-lampion yang sedang ia pegang mendadak melayang di udara, terangkat oleh kekuatan tak terlihat.
Seorang warga desa yang melihat kejadian itu berseru, "Lihat, lampion-lampion itu seakan hidup!" Sementara itu, lampion-lampion itu terbang dengan berbagai arah, menciptakan pemandangan yang memukau dan kacau di langit desa.
Keceriaan warga desa segera berubah menjadi keheranan saat mereka menyaksikan lampion-lampion itu bergerak dengan indahnya di udara, membentuk pola-pola yang tidak terduga. Xian sendiri terkejut oleh kejadian ini. Dia berusaha keras untuk mengendalikan lampion-lampion itu, tapi semakin dia mencoba, semakin aneh gerakan mereka.
Sementara itu, kerumunan warga desa berkumpul di bawah lampion-lampion yang melayang, dan sorakan riang terdengar di sekitar mereka. Beberapa anak kecil tertawa-tawa, berusaha menangkap lampion-lampion yang berputar-putar di atas kepala mereka.
"Xian, kau sungguh luar biasa!" seru seorang anak muda yang terpesona oleh pertunjukan tak terduga ini.
Xian mencoba menjelaskan bahwa ini hanyalah kejadian tak terduga, tetapi kerumunan tetap bersorak dengan antusiasme. Mereka menikmati pertunjukan gratis yang Xian berikan dengan tidak sengaja.
Saat matahari terus menanjak di langit, Xian akhirnya berhasil mengendalikan lampion-lampion itu dan membawanya kembali ke tanah. Mereka mendarat dengan lembut, menghiasi jalan-jalan desa dengan keindahan yang tak terlupakan.
Penduduk desa yang telah menjadi saksi dari peristiwa ini akhirnya berpisah dengan senyuman di wajah mereka. Mereka tahu bahwa tak ada yang pernah membawa kejutan seperti Xian ke dalam festival tahunan mereka sebelumnya.
Saat senja mulai menggantikan matahari, desa itu semakin bercahaya oleh lampion-lampion yang melayang di udara dan cahaya lilin yang dinyalakan di tenda-tenda. Semua itu menciptakan suasana yang ajaib dan penuh kehangatan yang akan mengawali festival tahunan desa mereka. Dan dalam hatinya, Xian merasa betapa beruntungnya dia dapat berbagi keajaiban ini dengan desa yang selalu ia panggil sebagai rumah.
Hari berikutnya di desa dimulai dengan matahari terbit yang memancarkan sinar emas ke seluruh penjuru desa. Xian yang masih bersemangat setelah peristiwa lampion kemarin, memutuskan untuk menjelajahi lebih jauh desanya. Dia tiba-tiba teringat tentang teman masa kecilnya, Li Mei. Mereka sering bermain bersama di sini sebelum Xian pergi dalam perjalannya.
Xian mengingat bagaimana Li Mei selalu menjadi teman yang lucu dan ceria. Mereka sering berlomba di ladang-ladang hijau, bermain petak umpet di antara pepohonan, dan bercanda dengan air di sungai desa. Dia ingin tahu apakah Li Mei masih tinggal di desa atau telah pergi seperti dirinya.
Dia mulai bertanya-tanya tentang Li Mei saat dia berjalan melewati tempat-tempat yang dulu sering mereka kunjungi bersama. Akhirnya, dia mendengar kabar dari seorang warga desa bahwa Li Mei telah menjadi wanita tangguh yang membantu menjaga ketertiban dan keamanan desa.
Berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang sempurna untuk bertemu dengan teman lamanya, Xian segera menuju pos penjagaan di tepi desa, di mana dia mendengar Li Mei sering berpatroli. Tiba di sana, dia melihat seorang wanita muda dengan pakaian yang tangguh, sambil membawa pedang pendek, sedang berbincang dengan warga desa tentang tugas-tugas patroli.
"Li Mei," gumam Xian dalam hati, terkejut melihat perubahan besar pada temannya itu.
Xian dengan hati-hati mendekati Li Mei yang tengah sibuk berbicara dengan seorang petani desa. Ketika dia berada hanya beberapa langkah dari mereka, dia mendengar Li Mei berbicara tentang peran penting menjaga keamanan desa dan melindungi warganya.
__ADS_1
"Li Mei, apakah kau benar-benar itu?" Xian bertanya dengan nada bercanda, mencoba memancing reaksi dari temannya yang tangguh itu.
Li Mei berhenti sejenak dan melihat ke arah suara yang akrab. Dia mengenali Xian seketika, dan ekspresi seriusnya berubah menjadi senyuman cerah. "Xian! Benarkah itu kau?" kata Li Mei sambil melemparkan pelukan ke temannya.
Xian membalas pelukan itu dengan hangat. "Tentu saja, aku kembali ke desa. Dan ternyata, kau telah menjadi seorang pahlawan desa yang luar biasa."
Li Mei tertawa pelan. "Bukan pahlawan, hanya menjalankan tugas saya. Tetapi aku senang melihatmu kembali."
Mereka berdua duduk di bawah pohon rindang yang berada tak jauh dari pos penjagaan. Mereka berbagi cerita tentang perjalanan hidup mereka sejak Xian pergi. Xian menceritakan tentang petualangannya, pertemuannya dengan sekolah persilatan, dan kekacauan lampion yang dia ciptakan kemarin.
Li Mei mendengarkan dengan antusiasme. "Kau benar-benar belum berubah, Xian. Tetap suka menciptakan kekacauan, ya?"
Xian tersenyum lebar. "Itulah yang membuat hidup menyenangkan, bukan?"
Kemudian, Xian mengenang masa kecil mereka bersama. Dia teringat saat mereka berdua mencoba 'terbang' dari pohon-pohon rendah di dekat sungai. Itu adalah kenangan yang selalu membuatnya tertawa.
"Dulu kita sering mencoba terbang seperti pahlawan di dongeng, kan?" tanya Xian dengan mata berbinar.
Li Mei tertawa. "Ya, itu kenangan yang tak terlupakan. Kau masih ingat bagaimana kita selalu jatuh dan tergelincir di lumpur?"
Xian tersenyum dan mendekati pohon terdekat yang memiliki cabang yang cukup rendah. "Mengapa kita tidak mencoba lagi, seperti dulu?"
Li Mei mengangguk, dan keduanya memanjat pohon tersebut dengan semangat. Namun, ketika Xian mencoba melompat dari cabang itu, ia terlalu bersemangat dan malah terjebak di antara cabang-cabang. Li Mei tertawa melihatnya berusaha untuk melepaskan diri.
"Mungkin kita terlalu besar untuk terbang sekarang," kata Xian dengan nada lucu, sambil mencoba melepaskan diri dari cabang yang memeluknya erat.
Li Mei membantunya dengan senyum lebar. Mereka berdua akhirnya duduk di cabang-cabang pohon, seperti dulu, mengenang masa kecil yang penuh kebahagiaan.
Pertemuan mereka adalah momen berharga yang membawa kembali kenangan indah dan tawa ke dalam hidup mereka. Xian merasa beruntung telah kembali ke desa ini dan bertemu kembali dengan teman masa kecil yang selalu membawanya ke dalam petualangan yang tak terlupakan. Dan dalam riuhnya tawa dan kenangan, dua teman ini merayakan kembalinya persahabatan mereka yang tulus.
__ADS_1