Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Kompetisi Dumpling


__ADS_3

Suasana desa Qinglian semakin riuh. Terompet bambu mengumumkan berita yang telah menyebar seperti api: Kompetisi Makan Dumpling tahunan akan segera dimulai! Anak-anak berlarian, membawa pesan dari satu rumah ke rumah lain, sementara ibu-ibu sibuk mempersiapkan bahan-bahan untuk dumpling terbaik mereka.


Tengah hari, alun-alun desa dipenuhi dengan aroma dumpling yang menggugah selera. Panitia telah menyiapkan meja panjang yang dihiasi dengan pita merah dan emas. Di atasnya, terdapat mangkuk-mangkuk berisi dumpling yang masih menguap.


Namun, tahun ini ada yang berbeda. Sorotan bukan lagi pada kompetisi itu sendiri, melainkan pada salah satu pesertanya: Xian.


"Aku mendengar Xian menemukan Batu Giok Qinglian," bisik Xiao Ling kepada teman-temannya.


"Benarkah? Mungkinkah dia akan memakan semua dumpling dengan kekuatannya yang baru?" tanya Xiao Feng dengan mata berbinar.


Xian, yang merasa menjadi pusat perhatian, mencoba bersikap tenang. Dia tersenyum pada para peserta lain, meskipun dalam hatinya dia merasa gugup. Namun, saat ia hendak mengambil tempatnya, sebuah keramaian terdengar dari arah gerbang desa.


Sebuah kelompok pedagang dengan kereta kayu berhenti di tengah kerumunan. Seorang pria berjanggut panjang mengumumkan, "Kami membawa bumbu rahasia dari pegunungan mistis! Siapapun yang ingin menambah cita rasa dumplingnya, datang dan belilah!"


Xian, yang selalu suka mencoba hal baru, mendekati pedagang tersebut. Dengan beberapa koin perak, ia membeli bumbu tersebut. Namun, alih-alih menyimpannya untuk diri sendiri, ia membagikannya kepada penduduk desa.


"Gunakanlah ini," ujarnya sambil tersenyum. "Mari kita lihat seberapa lezat dumpling yang kita buat dengan bumbu rahasia ini."


Desa itu kembali riuh. Semua orang sibuk mencampur bumbu rahasia ke dalam adonan dumpling mereka. Aroma baru yang khas segera menyebar, menambah keseruan kompetisi.


Saat kompetisi dimulai, Xiao Ling berteriak, "Siap... Makan!" dan semua peserta mulai menyantap dumpling dengan cepat. Tapi mata semua orang tertuju pada Xian. Dengan kekuatan barunya, apakah dia bisa mengalahkan semua peserta?


Namun, alih-alih memakan dumpling dengan cepat, Xian justru menikmati setiap gigitannya. Dia bahkan sempat memberikan pujian kepada ibu-ibu yang telah memasaknya.


Waktu terus berjalan, dan saat terompet bambu dibunyikan menandakan kompetisi berakhir, hasilnya mengejutkan: Xian memenangkan kompetisi, tapi bukan karena kekuatannya yang baru. Dia memenangkan hati semua orang dengan sikapnya yang rendah hati dan penghargaannya terhadap makanan desa.


Saat ditemui oleh para penduduk desa yang ingin memberikan selamat, Xian berkata, "Ini bukan kemenangan untukku, tapi untuk seluruh desa Qinglian. Kita semua telah membuat dumpling terbaik dengan bumbu rahasia tersebut."

__ADS_1


Hari itu, selain perayaan kemenangan Xian, desa Qinglian juga merayakan kebersamaan dan persatuan di tengah keseruan kompetisi.


Desa Qinglian tampaknya tidak bisa berhenti berbicara tentang Xian. Di warung-warung teh, di pasar, dan di jalanan, semua gema dengan cerita tentang bagaimana pemuda itu mengejutkan mereka semua dengan kemenangan mudahnya dalam kompetisi makan dumpling.


Duduk di bawah pohon besar di alun-alun desa, Lao Wang, seorang lelaki tua, bergumam pada teman sebayanya, "Aku sudah berpartisipasi dalam kompetisi ini selama bertahun-tahun. Tapi aku belum pernah melihat siapa pun makan dumpling secepat itu."


Teman sebayanya, Lao Chen, mengangguk sambil menyesap tehnya, "Benar. Dulu, ketika kita masih muda, kita berpikir kita adalah yang tercepat. Tapi Xian... dia luar biasa."


Tidak jauh dari sana, sekelompok anak-anak bermain menebak rahasia Xian. "Mungkin dia punya empat lambung!" teriak Xiao Feng sambil tertawa.


"Bodoh! Mungkin dia mempraktikkan ilmu sihir untuk memperluas perutnya!" sahut Xiao Ling.


Suasana desa menjadi semakin riuh ketika matahari mulai terbenam. Tiba-tiba, Xian berdiri di tengah alun-alun dengan senyuman lebarnya. "Mari kita rayakan kemenangan ini bersama-sama!" serunya. Lalu, dengan langkah kaki yang cepat, ia mulai menari dengan ritme yang menggelegar. Dalam sekejap, orang-orang mulai bergabung dengannya, termasuk anak-anak, orang dewasa, dan bahkan orang tua.


Xian memimpin tarian dengan gerakan tubuh yang energetik. Setiap langkah, setiap hentakan kaki, dan setiap ayunan lengan tampak begitu sempurna. Cahaya lilin yang menari-nari memantulkan cahaya dari wajah-wajah yang ceria, sementara bayangan mereka bergerak bersama-sama di tanah. Rambut Xian yang hitam berkilauan di bawah cahaya bulan, matanya berbinar dengan kebahagiaan.


Xian hanya tertawa, "Ada banyak hal yang kalian belum tahu tentangku, Lao Wang!"


Ketika musik mereda, Xian mengambil napas dalam-dalam, "Terima kasih semua! Ini bukan hanya kemenangan untukku, tapi untuk kita semua. Semua ini mungkin karena batu giok yang kutemukan. Tapi, yang paling penting adalah semangat desa kita."


Seorang anak muda berteriak, "Ayo, ceritakan tentang batu giok itu!"


Dengan senyuman misterius, Xian berkata, "Mungkin suatu hari nanti, tapi malam ini, mari kita nikmati perayaan ini."


Semua orang bersorak, dan dengan demikian, malam itu, desa Qinglian berpesta dengan tarian, nyanyian, dan tentu saja, lebih banyak dumpling. Kekompakan dan kegembiraan menyelimuti desa, dan semua berterima kasih pada Xian, pemuda desa yang telah membawa kejutan dan kebahagiaan.


Dengan latar belakang langit malam yang dipenuhi bintang, Xian duduk di pinggir sungai, tempat dia pertama kali menemukan batu giok yang kini berada di tangannya. Gemerlap cahaya bulan menggambarkan detail tajam batu itu, memantulkan sinar berwarna hijau zamrud yang lembut. Dia merasakan denyut energi yang memancar dari batu tersebut, seolah-olah batu itu memiliki denyut nadi sendiri.

__ADS_1


Xian menatap refleksi wajahnya di air, mencoba mencari tahu apa yang telah berubah dalam dirinya. "Apakah ini takdirku?" gumamnya pelan. "Ataukah ini hanya suatu kebetulan?"


Dari kejauhan, derap langkah kaki mendekat. Seorang nenek tua dengan tongkat kayu di tangannya berjalan perlahan menuju Xian. Rambutnya yang putih berkilauan di bawah cahaya bulan, dan matanya yang dalam menunjukkan kebijaksanaan dari pengalaman hidup yang panjang.


"Xian," panggilnya dengan suara yang lembut namun pasti. Xian menoleh, menatap wajah nenek tersebut, yang ia kenali sebagai Nenek Li, seorang penduduk tertua di desa Qinglian.


Nenek Li duduk di samping Xian, matanya memandangi batu giok tersebut. "Batu ini...," katanya, "aku pernah mendengar cerita tentangnya. Cerita yang telah lama hilang dalam sejarah desa kita."


Xian memperhatikan wajah Nenek Li, rasa penasaran memenuhi dirinya. "Ceritakan padaku, Nenek."


Nenek Li menarik napas dalam-dalam, "Ratusan tahun yang lalu, ada seorang kultivator hebat yang tinggal di desa kita. Dia memiliki batu giok ini, sumber dari kekuatannya. Tapi, dia menghilang, dan batu itu hilang bersamanya. Legenda mengatakan bahwa batu ini akan kembali saat desa kita membutuhkan perlindungan."


Xian menelan ludah, merasa berat di dadanya. "Perlindungan dari apa, Nenek?"


Nenek Li menatap Xian dengan mata yang serius, "Dari kegelapan yang akan datang, dari musuh yang tak terlihat. Batu ini memilihmu, Xian. Mungkin kamu adalah penjaga berikutnya."


Xian merenung, memahami beban tanggung jawab yang mungkin menantinya. "Apa yang harus kulakukan, Nenek?"


Nenek Li tersenyum, menepuk bahu Xian dengan lembut. "Dengarkan hatimu, dan cari tahu lebih banyak tentang kekuatanmu. Dan ingat, kamu tidak sendirian. Desa ini akan selalu mendukungmu."


Xian mengangguk, merasa sedikit lega. Mereka duduk bersama dalam diam selama beberapa saat, menikmati keheningan malam.


Setelah beberapa saat, Nenek Li berdiri, "Ingatlah, Xian, kekuatan sejati bukan hanya berasal dari batu ini, tetapi juga dari kebaikan hatimu."


Xian menatap Nenek Li dengan mata berbinar, "Terima kasih, Nenek. Aku akan selalu mengingat kata-katamu."


Dengan senyuman hangat, Nenek Li perlahan berjalan meninggalkan Xian yang kini duduk memandangi batu giok tersebut, bersemangat untuk menjalani takdir yang telah ditulis untuknya.

__ADS_1


__ADS_2