
Di sebuah pagi yang cerah di Sekolah Persilatan Guyon, matahari bersinar terang, dan udara segar membawa semangat. Murid-murid yang sedang berlatih berjalan-jalan di halaman sekolah, tertawa dan bercanda satu sama lain. Namun, suasana riang itu segera terganggu oleh munculnya kelompok musuh yang mengenakan jubah hitam.
Mereka datang dengan langkah pasti, menyebabkan gerakan murid-murid terhenti. Ketegangan melanda, dan pandangan bingung melintas di wajah-wajah murid-murid.
Lee Xian, guru mereka yang selalu ceria, menghentikan pelatihan yang sedang berlangsung dan berjalan mendekati kelompok musuh itu dengan langkah mantap. Dia adalah orang pertama yang berbicara, "Apa yang kalian cari di sini?"
Salah satu dari musuh-musuh itu, yang memiliki tatapan tajam dan berbicara dengan suara serak, menjawab, "Kami adalah Bagian Hitam, dan kami telah mengambil alih wilayah ini. Kami mengancam akan mengusir kalian semua dari sini, kecuali jika kalian menyerahkan semua harta karun dan ilmu silat kalian."
Tawa sinis terdengar di antara murid-murid Sekolah Persilatan Guyon. Mereka tidak terkesan dengan ancaman musuh-musuh itu. Namun, Xian merasa ada sesuatu yang aneh dengan kelompok ini. Mereka tampaknya memiliki motivasi yang lebih dalam.
"Saya rasa kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan damai," kata Xian dengan senyuman. "Kita tidak ingin ada pertumpahan darah di sini."
Namun, musuh-musuh itu tidak tergerak oleh tawaran damai Xian. Mereka mengangkat senjata-senjata mereka dan bersiap untuk bertempur.
Sementara itu, di sisi lain lapangan, ada satu makhluk kecil yang menjadi saksi bisu dari konfrontasi ini. Guru Bun bun, seekor kelinci putih berbulu lebat, yang biasanya duduk tenang di samping Xian, mendadak panik melihat musuh-musuh yang mengancam sekolah. Dia merasa ancaman yang tak terlihat dari kelompok musuh tersebut.
Tanpa ragu, Guru Bun bun melompat dari tempat duduknya, menghentakkan kakinya di tanah, dan dengan kecepatan yang mengagumkan, ia berlari menuju pohon kelapa terdekat. Dalam waktu singkat, ia sudah memanjat tinggi dan bersembunyi di atas pohon kelapa, mengintai dengan waspada, siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi.
Sementara itu, musuh-musuh yang mengenakan jubah hitam menunggu dengan tegang, menghadapi murid-murid Sekolah Persilatan Guyon yang siap bertarung. Ancaman misterius ini telah membawa ketegangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya di halaman sekolah yang biasanya penuh tawa dan kebahagiaan.
__ADS_1
Menghadapi ancaman yang tak terduga dari kelompok musuh misterius, Xian dan murid-muridnya mengumpulkan keberanian mereka untuk menghadapi situasi ini dengan bijaksana. Mereka memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan musuh-musuh itu di luar sekolah, di area terbuka yang luas.
Di bawah langit biru yang cerah, semua murid Sekolah Persilatan Guyon berkumpul, bersiap untuk menghadapi musuh-musuh yang berdiri di sisi lain lapangan. Xian berdiri di depan mereka, wajahnya penuh dengan tekad.
Salah satu musuh, yang tampaknya menjadi juru bicara kelompok, berkata, "Kami memberi kalian satu kesempatan terakhir untuk menyerah dan menyerahkan semua harta karun dan ilmu silat kalian. Jika tidak, kami akan mengambilnya dengan paksa."
Salah satu murid Guyon, Mei, yang memiliki sifat yang tegas dan sedang marah karena ancaman yang disampaikan oleh musuh-musuh itu, tidak bisa lagi menahan diri. Dia berteriak dengan kemarahan, "Kalian pikir kalian bisa mengusir kami dari sini? Kalian tidak tahu apa-apa tentang kekuatan Guyon!"
Mei mencoba menunjukkan sikap ketegasannya dengan cara yang tak biasa. Dia berniat untuk membuat musuh-musuh itu merasa cemas, namun apa yang terjadi selanjutnya benar-benar tak terduga.
Dengan nada tinggi dan kemarahan yang memuncak, Mei mencoba memprotes dan mengeluarkan suara yang sangat tinggi. Namun, bukannya mengejutkan musuh-musuh itu, suaranya justru memecah kaca jendela di sekitar mereka. Suara retak kaca yang tiba-tiba mengisi udara membuat semua orang terkejut, termasuk musuh-musuh itu sendiri.
Tidak hanya musuh-musuh yang tertawa, tetapi murid-murid Sekolah Persilatan Guyon pun ikut tertawa, termasuk Mei yang sebelumnya marah. Mereka menyadari bahwa suara yang keluar dari Mei selain memecahkan kaca juga sangat lucu.
Xian, yang selalu ceria, mengambil inisiatif untuk memecahkan keheningan. Dia berkata sambil tertawa, "Mungkin kita bisa menyelesaikan masalah ini tanpa pertumpahan darah, seperti yang saya katakan sebelumnya. Dan Mei, mungkin suaramu bisa kita gunakan sebagai senjata rahasia!"
Mei, yang sekarang sudah tersenyum lebar, menjawab, "Saya akan mencoba tidak memecahkan kaca lagi, Guru."
Setelah momen kocak yang terjadi selama konfrontasi awal, murid-murid Sekolah Persilatan Guyon kembali ke ruang kelas mereka untuk merencanakan tindakan selanjutnya. Mereka tahu bahwa mereka perlu mencari tahu apa yang sebenarnya musuh-musuh itu cari dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi sekolah mereka.
__ADS_1
Xian memimpin pertemuan dan berkata, "Kita tidak tahu apa yang mereka inginkan, dan kita harus berhati-hati. Kita perlu menyusup ke kamp musuh dan mencari tahu lebih lanjut."
Murid-murid Guyon setuju dengan rencana ini dan mulai merumuskan rencana penyusupan mereka. Mereka membagi peran masing-masing dan mulai mempersiapkan diri. Salah satu murid, Xiao, memiliki ide yang cukup kreatif.
Dia mencadangkan bahwa dia akan menyamar sebagai salah satu musuh menggunakan pakaian yang telah dirampas dari salah satu musuh selama konfrontasi. Xiao adalah salah satu murid yang terampil dalam berubah-ubah dan menyamar, sehingga dia yakin bisa memainkan peran ini dengan baik.
Namun, Xiao memutuskan untuk "overacting" dalam perannya sebagai musuh. Dia memakai jubah hitam musuh yang besar, menyembunyikan wajahnya dengan penutup wajah yang lebar, dan berbicara dengan suara serak yang berlebihan. Dia juga menciptakan sikap yang berlebihan, seperti berjalan dengan langkah panjang dan berbicara dengan nada mengancam yang terlalu berlebihan.
Reaksi murid-murid lainnya ketika melihat Xiao yang berlebihan dalam menyamar ini adalah campuran antara tertawa dan bingung. Mereka tahu bahwa Xiao sengaja melampiaskan bakat aktingnya yang berlebihan, dan itu membuat mereka merasa geli.
Namun, Xian melihat potensi dalam tindakan Xiao yang berlebihan ini. Dia berkata, "Xiao, mungkin sikapmu yang berlebihan akan membuat musuh-musuh itu bingung dan meremehkan kita. Tapi ingat, tujuan kita adalah mencari tahu apa yang mereka cari tanpa memicu pertempuran."
Xiao menanggapi, "Saya akan mencoba, Guru. Semoga tindakan berlebihan ini berhasil."
Dengan perencanaan yang telah mereka siapkan, Xiao menyamar sebagai musuh dan berangkat menuju kamp musuh yang telah mereka identifikasi. Dia melangkah dengan gaya yang berlebihan, berharap bisa membingungkan musuh-musuh dan meraih informasi yang mereka butuhkan.
Momen kocak lainnya terjadi saat Xiao bertemu dengan salah satu musuh di luar kamp. Musuh itu, yang sebelumnya hanya tahu sedikit tentang Xiao, tampak bingung dan tertawa melihat sikap berlebihan Xiao. Mereka bahkan mulai mengolok-oloknya karena berlebihan dalam berperan.
Sementara itu, murid-murid Guyon yang lain mengintai dari kejauhan, siap untuk membantu Xiao jika situasi menjadi berbahaya. Mereka berharap bahwa tindakan berlebihan Xiao tidak hanya akan membuat musuh tertawa, tetapi juga akan memberikan mereka informasi berharga tentang niat musuh-musuh ini.
__ADS_1
Selama penyusupan ini, mereka harus tetap waspada dan siap untuk bertindak jika situasinya berubah. Tetapi untuk saat ini, mereka berharap bahwa tindakan berlebihan Xiao akan menjadi kunci untuk mengungkapkan rahasia musuh-musuh misterius ini.