
Pagi-pagi sekali, sinar matahari menembus tenda-tenda mereka, membangunkan Mei, Xian, Thio Ling, dan Xiao Ming dari tidur nyenyak mereka. Mereka segera mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan mereka. Meskipun mereka tahu bahwa tantangan besar menunggu, mereka juga tahu bahwa mereka memiliki misi yang mulia.
Mereka melanjutkan perjalanan di tengah padang pasir yang tak berujung. Terik matahari terasa begitu menyengat, dan pasir panas seperti bara api di bawah kaki mereka. Mereka berjalan berjam-jam tanpa melihat tanda-tanda kehidupan apa pun di sekitar mereka. Tapi mereka tidak menyerah. Misi mereka adalah menyelamatkan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, dan mereka akan melakukannya.
Saat hari semakin siang, mereka akhirnya melihat sesuatu yang menarik perhatian mereka. Di kejauhan, mereka melihat segerombolan unta yang sedang bergerak. Thio Ling, yang memiliki pengetahuan tentang padang pasir, menyadari bahwa unta-unta itu mungkin menuju ke sebuah oase yang tersembunyi di tengah padang pasir. Dan oase itu bisa menjadi tempat perlindungan bagi mereka.
Mereka memutuskan untuk mengikuti segerombolan unta itu, berharap dapat menemukan oase itu dan mendapatkan air serta persediaan lainnya. Mereka berjalan lebih cepat, dengan Xiao Ming duduk di atas punggung unta Thio Ling. Cuaca terus panas, dan mereka semua merasa kehausan.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Ada badai pasir yang mendekat, dan badai pasir itu seperti monster rakasa yang lapar, siap menelan segala yang ada di depannya.
Mei segera berteriak kepada yang lainnya, "Cepat, kita harus mencari tempat perlindungan!" Mereka semua tahu bahwa badai pasir itu bisa sangat mematikan, dan mereka harus berlindung secepat mungkin.
Mereka melihat sebuah bukit kecil di dekat sana dan berlari menuju sana. Xiao Ming yang masih duduk di atas punggung unta Thio Ling, yang berlari secepat mungkin. Mereka tiba di bukit kecil itu dengan napas tersengal-sengal, dan Mei segera menarik tenda dari punggung unta untuk melindungi mereka dari badai pasir yang semakin mendekat.
Badai pasir itu datang dengan cepat, angin kencang dan pasir-pasir panas berterbangan di udara. Mereka semua berlindung di bawah tenda, berusaha menjaga diri mereka dari pasir yang bisa merusak kulit mereka. Xiao Ming memegang erat tangan Mei, takut dengan badai yang mengerikan ini.
Mereka semua merasa ketakutan, tapi mereka juga tahu bahwa mereka harus bertahan. Mereka merapatkan diri di bawah tenda, berbicara dengan penuh semangat untuk menjaga semangat tinggi.
"Kita akan melewati ini bersama-sama," kata Mei dengan tegas, "Kita adalah tim, dan tidak ada yang bisa mengalahkan kita!"
__ADS_1
Xian yang selalu penuh dengan trik, mencoba membuat kelucuan di tengah situasi yang sulit ini. "Siapa yang pernah bermain badai pasir seperti ini sebelumnya?" katanya sambil menggelengkan kepala.
Thio Ling, yang selalu tenang dan bijaksana, mencoba memberikan semangat kepada yang lainnya. "Kita akan melewati ini dan melanjutkan misi kita. Kita memiliki Xiao Ming bersama kita sekarang, dan itu adalah tanggung jawab kita untuk melindunginya."
Badai pasir berlangsung selama beberapa jam yang panjang, dan mereka semua merasa kelelahan dan kehausan. Tapi mereka tidak pernah kehilangan semangat. Akhirnya, badai pasir itu mereda, dan mereka bisa melihat cakrawala yang jelas lagi.
Mereka semua merasa bersyukur bahwa mereka selamat dari badai pasir itu. Mereka melanjutkan perjalanan mereka, mencari oase yang mereka harapkan akan menjadi tempat perlindungan dan persediaan yang mereka butuhkan.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan semangat yang baru setelah melewati badai pasir yang mengerikan. Sinar matahari kini berada di puncaknya, memancarkan panas yang tak tertahankan. Mereka terus berjalan di tengah padang pasir yang tak berujung, berharap akan menemukan oase yang mereka cari.
Tiba-tiba, Xiao Ming yang duduk di punggung unta Thio Ling berseru, "Lihat! Di kejauhan, ada sesuatu!"
Semua mata segera tertuju ke arah yang ditunjuk oleh Xiao Ming. Mereka melihat sebuah gundukan pasir yang besar di kejauhan. Ini bisa menjadi pertanda bahwa ada sesuatu di sana, mungkin oase yang mereka cari.
Ketika mereka mendekati gundukan pasir itu, mereka melihat sesuatu yang menggembirakan: ada sekelompok pohon kurma yang tumbuh subur di sekitar area tersebut. Dan di antara pohon-pohon itu, ada air mengalir dengan tenang.
"Kita menemukan oase!" teriak Mei dengan gembira. Mereka segera berlari menuju air yang mengalir, merasa seperti mendapatkan anugerah di tengah padang pasir yang gersang.
Mereka melepaskan unta-unta mereka untuk minum dan memasang tenda mereka di bawah pohon kurma yang rindang. Setelah beberapa saat, mereka merasa segar kembali setelah bisa membasahi tenggorokan mereka. Xiao Ming, yang tidak pernah mengalami sesuatu seperti ini sebelumnya, tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Sungguh, ini adalah keajaiban," kata Thio Ling sambil mengisi cangkir mereka dengan air. "Tapi kita tidak boleh lupa bahwa kita masih memiliki misi untuk menyelesaikan. Kita harus segera melanjutkan perjalanan setelah istirahat sebentar."
Xian, yang selalu optimis, menambahkan, "Tapi setidaknya kita punya energi sekarang untuk melanjutkan. Dan kita sudah tahu bahwa kita bisa melewati badai pasir sebelumnya. Tidak ada yang bisa menghentikan kita!"
Mereka berbicara sambil tertawa, merasa seperti keluarga yang sudah lama hilang. Meskipun mereka tahu bahwa tantangan masih menunggu di depan, mereka merasa lebih kuat dan lebih bersatu sebagai tim.
Setelah istirahat yang singkat, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Tujuan mereka semakin mendekat, dan semangat mereka semakin membara. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi mereka tahu bahwa mereka akan menghadapinya bersama-sama.
Saat mereka terus berjalan di tengah padang pasir yang tak berujung, mereka melihat sesuatu yang aneh di kejauhan. Ada sebuah bongkahan batu besar yang tampaknya tidak cocok dengan lingkungan sekitarnya. Mereka mendekatinya dengan hati-hati, dan ketika mereka sampai di dekatnya, mereka melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Bukankah itu… sebuah patung besar?" tanya Mei dengan heran.
Ya, itu adalah sebuah patung besar dari seorang pria tua dengan jenggot panjang yang menggantung hingga ke dada. Patung itu terbuat dari batu pasir setinggi dua orang dewasa dan tampak begitu megah. Tapi yang membuat mereka terkejut adalah patung itu memiliki sepasang mata yang berkilauan dan tampak hidup.
Xian mencoba menyentuh patung itu, dan tiba-tiba, mata patung itu berkedip! Semua orang tercengang, tidak percaya pada apa yang mereka saksikan.
"Pria itu hidup!" teriak Xiao Ming dengan antusias. Dan memang benar, patung itu mulai berbicara.
"Selamat datang, para pelancong. Aku adalah Penjaga Gurun, yang telah menjaga padang pasir ini selama berabad-abad," kata patung itu dengan suara yang dalam dan tenang.
__ADS_1
Mereka semua mendengarkan dengan kagum ketika Penjaga Gurun menceritakan tentang sejarah padang pasir ini dan misi mereka untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak di dalamnya. Patung itu menawarkan bantuan mereka dalam bentuk petunjuk dan perlindungan selama perjalanan mereka.
Dengan semangat yang baru, Mei, Xian, Thio Ling, dan Xiao Ming melanjutkan perjalanan mereka, kali ini dengan Penjaga Gurun sebagai pemandu mereka. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi mereka tahu bahwa petualangan mereka di padang pasir ini masih jauh dari selesai. Dan dengan semangat dan tekad yang tinggi, mereka melangkah maju ke petualangan yang menantang itu, siap menghadapi segala kejutan dan tantangan yang mungkin menghampiri mereka.