Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Keberangkatan ke Gunung Es


__ADS_3

Langit pagi membentang dengan gradasi warna oranye dan ungu, menandai awal dari hari yang dingin. Embun pagi berkilauan di atas rumput dan dedaunan, memberikan kesan magis pada desa kecil tempat Xian tinggal. Burung-burung berkicau riang, menyambut matahari yang baru saja muncul dari cakrawala.


Di sebuah rumah kayu yang sederhana, Xian sedang duduk bersemedi, mencoba menenangkan pikirannya. Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka, memasukkan hembusan udara segar. Seorang pria tua dengan jubah biru tua masuk. Ini adalah gurunya, Master Li.


"Xian," kata Master Li dengan suara seraknya. "Kau siap untuk perjalananmu ke Gunung Es?"


Xian membuka matanya perlahan, menunjukkan semangat yang membara. "Ya, Master. Saya siap untuk mencari bahan langka tersebut."


Master Li tersenyum, menepuk bahu Xian dengan kasih sayang. "Ingat, Gunung Es bukan tempat yang mudah. Anginnya mampu memotong kulit dan salju bisa mengejutkan tulangmu."


Xian mengangguk. "Saya tahu risikonya, tapi saya harus melakukannya."


Setelah sarapan yang hangat dan berkat doa dari Master Li, Xian melangkah keluar rumah. Desa itu sudah mulai ramai. Pasar desa dibuka, penjual mulai menata dagangannya dan aroma makanan segar menyebar.


Sebagai persiapan, Xian memutuskan untuk mampir ke pasar. Dia ingin membeli beberapa perlengkapan untuk perjalanan. Tiba-tiba, sepasang sepatu salju yang unik menarik perhatiannya. Sepatu itu tampak kokoh dengan bulu tebal di sekelilingnya.


"Apa itu?" tanya Xian kepada pedagang, sambil menunjuk sepatu tersebut.


"Ah, itu sepatu salju khusus," jawab pedagang dengan wajah ceria, kedua pipinya memerah karena udara dingin. "Sangat berguna untuk berjalan di atas salju tanpa tenggelam."


Tanpa ragu, Xian membelinya. Dia mencobanya di tempat, mengikat tali sepatu dengan cekatan. Sambil tertawa, Xian mulai berlari-lari kecil, mencoba merasakan kenyamanannya. Beberapa penduduk desa yang melihatnya mulai tertawa melihat tingkah Xian yang lucu.


"Xian! Apa kau mau berdansa di pasar?" teriak seorang ibu-ibu sambil tertawa.


"Sepertinya sepatu itu terlalu besar untukmu!" canda seorang pria muda.


Wajah Xian memerah, tapi dia tetap tersenyum. "Setidaknya kaki saya akan tetap hangat," balasnya sambil tertawa.


Setelah puas dengan sepatunya yang baru, Xian melanjutkan persiapan perjalanannya. Dia membeli beberapa makanan kering dan obat-obatan herbal.


Sebelum berangkat, Xian berdiri di tepi desa, menatap jauh ke arah Gunung Es yang megah. Puncak gunung tersebut tertutup kabut tebal, memberikan aura misterius. Xian mengambil napas dalam-dalam, merasakan udara pagi yang segar mengisi paru-parunya.


"Selamat jalan, Xian," kata Master Li yang mendekatinya dari belakang. "Percayalah pada dirimu, dan jangan lupa jalan pulang."


Xian mengangguk, wajahnya penuh determinasi. "Terima kasih, Master. Saya akan kembali dengan bahan langka itu."

__ADS_1


Dengan langkah pasti, Xian memulai perjalanannya, meninggalkan desa dan menuju Gunung Es, membawa harapan dan tekad yang kuat di hatinya.


Langkah Xian semakin berat seiring dengan ketinggian yang ia tempuh. Salju putih menutupi sebagian besar gunung, menciptakan pemandangan yang mempesona namun mematikan. Setiap hembusan angin menerpa wajahnya dengan keganasan, menyebabkan pipinya memerah dan mata meneteskan air.


Tiba-tiba, sebuah suara mengaung. Suara serigala. Xian berhenti dan berusaha mencari sumber suara tersebut. Tidak lama, bayangan hitam mulai muncul dari balik tebing, sebuah kelompok serigala gunung menunjukkan diri.


Xian dengan cepat mencabut pedangnya, mempersiapkan diri untuk konfrontasi. Serigala-serigala itu tampak lapar, mata mereka merah membara menatap mangsa yang tengah berdiri di hadapan mereka.


"Saya tidak ingin berkelahi, tapi jika kalian mendekat, saya akan melindungi diri," ujar Xian dengan suara yang tegas, pedangnya siap meluncur.


Namun, sebelum pertempuran pecah, suara nyaring memecah keheningan. Seorang wanita berambut hitam panjang dan berpakaian putih layaknya malaikat salju muncul dari balik tebing, berdiri di antara Xian dan serigala-serigala itu.


"Berhenti!" perintahnya pada serigala-serigala tersebut. Hewan-hewan buas itu seakan mengenali suaranya, dan perlahan mundur.


Xian terkesima. "Siapa kau?"


Namanya Lian, penjaga Gunung Es. "Apa yang kau cari di sini?" tanyanya dengan tatapan tajam.


"Saya mencari bahan langka untuk meningkatkan kultivasi saya," jawab Xian, menaruh pedangnya kembali.


Xian mengangguk, menghargai peringatan itu. Keduanya melanjutkan perjalanan, dengan Lian menunjukkan jalan. Seiring perjalanan, Xian melihat beberapa kelinci gunung bermain di salju, terinspirasi, dia mencoba berbaring dan membuat malaikat salju dengan tubuhnya. Namun, hasilnya jauh dari sempurna.


Lian tertawa pelan melihatnya. "Kau benar-benar aneh," katanya dengan senyum manis yang memperlihatkan lesung pipinya.


Xian bangkit dengan wajah memerah, "Eh, saya baru pertama kali mencoba. Tidak mudah seperti yang terlihat."


Lian mengulurkan tangannya, membantu Xian berdiri. "Mungkin kau lebih baik fokus pada misimu daripada bermain-main di salju."


Namun, seiring dengan ketinggian yang semakin meningkat, cuaca menjadi semakin ekstrem. Salju turun dengan lebat, mengurangi jarak pandang Xian. Angin kencang menyebabkan tubuhnya terasa beku, dan setiap langkah yang diambilnya menjadi semakin sulit.


Lian, dengan kedekatannya dengan alam, membimbing Xian melewati badai salju, memastikan mereka tetap berada di jalur yang benar. Setiap kali Xian jatuh atau tergelincir, Lian selalu ada di sana untuk menolongnya.


"Kenapa kau membantu saya?" tanya Xian saat mereka beristirahat di sebuah goa kecil.


Lian menatapnya dengan mata yang penuh misteri, "Mungkin karena aku melihat potensi di dalam dirimu, atau mungkin karena kau adalah orang pertama yang mencoba membuat malaikat salju di depanku."

__ADS_1


Xian tersenyum lemah, "Terima kasih, Lian."


Dengan Lian di sisinya, Xian merasa lebih percaya diri untuk menghadapi tantangan Gunung Es. Namun, ia sadar bahwa perjalanannya masih panjang, dan banyak rintangan yang harus dihadapi sebelum ia mencapai tujuannya.


Xian merasa kaki dan tangannya membeku. Pohon-pohon salju menjulang tinggi, menutupi langit dan menciptakan labirin putih yang tak berujung. Udara dingin memotong napasnya, dan suara langkahnya di salju menjadi satu-satunya yang terdengar.


"Aku harus menemukan jalan keluar," gumam Xian, namun setiap arah yang dia coba tampak sama. Lian tidak ada di sampingnya saat ini, membiarkan Xian merasa semakin cemas.


Saat keputusasaan mulai merayap, suara tawa anak-anak memecah kebisuan. Xian mengikuti suara itu dan menemukan sekelompok anak-anak desa yang sedang bermain bola salju. Mereka tampak begitu riang, seolah-olah tidak peduli dengan bahaya yang mengintai di hutan salju.


"Hei, kau!" seru Xian. "Apakah kalian tahu jalan keluar dari sini?"


Seorang anak laki-laki dengan pipi merah dan mata yang bersinar menatapnya, "Kami juga tersesat, Tuan. Tapi kami mencoba menikmati saat ini sebelum mencari jalan keluar."


Xian menatap mereka dengan heran. "Bagaimana kalian bisa begitu tenang?"


Seorang anak perempuan dengan rambut dikepang menjawab, "Kami tahu hutan ini seperti telapak tangan kami. Dan sejauh ini, bermain bola salju adalah cara kami untuk tetap hangat dan bahagia."


Xian tersenyum, "Bisakah kalian mengajari saya?"


Anak-anak itu tertawa dan mulai memberi Xian pelajaran membuat bola salju yang sempurna. Teknik mereka ternyata sederhana, namun membutuhkan sentuhan yang tepat. Setelah beberapa percobaan, Xian berhasil membuat bola salju yang bulat sempurna.


Seorang anak laki-laki berkata, "Tuan, mungkin kau bisa bergabung dengan kami dalam perang bola salju!"


Dengan semangat baru, Xian bermain dengan anak-anak itu, melempar bola salju, berlindung di balik pohon, dan tertawa riang. Untuk sesaat, dia melupakan kecemasannya.


Namun, matahari mulai terbenam, memberikan sinyal bahwa mereka harus segera menemukan jalan keluar. Xian berkumpul dengan anak-anak itu, "Kita harus bersatu dan mencari jalan keluar bersama-sama."


Dengan semangat tim, mereka mulai menyusuri hutan, mengandalkan pengetahuan anak-anak tentang tanda-tanda alam. Xian, dengan keahliannya dalam kultivasi, mencoba merasakan energi alam sekitar untuk menemukan jalan keluar.


Setelah beberapa jam yang melelahkan, Xian merasa ada aliran energi yang familiar. "Ini dia! Jalan keluar!" serunya. Mengikuti instingnya, mereka berhasil menemukan tepian hutan dan jalan yang mereka kenali.


Anak-anak itu bersorak gembira, "Terima kasih, Tuan Xian! Kau telah membantu kami."


Xian tersenyum, "Seharusnya saya yang berterima kasih. Kalian telah mengajari saya arti kebahagiaan di tengah kesulitan."

__ADS_1


Dengan hati yang penuh rasa syukur, Xian melanjutkan perjalanan mencari bahan langka, dengan pelajaran berharga yang ia dapatkan dari anak-anak desa di hutan salju.


__ADS_2