
Di pasar yang ramai itu, Xian berjalan dengan santai, mengamati berbagai dagangan yang ditawarkan oleh pedagang lokal. Bau makanan yang menggugah selera menyapanya, dan dia merasa senang untuk menjelajahi pasar ini, bahkan jika tujuannya adalah mencari tahu lebih banyak tentang ketegangan antara Klan Tongkat Sakti dan Klan Penggali Kubur.
Tiba-tiba, suara perdebatan yang semakin keras menarik perhatiannya. Dia mengikuti suara itu dan tiba-tiba melihat dua kultivator yang berdiri di tengah pasar, tampaknya bersiap untuk berduel dengan tongkat masing-masing. Mereka berdebat dengan keras tentang harga sebuah barang dagangan, dan wajah mereka penuh semangat.
Xian, yang merasa senang dengan suasana kompetitif ini, mendekati mereka dengan langkah langkah yang santai. Dia tersenyum lebar saat mendekati kedua kultivator itu. "Hei, hei!" sapa Xian dengan riang. "Apa yang sedang terjadi di sini? Apa yang membuat kalian begitu serius?"
Anggota Klan Tongkat Sakti dan Klan Penggali Kubur saling menunjuk satu sama lain sambil berbicara dengan antusias. Keduanya berusaha meyakinkan Xian bahwa mereka adalah yang benar dalam perdebatan ini. Klan Tongkat Sakti mengklaim bahwa mereka telah membayar harga yang wajar, sedangkan Klan Penggali Kubur bersikeras bahwa harga itu terlalu mahal.
Xian, yang sebenarnya datang untuk mencari tahu tentang situasi ini, tidak ingin pertarungan terjadi. Sebaliknya, dia ingin memecah ketegangan dan membawa sedikit keceriaan ke dalam situasi ini. Dengan senyumnya yang menawan, dia berkata, "Baiklah, baiklah, mari kita lihat siapa yang lebih hebat dalam tawar-menawar!" Dia mengambil barang dagangan yang diperebutkan itu dan dengan dramatis mulai berpura-pura menganalisisnya dengan cermat. "Hmm, ini adalah barang yang sangat istimewa, sepertinya harganya memang sedikit tinggi, tapi kita bisa menyelesaikan ini dengan cara yang lebih menyenangkan, bukan?"
Kultivator dari kedua klan mulai tertawa mendengar kata-kata Xian. Mereka lalu bergantian melepaskan senyum dan membantu Xian menciptakan lelucon dengan cara mereka masing-masing. Pertengkaran yang tadi begitu serius berubah menjadi suasana yang jauh lebih santai dan ceria. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengambil keputusan bersama dan menemukan solusi yang adil.
Xian, yang sebenarnya tidak berniat untuk membeli barang tersebut, akhirnya mengembalikannya kepada pedagang dengan senyuman. Dia berbalik kepada kedua kultivator itu dan berkata, "Jadi, teman-teman, apa yang sedang terjadi sebenarnya? Mengapa ketegangan ini begitu besar?"
__ADS_1
Kedua kultivator itu pun dengan senang hati menceritakan latar belakang konflik antara klan mereka. Xian mendengarkan dengan penuh perhatian, mengumpulkan informasi yang dia butuhkan untuk memahami situasi ini lebih baik. Dalam hatinya, dia berharap bahwa dia bisa membantu mengatasi ketegangan ini dan membawa kedua klan tersebut ke arah yang lebih damai.
Setelah berhasil meredakan konflik di pasar dan mendengar cerita dari kedua klan, Xian memutuskan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang Klan Tongkat Sakti. Dia merasa bahwa dengan memahami kedua sisi konflik, dia akan dapat berperan sebagai mediator yang lebih efektif.
Dengan langkah langkah yang gembira, Xian melangkah menuju markas Klan Tongkat Sakti. Markas ini terletak di lereng bukit yang indah dengan pemandangan hutan yang hijau. Pintu gerbang utama dikelilingi oleh pepohonan bunga yang indah yang menghiasi lingkungan dengan warna-warni yang cerah.
Ketika Xian tiba di pintu gerbang, dia disambut oleh anggota klan yang tersenyum lebar dan ramah. Mereka mempersilakan Xian masuk ke dalam dan menawarkan untuk mengantarnya ke pemimpin klan. Xian dengan senang hati menerima tawaran tersebut dan mengikuti mereka melalui jalan-jalan yang indah di dalam kompleks.
Di tengah markas klan, Xian diperkenalkan kepada pemimpin Klan Tongkat Sakti, seorang pria yang bijaksana bernama Lao Chen. Lao Chen menyambut Xian dengan tulus dan mengundangnya untuk duduk di tengah-tengah anggota klan yang telah berkumpul.
Tiba-tiba, seseorang mengambil sebuah alat musik yang aneh yang terlihat seperti campuran antara biola dan terompet. Dia memainkan beberapa nada yang aneh, dan semua orang yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak. Tidak mau ketinggalan, Xian juga ikut ambil bagian dalam musik tersebut dan menciptakan melodi yang kocak. Musik itu menjadi semakin lucu ketika beberapa anggota klan lainnya mulai berdansa dengan gerakan yang aneh dan menggelitik.
Mereka semua tertawa bersama-sama, dan suasana menjadi sangat ceria. Xian merasa bahwa ini adalah tempat yang penuh dengan kegembiraan dan tawa. Setelah musik selesai, anggota klan mengajak Xian untuk makan bersama, dan mereka menyajikan hidangan-hidangan lezat yang membuat semua orang tertawa dan berbicara dengan antusias.
__ADS_1
Selama kunjungannya ke Klan Tongkat Sakti, Xian merasa bahwa ini adalah tempat yang penuh dengan semangat positif dan kebahagiaan. Dia mulai memahami bahwa konflik antara kedua klan ini mungkin memiliki akar yang lebih dalam dari yang terlihat, dan mungkin saja filosofi Guyon yang dia ajarkan dapat membantu mengatasi ketegangan ini. Dengan perasaan lega dan senyuman di wajahnya, Xian berjanji untuk melanjutkan peran sebagai mediator dalam upaya untuk menjaga perdamaian di Kerajaan Han Sang.
Xian memutuskan untuk melanjutkan misinya sebagai mediator dengan mengunjungi Klan Penggali Kubur. Dia ingin mendengar versi mereka tentang konflik ini dan mencari cara untuk meredakan ketegangan. Dengan langkah langkah yang bersemangat, dia memulai perjalanan menuju markas Klan Penggali Kubur.
Markas Klan Penggali Kubur terletak di dataran yang luas, dengan pemandangan yang tidak kalah indah dari markas Klan Tongkat Sakti. Begitu Xian tiba di pintu gerbang, dia merasa atmosfer yang berbeda. Anggota klan yang berjaga di pintu gerbang menatapnya dengan pandangan curiga dan ketegangan.
Xian, tidak terpengaruh oleh pandangan tersebut, tersenyum lebar dan berseru, "Halo! Saya Lee Xian, dan saya datang sebagai seorang mediator. Saya ingin mendengar versi Anda tentang konflik ini dan mencari cara untuk membantu menyelesaikannya."
Awalnya, para anggota Klan Penggali Kubur tetap berada dalam sikap waspada. Mereka merasa tidak nyaman dengan kedatangan Xian, yang dianggap sebagai wakil dari klan saingan. Namun, Xian tidak membiarkan ketegangan itu berlangsung lama.
Dengan cepat, dia mengubah suasana hati dengan lelucon dan keceriaannya yang menular. Dia mulai bercerita tentang petualangannya di luar kota dan menggoda dirinya sendiri dengan cara yang mengundang tawa. Beberapa anggota klan mulai tersenyum, dan suasana pun menjadi lebih santai.
Xian juga meminta para anggota klan untuk berbagi cerita tentang penggalian kuburan dan insiden-insiden lucu yang pernah terjadi selama latihan persilatan mereka. Dalam waktu singkat, para anggota klan berbagi kisah-kisah yang menggelikan, dan tawa pun menggema di seluruh markas. Mereka tertawa bersama-sama tentang kejadian-kejadian lucu yang mereka alami, dan semua ketegangan yang ada seolah lenyap.
__ADS_1
Setelah beberapa jam berbicara dan tertawa bersama, Xian merasa bahwa dia telah berhasil memecah ketegangan di antara anggota Klan Penggali Kubur. Mereka mulai melihatnya sebagai mediator yang sejati, yang datang dengan niat baik untuk membantu menyelesaikan konflik ini.
Xian mengakhiri kunjungannya dengan mengucapkan terima kasih kepada klan tersebut atas keramahan mereka. Dia merasa yakin bahwa dengan bantuan filosofi Guyon yang diajarkannya, dia bisa membantu mengatasi konflik ini dan membawa perdamaian kembali ke Kerajaan Han Sang.