Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Kepergian Lee Xian


__ADS_3

Setelah menyelesaikan upacara pengambilalihan kepemimpinan dan pesta yang meriah, Lee Xian merasa saatnya untuk mengembara ke negeri-negeri lain. Dia tahu bahwa perguruan Persilatan Guyon akan berada di tangan yang aman di bawah kepemimpinan Xiu dan Mei Mei. Mereka telah menunjukkan tekad dan semangat untuk menjaga filosofi Guyon tetap hidup.


Xian berdiri di depan pintu gerbang Sekolah Persilatan Guyon, dengan matahari terbenam di ufuk barat. Dia mengenakan pakaian perjalanan sederhana, dengan pedangnya yang setia tergantung di pinggangnya.


Xiu dan Mei Mei berdiri di sampingnya, mengenakan seragam perguruan mereka yang baru. Mereka berdua tampak penuh hormat pada gurunya yang telah mengajarkan mereka begitu banyak selama bertahun-tahun.


"Terima kasih, Guru Xian," kata Xiu dengan suara tulus. "Anda telah memberi kami lebih dari yang bisa kami bayangkan. Kami akan menjaga perguruan ini dengan baik."


Mei Mei menambahkan, "Kami akan memastikan warisan Guyon tetap hidup dan kami akan terus mengajarkan nilai-nilainya kepada generasi berikutnya."


Xian tersenyum pada kedua muridnya. "Kalian berdua adalah pilihan yang tepat untuk memimpin. Saya tidak pernah meragukan kemampuan dan tekad kalian. Ingatlah, Guyon bukan hanya tentang teknik bela diri, tetapi juga tentang tawa, kebahagiaan, dan kebijaksanaan."


Xiu dan Mei Mei mengangguk, mengerti pesan guru mereka dengan baik. Mereka tahu bahwa mereka memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga visi Guyon tetap hidup.


Semua murid berkumpul di halaman, membawa bekal perjalanan dan persiapan lainnya. Mereka ingin memberikan guru mereka, Lee Xian, perpisahan yang berkesan sebelum dia berangkat untuk mengembara ke dunia persilatan.


Xian, dengan senyum tulus di wajahnya, berdiri di tengah-tengah murid-muridnya. Dia merasa terharu dengan kehangatan dan kasih sayang yang mereka tunjukkan padanya. Di sekitarnya, murid-muridnya mulai mendekat satu per satu, membawa hadiah dan bekal perjalanan.


Lin, salah satu murid paling ceria, menghampiri Xian dengan sebuah kotak kecil yang dibungkus indah. Dia menyerahkan kotak itu dengan hati-hati kepada guru mereka. "Ini untukmu, Guru Xian. Semoga ini bisa menjadi kenang-kenangan untuk perjalananmu."


Xian membuka kotak itu dengan lembut, dan di dalamnya dia menemukan sebuah liontin yang indah dengan batu permata biru yang bersinar. Dia terkejut oleh keindahan hadiah tersebut dan berkata dengan penuh rasa terima kasih, "Terima kasih, Lin. Ini sangat indah. Aku akan mengenakan liontin ini dengan bangga selama perjalanan."

__ADS_1


Sementara itu, Wei datang dengan sebuah gulungan kain yang tampak seperti lukisan. Dia menjelaskan, "Ini adalah lukisan pemandangan alam di tempat-tempat yang mungkin akan kamu kunjungi, Guru Xian. Semoga ini dapat memberimu semangat selama perjalanan."


Xian membuka gulungan kain itu dan tersenyum lebar saat melihat lukisan pemandangan alam yang indah. "Ini luar biasa, Wei. Aku akan membawa lukisan ini bersamaku dan mengingatmu setiap kali aku melihatnya."


Mei Mei, menghampiri guru mereka dengan sebuah kotak yang tampak sangat misterius. Dia tersenyum dan berkata, "Ini adalah buku catatan yang berisi berbagai resep masakan dari berbagai wilayah. Semoga kamu bisa menikmati makanan lezat selama perjalananmu."


Xian membuka kotak itu dan melihat buku catatan yang tebal dengan berbagai resep yang menggiurkan. Dia tertawa dan berkata, "Terima kasih, Mei Mei. Aku yakin buku ini akan sangat berguna selama perjalanan."


Murid-murid lainnya juga memberikan hadiah-hadiah mereka, termasuk senjata bertuah, ramuan penyembuhan, dan bahan-bahan alkimia yang mungkin berguna dalam perjalanan. Semua hadiah itu disertai dengan ucapan perpisahan yang penuh kasih sayang.


Setelah menerima hadiah-hadiah itu, Xian merasa sangat terharu. Dia merasa beruntung memiliki murid-murid yang begitu peduli dan berdedikasi. Dia berbicara kepada mereka dengan suara yang penuh rasa terima kasih, "Terima kasih, semua. Aku akan merindukan kalian semua. Aku akan menjaga semua hadiah ini dengan baik."


Namun, saat suasana perpisahan semakin hangat, tiba-tiba langit menjadi mendung dan angin berhembus kencang. Hujan mulai turun dengan derasnya, mengguyur perguruan dengan cepat. Semua murid dan Xian pun terpaksa berlindung di bawah atap.


Xian tersenyum dan mengangguk. "Mungkin benar, Mei Mei. Tapi sepertinya kita harus menunda keberangkatan kita hingga besok. Ini hujan terlalu deras untuk melakukan perjalanan."


Para murid mengangguk setuju, dan mereka semua kembali ke dalam perguruan. Mereka tahu bahwa besok akan menjadi hari yang sama istimewa untuk berpamitan dengan guru mereka. Suasana hangat dan kebersamaan di perguruan Persilatan Guyon tetap ada, meskipun hujan telah mengganggu rencana keberangkatan guru mereka.


Esoknya, hari keberangkatan Lee Xian dari perguruan Persilatan Guyon telah tiba. Semua murid berkumpul di halaman perguruan, merasa campur aduk antara kebahagiaan dan kesedihan. Mereka telah belajar banyak dari guru mereka, dan sekarang saatnya bagi Xian untuk mengembara ke dunia luar.


Xian berdiri di tengah-tengah halaman, mengenakan pakaian perjalanan yang sederhana. Pedangnya yang setia tergantung di pinggangnya. Dia melihat wajah-wajah murid-muridnya yang penuh rasa hormat dan cinta. Ada keheningan yang mengisi udara, seperti mereka semua tahu bahwa saat-saat ini istimewa.

__ADS_1


Kemudian, salah satu murid, seorang pemuda bernama Wei, mendekati Xian dengan langkah ragu. Dia adalah salah satu yang paling dekat dengan guru mereka, dan dia tidak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya. Dengan gemetar, dia memeluk Xian erat.


"Terima kasih, Guru Xian," bisiknya dengan suara yang penuh emosi. "Anda telah mengubah hidup saya."


Xian tersenyum lembut dan membalas pelukan Wei. "Kamu adalah murid yang luar biasa, Wei. Jangan lupakan semua yang telah kamu pelajari dan terus berkembang."


Setelah itu, semua murid yang hadir mulai mendekati Xian satu per satu, memberikan ucapan perpisahan dan pelukan. Mereka tidak bisa menahan perasaan campur aduk mereka, dan beberapa di antara mereka bahkan menangis dengan tulus. Xian mendengarkan dengan penuh perhatian saat murid-muridnya berbicara tentang pengalaman mereka di perguruan dan bagaimana dia telah memengaruhi hidup mereka.


Mei Mei, berdiri di sampingnya dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu bahwa mereka akan mengembara bersama, tetapi momen ini masih sangat emosional baginya. Dia melihat semua murid berkumpul di sekitar Xian dan merasa bangga pada guru mereka.


Suasana menjadi semakin emosional saat seorang murid bernama Lin, yang biasanya ceria, mulai menangis dengan tulus saat berbicara tentang bagaimana Xian telah mengajarkannya ilmu silat dan filosofi tawa. Tawa pun bergema di antara para murid, seiring dengan air mata yang mengalir.


Tidak ada yang ingin melewatkan momen ini. Mereka semua ingin menyampaikan rasa terima kasih mereka kepada guru mereka yang telah memberi begitu banyak dalam hidup mereka. Dan Xian menerima semua rasa terima kasih dan cinta itu dengan penuh kerendahan hati.


Setelah beberapa saat, Xian memberi isyarat bahwa saatnya untuk pergi telah tiba. Dia ingin memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk berkumpul satu terakhir kali sebelum dia meninggalkan perguruan. Semua murid merangkulnya sekali lagi, seakan-akan ingin merasakan keberadaannya sebanyak mungkin.


Xian tersenyum, meskipun air mata juga ada di matanya. "Aku akan selalu mengingat semua kalian. Jangan pernah berhenti berlatih dan menjalani filosofi Guyon."


Mei Mei berbicara dengan penuh tekad, "Kami akan menjaga perguruan ini dengan baik, Guru Xian. Kami akan melanjutkan warisan Anda."


Dengan perasaan campur aduk, Xian akhirnya melangkah ke pintu gerbang perguruan. Murid-muridnya berkumpul di sana, melihat gurunya dengan penuh cinta dan rasa hormat. Mereka tahu bahwa Xian akan melakukan perjalanan yang luar biasa, tetapi perpisahan ini tetap sulit bagi mereka semua.

__ADS_1


Saat Xian melangkah lebih jauh dari perguruan, suara tepuk tangan dan teriakan perpisahan terdengar di belakangnya. Ini adalah cara murid-muridnya untuk mengucapkan selamat tinggal dan memberi semangat pada guru mereka.


Saat matahari terbenam di ufuk barat, Lee Xian melanjutkan perjalanan dengan semangat yang tinggi. Dia tahu bahwa meskipun mereka meninggalkan perguruan, hubungan yang dia miliki dengan murid-murid mereka akan tetap kuat. Dan di bawah langit yang berkilauan, Xian melanjutkan perjalanannya, siap untuk menjalani petualangan yang menunggu di dunia luar.


__ADS_2