Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Perjalanan ke Kuil Leluhur


__ADS_3

Hutan terasa begitu sunyi, hanya dihiasi oleh nyanyian burung yang riang. Cahaya matahari merayap di antara dedaunan yang rimbun, menciptakan sinar-sinar keemasan yang membelah lapisan-lapisan daun hijau. Lee Xian, pemuda desa yang selalu penuh dengan keceriaan, melangkah dengan semangat penuh di antara pohon-pohon besar, merasa seperti sedang berada dalam petualangan baru.


Tidak jauh dari tempat dia berdiri, dia melihat sebuah gua yang mulai tersembunyi oleh dedaunan dan rimbunnya hutan. Kecurigaan muncul di dalam benaknya. Dengan rasa ingin tahu yang tak terkendali, Xian mendekati gua itu. Seperti kekuatan alam semesta yang mengendalikannya, dia merasakan bahwa ada sesuatu yang menanti di dalam sana.


Saat Xian memasuki gua itu, mata terbelalak oleh penemuan yang tak terduga. Di dinding gua, sebuah peta besar tergantung dengan indah. Tangan-tangan kuno telah menggambar simbol-simbol dan tanda-tanda yang tak dikenalnya. Xian meraih peta tersebut dan meletakkannya di atas batu besar di tengah gua, mencoba untuk menguraikan maknanya.


Namun, Xian, meskipun memiliki kecerdasan yang luar biasa, tidak terbiasa dengan simbol-simbol aneh itu. Dia mencoba mencocokkan peta dengan kenangan-kenangan masa kecilnya tentang bintang-bintang dan desain-desain yang ditemui dalam buku-buku lama di perpustakaan desa, tetapi tetap saja dia merasa bingung.


"Sekarang apa ini?" gumam Xian sambil menggaruk kepalanya yang penuh tanda tanya. Salah satu simbol di peta menarik perhatiannya. Itu mirip dengan gambar ikan, tapi ada sesuatu yang berbeda. "Hm, ikan ini sepertinya sedang memakai topi yang aneh," pikirnya sambil tertawa kecil.


Saat itulah, matahari menyinari salah satu simbol di peta dengan sudut yang sempurna, menyoroti rincian yang lebih halus. Mata Xian membesar saat dia menyadari bahwa bukan ikan yang sedang memakai topi, melainkan sebuah bukit atau gunung yang memiliki bentuk yang sangat mirip.


"Ah, itu bukan ikan!" Xian berseru. "Ini adalah peta menuju sebuah tempat yang tersembunyi! Dan tempat itu adalah bukit yang terlihat seperti ikan."


Dengan kegembiraan yang tak terkendali, Xian mencari lebih lanjut di peta dan menemukan nama desanya sendiri tertera dengan jelas di dekat bukit yang mirip ikan itu. Tidak ada keraguan lagi, peta ini membawanya ke suatu tempat yang sangat istimewa.


Segera setelah dia keluar dari gua, dia menemukan dirinya kembali berada di tengah hutan yang sunyi. Namun, kini dia memiliki tujuan yang jelas: menemukan bukit mirip ikan itu dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di sana.


Dengan langkah yang penuh semangat, dia melangkah ke dalam hutan yang lebih dalam, menuju petualangan yang baru dan tak terduga. Dan di tengah rimbunnya alam, dia tak henti-hentinya tertawa saat membayangkan ikan raksasa yang memakai topi di atas bukit.


Xian melanjutkan perjalanannya melalui hutan yang semakin lebat dan lebat, mengikuti petunjuk dari peta yang dia temukan di dalam gua rahasia. Rasa penasaran dan antisipasinya semakin memuncak setiap langkah yang dia ambil. Matahari tinggi di langit, memberikan cahaya yang berkilauan pada dedaunan yang rimbun di sekelilingnya.


Akhirnya, setelah beberapa jam berjalan kaki, Xian tiba di tepi sungai yang mengalir dengan tenang. Pemandangan yang dia lihat begitu memesona. Air sungai yang jernih mengalir dengan pelan, mencerminkan langit biru yang cerah. Rumah-rumah kecil terbuat dari bambu dan anyaman daun mengelilingi tepi sungai, menciptakan desa ikan yang damai dan indah.


Penduduk desa yang baik hati langsung menyambutnya dengan senyuman hangat saat dia menginjakkan kaki di desa mereka. Mereka adalah orang-orang yang hidup sederhana, sangat berbeda dengan dunia persilatan yang keras dan penuh intrik.


"Selamat datang, saudara!" kata seorang laki-laki tua dengan jenggot putih panjang sambil mengulurkan tangannya. "Apa yang membawa Anda ke desa kami?"

__ADS_1


Xian tersenyum lebar dan berjabat tangan dengan laki-laki tua itu. "Saya adalah Lee Xian, datang mencari sesuatu. Saya menemukan petunjuk di dalam gua di hutan, dan mereka mengarahkan saya ke sini."


Penduduk desa saling pandang dengan pandangan bingung, dan beberapa dari mereka berbisik-bisik. Tampaknya mereka memiliki beberapa pengetahuan tentang apa yang Xian bicarakan. Kemudian, seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang dan mata bercahaya mendekati Xian.


"Kami adalah keturunan dari leluhur yang sama," katanya lembut. "Peta yang Anda temukan di gua adalah bagian dari sejarah keluarga kami juga. Silakan, ikuti kami."


Xian dengan cepat mengikuti wanita muda itu sambil dipandu ke tengah desa. Penduduk desa mengelilingi mereka, menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap tamu tak terduga ini.


"Saya tak bisa berhutang budi dengan Anda semua yang begitu baik," kata Xian, tersenyum lebar. "Apakah Anda tahu lebih banyak tentang peta ini?"


Penduduk desa pun mengisahkan kisah tentang leluhur mereka yang dikenal sebagai kultivator terkenal. Mereka menceritakan tentang sebuah kuil leluhur yang tersembunyi di dalam bukit mirip ikan yang terletak di sini, di tepi sungai. Kuil itu konon adalah tempat di mana leluhur mereka mempraktikkan kultivasi mereka dengan tekun.


Setelah mendengarkan cerita-cerita ini, Xian semakin yakin bahwa peta yang dia temukan di gua adalah kunci untuk menemukan kuil leluhur ini. Dia merasa terharu oleh keramahan penduduk desa dan terkesan oleh kisah keluarga mereka.


"Tentu saja, saya akan mencoba menemukan kuil itu," kata Xian. "Ini adalah bagian dari sejarah keluarga kita bersama."


"Jadi begini cara Anda harus mengumpulkan energi ke dalam tubuh Anda," kata Xian sambil menunjukkan gerakan tangan. "Dan saat Anda merasa cukup kuat, Anda bisa melepaskan energi ini seperti ini..." Saat dia mencoba memperagakan gerakan, kakinya menyentuh permukaan sungai dengan tidak sengaja, membuatnya tergelincir dan jatuh ke dalam air.


Tubuh Xian tenggelam sejenak, dan semua orang di sekitarnya memandang dengan ketakutan sebelum meletus tertawa. Xian akhirnya muncul dari air, meremas air dari rambutnya dengan ekspresi konyol.


Semua orang di desa tertawa terbahak-bahak. Bahkan Xian sendiri bergabung dalam tawa mereka. "Baiklah, mungkin aku perlu mempelajari lebih banyak teknik kultivasi untuk menghindari insiden seperti ini," katanya sambil tertawa.


Penduduk desa kembali menyambutnya dengan tawa dan senyuman. Mereka mengundang Xian untuk tinggal bersama mereka semalam dan bersiap-siap untuk membantunya mencari kuil leluhur mereka besok pagi.


Pagi datang dengan lembut di desa ikan. Matahari terbit dengan hangatnya, menciptakan cahaya yang berkilauan di permukaan sungai yang tenang. Xian, yang telah tidur nyenyak di salah satu rumah penduduk desa, bangun dengan semangat tinggi. Hari ini adalah hari yang dia nantikan sejak tiba di desa ini — hari di mana dia akan mencari kuil leluhur yang tersembunyi.


Setelah sarapan dengan hidangan ikan segar yang disediakan oleh penduduk desa, Xian bersiap-siap untuk perjalanan. Dia ditemani oleh beberapa penduduk desa yang bersedia membantunya menemukan lokasi kuil. Mereka membawa bekal dan peta desa, memastikan bahwa mereka tidak akan tersesat di hutan yang lebat.

__ADS_1


"Kami akan membimbing Anda ke tepi hutan, dan dari sana Anda harus melanjutkan sendiri," kata seorang penduduk desa tua yang menjadi pemimpin kelompok. "Kami akan mendoakan keberhasilan perjalanan Anda."


Xian mengangguk dengan tulus, merasa terharu oleh keramahan dan dukungan penduduk desa ini. Mereka berjalan bersama ke tepi hutan, di mana hutan yang lebat menanti mereka. Xian melihat ke arah bukit yang mirip ikan yang terlihat jauh di kejauhan.


"Saya akan mencari tahu apa yang ada di sana," kata Xian, tersenyum kepada penduduk desa. "Dan saya akan kembali untuk berbagi hasilnya dengan Anda semua."


Penduduk desa tersenyum dan mengangguk. "Kami akan menunggu kabar baik dari Anda. Selamat berjalan, saudara Xian."


Xian memasuki hutan dengan tekad yang kuat dalam hatinya. Dia mengikuti petunjuk dari peta yang dia temukan di gua rahasia, mencari tanda-tanda yang mengarahkannya ke arah yang benar. Namun, perjalanan ini tidaklah mudah.


Hutan itu sendiri adalah lanskap yang penuh teka-teki. Pohon-pohon yang tinggi dan rimbun tampak seperti pilar-pilar alami yang menjulang ke langit. Suara burung dan hewan-hewan hutan yang tak dikenal mengisi udara dengan musik alam yang indah. Xian merasa seperti dia sedang menjelajahi dunia yang sangat berbeda dari desa kecilnya.


Saat dia mendekati bukit yang mirip ikan, rintangan mulai muncul. Sungai-sungai kecil yang harus dia lintasi, batu-batu besar yang harus dia panjat, dan reruntuhan bangunan tua yang harus dia lewati. Namun, dia tidak pernah kehilangan semangat. Setiap rintangan yang dia temui adalah bagian dari petualangan ini.


Ketika dia tiba di dekat bukit, dia dikejutkan oleh penampakan yang lucu. Sebuah monyet kecil dengan bulu berwarna merah muda yang cerah sedang duduk di batu besar, tampaknya sedang bermain-main dengan sesuatu di tangannya. Xian mendekati monyet itu dengan hati-hati.


"Monyet kecil, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Xian sambil tertawa. Monyet itu, yang sekarang terlihat seperti sedang menggulung peta yang dia curi dari Xian, melihat Xian dengan mata cemberut.


"Kau pikir kamu bisa mengambil petaku?" tanya Xian, mencoba untuk meraih kembali peta yang dipegang oleh monyet itu. Namun, monyet itu dengan cepat meloncat ke belakang batu besar, menunjukkan tanda-tanda ketangkasannya.


Pertempuran kecil pun dimulai, dengan Xian berusaha untuk merebut kembali peta yang dipegang oleh monyet itu. Monyet itu menggunakan trik-trik liciknya, bersembunyi di balik batu-batu dan pohon-pohon, membuat Xian tergelincir atau jatuh dengan cara-cara yang konyol.


Saat Xian hampir menyerah, monyet itu tiba-tiba tergelincir dan jatuh ke dalam semak-semak dengan peta yang masih dipegangnya. Xian dengan cepat berlari menuju monyet itu, dan setelah beberapa perjuangan lucu, dia berhasil merebut kembali peta itu.


"Sekarang, jangan mencuri lagi, ya," kata Xian sambil tertawa dan mengelus kepala monyet itu. Monyet itu merespon dengan ekspresi wajah yang tampaknya setuju sebelum melompat pergi ke dalam hutan.


Dengan peta kembali di tangan, Xian melanjutkan perjalanannya menuju bukit yang mirip ikan. Dia tidak tahu apa yang menunggunya di sana, tetapi dia siap untuk menghadapinya. Dan saat dia melanjutkan perjalanan dengan peta yang menjadi panduannya, dia merenung tentang petualangan yang telah dia alami dan yang mungkin masih menunggunya.

__ADS_1


__ADS_2