Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Menyegel Iblis


__ADS_3

Setelah berhasil menemukan Pedang Langit, Xian dan kawan-kawannya melanjutkan pencarian mereka untuk mencari artefak kedua, Perisai Naga. Menurut petunjuk yang mereka terima, perisai itu ditemukan di dalam Hutan Hantu, sebuah tempat yang terkenal dengan hutan yang gelap dan penuh misteri.


Mereka tiba di Hutan Hantu saat senja mulai menjelang, dan suasana hutan itu sungguh menyeramkan. Pohon-pohon raksasa dengan cabang-cabang yang menjulang tinggi menyerupai tangan-tangan raksasa yang siap mencengkeram siapa pun yang melewatinya. Angin malam berdesir dengan suara seram di antara pepohonan, dan matahari terbenam dengan perlahan, meninggalkan mereka dalam kegelapan.


"Temani saya, teman-teman," kata Xian dengan penuh semangat. "Kita harus mencari Perisai Naga sebelum malam benar-benar tiba."


Mereka berjalan lebih dalam ke dalam hutan, berpegangan tangan agar tidak terpisah satu sama lain. Semakin mereka mendekati inti hutan, semakin gelap dan mencekam suasana. Xian mencoba untuk tetap ceria, meskipun hatinya merasa tidak nyaman.


"Tentu saja Perisai Naga akan tersembunyi di dalam gua yang paling gelap dan menakutkan di sini," kata Xian dengan nada lembut. "Kita harus ekstra berhati-hati."


Saat mereka melangkah lebih jauh, Xian yang berada di baris depan tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Dia merasa kehadiran yang sangat kuat, dan ketika dia menoleh, dia melihat Iblis Kuno itu sendiri muncul di hadapannya.


Iblis Kuno adalah makhluk raksasa yang menakutkan. Tubuhnya terlihat seperti gabungan antara naga dan monster, dengan mata merah yang memancarkan kemarahan murni. Semburan api biru muda keluar dari mulutnya, dan kuku-kukunya yang tajam mengejar mereka dengan niat membunuh.


Teman-teman Xian, yang berada di belakangnya, terkejut dan ketakutan saat mereka melihat Iblis Kuno. Mereka tahu bahwa mereka belum cukup kuat untuk melawan makhluk ini, dan panik pun mulai merayap ke dalam hati mereka.


Xian, bagaimanapun, adalah tipe yang tidak mudah menyerah. Dia tahu bahwa mereka harus melarikan diri, tetapi dia juga tahu bahwa mereka harus mencoba mengalihkan perhatian Iblis Kuno agar mereka memiliki kesempatan untuk melarikan diri.


Tanpa berpikir panjang, Xian mencabut sebuah alat musik tradisional yang selalu dia bawa dengan dirinya. Dia mulai memainkannya dengan nada yang salah-salah, menciptakan suara yang cacat dan menyakitkan.


Iblis Kuno, yang awalnya tengah bersiap untuk menyerang, terdiam mendengar suara alat musik yang menyakitkan telinga itu. Matanya yang marah menjadi terkejut dan kesal. Dia mencoba menutup telinganya dengan cakar-cakarnya yang besar, tetapi suara alat musik itu terus berlanjut.


"Sialan ini! Apa yang kamu lakukan?!" bentak Iblis Kuno dengan suara gemuruhnya yang menggema di antara pepohonan.


Saat itu, teman-teman Xian melihat peluang dan segera melarikan diri. Mereka berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu, meninggalkan Xian yang tetap memainkan alat musiknya dengan penuh semangat.


Iblis Kuno akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dari suara yang menyakitkan itu dan mengejar teman-teman Xian yang telah pergi. Dia tidak tahu bahwa mereka telah berhasil meloloskan diri berkat tindakan bodoh Xian.


Setelah yakin Iblis Kuno sudah cukup jauh, Xian akhirnya menghentikan permainan musiknya yang cacat dan mengikuti teman-temannya. Mereka semua bertemu di luar hutan dan bernafas lega bahwa mereka berhasil melarikan diri dari pertemuan yang sangat berbahaya.

__ADS_1


Teman-teman Xian tidak bisa menahan tawa saat mereka mendengar kisah Xian memainkan alat musik yang salah-salah untuk mengalihkan perhatian Iblis Kuno. Meskipun mereka merasa ketakutan, tawa mereka adalah bentuk pelepasan dari ketegangan yang mereka rasakan.


Xian hanya tersenyum dan berkata, "Terkadang, nada yang salah-salah adalah senjata yang paling ampuh!"


Setelah melewati pengalaman menegangkan di Hutan Hantu, Xian dan kawan-kawannya kembali ke desa mereka dengan Pedang Langit yang mereka temukan. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka belum selesai, dan Perisai Naga masih harus ditemukan, tetapi saat ini mereka harus memfokuskan perhatian mereka pada tugas yang mendekati.


Penduduk desa telah hidup dalam ketegangan sejak kabar tentang bangkitnya Iblis Kuno menyebar, dan mereka sangat membutuhkan hiburan untuk mengalihkan perhatian mereka dari ancaman yang mengancam. Xian tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk memberi semangat kepada mereka dan mengangkat suasana hati.


"Mengapa kita tidak mengadakan kompetisi menyanyi, teman-teman?" usul Xian kepada kawan-kawannya. "Ini adalah cara yang bagus untuk mengalihkan perhatian penduduk desa dari ketakutan mereka, dan pada saat yang sama, kita bisa memberi mereka hiburan."


Teman-temannya setuju dengan usul Xian, dan mereka segera mulai mengorganisir kompetisi menyanyi di desa. Mereka memilih tempat terbuka di tengah desa sebagai lokasi acara, dan Xian sendiri bertindak sebagai penyelenggara.


Saat hari kompetisi tiba, penduduk desa berkumpul dengan antusias di lapangan terbuka. Mereka membawa tikar dan makanan ringan untuk menikmati pertunjukan. Sebuah panggung sederhana telah dibangun di satu sisi lapangan, dan Xian berdiri di atasnya dengan mikrofon di tangan.


"Selamat datang, saudara-saudara!" sambut Xian dengan senyuman cerah. "Kami memiliki pertunjukan yang luar biasa untuk Anda malam ini. Mari kita bersenang-senang dan menghibur satu sama lain!"


Kompetisi dimulai, dan penduduk desa satu per satu naik ke panggung untuk menyanyikan lagu-lagu mereka. Ada lagu-lagu tentang cinta, tentang kehidupan pedesaan, dan tentang keindahan alam di sekitar mereka. Semua penampilan itu luar biasa, dan penonton memberikan tepuk tangan hangat sebagai apresiasi.


"Lagu ini adalah tentang Iblis Kuno yang jatuh cinta pada sebatang pohon," kata Xian dengan nada serius palsu. "Ya, Anda dengar dengan benar, Iblis Kuno dan sebatang pohon."


Xian memulai lagunya dengan melodi yang lucu, dan liriknya benar-benar menggambarkan Iblis Kuno yang sedang jatuh cinta pada pohon. Iblis Kuno yang menakutkan menjadi sosok yang lucu dan menggemaskan dalam lagu itu.


Penduduk desa tertawa terbahak-bahak mendengar lirik-lirik yang aneh dan menggelitik. Beberapa kultivator senior yang biasanya serius pun ikut menyanyikan chorusnya dengan semangat. Suasana hati di desa itu langsung berubah menjadi riang dan ceria.


Xian menyelesaikan lagunya dengan nada tinggi, dan penonton memberikan tepuk tangan meriah. Mereka tahu bahwa Xian adalah sumber kebahagiaan mereka, bahkan dalam situasi yang paling genting.


Setelah pertunjukan, Xian dan kawan-kawannya mendapat banyak pujian dari penduduk desa. Mereka merasa senang karena berhasil memberikan hiburan dan mengalihkan perhatian penduduk desa dari ancaman yang mengancam.


Malam itu, di bawah bintang-bintang yang berkilauan, penduduk desa berkumpul untuk berbicara dan tertawa bersama. Mereka merasa terhubung satu sama lain, dan meskipun mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan berbahaya, mereka juga tahu bahwa persahabatan dan kegembiraan adalah senjata yang paling kuat untuk menghadapi ancaman apa pun yang datang.

__ADS_1


Xian, dengan senyumnya yang cerah, merasa puas dengan apa yang telah mereka capai malam itu. Dia tahu bahwa meskipun mereka akan menghadapi Iblis Kuno yang menakutkan, mereka memiliki kekuatan untuk melawannya, dan mereka memiliki satu sama lain.


Setelah berhasil mengumpulkan Pedang Langit dan Perisai Naga, Xian dan kawan-kawannya kembali ke desa dengan senyum kemenangan di wajah mereka. Mereka tahu bahwa saatnya tiba untuk melanjutkan rencana penyegelan Iblis Kuno, dan persiapan pun telah dilakukan dengan matang.


Penduduk desa, yang sebelumnya hidup dalam ketakutan, merasa lega melihat kultivator-kultivator muda ini dengan artefak kuno di tangan. Mereka tahu bahwa ada harapan untuk mengatasi ancaman Iblis Kuno, dan semangat mereka mulai pulih.


Xian dan kawan-kawannya mengadakan pertemuan terakhir di aula desa untuk merencanakan strategi penyegelan. Mereka duduk di sekitar meja panjang, dengan peta Gunung Setan dan gua-gua yang mereka kenal dengan baik terbentang di depan mereka.


"Saudara-saudara," kata Sifu Zhao, ketua kultivator senior, "waktu kita telah tiba. Kami harus segera pergi ke puncak Gunung Setan untuk menyegel Iblis Kuno kembali ke dalam guanya."


Xian mengangguk serius. "Kami siap, Sifu Zhao. Kami akan menggunakan Pedang Langit dan Perisai Naga dengan bijak untuk menyelesaikan tugas ini."


Setelah berdiskusi tentang strategi penyegelan yang matang, mereka berangkat menuju Gunung Setan. Perjalanan menuju puncak bukit yang mendung itu adalah perjalanan yang berat dan penuh rintangan. Mereka harus melalui terowongan gelap dan rawa-rawa berbahaya sebelum mencapai pintu masuk gua Iblis Kuno.


Setelah tiba di pintu masuk gua, mereka memasuki gua yang gelap dan menakutkan. Ketika mereka mencapai ruang tengah gua, mereka melihat Iblis Kuno yang menjulang tinggi, siap menyerang.


Xian dan kawan-kawannya bersiap-siap, dengan Pedang Langit dan Perisai Naga di tangan mereka. Mereka tahu bahwa ini adalah pertarungan yang serius dan bahwa kesalahan satu langkah saja bisa berakibat fatal.


Pertempuran dengan Iblis Kuno berlangsung dengan sengit. Pedang Langit berkilau dengan cahaya biru yang tajam, dan Perisai Naga melindungi mereka dari serangan Iblis Kuno yang ganas. Meskipun Iblis Kuno adalah musuh yang sangat kuat, mereka tidak kehilangan semangat.


Akhirnya, dengan strategi yang matang dan kerja tim yang baik, mereka berhasil melumpuhkan Iblis Kuno. Xian mengeksekusi gerakan penyegelan dengan hati-hati, menggunakan Pedang Langit untuk mengunci Iblis Kuno kembali ke dalam guanya.


Saat Iblis Kuno akhirnya disegel, suasana hati mereka berubah dari tegang menjadi lega. Mereka tahu bahwa ancaman Iblis Kuno telah berakhir, setidaknya untuk sementara waktu.


Xian, yang tidak pernah kehilangan semangatnya, segera mengajak semua orang untuk merayakan kemenangan mereka. Dia memulai tarian lucu dan konyol di sekitar segel, mengajak semua orang untuk ikut bergerak dalam gerakan yang aneh dan kocak.


Teman-teman Xian, kultivator senior, dan bahkan penduduk desa yang hadir di dalam gua itu tertawa terbahak-bahak melihat gerakan tari yang gila-gilaan itu. Mereka merasa ringan hati dan bahagia setelah berhasil menyegel Iblis Kuno.


Malam itu, di dalam gua yang penuh dengan kegelapan, mereka merayakan kemenangan mereka dengan tawa dan tarian. Mereka tahu bahwa bahkan dalam kegelapan yang paling suram, ada tempat untuk kebahagiaan dan persahabatan. Xian, dengan senyumannya yang cerah, adalah sumber keceriaan mereka, dan mereka merasa bersyukur memiliki seseorang seperti dia di samping mereka.

__ADS_1


Dengan Iblis Kuno yang telah disegel kembali dan suasana hati yang membaik, mereka kembali ke desa dengan kepala tegak dan hati penuh harapan. Mereka tahu bahwa dunia persilatan China akan selalu menjadi tempat yang penuh tantangan, tetapi dengan persahabatan dan semangat, mereka siap menghadapinya.


__ADS_2