Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Pegunungan Terlarang


__ADS_3

Begitu matahari mulai muncul di langit, Xian dan teman-temannya berkumpul di tengah desa kecil yang akan menjadi titik awal perjalanan mereka ke Pegunungan Terlarang. Siang, kultivator lokal yang mengenalkan mereka dengan tempat ini, telah bersiap-siap lebih awal dan tampak begitu bersemangat.


Siang, yang berwajah gembira, berdiri di tengah-tengah kelompok tersebut dan berkata dengan semangat, "Hari ini adalah hari yang besar, teman-teman! Kita akan menjelajahi Pegunungan Terlarang dan mencari ilmu silat legendaris! Siapkan diri kalian dengan baik!"


Xian, yang selalu ceria, melangkah mendekati Siang dan melemparkan senyum lebar. "Tentu saja, Siang! Dan kalian tahu, meskipun kitalah yang akan mencari ilmu silat, kamu adalah yang terbaik dalam menyanyi. Mungkin itu akan menjadi senjata rahasia kita jika kita mendapat masalah di sana!" Xian berbicara dengan nada lucu, memancing tawa dari Mei Mei dan yang lainnya.


Mei Mei, sahabat Xian yang selalu optimis, ikut tersenyum. "Benar, Siang. Kita punya seniman yang handal di antara kita!" Dia mengambil sepotong roti dari keranjang dan menawarkannya pada Siang. "Ayo makan sebelum berangkat, kita akan membutuhkan energi!"


Mereka duduk di sekitar api unggun kecil yang telah mereka nyalakan untuk memasak sarapan. Sebagian besar percakapan mereka diisi dengan canda tawa dan tawa. Mereka merasa begitu dekat satu sama lain, seperti keluarga yang sedang bersiap untuk petualangan besar.


Setelah sarapan selesai, mereka mulai mengemas barang-barang mereka, memeriksa senjata, dan mengikat tas ke punggung mereka. Siang memimpin mereka menuju gerbang desa, di mana perjalanan mereka akan dimulai.


Saat mereka tiba di gerbang, Siang berhenti sejenak dan menghadap mereka. "Kita akan melalui hutan pertama, dan kemudian kita akan sampai di lereng Pegunungan Terlarang. Berhati-hatilah, tetapi jangan lupakan selalu menjaga semangat gembira kita, seperti yang selalu diajarkan oleh Xian."


Xian menambahkan dengan candaan, "Ya, jangan lupa bahwa senyuman adalah senjata paling ampuh kita!"


Mei Mei tertawa dan mengangguk setuju. Mereka berdiri di depan gerbang, siap untuk memulai perjalanan mereka ke Pegunungan Terlarang, dengan semangat tinggi dan senyum di wajah mereka.


Matahari sudah terbit sepenuhnya, menerangi jembatan tipis yang menggantung di atas jurang dalam Pegunungan Terlarang. Jembatan itu terbuat dari tali yang tampaknya rapuh, dan angin sepoi-sepoi membuatnya bergoyang-goyang dengan gemuruh.

__ADS_1


Xian, dengan keberanian yang khas, memutuskan untuk menjadi yang pertama menyebrang. Dengan hati-hati, dia melangkah dengan mantap di atas jembatan tersebut. Setiap langkahnya diikuti oleh suara gemerincing tali yang membuat Mei Mei, yang berdiri di belakangnya, merasa semakin gugup.


Mei Mei memandang ke bawah ke jurang yang dalam, dan matanya membesar. Kedua kakinya gemetar saat dia mencoba untuk melangkah ke tali jembatan yang sama dengan hati-hati. Tetapi begitu dia melangkah, dia segera merasa ketakutan. Tubuhnya bergoyang di atas jurang, dan dia berpegangan erat pada tali.


"Sialan!" gumam Mei Mei dengan nada gugup. "Ini benar-benar lebih menakutkan daripada yang kubayangkan."


Xian, yang sudah berada di sisi yang lain, melihat ketakutan di wajah Mei Mei dan tersenyum lebar. "Jangan khawatir, Mei Mei! Ini hanya jembatan biasa. Lihat, aku sudah di sini dengan selamat."


Mei Mei mengangguk, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia mencoba melangkah lagi, tetapi kakinya masih gemetar. Tubuhnya bergoyang-goyang di atas jurang, dan dia hampir saja terjatuh.


Xian segera merespons dengan cepat. Dia mengambil tali jembatan dan mulai menggoyangkannya dengan lelucon yang lucu. "Hei, Mei Mei, lihat, aku seperti ayam betina yang berjalan di atas tali! Kukukuu!" Xian berkata sambil menirukan suara ayam.


Setelah Mei Mei berada di sisi yang lain, Xian memberinya tepuk tangan dan berkata, "Hebat, Mei Mei! Tidak ada yang bisa mengalahkan kita, terutama ketakutan." Dia kemudian memberikan Mei Mei pelukan hangat sebagai penghiburan tambahan.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka melalui Pegunungan Terlarang, dengan semangat tinggi dan tawa di wajah mereka. Meskipun rintangan pertama telah diatasi, mereka tahu bahwa masih banyak petualangan menarik yang menanti mereka di dalam pegunungan yang misterius ini.


Mereka terus berjalan melalui hutan yang lebat di dalam Pegunungan Terlarang. Suasana misterius dan suara-suara aneh yang mereka dengar semakin membuat mereka merasa tegang. Hutan itu begitu sunyi, kecuali untuk suara desiran angin dan suara langkah kaki mereka yang bergerak perlahan.


Tiba-tiba, mereka mendengar suara tawa aneh dan melihat bayangan-bayangan yang bergerak di antara pepohonan. Xian dan Mei Mei segera menegang, memegang erat senjata mereka, sementara Siang bersiap dengan posisi bertahan. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian di sana.

__ADS_1


Bayangan-bayangan itu semakin mendekat, dan mereka segera dapat melihat makhluk-makhluk aneh yang berjalan ke arah mereka. Makhluk-makhluk itu memiliki wujud yang ganjil, dengan kulit berwarna hijau keabu-abuan dan mata besar yang berkilat. Mereka berjalan dengan langkah yang ringan dan lembut, seperti hantu yang melayang.


Xian, yang selalu penuh dengan humor, memutuskan untuk mencoba mendekati makhluk-makhluk tersebut. Dia menyadari bahwa suasana tegang ini harus diubah menjadi sesuatu yang lebih ceria. Dengan langkah berani, dia berjalan mendekat sambil tersenyum lebar.


"Hei, teman-teman!" ujar Xian dengan nada yang ramah. "Apa kabar? Kami hanya sedang melintasi hutan ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Makhluk-makhluk itu berhenti sejenak, terlihat bingung oleh kehadiran tiga orang ini. Salah satu makhluk mengeluarkan suara serak yang tampaknya adalah bentuk komunikasi mereka.


Xian mengangguk dan menjelaskan, "Kami mencari ilmu silat legendaris di sini. Apakah kalian tahu cara ke sana?"


Makhluk-makhluk itu berbicara dalam suara seraknya, tetapi tidak ada yang bisa dimengerti oleh Xian dan teman-temannya. Namun, Xian tidak menyerah. Dia mulai mengeluarkan serangkaian lelucon dan teka-teki yang lucu dalam usaha untuk menjinakkan makhluk-makhluk tersebut.


"Kenapa tomat merah melintasi jalan? Karena mobilnya yang berwarna ungu mengejarnya!" ujar Xian sambil tertawa. Dia melanjutkan dengan lelucon-lelucon lainnya, mencoba membuat makhluk-makhluk tersebut tertawa.


Tak lama kemudian, suara tawa meriah mulai terdengar dari makhluk-makhluk tersebut. Mereka terlihat gembira dan mulai mengeluarkan suara serak yang tampaknya merupakan bentuk persetujuan mereka.


Xian, Mei Mei, dan Siang merasa lega bahwa mereka telah berhasil menjinakkan makhluk-makhluk tersebut. Mereka mendekati makhluk-makhluk tersebut dan mencoba berkomunikasi lagi. Kali ini, makhluk-makhluk tersebut memberikan petunjuk tentang arah yang harus mereka tempuh untuk mencapai ilmu silat legendaris tersebut.


Dengan ucapan terima kasih, Xian dan teman-temannya melanjutkan perjalanan mereka dengan lebih percaya diri. Mereka tahu bahwa humor dan kebahagiaan bisa menjadi senjata yang kuat, bahkan dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian.

__ADS_1


__ADS_2