Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Petualangan di Gunung Terlarang


__ADS_3

Pagi itu, matahari terbit di langit biru yang cerah di Sekolah Persilatan Guyon. Xian dan murid-muridnya berkumpul di halaman sekolah, semangat menyala-nyala untuk perjalanan mereka ke Gunung Terlarang. Mereka membawa bekal, peralatan, dan buku petunjuk tentang tanaman langka yang akan mereka cari.


Xian, yang mengenakan pakaian pelatihan biasa dengan senyum tulus di wajahnya, berdiri di depan murid-muridnya. "Hari ini adalah hari yang spesial, teman-teman," katanya dengan penuh semangat. "Kita akan pergi ke Gunung Terlarang untuk mencari bahan kultivasi yang langka. Ini adalah kesempatan besar untuk belajar dan menguji keterampilan kita. Bersiaplah dengan baik!"


Murid-muridnya dengan cepat bergerak, memeriksa peralatan mereka, mengisi bekal dengan makanan, dan membaca buku petunjuk tentang tanaman langka yang mereka cari. Mereka saling bercanda dan tertawa, menunjukkan semangat yang luar biasa untuk petualangan yang akan datang.


Mei, salah satu murid yang selalu penuh semangat, mencoba mengenakan topi besar yang seharusnya melindungi dari matahari. Namun, topi itu terlalu besar, hingga menutupi wajahnya sepenuhnya. Rambut panjangnya muncul di bawah topi itu, dan dia tampak seperti alien yang lucu.


Xiu, murid lain yang dekat dengan Mei, tidak bisa menahan tawa saat melihat Mei. "Hei, Mei, itu lebih mirip topi gajah daripada topi pelindung matahari!" katanya sambil tertawa.


Mei mencoba membenarkan topi itu, tetapi malah membuatnya semakin kacau. Semua orang di sekitarnya tertawa dengan riang.


"Mei, mungkin kamu harus melepas topi itu," kata Xian dengan nada kocak. "Matahari tidak akan menyentuhmu jika kamu sudah cukup tinggi."


Mei tersenyum malu-malu dan melepaskan topinya. "Baiklah, baiklah, saya menyerah pada topi gajah ini."


Mereka melanjutkan persiapan mereka, dan segera, mereka siap untuk perjalanan. Xian memimpin rombongan dengan semangat tinggi, dan semua orang mengikuti dengan penuh semangat.


Mereka meninggalkan Sekolah Persilatan Guyon dan memasuki hutan yang lebat. Udara segar dan harum dari pepohonan hijau memenuhi hidung mereka. Mereka mendengar nyanyian burung di atas dan suara gemercik air sungai yang mengalir di dekatnya.


Selama perjalanan, mereka terus berbicara dan bercanda. Mereka berbagi cerita tentang petualangan sebelumnya, bertukar resep masakan kultivasi, dan saling memberikan tips tentang ilmu silat.


"Jika kita menemukan tanaman langka yang kita cari, kita harus hati-hati saat memetiknya," kata Xian dengan serius. "Ini adalah tanggung jawab kita untuk merawat alam."


"Dan jangan lupa untuk menjaga semangat kita tetap ceria," tambah Mei sambil tersenyum. "Kita adalah sekolah persilatan yang mengajarkan filosofi tawa, bukan?"

__ADS_1


Semua orang tertawa setuju. Mereka memahami betul bahwa tawa dan kegembiraan adalah filosofi utama sekolah mereka, bahkan selama petualangan serius seperti ini.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka melalui hutan yang lebat, semangat mereka tidak pernah pudar. Meskipun mungkin ada tantangan yang menunggu mereka di Gunung Terlarang, mereka yakin bahwa dengan semangat dan tawa, mereka akan mengatasi segalanya. Dan saat itu, mereka merasa bahwa petualangan ini adalah awal yang indah untuk perjalanan mereka ke Gunung Terlarang.


Mereka telah tiba di Gunung Terlarang, yang legendaris dengan medan yang berbahaya dan misterius. Pepohonan raksasa menjulang di sekitar mereka, menciptakan bayangan yang menyiratkan misteri. Tebing-tebing yang curam dan jurang dalam berdiri sebagai pengingat akan bahaya yang mungkin mengintai di setiap langkah mereka.


Xian memimpin rombongan dengan hati-hati, memilih jalur yang tampaknya lebih aman melalui labirin pepohonan dan bebatuan. Suara gemercik air mengalir dari sungai yang berliku di dekatnya, dan aroma bunga-bunga liar merayap masuk ke hidung mereka.


Saat mereka terus berjalan, suasana semakin tegang. Mereka menyadari bahwa setiap langkah bisa menjadi tantangan baru. Tapi semangat petualangan mereka tidak luntur.


Tiba-tiba, dalam keheningan hutan yang dalam, terdengar suara gemerisik di antara pepohonan. Semua mata memandang ke sumber suara itu, dan ketegangan merayap di antara mereka.


Xiao, salah satu murid yang agak ceroboh, mendekati tepi jurang yang curam tanpa menyadari betapa dalamnya jurang tersebut. Dia melangkah pada bebatuan yang licin dan hampir tergelincir. Teriakan kecil keluar dari mulutnya ketika dia berjuang untuk menjaga keseimbangan.


Semua orang menahan napas mereka sejenak, hati mereka berdebar kencang. Ketegangan segera berubah menjadi erlebihan kelegaan ketika mereka menyadari bahwa Xiao aman.


Xian melangkah mendekati Xiao, sambil tersenyum. "Hati-hati, Xiao. Kita berada di tempat yang berbahaya, jadi perlu untuk selalu waspada."


Xiao merasa malu dan berterima kasih pada Bun Bun dengan penuh penghargaan. "Terima kasih, Guru Bun Bun. Kamu benar-benar menyelamatkan hidupku!"


Bun Bun hanya mengangguk sambil tersenyum ramah. "Kita adalah tim, Xiao. Kita selalu saling melindungi."


Xian kembali memimpin rombongan mereka melalui medan yang penuh bahaya, dan kejadian itu, meskipun membuat jantung mereka berdegup kencang, menjadi pengingat bagi mereka untuk selalu berhati-hati selama petualangan mereka di Gunung Terlarang.


Saat mereka melanjutkan perjalanan, semangat petualangan dan kebahagiaan yang mereka bawa bersama terus menjadi penuntun di tengah medan yang penuh misteri ini. Mereka tahu bahwa dengan tawa dan dukungan satu sama lain, mereka akan mengatasi segala tantangan yang mungkin muncul selama petualangan ini di Gunung Terlarang.

__ADS_1


Mereka berjalan lebih dalam ke dalam gua yang gelap dan menyeramkan di dalam Gunung Terlarang. Hanya cahaya obor yang mereka bawa dan cahaya lembut dari keterampilan kultivasi yang menerangi jalan mereka. Atmosfer gua ini penuh dengan ketegangan dan misteri, tetapi semangat petualangan mereka tidak padam.


Xian memimpin rombongan mereka melalui terowongan sempit dan meliuk-liuk, mencari bahan kultivasi langka yang hanya bisa ditemukan di dalam gua ini. Mereka bergerak dengan hati-hati, melewati stalaktit tajam yang menonjol dari langit-langit gua.


Tiba-tiba, suara gemuruh dan eko menggema di dalam gua, membuat semua orang melompat dan menahan nafas. Mereka merasa getaran bumi di bawah kaki mereka, dan suasana semakin tegang. Tapi Xian dengan cepat memeriksa dan menyatakan bahwa itu hanyalah gejala alam biasa di dalam gua ini.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan akhirnya, mereka mencapai sebuah grotto besar di dalam gua. Di sini, mereka melihat tumbuhan kultivasi yang mereka cari, yang tumbuh subur di sudut-sudut gelap grotto ini. Bunga-bunga dari tanaman tersebut memancarkan cahaya kebiruan yang lembut, dan semua orang merasa terpesona oleh keindahannya.


"Kita telah menemukannya!" kata Xian dengan gembira. "Mari kita mulai memetik bahan kultivasi ini dengan hati-hati."


Mereka memulai proses memetik dengan hati-hati, memastikan tidak merusak tanaman tersebut. Semua orang sangat fokus pada tugas mereka, dan suasana tenang memenuhi grotto itu.


Tetapi kemudian, tiba-tiba, suara berdesir sayap yang besar mengisi gua. Semua mata berbalik ke arah sumber suara, dan mereka melihat sebuah sekawanan kelelawar raksasa yang terbang mendekati mereka. Kelelawar itu memiliki bulu putih yang indah dan mata yang besar, dan mereka tampaknya penasaran dengan kehadiran rombongan tersebut.


Saat kelelawar itu mendekati mereka, salah satu di antaranya, yang tampaknya paling berani, turun mendekati tanah. Tiba-tiba, dengan kecerdikan yang luar biasa, kelelawar itu mencoba meniru gerakan tarian ayam yang pernah diajarkan Xian kepada murid-muridnya.


Semua orang tidak bisa menahan tawa melihat aksi kelelawar itu. Mereka melihat bagaimana kelelawar itu menggeliat dan melompat di tanah seperti ayam, dengan bulu-bulu putihnya yang besar berkibar-kibar. Itu adalah pemandangan yang tak terduga dan lucu di dalam gua yang misterius ini.


Xian, yang awalnya terkejut, segera bergabung dalam tawa bersama murid-muridnya. "Kamu adalah kelelawar terlucu yang pernah saya lihat!" kata Xian kepada kelelawar itu sambil tertawa.


Kelelawar tersebut tampaknya merasa senang dengan perhatian mereka dan melompat-lompat lebih banyak. Semua orang berbicara dengan kelelawar tersebut, memberinya nama, dan bahkan menawarkan beberapa bunga dari tanaman kultivasi sebagai tanda persahabatan.


Saat mereka selesai memetik bahan kultivasi, mereka meninggalkan grotto itu dengan suasana hati yang ceria. Mereka merasa bahwa petualangan di dalam Gunung Terlarang ini menjadi lebih istimewa berkat pertemuan yang tak terlupakan dengan kelelawar tarian ayam tersebut.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka melalui gua yang gelap, dengan bahan kultivasi yang langka di tangan mereka dan kenangan yang indah tentang kelelawar tarian ayam di hati mereka. Mereka yakin bahwa petualangan ini akan menjadi salah satu yang penuh tawa dan kegembiraan, sesuai dengan filosofi sekolah mereka.

__ADS_1


__ADS_2