Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Tantangan Menari


__ADS_3

Bulan purnama menggantung di langit, menyebarkan cahaya perak di seluruh desa. Xian duduk di pinggiran lapangan latihan, merenung dalam-dalam. Sejak Maestro Ling mulai melatihnya, dia merasa lebih bingung daripada sebelumnya. Ia merasa metodenya terlalu lamban dan sering kali tidak logis.


"Kenapa Anda melatih saya seperti ini?" Xian mendesah, wajahnya terlihat frustasi. "Saya ingin kuat. Saya ingin cepat!"


Maestro Ling duduk di sebelahnya, mata tua itu memandang bulan dengan ketenangan. "Kekuatan dan kecepatan bukanlah segalanya, Xian. Terkadang, kreativitas dan kesabaran lebih berharga."


"Kreativitas? Kesabaran?" Xian menggelengkan kepala. "Ini tentang pertempuran, Maestro, bukan seni!"


Sebagai tanggapan, Maestro Ling tersenyum tipis. "Baiklah, bagaimana kalau kita adakan sebuah tantangan? Tantangan menari."


Xian mengangkat alisnya dengan rasa bingung. "Menari? Apa hubungannya dengan kultivasi?"


"Kamu akan melihat," jawab Maestro Ling misterius. "Esok malam, di lapangan desa. Kita akan menari. Dan saya mengundang Ming Yue, penari desa yang terkenal, untuk bergabung."


Ming Yue adalah nama yang dikenal oleh setiap penduduk desa. Penari muda yang anggun, dengan gerakan menari yang memikat dan memabukkan.


Malam berikutnya, lapangan desa dipenuhi dengan penduduk yang ingin menyaksikan kompetisi menari. Lentera-lentera digantung di sekeliling lapangan, memberikan suasana yang hangat dan magis. Ritme drum mulai berdentang, menandai dimulainya kompetisi.


Ming Yue adalah yang pertama menari. Dengan pakaian menari tradisional berwarna merah muda, dia bergerak begitu anggun dan penuh perasaan. Setiap gerakannya seakan bercerita, memikat setiap penonton.


Maestro Ling adalah yang berikutnya. Meski usianya tidak muda lagi, gerakannya begitu penuh energi dan kehidupan. Dia menari dengan gaya klasik, namun dengan sentuhan modern yang membuatnya terlihat segar.


Kini giliran Xian. Awalnya dia merasa canggung, namun seiring berjalannya waktu, dia mulai membiarkan musik mengalir melalui dirinya. Gerakannya menjadi lebih lancar dan penuh emosi.


Setelah kompetisi selesai, ketiga penari berdiri di tengah lapangan, menunggu keputusan dari penonton. Sorak sorai menggema, namun tidak ada yang lebih unggul dari yang lain. Semua menari dengan hati dan jiwa.


Maestro Ling berjalan mendekati Xian, "Apa yang kamu rasakan saat menari, Xian?"


Xian menghela nafas, "Saya merasa bebas, Maestro. Seperti terbang."

__ADS_1


Maestro Ling mengangguk, "Itulah kreativitas dan kesabaran, Xian. Dalam kultivasi, kita harus membiarkan jiwa kita terbang bebas, namun tetap sabar dan tenang."


Xian memandang Maestro Ling dengan pengertian baru, "Terima kasih, Maestro. Saya mengerti sekarang."


Kompetisi menari itu mungkin bukanlah tentang kemenangan, tetapi lebih tentang pemahaman diri dan menghargai setiap momen dalam hidup.


Xian duduk di tepian sungai, menatap refleksi bulan di air yang berkilauan. Hembusan angin malam membawa aroma bunga yang mekar, mengisi udara dengan harum yang menenangkan. Di kejauhan, suara musik dan tawa dari desa mulai terdengar, mengisyaratkan dimulainya pesta dansa bulan purnama.


"Hmm, sedang apa kamu di sini sendirian?" Suara Maestro Ling mengalihkan perhatian Xian.


Xian tersenyum, "Saya hanya... berpikir, Maestro. Tentang semua pelajaran yang telah Anda ajarkan kepada saya. Saya menyadari bahwa kekuatan bukanlah segalanya. Kita juga perlu keseimbangan antara pikiran, tubuh, dan jiwa."


Maestro Ling duduk di samping Xian, "Sangat benar. Kekuatan tanpa kontrol hanya akan membawa kehancuran. Namun, dengan ketepatan, elegansi, dan emosi, kekuatan itu bisa menjadi sesuatu yang luar biasa."


Xian mengangguk, matanya berbinar, "Saya ingin belajar lebih banyak lagi, Maestro. Saya ingin menjadi kultivator terbaik yang pernah ada."


Maestro Ling tersenyum, wajahnya berkeriput dan mata tuanya menunjukkan kebijaksanaan, "Dengan semangat seperti itu, saya yakin kamu akan mencapainya."


Xian menerima tangan Maestro Ling dan keduanya berjalan menuju desa. Di alun-alun, penduduk desa sudah berkumpul, membentuk lingkaran dan menari mengikuti irama musik. Lentera-lentera bercahaya menggantung di sekeliling alun-alun, menciptakan suasana yang hangat dan magis.


Maestro Ling dan Xian bergabung dalam tarian, berputar dan bergerak mengikuti irama. Wajah mereka penuh kegembiraan, dan mereka menari dengan hati dan jiwa.


Seorang gadis muda dengan gaun biru muda mendekati Xian, menawarkan tangannya. Dengan senyum malu, Xian menerimanya dan mereka berdua menari bersama. Gerakan mereka seirama, dan mata mereka saling bertemu dengan percikan cahaya.


Sementara itu, Maestro Ling menari dengan seorang wanita tua yang tampaknya kenal dengannya sejak lama. Mereka tertawa dan bercerita, menunjukkan betapa dalamnya hubungan mereka.


Malam berlalu dengan cepat, dan saat fajar mulai menyingsing, pesta berakhir. Xian, dengan napas terengah-engah dan wajah yang bersemu, duduk di samping Maestro Ling. "Terima kasih, Maestro. Malam ini sungguh luar biasa."


Maestro Ling mengangguk, "Kadang-kadang, kita perlu melupakan beban dan kesulitan hidup, dan hanya menikmati momen. Setiap momen adalah pelajaran, Xian. Ingatlah itu."

__ADS_1


Xian tersenyum, "Saya akan, Maestro."


Keduanya berdiri dan berjalan kembali ke tempat latihan, siap untuk menghadapi tantangan dan pelajaran baru yang akan datang.


Langit pagi mulai berwarna merah muda saat Xian memulai latihannya. Setiap gerakannya terlihat lebih tajam dan fokus daripada sebelumnya. Dedunya dengan hati-hati membentuk tanda-tanda kultivasi, sementara nafasnya mengalir dalam ritme yang konsisten.


Maestro Ling, yang tengah duduk dengan posisi bersila di sebuah batu besar, memperhatikan dengan saksama. Energi alam di sekitar mereka bergetar, menunjukkan betapa kuatnya konsentrasi Xian.


"Tampaknya tekadmu semakin kuat, Xian," kata Maestro Ling, suaranya lembut namun pasti.


Xian menghentikan gerakannya sejenak, matanya bersinar, "Terima kasih, Maestro. Saya merasa ada perubahan dalam diri saya."


Maestro Ling mengangguk, "Saatnya kamu belajar sesuatu yang baru." Dia mengambil sebuah gulungan kertas lama dan memberikannya kepada Xian. "Ini adalah mantra khusus yang akan membantu meningkatkan kultivasimu."


Xian membuka gulungan tersebut dengan hati-hati, mata mempelajari setiap kata. Namun, sebelum dia bisa benar-benar memahami, suara kicauan burung yang merdu memecah keheningan.


Mereka berdua menoleh, dan sebuah burung indah dengan bulu berwarna-warni mendarat di cabang pohon di dekat kamp. Burung tersebut tampak begitu langka dan mempesona, dengan bulu berwarna biru tua yang berkilauan saat terkena sinar matahari, serta ekornya yang panjang berwarna emas.


"Ah, itu adalah Burung Phoenix Biru Langka," gumam Maestro Ling dengan kagum. "Tidak sering kita melihat keajaiban seperti ini."


Xian, yang terpesona oleh keindahan burung tersebut, bertanya, "Apakah burung ini memiliki hubungan dengan kultivasi, Maestro?"


Maestro Ling tersenyum, "Semua makhluk hidup memiliki hubungan dengan kultivasi. Keajaiban alam ini mengingatkan kita betapa pentingnya harmoni dengan alam. Dalam kultivasi, kita bukan hanya memahami diri kita sendiri tetapi juga alam sekitar kita."


Xian mengangguk dengan penuh pengertian. "Jadi, untuk mencapai kultivasi tertinggi, kita harus berada dalam keselarasan dengan alam?"


"Benar sekali," balas Maestro Ling sambil menepuk bahu Xian. "Jika kita hidup dalam harmoni dengan alam, energi kita akan mengalir dengan lebih lancar, dan kita akan mampu mencapai puncak kultivasi dengan lebih cepat."


Mereka berdua menghabiskan beberapa saat dalam keheningan, menikmati keindahan burung Phoenix Biru yang kini tengah bermain-main dengan air di sungai kecil di dekat kamp.

__ADS_1


Setelah burung tersebut terbang pergi, Xian kembali ke latihannya dengan tekad yang lebih kuat. Dengan bantuan mantra khusus dan pelajaran dari Maestro Ling, dia yakin akan mencapai puncak kultivasi dalam waktu yang tidak terlalu lama.


__ADS_2