Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Legenda di Wilayah Utara


__ADS_3

Mei, Xian, dan Thio Ling duduk di sekitar api unggun, mendengarkan dengan seksama cerita yang diceritakan oleh tokoh tua di desa itu. Angin sejuk bertiup perlahan, dan api unggun menjadi sumber kehangatan di malam yang dingin itu.


"Legenda ini sudah berusia berabad-abad," kata tokoh tua itu, suaranya bergema di malam yang sunyi. "Konon, di wilayah Utara ini, terdapat kekuatan kuno yang disebut 'Roh Salju.' Roh ini memiliki kekuatan besar yang dapat memicu bencana alam, seperti badai salju, gempa bumi, dan banjir besar."


Mei, Xian, dan Thio Ling saling pandang. Mereka mulai memahami bahwa legenda ini mungkin memiliki kaitan dengan bencana alam yang telah terjadi di wilayah ini.


"Namun, cerita ini tidak hanya tentang kekuatan jahat," lanjut tokoh tua itu. "Ada juga cerita tentang seorang pahlawan yang muncul untuk menghentikan Roh Salju dan membawa kedamaian ke wilayah ini. Pahlawan itu dikenal sebagai 'Pembawa Harapan.'"


Thio Ling mengepalkan tinjunya. "Kami harus mencari tahu lebih lanjut tentang Pembawa Harapan ini dan apa yang bisa kami lakukan untuk menghentikan Roh Salju."


Tokoh tua itu mengangguk. "Saya tahu bahwa misi kalian adalah membantu orang-orang di sini, tetapi jika kalian ingin mencari tahu lebih banyak tentang legenda ini, kalian harus pergi ke Pegunungan Salju Abadi di utara sini. Di sana, kononlah tempat Roh Salju berada."


Mereka semua setuju untuk mengikuti petunjuk tokoh tua itu dan menjelajahi Pegunungan Salju Abadi untuk mencari tahu lebih banyak tentang Roh Salju dan Pembawa Harapan.


Keesokan harinya, mereka bersiap-siap untuk perjalanan yang berat. Penduduk desa memberikan mereka makanan dan perlengkapan yang mereka butuhkan, serta beberapa nasihat terkait cuaca dan medan yang akan mereka hadapi.


"Jaga diri kalian," kata Mei kepada penduduk desa, sambil menatap anak kecil yang mereka temukan sebelumnya. "Kami akan kembali secepat mungkin."


Perjalanan mereka menuju Pegunungan Salju Abadi sangat menantang. Mereka harus melewati hutan yang lebat dengan salju setinggi pinggang, melintasi sungai yang membeku, dan mendaki lereng pegunungan yang terjal. Namun, semangat mereka tidak pernah padam.


Di tengah perjalanan, mereka melihat jejak-jejak makhluk besar yang misterius di salju. Mereka tidak tahu apa itu, tetapi mereka merasa semakin dekat dengan tujuan mereka.


Suasana pegunungan itu sangat dingin, dan langit berawan tebal. Mereka tahu bahwa mereka harus segera mencapai Pegunungan Salju Abadi sebelum badai salju datang.


Saat matahari mulai terbenam, mereka tiba di lereng pegunungan yang luas dan bersalju putih. Ini adalah Pegunungan Salju Abadi. Mereka melihat sebuah gua besar di tengah pegunungan, dan seperti yang diceritakan tokoh tua di desa, gua itu terlihat sangat misterius.

__ADS_1


Mereka memasuki gua tersebut, dan di dalamnya, mereka menemukan sesuatu yang luar biasa. Sebuah patung besar Pembawa Harapan berdiri tegak di tengah gua. Patung itu menggambarkan seorang pria yang tangguh, dengan pedang besar di tangan kanannya dan tangan kirinya yang terulur ke atas, seolah-olah dia siap untuk melawan Roh Salju.


Xian memandangi patung itu dengan penuh rasa kagum. "Inilah Pembawa Harapan."


Namun, kejutan sebenarnya menanti mereka di dalam gua tersebut. Ketika mereka melihat lebih dekat, mereka menyadari bahwa di depan patung itu terdapat sebuah pintu rahasia yang tersembunyi dengan sangat baik.


Ketika Mei, Xian, dan Thio Ling menemukan pintu rahasia di depan patung Pembawa Harapan, mereka merasa semakin dekat dengan jawaban tentang Roh Salju dan bagaimana mereka bisa menghentikannya. Pintu itu terlihat sangat tua dan tersembunyi dengan baik di antara batu-batu pegunungan yang menjulang tinggi. Thio Ling merasa yakin bahwa ini adalah tempat yang harus mereka telusuri.


"Mungkin ini adalah cara untuk menghubungi Pembawa Harapan atau bahkan menemukan petunjuk tentang bagaimana menghentikan Roh Salju," ujar Xian, penuh semangat.


Mei setuju, dan mereka berdua mulai memeriksa pintu rahasia tersebut. Itu terlihat sangat kuno dan dihiasi dengan simbol-simbol aneh yang mereka tidak kenal. Mereka mencoba mendorong, menarik, dan memutar bagian-bagian pintu itu, tetapi tidak ada yang berhasil. Pintu itu tetap kokoh tanpa menunjukkan tanda-tanda akan terbuka.


"Kita butuh bantuan," kata Thio Ling. "Jangan-jangan penduduk desa atau tokoh tua di desa tahu tentang pintu ini."


Mereka keluar dari gua dan melanjutkan perjalanan kembali ke desa di bawah cahaya bulan yang bersinar terang. Ketika mereka sampai di desa, mereka langsung mencari tokoh tua yang telah memberikan mereka cerita tentang Pembawa Harapan dan Roh Salju.


Tokoh tua itu meletakkan kitabnya dan menatap mereka dengan serius. "Pintu itu adalah bagian dari legenda yang sudah sangat tua. Diceritakan bahwa hanya seseorang dengan kemurnian hati yang bisa membukanya."


Mei, Xian, dan Thio Ling saling pandang. Mereka berpikir bahwa mungkin mereka tidak bisa membuka pintu tersebut. Namun, tokoh tua itu melanjutkan, "Namun, Pembawa Harapan adalah seseorang yang memiliki hati yang murni. Jika kalian benar-benar adalah para pahlawan yang dicari, kalian pasti bisa membuka pintu itu."


Dengan semangat yang baru, mereka kembali ke gua dan berdiri di depan pintu rahasia itu. Mereka mencoba memusatkan pikiran mereka pada niat baik mereka, memikirkan bagaimana mereka ingin membantu orang-orang di wilayah ini dan menghentikan Roh Salju yang jahat.


Tiba-tiba, pintu itu mulai bergerak. Batu-batu besar yang menyusun pintu itu bergeser perlahan, dan akhirnya, pintu itu terbuka. Mereka semua terkejut dengan apa yang mereka temukan di dalamnya.


Ketika Mei, Xian, dan Thio Ling melangkah masuk ke dalam ruangan tersembunyi di balik pintu rahasia itu, mereka merasa takjub oleh pemandangan yang ada di hadapan mereka. Ruangan itu terlihat seperti perpustakaan kuno yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Rak-rak kayu besar dipenuhi dengan buku-buku berdebu dan gulungan kertas kuno yang tersusun rapi.

__ADS_1


Mei dengan cepat mendekati salah satu rak dan mengambil salah satu buku yang berada di sana. Dia membukanya dan melihat teks yang ditulis dalam aksara yang tidak ia kenal. "Ini pasti adalah pengetahuan kuno yang sangat berharga," gumamnya.


Xian dan Thio Ling juga mulai menjelajahi ruangan itu. Mereka menemukan berbagai artefak kuno, termasuk kalung, pedang, dan patung-patung kecil. Semuanya terlihat sangat berharga, tetapi mereka tidak tahu apa arti sebenarnya dari semua barang tersebut.


Ketika mereka sedang sibuk menjelajahi ruangan, sebuah suara perlahan memecah keheningan. "Selamat datang, para pencari pengetahuan."


Mereka berbalik dan melihat seorang pria tua dengan jenggot putih yang panjang dan berpakaian seperti seorang kultivator. Pria itu tersenyum ramah pada mereka.


"Aku adalah Lu Chen, penjaga pengetahuan ini," kata pria itu. "Kalian adalah orang-orang pertama yang berhasil membuka pintu ini dalam beberapa generasi. Itu berarti kalian memiliki hati yang murni dan niat baik."


Mei, Xian, dan Thio Ling merasa lega mendengar kata-kata Lu Chen. Mereka segera memperkenalkan diri dan menceritakan tujuan mereka untuk menghentikan Roh Salju.


Lu Chen mendengarkan dengan serius. "Roh Salju adalah ancaman besar bagi dunia ini. Tapi untuk menghentikannya, kalian perlu pengetahuan yang sangat dalam tentang seni kultivasi dan elemen-elemen alam. Di sini, kalian akan menemukan buku-buku dan artefak yang akan membantu kalian dalam perjalanan kultivasi kalian."


Dia membimbing mereka ke sejumlah buku yang berisi pengetahuan dasar tentang elemen-elemen alam dan seni kultivasi. Mereka mulai belajar dengan tekun, mencatat setiap detail yang mereka temukan. Selama berhari-hari, mereka tidak pernah meninggalkan ruangan itu, fokus sepenuhnya pada pembelajaran mereka.


Sementara mereka sibuk belajar, mereka juga berbicara dengan Lu Chen tentang Roh Salju dan misi mereka. Pria tua itu memberikan beberapa wawasan berharga tentang kekuatan Roh Salju dan bagaimana cara menghadapinya. Dia juga bercerita tentang sejarah Kerajaan Salju yang kaya, tentang bagaimana kerajaan itu dulunya adalah tempat yang damai dan makmur sebelum Roh Salju muncul.


Percakapan mereka dengan Lu Chen tidak hanya memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang misi mereka tetapi juga mengungkapkan sifat-sifat yang lebih dalam dari karakter mereka. Mei terbukti sebagai pemimpin yang bijaksana dan berpengetahuan luas, Xian adalah ahli strategi yang cerdik, dan Thio Ling adalah sosok yang penuh semangat dan penuh tekad untuk melindungi orang yang ia cintai.


Beberapa minggu berlalu, dan ketiganya merasa telah memperoleh pengetahuan yang cukup untuk melanjutkan perjalanan mereka. Mereka berterima kasih kepada Lu Chen atas bantuannya dan meninggalkan ruangan itu dengan hati yang penuh semangat.


Saat mereka keluar dari gua, mereka melihat langit yang mulai gelap karena matahari terbenam. Tapi mereka tidak punya waktu untuk istirahat. Mereka tahu bahwa mereka memiliki misi yang penting untuk dilaksanakan.


Dengan semangat baru, Mei, Xian, dan Thio Ling memulai perjalanan mereka menuju Kerajaan Salju yang berbahaya, siap untuk menghadapi segala rintangan dan bahaya yang mungkin menunggu mereka di depan. Misi mereka untuk menghentikan Roh Salju dan membawa kedamaian ke Kerajaan Salju akan menjadi ujian sejati bagi mereka, tetapi mereka tidak akan pernah menyerah.

__ADS_1


Di bawah bintang-bintang yang bersinar terang di malam hari, ketiganya berjalan menuju petualangan baru dengan keyakinan yang kuat dalam hati mereka.


__ADS_2