Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Ratu Siluman


__ADS_3

Matahari pagi bersembunyi di balik kanopi pohon hutan lebat, memberi semburat cahaya keemasan yang menembus dedaunan dan mendarat dengan lembut di jalur berbatu yang dilalui Xian. Daun-daun basah oleh embun pagi, menciptakan aroma yang segar, dan suara burung-burung yang berbunyi riang menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Udara dingin pagi membuat Xian merapatkan jubahnya.


Namun, Xian merasa ada yang tidak beres. Sebuah kehadiran kuat, seperti denyut nadi dari alam, mulai meresap ke dalam indranya. Ia menghentikan langkahnya, berusaha menenangkan pikirannya dan fokus pada energi yang mendekat.


"Siapa di sana?" teriak Xian, berusaha menyembunyikan keresahannya.


Tiba-tiba, sekelompok bayangan muncul dari balik semak-semak, mengepung Xian dengan formasi melingkar. Di tengah mereka berdiri seorang wanita berparas cantik dengan mata yang mempesona dan tajam. Kulitnya putih bersih, rambut panjang hitam legam yang berkilau di bawah sinar matahari, dan di belakangnya tampak sepasang sayap tipis yang berpendar. Ini adalah Ratu Siluman.


"Energi apa ini yang kau bawa, pemuda?" tanya Ratu Siluman dengan suara yang merdu namun tegas. Matanya memeriksa Xian dari kepala hingga kaki, terpesona oleh aura yang dikeluarkan pemuda tersebut.


Xian, mencoba tampak tenang, menjawab, "Aku hanyalah seorang pemuda desa yang sedang mencari jalan hidupku, Nyonya."


Salah satu entourage Ratu Siluman, seorang pria berpostur kecil dengan jubah berwarna hijau, melangkah maju dengan percaya diri. "Biarkan aku mengesankanmu, pemuda," katanya sambil menarik buah dari sakunya dan memulai trik sulap. Namun, saat dia hendak menyelesaikan triknya, buah tersebut terlepas dari tangannya, memantul dan mengenai kepala penjaga berotot besar yang berdiri di sebelahnya.


Kejadian tersebut menciptakan suasana yang kikuk. Penjaga berotot tersebut menatap entourage kecil itu dengan mata yang menyala, sementara yang lain mencoba menahan tawa. Ratu Siluman tampaknya berusaha keras untuk tidak tersenyum.


Xian, dengan wajah yang berusaha menahan tawa, berkata, "Kau pasti adalah pesulap terbaik di kerajaanmu, bukan?"


Entourage berjubah hijau itu merona, "Ehm, aku biasanya lebih baik dari ini," ujarnya dengan suara yang pelan.


Ratu Siluman kembali fokus pada Xian, memotong ketegangan dengan pandangan tajamnya. "Kita akan bicara lebih lanjut tentang energi yang kau miliki, pemuda. Namun untuk saat ini, pertunjukan sulap gratis ini harus cukup."


Dengan gerakan tangan, Ratu Siluman memerintahkan entourage-nya untuk mundur. Sebelum pergi, dia memberi Xian tatapan yang menggoda dan penuh misteri, membuat pemuda tersebut terpaku sejenak.


Xian menghela napas lega saat mereka pergi, merenungkan pertemuan aneh yang baru saja terjadi. Ia melanjutkan perjalanan dengan kebingungan dan rasa ingin tahu yang semakin besar tentang kehadiran misteriusnya di hutan ini dan alasan Ratu Siluman begitu tertarik dengannya.

__ADS_1


Setelah pertemuan yang tak terduga di hutan, Xian kembali melanjutkan perjalanannya. Pepohonan rimbun dengan dedaunan yang rimbun, menciptakan payung alami yang melindungi Xian dari terik matahari. Suara kicauan burung dan gemericik air sungai di kejauhan menyatu, menciptakan melodi yang menenangkan. Namun, pemikiran Xian terganggu oleh pertemuan barusan dengan Ratu Siluman.


Pada saat dia sedang tenggelam dalam renungannya, tiba-tiba sebatang panah berkelebat di hadapannya dan menancap tepat di depan kakinya. Dari ujung panah tergantung sebuah surat yang terbungkus dengan segel emas. Xian dengan hati-hati membukanya dan menemukan sebuah pesan dari Ratu Siluman.


"Pemuda berenergi khusus," tulis Ratu Siluman, "Ketertarikanku pada energimu bukan tanpa alasan. Aku menawarimu sebuah posisi di kerajaanku, sebagai tanda penghormatan atas kekuatan yang kau miliki. Pertimbangkanlah tawaran ini."


Sebelum Xian dapat meresapi makna pesan tersebut, sebuah portal magis terbuka di depannya. Dari portal tersebut muncul Ratu Siluman, dengan gaun berkilauan yang menyerupai bintang-bintang di langit malam.


"Xian," ucapnya dengan suara yang lembut, "Aku tidak suka berlama-lama. Aku terkesan dengan energimu dan aku ingin kau bergabung di kerajaanku. Kekuatanmu akan sangat berguna bagi kita."


Xian menatapnya dengan ekspresi campuran antara kebingungan dan rasa ingin tahu. "Mengapa kau begitu tertarik dengan kekuatanku? Aku hanya seorang pemuda desa biasa."


Ratu Siluman mendekat, matanya memeriksa wajah Xian dengan detail. "Energi semacam itu jarang ditemukan. Aku merasakannya sejak pertama kali kita bertemu."


Dengan gerakan tangannya yang anggun, Ratu Siluman mencoba menarik sesuatu dari balik jubahnya. Seharusnya sebuah kristal ajaib, namun yang keluar adalah sebuah brosur berwarna-warni dengan gambaran indah kerajaan siluman. Terlihat gambar gunung berapi biru, danau yang airnya seperti cermin, serta berbagai jenis kuliner eksotis yang belum pernah dilihat Xian sebelumnya.


Xian, mencoba menyembunyikan senyumnya, berkata, "Jadi, selain kekuatanku, kau juga menawariku liburan ke kerajaanmu?"


Ratu Siluman tersenyum. "Ya, jika itu yang kau inginkan. Namun, aku serius tentang tawaran ini. Pertimbangkanlah dengan baik."


Dengan sebuah gerakan cepat, Ratu Siluman kembali masuk ke dalam portal, meninggalkan Xian dengan brosur di tangannya dan pikiran yang berkecamuk. Dia memandang brosur tersebut, memikirkan tentang tawaran yang baru saja diberikan dan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Ratu Siluman darinya.


Sebuah petualangan baru tampaknya baru saja dimulai untuk Xian, dan dia harus memutuskan langkah apa yang akan diambil selanjutnya.


Matahari tengah berada di puncaknya, memberikan kehangatan kepada dunia. Pepohonan di hutan mengayun perlahan, menciptakan hembusan angin yang menyegarkan. Namun, ketenangan hutan segera terganggu ketika portal magis kembali terbuka, dan Ratu Siluman muncul dengan wajah yang penuh antisipasi.

__ADS_1


“Jadi, apa keputusanmu?” tanyanya dengan suara penuh harap, memperhatikan Xian yang berdiri tegap di hadapannya.


Xian menarik napas panjang, mencari kata-kata yang tepat. “Aku berterima kasih atas tawaranmu, Nyonya Ratu. Namun, aku harus menolaknya. Jalan hidupku bukanlah berada di kerajaanmu."


Ratu Siluman tampak terkejut. Matanya memancarkan kilatan kecewa, bibirnya bergetar sejenak sebelum akhirnya ia berkata, "Kenapa? Apakah kerajaanku tidak memadai untukmu? Atau adakah alasan lain?"


Xian menjawab dengan tegas, "Tidak ada hubungannya dengan kerajaanmu. Ini tentang pilihan hidupku dan jalan yang ingin kutempuh."


Ratu Siluman mengepalkan tangannya, membuat angin berhembus kencang disekitarnya. "Jika itu pilihanmu, maka aku tantang kau dalam sebuah duel!"


Namun, Xian tampak tidak terkejut. Dengan ekspresi santai, ia menjawab, "Duel? Mengapa kita harus bertarung? Bagaimana kalau kita membuat tantangan yang lebih damai? Seperti... kompetisi memasak?"


Ratu Siluman tampak bingung sejenak. Kemudian, senyum muncul di wajahnya. "Kompetisi memasak? Menarik. Aku menerima tantanganmu! Kau mungkin tidak tahu, namun aku adalah seorang koki handal di kerajaanku."


Xian tersenyum, "Itulah yang akan kita lihat."


Sebuah meja panjang dengan peralatan masak lengkap muncul di tengah hutan. Keduanya mulai memasak dengan bahan-bahan yang telah disediakan. Asap dan aroma yang menggiurkan mulai menyebar ke seluruh hutan, menarik perhatian beberapa hewan dan makhluk hutan lainnya yang datang untuk menyaksikan kompetisi ini.


Ratu Siluman tampak fokus, mengaduk ramen dengan kecepatan luar biasa, sementara Xian dengan sabar memanggang ikan dan menciptakan saus rahasia. Ekspresi serius dan fokus terlihat di wajah keduanya.


Pada akhir kompetisi, sebuah piring berisi makanan dari masing-masing kontestan diletakkan di meja. Seorang penilai netral, seekor rusa tua dengan tanduk yang mengesankan, didekati untuk menilai rasa makanan mereka.


Setelah mencicipi kedua hidangan, rusa tersebut menganggukkan kepalanya, memberikan keputusan bahwa keduanya memiliki rasa yang luar biasa, namun tidak bisa menentukan siapa yang lebih unggul.


Ratu Siluman tampak sedikit kesal, namun akhirnya tersenyum. "Baiklah, tampaknya kita sama-sama handal. Aku menghormati keputusanmu, Xian."

__ADS_1


Xian mengangguk, "Terima kasih, Nyonya Ratu. Semoga kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih damai."


Dengan angin yang berhembus pelan dan sinar matahari yang menyinari hutan, keduanya berpisah dengan saling menghormati, meninggalkan jejak petualangan yang tak terlupakan di hutan tersebut.


__ADS_2