
Suasana latihan di aula besar Istana Emas sangat berbeda dengan ruang latihan sebelumnya. Ruangan ini dipenuhi dengan kostum dan aksesori berkilauan, serta sekelompok aktor dan aktris berbakat yang telah lama terlibat dalam opera sejarah dunia persilatan. Xian merasa sedikit canggung saat memasuki ruangan yang penuh gemerlap.
Seorang sutradara berpengalaman berdiri di tengah-tengah panggung, memandu para aktor dan aktris dalam berlatih gerakan dan dialog mereka. "Baik, mari kita mulai dari awal!" ujarnya dengan suara yang keras.
Xian duduk di salah satu kursi kosong di sudut panggung, mencoba memahami alur cerita opera tersebut. Dia telah diberitahu bahwa opera ini akan menggambarkan sejarah dunia persilatan, dan dia akan memerankan salah satu karakter penting dalam cerita tersebut.
Sutradara membagikan naskah kepada para pemain, dan mereka mulai membacanya dengan tekun. Xian mencoba keras untuk mengikuti, meskipun dia masih merasa agak kaku dalam membaca naskah dalam bahasa yang tidak sepenuhnya dia mengerti.
Saat latihan dimulai, Xian merasa terpesona oleh kemampuan para aktor dan aktris. Mereka menggambarkan adegan-adegan pertempuran dengan gerakan yang begitu halus dan indah, seolah-olah mereka benar-benar berada di medan perang. Dia juga terkesan oleh dialog-dialog mereka yang penuh emosi dan dramatis.
Setelah beberapa jam berlatih, giliran Xian untuk beraksi. Dia akan memerankan karakter Putri Lotus, seorang wanita yang menjadi pahlawan dalam cerita tersebut. Kostum yang telah disiapkan untuknya adalah gaun berwarna merah muda dengan hiasan bunga-bunga yang indah.
Xian mengenakan kostum tersebut dengan ragu-ragu, merasa tidak nyaman dengan busana yang begitu feminin. Dia berdiri di depan cermin besar dan mencoba menyesuaikan diri dengan peran yang berbeda dengan dirinya.
Sutradara memanggilnya untuk naik ke panggung. "Sekarang, Xian, mari kita lihat bagaimana kamu bisa memerankan Putri Lotus. Ingat, karakter ini adalah seorang pahlawan yang berani dan kuat!"
Dengan sedikit keberanian, Xian naik ke panggung dengan langkah yang gagah. Dia mencoba mengikuti instruksi sutradara dan bergerak dengan gemulai, seperti seorang putri yang seharusnya. Namun, dia merasa bahwa setiap gerakan yang dia lakukan terlalu kikuk dan tidak cocok dengan kepribadiannya.
Para aktor dan aktris lainnya yang melihatnya mulai bertukar pandang, dan beberapa dari mereka tertahan tawa. Xian merasa semakin gugup dan salah tingkah.
Saat dia memasuki adegan pertempuran, dia harus mengangkat pedang palsu yang cukup berat. Namun, karena kostumnya yang tidak biasa, dia kesulitan mengangkat pedang tersebut dengan benar. Akhirnya, dia melompat dengan energi berlebihan, mengayunkan pedangnya dengan semangat.
Tiba-tiba, pedang palsunya terlepas dari tangan Xian dan terbang ke udara. Semua orang di ruangan itu menahan nafas, dan pedang itu berputar-putar sebelum jatuh tepat di depan kaki sutradara.
Xian merasa memerah saat dia menatap pedang yang terlepas, dan kemudian melihat ekspresi terkejut pada wajah semua orang di ruangan itu. Sutradara mengambil napas dalam-dalam dan berkata, "Baiklah, mari kita coba lagi. Ingatlah, ini hanya latihan."
Mereka mencoba adegan itu berkali-kali, tetapi setiap kali Xian merasa lebih kikuk daripada sebelumnya. Dia terus salah tingkah dengan kostum putri yang feminin dan merasa seperti dia bukanlah orang yang tepat untuk peran ini.
Setelah latihan selesai, Xian menemui sutradara. "Maafkan saya, Tuan Sutradara," katanya dengan rasa malu. "Saya tidak tahu bagaimana memerankan karakter ini dengan baik."
Sutradara tersenyum dan menjawab, "Tidak apa-apa, Xian. Ini hanya latihan, dan Anda masih belajar. Yang terpenting adalah semangat dan dedikasi Anda. Kita akan terus berlatih dan Anda akan menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu."
__ADS_1
Xian merasa terhibur oleh kata-kata semangat sutradara. Dia mungkin tidak memiliki bakat alami untuk berakting dalam opera, tetapi dia yakin bahwa dengan latihan yang cukup, dia bisa memerankan karakter Putri Lotus dengan baik. Dengan rasa tekun, dia kembali ke tempat duduknya untuk menunggu latihan berikutnya.
Latihan untuk opera itu terus berlanjut, dan meskipun Xian terus menghadapi beberapa kesalahan dan candaan dari rekan-rekannya, dia tidak pernah kehilangan semangat. Dia tahu bahwa perannya dalam opera ini adalah bagian dari perjalanan barunya di dunia persilatan, dan dia siap untuk menghadapinya dengan penuh semangat dan humor yang selalu melekat pada dirinya.
Malam telah tiba, dan teater besar Istana Emas dipenuhi dengan penonton yang penuh semangat. Mereka datang dari berbagai sekolah persilatan dan klan untuk menyaksikan pertunjukan opera sejarah dunia persilatan yang sangat diantisipasi. Panggungnya didekorasi dengan megah, dan latar belakang menggambarkan medan perang yang luas, lengkap dengan replika bangunan bersejarah.
Xian, yang telah menjalani berbulan-bulan latihan untuk perannya sebagai Putri Lotus, merasa gugup saat dia memakai gaun merah muda yang anggun. Dia berdiri di belakang tirai panggung, bersiap-siap untuk penampilan pertamanya.
Saat tirai terbuka, penonton menyambut dengan tepuk tangan meriah. Pertunjukan dimulai dengan adegan pertempuran yang dramatis, di mana Xian muncul sebagai seorang pahlawan yang berani berjuang demi keadilan. Dia mengikuti instruksi sutradara dan mencoba mengikuti alur cerita dengan serius.
Namun, saat pertunjukan berlanjut, Xian mulai merasa ada yang aneh. Beberapa adegan terlihat sangat mirip dengan peristiwa sebenarnya yang terjadi dalam dunia persilatan. Adegan-adegan tersebut menggambarkan rencana jahat untuk menguasai dunia persilatan dan menumbangkan penguasa yang sah.
Xian mencoba memahami apa yang sedang dia saksikan. Dia tidak bisa mengabaikan perasaannya bahwa opera ini memiliki pesan rahasia yang jauh lebih dalam daripada yang terlihat. Namun, dia juga tahu bahwa dia tidak bisa menyela pertunjukan di depan penonton yang sangat antusias.
Ketika adegan mendekati puncaknya, Xian harus menyanyikan lagu yang menggambarkan keputusasaan dan perjuangan karakternya. Dia berdiri di tengah panggung, menghela napas dalam-dalam, dan mulai bernyanyi.
Tetapi, saat dia membuka mulutnya, lirik lagu tersebut tiba-tiba hilang dari ingatannya. Dia terdiam, mencoba mencari kata-kata yang benar-benar hilang begitu saja. Panik mulai merayap di dalam dirinya, dan dia merasa ketakutan.
Para penonton di teater itu menahan napas, menunggu Xian untuk melanjutkan. Namun, Xian tidak bisa menahan diri lagi. Tanpa sadar, dia mulai menyanyikan lagu desa yang biasa dia dengar di desanya. Lagu tentang ayam dan bebek, tentang kehidupan yang sederhana dan riang.
Xian merasa semakin panik karena dia menyanyikan lagu desa dengan penuh semangat. Dia tahu bahwa dia telah membuat kesalahan besar, tetapi tidak ada jalan lain untuk mengatasi situasi ini selain dengan humor.
Ketika lagu selesai, penonton memberikan tepuk tangan dan sorakan yang meriah. Mereka mungkin terkejut dan tertawa, tetapi mereka juga menghargai keberanian Xian untuk mengatasi kesalahannya dengan cara yang lucu.
Sutradara di belakang panggung memberikan isyarat agar pertunjukan dilanjutkan. Xian melanjutkan perannya dengan penuh semangat, meskipun masih merasa malu dengan kesalahan yang telah dia buat.
Selama pertunjukan berlangsung, Xian terus mencari tanda-tanda rencana jahat yang dia yakini tersembunyi dalam opera. Dia mencoba memahami pesan yang ada di balik kata-kata dan gerakan para aktor. Meskipun dia tidak tahu pasti, dia merasa semakin yakin bahwa ada sesuatu yang perlu diungkapkan.
Ketika tirai turun pada akhir pertunjukan, penonton memberikan standing ovasi yang meriah. Mereka mungkin telah tertawa dan terhibur, tetapi Xian merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu dia selidiki.
Setelah pertunjukan berakhir, Xian berusaha mencari sutradara untuk berbicara dengannya. Dia ingin mengetahui lebih lanjut tentang pesan rahasia dalam opera tersebut dan apakah ada hubungannya dengan intrik dan konspirasi yang sedang berlangsung dalam dunia persilatan. Xian telah memasuki dunia politik dan perjuangan yang jauh lebih rumit daripada yang dia kira, dan dia siap untuk menghadapinya dengan semangat dan tekadnya yang tak tergoyahkan.
__ADS_1
Malam telah turun di Istana Emas, dan Xian berjalan melalui koridor-koridor yang gelap dan sepi. Dia merasa terbebani oleh pengetahuan tentang konspirasi yang tengah berlangsung dalam dunia persilatan. Pertunjukan opera yang dia saksikan telah memberinya petunjuk-petunjuk penting tentang rencana jahat yang ingin menguasai dunia persilatan.
Xian tahu bahwa dia tidak bisa menghadapinya sendirian. Dia harus mencari sekutu yang dapat membantunya mengungkapkan konspirasi ini dan menghentikan mereka sebelum terlambat. Dia telah mendengar kabar tentang seorang kultivator misterius yang tinggal di hutan belantara, yang dijuluki "Sang Penyelamat Dunia." Meskipun kabarnya aneh dan misterius, Xian merasa bahwa inilah saatnya untuk mencari bantuan.
Dia tiba di depan pintu yang terbuat dari kayu yang besar dan kokoh. Dia mengetuk dengan hati-hati, menunggu dengan gelisah. Pintu itu perlahan terbuka, dan seorang pria berjanggut panjang dan berpakaian sederhana muncul di depannya.
"Siapa kamu?" tanya pria itu dengan mata tajam yang memeriksa Xian.
"Saya adalah Xian, pemuda dari desa," jawab Xian dengan hormat. "Saya perlu bantuan Anda. Saya telah mengetahui konspirasi besar yang ingin menguasai dunia persilatan, dan saya percaya Anda adalah satu-satunya yang bisa membantu saya menghentikannya."
Pria itu diam sejenak, seolah-olah sedang mempertimbangkan permintaan Xian. Kemudian, dengan anggukan kepala yang lambat, dia berkata, "Masuklah."
Xian mengikuti pria itu ke dalam rumahnya yang sederhana. Di dalam, dia melihat peralatan kultivasi yang rumit dan buku-buku yang mengisi rak-rak kayu. Tempat ini benar-benar merupakan tempat yang diperuntukkan bagi seorang yang sangat mendalami seni kultivasi.
Pria itu duduk di meja kayu dan menatap Xian dengan tajam. "Ceritakan semuanya," ucapnya.
Xian menceritakan semua yang dia ketahui tentang konspirasi yang telah dia saksikan selama pertunjukan opera. Dia menjelaskan bagaimana adegan-adegan dalam pertunjukan tampaknya menggambarkan rencana jahat untuk menguasai dunia persilatan.
Pria itu mendengarkan dengan serius, dan setelah Xian selesai berbicara, dia berkata, "Ini adalah berita yang sangat serius. Saya juga telah mendengar tentang rencana ini, dan saya telah mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Saya bersedia membantu Anda, Xian, tetapi ini adalah tugas yang berat dan berbahaya. Apakah Anda siap untuk menghadapinya?"
Xian merasa hatinya penuh semangat. "Saya siap, Tuan Penyelamat Dunia. Saya akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mengungkapkan konspirasi ini dan menyelamatkan dunia persilatan."
Pria itu tersenyum, dan untuk pertama kalinya, ekspresinya terlihat lebih ringan. "Baiklah, kita akan merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Tapi terlebih dahulu, ada hal yang harus kita lakukan."
Dia mengambil sesuatu dari laci meja kayunya dan memberikannya kepada Xian. Itu adalah topeng raksasa dengan ekspresi konyol.
"Kenakan ini sebagai upaya penyamaran," ucap pria itu. "Ketika Anda mencari sekutu atau menjalankan misi rahasia, Anda akan perlu menyamar. Topeng ini akan membuat Anda lebih sulit dikenali."
Xian merasa agak aneh mengenakan topeng raksasa dengan ekspresi konyol di wajahnya, tetapi dia memahami pentingnya penyamaran. Dia meletakkan topeng itu di wajahnya dan mencoba untuk terlihat serius.
Namun, ketika dia melihat wajahnya sendiri di cermin, dia malah tertawa. Topeng itu membuatnya terlihat lebih mencolok daripada sebelumnya.
__ADS_1
Pria itu juga tersenyum melihat Xian. "Ingatlah, Xian, humor adalah senjata yang kuat. Terkadang, keceriaan Anda bisa menjadi perlindungan terbaik Anda. Sekarang, mari kita rencanakan langkah-langkah selanjutnya."
Mereka duduk bersama di meja kayu, merencanakan bagaimana mereka akan mengungkap konspirasi ini dan menghentikan rencana jahat yang ingin menguasai dunia persilatan. Xian mungkin telah mengenakan topeng konyol, tetapi dia tahu bahwa perjuangan ini adalah hal yang serius, dan dia siap untuk menghadapinya dengan semangat dan tekadnya yang tak tergoyahkan.