
Gurun pasir yang tak berujung membentang di bawah sinar matahari yang memancar. Pasir bersinar seperti berlian terpencar di bawah cahaya yang memuncak. Xian dan kelompoknya berdiri di tengah-tengah padang pasir, dengan mata mereka terfokus pada sebuah kerumunan yang mendekat. Itu adalah musuh lama mereka, kelompok kultivator pasir putih yang telah dialahkan dalam pertempuran sebelumnya.
Ketika kelompok musuh mendekati, seorang pemimpin mereka yang sombong, bernama Lao Shen, melangkah maju. Dia memandang Xian dengan ekspresi marah. "Lee Xian, kau pikir kau bisa menghentikan kami selamanya? Kami kembali untuk mengambil kembali Batu Giok Qinglian dan membalas dendam!"
Xian tersenyum tenang. "Lao Shen, kau selalu menjadi orang yang keras kepala. Tapi kau tahu bahwa kau tidak akan pernah bisa mengalahkan kami."
Lao Shen tertawa terbahak-bahak. "Kau sangat percaya diri, Lee Xian. Tapi kau akan segera tahu betapa salah besarnya kau." Dia mengangkat tangannya, dan para pengikutnya bersiap-siap untuk menyerang.
Di sebelah Xian, muridnya yang paling berani, Ming Lan, menyeringai dan berkata, "Tidak bisakah kita menyelesaikannya dengan tertawa saja? Seperti yang kita pelajari di perguruan, senyum adalah senjata yang paling kuat."
Xian mengangguk setuju. "Tentu, Ming Lan. Ingatlah semua, kita adalah perguruan guyon. Mari kita tunjukkan kepada mereka bagaimana humor dapat mengalahkan kemarahan."
Pertarungan dimulai. Xian dan murid-muridnya melawan Lao Shen dan kelompoknya dalam serangan sengit. Pasir terbang ke udara, dan energi kultivasi memenuhi udara saat mereka bertarung dengan kekuatan penuh. Gerakan tubuh dan mimik muka tokoh-tokoh ini sangat ekspresif, mencerminkan kekuatan dan keinginan untuk melindungi apa yang mereka cintai.
Ming Lan dengan lincahnya menghindari serangan musuh, sambil sesekali melemparkan lelucon yang membuat musuhnya terkekeh. "Apa kau mendengar yang satu ini, Lao Shen? Bagaimana pencuri memotong rambutnya? Dia menggunakan gunting pencuri!"
Lao Shen terkekeh, lalu menyambut serangan baliknya. "Bodoh! Kau pikir ini saat yang tepat untuk bercanda?"
Sementara itu, Mei Mei, salah satu murid Xian, meluncur di atas pasir dengan cambuk saktinya. Dia memutar cambuknya dengan sempurna, menghindari serangan musuh dan menyerang balik dengan kecepatan kilat. "Kami adalah perguruan yang percaya bahwa ketawa adalah obat terbaik. Ayo tertawa bersama-sama!"
Cin Xiu, yang memiliki cambuk sakti yang kuat, berdiri di samping Mei Mei. Dia melambaikan cambuknya dengan gemetar dan memukul musuhnya dengan gesekan yang cepat dan mematikan. "Kita bisa melawan marah dengan tawa! Ketawa, saudara-saudara!"
__ADS_1
Sementara pertarungan berlanjut, pasir berterbangan di sekitar mereka, menciptakan sebuah tampilan yang spektakuler. Pada saat yang sama, mereka terus menyulut humor dan guyonan dalam pertempuran. Ini adalah filsafat perguruan guyon: senyum dan tawa adalah senjata yang kuat, bahkan dalam situasi yang penuh tekanan.
Akhirnya, dengan serangkaian lelucon yang meledakkan tawa musuh dan membingungkan mereka, Xian dan kelompoknya berhasil mengalahkan musuh lama mereka. Lao Shen dan kelompoknya menerima hukuman mereka, dan Batu Giok Qinglian tetap aman di tangan Xian.
Setelah pertempuran berakhir, mereka merenungkan pelajaran yang mereka pelajari. Mereka menyadari bahwa dalam hidup yang penuh perjuangan, humor adalah kuncinya. Tawa adalah cara terbaik untuk mengatasi kemarahan dan menghadapi tekanan. Dan sebagai perguruan guyon, mereka akan selalu menggunakan senyum mereka untuk melawan kegelapan dan kejahatan.
Gurun pasir meluas hingga ke cakrawala, dengan pasir yang bersinar seperti emas di bawah sinar matahari yang menyilaukan. Angin berdesir dan membawa pasir ke udara, menciptakan suara gemerisik yang terus-menerus. Gurun ini adalah tempat di mana pertarungan sengit antara Xian dan kelompoknya melawan musuh lama mereka berlangsung.
Xian berdiri dengan gagah berani di tengah-tengah pasir yang berputar. Wajahnya tenang dan penuh tekad saat ia memandang musuhnya. "Kalian tidak akan pernah bisa mengambil Batu Giok Qinglian dari kami," ucapnya dengan suara tegas.
Musuh lama mereka, yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang sombong bernama Lao Shen, berkumpul di seberang pasir. Lao Shen tersenyum dengan keangkuhan. "Kami telah belajar dari kesalahan kami sebelumnya, Xian. Kali ini, kalian tidak akan bisa menghentikan kami."
Pertarungan dimulai, dan pasir berputar di sekitar mereka ketika energi kultivasi memenuhi udara. Gerakan tubuh dan mimik muka tokoh-tokoh ini mencerminkan kekuatan dan tekad mereka. Cin Xiu mengayunkan cambuk saktinya dengan gemetar, memecah angin dan mengirim serangan tajam ke arah musuh. "Kami akan melindungi Batu Giok Qinglian dengan segala yang kami miliki!"
Ming Lan, yang selalu penuh semangat, menyeringai sambil menghindari serangan musuh. "Dalam perguruan kami, senyum adalah senjata yang paling kuat. Mari kita tunjukkan kepada mereka bagaimana humor dapat mengalahkan kemarahan."
Pertarungan menjadi semakin sengit dengan serangan dan pertahanan yang cepat dari kedua belah pihak. Pasir terbang ke udara, menciptakan tampilan yang spektakuler, dan matahari terus bersinar terang. Lao Shen dan kelompoknya terbukti lebih kuat dari sebelumnya, dan mereka menggunakan trik-trik baru yang membingungkan Xian dan murid-muridnya.
Xian berkata sambil menghindari serangan Lao Shen, "Mereka telah belajar dari kesalahan mereka, tetapi kami juga telah berkembang dalam kultivasi kami. Kami tidak akan pernah menyerah!"
Ming Lan tertawa saat dia berloncatan dan melompat di atas pasir, menghindari serangan musuh. "Tidak bisakah kita menyelesaikannya dengan tertawa saja? Seperti yang kita pelajari di perguruan, senyum adalah senjata yang paling kuat."
__ADS_1
Lao Shen terkekeh, lalu menyambut serangan baliknya. "Kau sangat percaya diri, Lee Xian. Tapi kau akan segera tahu betapa salah besarnya kau." Dia melanjutkan dengan serangan sengit.
Pertarungan berlanjut, dan energi kultivasi memenuhi udara, menciptakan suasana yang tegang. Pasir berterbangan di sekitar mereka, menciptakan lanskap yang menakjubkan. Xian dan murid-muridnya terus menghindari serangan musuh dan menyerang balik dengan kekuatan penuh mereka.
Saat pertarungan mencapai puncaknya, Xian dan kelompoknya harus bekerja sama dengan sempurna untuk mengalahkan musuh-musuh mereka yang kuat. Mereka merenungkan pelajaran perguruan guyon mereka, bahwa humor dan senyum adalah senjata yang kuat dalam menghadapi tekanan dan pertarungan sengit. Dalam gurun yang panas ini, pertempuran terus berlanjut hingga akhirnya, dengan kemenangan yang mempesona.
Saat pertarungan berkecamuk di tengah gurun yang panas, angin kencang terus membawa pasir ke udara, menciptakan suara gemerisik yang tidak pernah berhenti. Xian dan murid-muridnya bertempur dengan gigih melawan musuh lama mereka, yang telah kembali dengan rencana jahat yang lebih kuat dari sebelumnya. Meskipun pertarungan terus berlanjut, semangat perguruan guyon terus menginspirasi mereka.
Tiba-tiba, dalam kejauhan, terdengar suara langkah yang mendekat dengan cepat. Semua mata tertuju pada sumber suara itu. Seorang murid baru, seorang pemuda muda yang sebelumnya dianggap lemah, tiba di tengah pertarungan. Dia bernama Zhang Wei.
Zhang Wei memandang musuh dan mengangkat tangannya, memancarkan energi kultivasi yang luar biasa. Dia mulai mengeluarkan serangkaian teknik kultivasi yang mengagumkan. Serangannya sangat kuat dan akurat, dan musuh terkejut oleh kemampuannya yang tak terduga. Zhang Wei dengan cepat membantu tim Xian mendapatkan keunggulan dalam pertarungan.
Xian tersenyum bangga saat melihat Zhang Wei. "Itu dia, murid baru kita yang berbakat. Dia telah melampaui ekspektasi kami dan membantu kita mendapatkan keunggulan."
Ming Lan bersorak, "Kita telah menemukan senjata rahasia kita, Xian! Zhang Wei adalah kejutan yang luar biasa."
Sementara itu, di tengah pertarungan, Zhang Wei tetap fokus dan tegas. Dia mengikuti pelatihan yang ketat di perguruan guyon, dan dia merasa terhormat bisa membantu timnya. "Saya telah belajar banyak dari kalian semua, dan saya tidak akan membiarkan kalian berjuang sendirian."
Pertarungan berlanjut, dengan Zhang Wei dan tim Xian bekerja sama dengan sempurna untuk mengalahkan musuh. Keterampilan tak terduga Zhang Wei membantu mereka mendapatkan kemenangan yang akhirnya mereka raih dengan kegembiraan. Musuh lama mereka akhirnya menerima hukuman mereka dan pergi, meninggalkan Batu Giok Qinglian di tangan tim Xian.
Di luar jalur cerita utama, ada momen lucu yang terjadi saat Xian mencoba mengajarkan musuhnya teknik kultivasi "senyum pemenang" dengan harapan mengubah pikiran musuh dan membuatnya menyerah. Xian tersenyum dan berkata kepada musuhnya, "Mari kita selesaikan pertarungan ini dengan tawa, bukan dengan pertumpahan darah. Senyum adalah senjata terkuat kita."
__ADS_1
Musuh yang pada awalnya marah dan terkejut dengan serangan tak terduga Zhang Wei akhirnya tersenyum kecut. Mereka merasa bingung oleh tawaran damai Xian, dan setelah pertimbangan singkat, mereka menyerah. Dengan demikian, pertarungan berakhir dengan cara yang tak terduga, dan perguruan guyon kembali menunjukkan bahwa senyum dan tawa adalah senjata terkuat mereka. Zhang Wei menjadi pahlawan baru dalam tim Xian, dan mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan semangat yang lebih tinggi dan keyakinan bahwa bersama-sama, mereka dapat menghadapi segala tantangan yang ada di depan.