Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Keputusan Genting


__ADS_3

Cin Xiu dan Mei Mei terus bekerja keras dalam persiapan menyongsong konfrontasi besar yang akan datang dengan klan rival. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu, dan cambuk sakti yang dipegang oleh Cin Xiu menjadi sumber daya potensial yang sangat kuat dalam pertarungan tersebut.


Pada suatu hari, selama latihan persiapan, Cin Xiu memutuskan untuk menguji kekuatan cambuk sakti di hadapan semua murid perguruan. Mereka berkumpul di halaman perguruan, dan Cin Xiu berdiri di tengah-tengah, cambuknya bersiap di tangannya.


"Saudara-saudara," ujarnya dengan serius, "kita menghadapi ancaman serius dari klan rival, dan kita harus siap untuk bertarung dengan segala yang kita miliki. Hari ini, saya akan menunjukkan kepada Anda potensi cambuk sakti ini."


Dengan gerakan gesit, Cin Xiu memutuskan cambuk itu ke udara. Terdengar suara mendesis yang tajam saat cambuk itu berputar-putar di atasnya. Kemudian, dengan kecepatan kilat, cambuk itu mengenai sehelai pohon yang tumbuh di dekatnya. Pohon itu seketika terpotong menjadi dua bagian, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.


Para murid tercengang oleh kekuatan cambuk sakti itu. Mereka menyadari bahwa ini adalah senjata yang sangat berbahaya, dan mereka harus memahami cara menggunakannya dengan bijak.


Namun, saat Cin Xiu sedang menjelaskan bagaimana mengendalikan energi chi untuk mengontrol cambuk tersebut, sebuah kilatan cahaya tiba-tiba menyilaukan mereka. Dari kejauhan, sebuah sosok muncul dengan kecepatan luar biasa, dan sebelum siapa pun bisa bereaksi, cambuk sakti Cin Xiu berada di tangan orang asing itu.


Semua orang tercengang, termasuk Cin Xiu dan Mei Mei. Orang asing itu adalah seorang kultivator berpengalaman yang terkenal di seluruh kerajaan Han Sang. Dia telah mendengar tentang cambuk sakti dan ingin menguji kekuatannya.


"Sungguh luar biasa," ujar kultivator asing itu sambil memutar-mutar cambuk itu di tangannya. "Kemampuan ini sungguh luar biasa. Saya ingin melihat apakah saya bisa mengatasinya."


Tanpa kata lagi, dia melepaskan cambuk itu dengan cepat. Cin Xiu, yang sudah siap untuk bereaksi, berusaha menghindar, tetapi cambuk itu terlalu cepat. Cambuk itu melingkari tubuh Cin Xiu dengan begitu cepatnya sehingga dia tidak bisa bergerak.


Kultivator asing itu tersenyum dan mengangkat cambuk sakti itu, siap untuk menggunakannya. Tetapi tiba-tiba, cambuk itu dilemparkan jauh ke udara oleh Mei Mei yang telah berlari mendekati mereka.


"Kamu berani sekali mencoba merampas senjata kami!" teriak Mei Mei, matanya berkobar kemarahan.


Kultivator asing itu tersenyum lebar. "Kamu adalah pemimpin yang berani, Mei Mei. Saya suka semangatmu. Tapi kamu harus belajar mengendalikan kemarahanmu."

__ADS_1


Cin Xiu akhirnya bisa melepaskan diri dari cambuk itu dan bergabung dengan Mei Mei. Mereka siap untuk menghadapi kultivator asing itu, tetapi dia hanya tersenyum dan mengangguk.


"Saya tidak bermaksud mencuri cambuk itu," katanya. "Saya hanya ingin melihat kekuatannya dengan mata kepala saya sendiri. Dan saya harus mengakui, cambuk ini memang sangat luar biasa."


Dia melemparkan cambuk itu kembali kepada Cin Xiu. "Saya berharap Anda bisa menggunakannya dengan bijak dalam pertarungan mendatang."


Dengan begitu, kultivator asing itu menghilang dengan cepat, meninggalkan perguruan Persilatan Guyon dalam kebingungan. Apa yang baru saja terjadi adalah pengalaman yang menegangkan, dan mereka segera kembali ke pelatihan mereka.


Tapi satu hal pasti, cambuk sakti tersebut akan menjadi aset berharga dalam pertarungan mendatang melawan klan rival, dan mereka harus belajar cara menggunakannya dengan bijak.


Dengan cambuk sakti yang telah diuji dan pelatihan yang semakin ketat, perguruan Persilatan Guyon semakin siap menghadapi klan rival yang sangat kuat. Semua murid dan pengajar telah bersatu dalam persiapan, dan semangat pertarungan begitu kuat di antara mereka.


Cin Xiu dan Mei Mei secara teratur mengadakan pertemuan dengan para pemimpin perguruan untuk merencanakan strategi mereka. Mereka tahu bahwa mereka harus bijaksana dalam melawan klan rival yang begitu berpengalaman.


Mereka langsung menyadari bahwa ini adalah tanda bahwa pertarungan besar akan segera terjadi. Cin Xiu memerintahkan agar semua murid yang telah mencapai tingkat tertentu dalam kultivasi berkumpul untuk menjaga perbatasan perguruan.


Sementara itu, Cin Xiu dan Mei Mei berencana untuk melakukan pengintaian ke markas klan rival. Mereka ingin mengetahui persis apa yang sedang direncanakan oleh klan rival.


Dalam perjalanan mereka, mereka harus melewati hutan lebat yang dikelilingi oleh kabut tebal. Hutan itu terkenal sebagai tempat bersemayam roh-roh yang kuat, dan mereka tahu bahwa mereka harus berhati-hati saat melintasinya.


Namun, dalam perjalanan mereka, mereka tidak hanya harus menghadapi roh-roh yang mengganggu, tetapi juga munculnya karakter misterius yang mereka tidak kenal. Itu adalah seorang pria tua yang memegang tongkat kayu tua dan berpakaian seperti seorang pertapa.


Pria tua itu berdiri di tengah jalan mereka, menghalangi jalur mereka. "Siapa kalian dan ke mana kalian pergi?" tanyanya dengan suara tajam.

__ADS_1


Cin Xiu yang bijaksana, memutuskan untuk menjawab dengan sopan. Dia menjelaskan bahwa mereka adalah murid dari perguruan Persilatan Guyon dan mereka sedang dalam perjalanan menuju markas klan rival untuk mengumpulkan informasi.


Pria tua itu tertawa pelan. "Klan rival, Anda bilang? Mereka adalah musuh berbahaya, dan Anda akan melibatkan diri dalam pertempuran yang mematikan."


Mei Mei yang selalu bersemangat menjawab, "Kami siap untuk melindungi perguruan kami dan menghadapi klan rival dengan segala yang kami miliki."


Pria tua itu tersenyum dan mengangguk. "Kalian berani dan bersemangat, itu baik. Tapi ingatlah, kekuatan sejati tidak hanya ada dalam kultivasi fisik, tetapi juga dalam kebijaksanaan dan pemahaman. Sebelum kalian pergi, izinkan saya memberikan sesuatu."


Dengan cepat, pria tua itu mengeluarkan beberapa gulungan kertas dari dalam jubahnya. Dia memberikannya kepada Cin Xiu. "Ini adalah mantra kuno yang akan melindungi kalian dalam perjalanan ini. Gunakan dengan bijak."


Mereka menerima gulungan-gulungan tersebut dengan penuh hormat dan berterima kasih kepada pria tua itu. Kemudian, dengan hati-hati, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju markas klan rival, mengetahui bahwa tantangan besar sedang menanti mereka di depan.


Cin Xiu dan Mei Mei melanjutkan perjalanan mereka menuju markas klan rival dengan hati-hati. Mereka telah menerima mantra kuno dari pria tua yang mereka temui di hutan, dan mereka merasa lebih percaya diri dalam menghadapi apa pun yang akan datang.


Mereka tiba di dekat perbatasan wilayah klan rival dan memutuskan untuk berkemah semalam untuk merencanakan langkah selanjutnya. Mereka membangun tenda mereka di tepi sungai yang tenang, di bawah langit yang penuh bintang. Suasana alam sekitar begitu damai, tetapi mereka tahu bahwa ketenangan ini hanya sebentar.


Cin Xiu memimpin pertemuan malam itu. "Kita harus berhati-hati saat mengintai markas mereka. Informasi yang kita kumpulkan akan sangat penting untuk keselamatan perguruan kita."


Mei Mei mengangguk setuju. "Dan jangan lupakan bahwa mereka juga akan memiliki mata-mata. Kita harus bergerak diam-diam dan tidak terlalu mencolok."


Dia menambahkan, "Kita akan mengambil giliran untuk berpatroli di sekitar markas mereka. Ini akan memastikan bahwa kita tidak akan tertangkap."


Mereka membuat rencana patroli dan berbagi informasi yang mereka miliki tentang markas klan rival. Cin Xiu meminta mereka untuk menjaga kejernihan pikiran dan menjaga emosi mereka agar tidak terlalu terpengaruh oleh rivalitas.

__ADS_1


__ADS_2