
Setelah mengatasi konflik dengan kelompok kultivator yang bermasalah, Xian dan teman-temannya melanjutkan perayaan damai dengan semangat yang lebih tinggi. Mereka memutuskan untuk menjelajahi lebih dalam kota untuk mengalami lebih banyak aspek perayaan tersebut.
Mereka berjalan melewati jalan-jalan yang penuh dengan penjual makanan, pertunjukan jalanan, dan permainan karnaval yang seru. Semua orang sepertinya sedang menikmati momen ini, dan suasana hati terasa begitu cerah.
Saat mereka berjalan-jalan, Xian melihat seorang anak kecil yang duduk sendirian di bawah pohon, terlihat sangat sedih. Anak itu memegang boneka beruang yang robek dan tampak kehilangan.
Xian tidak bisa berpura-pura tidak peduli. Dia mendekati anak itu dan bertanya dengan lembut, "Apa yang terjadi, kecil?"
Anak itu menatap Xian dengan mata berair. "Saya kehilangan ibu saya. Kami terpisah saat kerusuhan terjadi, dan saya tidak tahu di mana dia sekarang."
Xian merasa sangat simpati terhadap anak tersebut. Dia duduk di samping anak itu dan mencoba menghiburnya. "Jangan khawatir, kami akan membantumu mencari ibumu. Apa namamu?"
Anak itu menjawab dengan suara lembut, "Aku Luhai."
Xian tersenyum lebar dan mencoba membuat Luhai tertawa dengan beberapa lelucon lucu. Meskipun anak itu masih sedih, senyum tipis muncul di wajahnya. Mei Ling dan teman-temannya juga bergabung, mencoba mengalihkan perhatian Luhai dari rasa kehilangannya.
Mereka kemudian bertanya kepada Luhai tentang ibunya, mencoba mendapatkan petunjuk tentang di mana ia terakhir kali terlihat. Luhai memberi tahu mereka bahwa ibunya adalah pedagang makanan dan biasanya berjualan di pasar tengah kota.
Dengan tekad untuk membantu Luhai menemukan ibunya, Xian dan teman-temannya membawa anak itu ke pasar tengah kota. Mereka berjalan di antara kerumunan yang semakin ramai, mencari ibu Luhai di antara para pedagang.
Saat mereka berjalan, Xian melihat seorang wanita yang tampak kebingungan dan mencari-cari sesuatu. Wanita itu adalah ibu Luhai. Ia terlihat sangat cemas dan sedih, dan wajahnya terlihat lelah akibat pencarian yang putus asa.
Xian dan teman-temannya mendekati wanita tersebut dan bertanya, "Apakah Anda mencari anak Anda, Luhai?"
Wanita itu langsung menatap mereka dengan mata penuh harapan. "Ya, benar. Apakah kalian melihatnya?"
Xian menunjuk ke arah Luhai, yang masih duduk di antara mereka. Ketika ibunya melihat anaknya, dia berlari mendekatinya dan mereka berdua saling berpelukan dengan erat. Air mata bahagia mengalir di wajah wanita itu.
__ADS_1
"Terima kasih, terima kasih banyak!" kata ibu Luhai dengan suara penuh emosi. "Saya sangat khawatir akan kehilangan dia selamanya."
Xian dan teman-temannya merasa hangat melihat pertemuan indah ini. Mereka tahu bahwa membantu reunifikasi keluarga adalah hal yang sangat berharga, terutama dalam suasana perayaan damai seperti ini.
Luhai, ibunya, dan Xian serta teman-temannya berbicara sebentar, dan mereka memutuskan untuk mengundang mereka berdua untuk bergabung dalam perayaan. Ibu Luhai tersenyum tulus dan setuju. Mereka bersama-sama berjalan kembali ke perayaan, membawa cerita kebahagiaan dan kegembiraan kepada semua orang yang mereka temui.
Ketika malam perayaan semakin mendekati puncaknya, Xian dan teman-temannya melanjutkan eksplorasi mereka di Kerajaan Han Sang. Mereka berjalan melewati taman-taman yang indah yang penuh dengan lampu-lampu berwarna yang berkilauan. Suara musik dan tawa meriah mengisi udara.
Saat mereka berjalan-jalan di sekitar taman, mereka mendengar suara seseorang yang tampaknya sedang berbicara dengan sangat semangat. Mereka mengikuti suara tersebut dan menemukan seorang pria yang tengah berbicara dengan penuh semangat di tengah kerumunan.
Pria itu adalah seorang penyair dengan jubah berwarna-warni yang tampaknya telah mengadakan pertunjukan sajak jalanan. Dia dengan berani menyampaikan puisi-puisinya kepada penonton, dan banyak yang terkesan dengan kata-katanya yang indah.
Namun, saat penyair itu menyelesaikan sajaknya, penonton terdiam, dan ekspresi wajah mereka menjadi serius. Ada yang tampak terharu, ada yang merenung, dan ada juga yang tampak bingung.
Xian dan teman-temannya memutuskan untuk mendekati penyair itu setelah pertunjukan. Mereka merasa ingin tahu apa yang ada di balik puisi yang begitu mendalam itu. Xian, dengan topi raksasa yang masih tersemat di kepalanya, berkata, "Puisi Anda sangat indah dan menggugah. Apa yang ingin Anda sampaikan?"
Mei Ling, yang selalu memiliki rasa empati yang kuat, berkata, "Mungkin kita bisa membantu Anda menjelaskan pesan-pesan dalam puisi Anda. Mungkin ada cara yang lebih baik untuk berkomunikasi dengan penonton."
Pria penyair itu mengangguk dan menceritakan lebih lanjut tentang makna di balik puisi-puisinya. Puisi-puisi tersebut ternyata menggambarkan pengalaman dan perjuangan hidupnya yang sulit. Dia adalah seorang pengungsi yang melarikan diri dari konflik di tanah asalnya, dan puisi-puisinya mencerminkan kerinduannya akan kedamaian dan kebahagiaan.
Setelah mendengar kisahnya, Xian dan teman-temannya merasa lebih dekat dengan pria penyair itu. Mereka menyarankan agar dia mencoba berbicara langsung kepada penontonnya tentang pengalaman pribadinya, yang mungkin akan membuat pesannya lebih mudah dipahami.
Pria penyair itu bersyukur atas saran mereka dan berterima kasih. Dia merasa terinspirasi untuk mencoba pendekatan yang berbeda dalam penyampaian puisi-puisinya.
Mereka berbicara dengan pria penyair itu selama beberapa waktu, berbagi cerita dan tawa, dan akhirnya dia merasa lebih percaya diri untuk melanjutkan perjalanannya sebagai penyair jalanan. Mereka meninggalkan pria itu dengan senyum dan semangat baru, merasa bahagia bahwa mereka telah dapat membantu seseorang mengejar impian mereka.
Saat malam perayaan berlanjut, Xian dan teman-temannya merasa bersyukur telah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang memiliki cerita dan impian mereka sendiri. Mereka memahami bahwa dalam merayakan kedamaian, kita juga dapat membantu orang lain menemukan kedamaian dalam diri mereka sendiri.
__ADS_1
Ketika malam perayaan mencapai puncaknya, Xian dan teman-temannya berjalan-jalan melewati sebuah tempat yang dikenal sebagai "Jalan Senyum." Tempat ini dikenal sebagai pusat perayaan dan kebahagiaan, di mana para pengunjung diharapkan tersenyum dan merasakan kegembiraan.
Namun, ketika mereka berjalan di sepanjang jalan tersebut, mereka melihat seorang pria tua yang duduk sendirian di pinggir jalan. Pria itu tampak sangat suram, wajahnya murung, dan tidak ada senyum sedikit pun di wajahnya.
Xian dan teman-temannya merasa iba melihatnya. Mereka mendekati pria tersebut dan Xian bertanya dengan lembut, "Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?"
Pria itu menatap mereka dengan mata kosong dan berkata dengan nada rendah, "Saya kehilangan kemampuan untuk tersenyum, dan saya tidak tahu bagaimana rasanya bahagia lagi."
Mei Ling merasa sedih mendengar kata-kata pria itu. "Mungkin kami bisa membantu Anda menemukan kembali senyum dan kebahagiaan, Tuan. Apakah Anda mau berbicara dengan kami?"
Pria itu, yang dipanggil sebagai Tuan Tanpa Senyum, mulai menceritakan kisahnya. Dia dulunya adalah seorang seniman lukis yang sangat berbakat dan dikenal karena karyanya yang indah. Namun, suatu hari, dia mengalami kecelakaan tragis yang merusak tangannya. Kecelakaan itu menghilangkan kemampuannya untuk melukis, dan dia kehilangan hasrat dan kebahagiaannya dalam hidup.
Dia menghabiskan tahun-tahun berikutnya mencoba untuk mencari kembali hasratnya, tetapi semua usahanya sia-sia. Setiap kali dia mencoba melukis, dia hanya melihat coretan yang buruk dan berantakan di atas kanvasnya.
Teman-teman Xian juga merasa simpati terhadap Tuan Tanpa Senyum. Mereka ingin membantunya menemukan kembali kebahagiaan dalam hidupnya. Xian berkata, "Mungkin ada cara lain untuk mengekspresikan diri dan menemukan kebahagiaan, Tuan. Apa yang Anda sukai selain melukis?"
Tuan Tanpa Senyum berpikir sejenak, lalu menjawab, "Saya dulu suka bermain musik. Namun, saya takut bahwa saya tidak akan bisa memainkan instrumen dengan baik karena cedera tangan saya."
Mei Ling tersenyum dan berkata, "Jangan khawatir, Tuan. Mungkin Anda bisa mencoba memainkan musik dengan cara yang berbeda, misalnya dengan menggunakan alat musik yang lebih mudah atau dengan mengekspresikan diri melalui nyanyian."
Pria itu merenungkan saran mereka dan akhirnya tersenyum, meskipun sedikit. "Terima kasih atas perhatianmu. Saya akan mencoba mencari kembali hasrat saya dalam musik dan mencari kebahagiaan dalam melodi."
Xian dan teman-temannya merasa senang telah dapat memberikan dukungan kepada Tuan Tanpa Senyum. Mereka merasa yakin bahwa pria itu akan menemukan kembali senyumnya dan merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.
Mereka meninggalkan Tuan Tanpa Senyum dengan perasaan hangat dalam hati mereka, menyadari bahwa bahagia itu tidak selalu datang dari keberhasilan, tetapi juga dari usaha untuk mencari kembali hasrat dan kebahagiaan dalam diri sendiri.
Saat malam perayaan berlanjut, Xian dan teman-temannya merasa bersyukur telah dapat bertemu dengan orang-orang yang memiliki cerita dan impian mereka sendiri. Mereka memahami bahwa dalam merayakan kedamaian, kita juga dapat membantu orang lain menemukan kedamaian dalam diri mereka sendiri. Dan sambil melanjutkan perjalanan mereka, mereka berharap dapat terus membantu dan menginspirasi orang lain di sepanjang jalan mereka.
__ADS_1