
Pasar kota itu ramai dan penuh dengan pedagang yang berteriak-teriak menawarkan barang dagangan mereka. Xian tengah asyik berjalan-jalan, terpesona oleh warna-warni kain sutra yang dijual di salah satu toko kain.
Tiba-tiba, di tengah keramaian, Xian mendengar suara yang akrab. Suara itu seperti melodi dari masa lalu yang mengalun di telinganya. Dia berbalik dan melihat seorang pria bertubuh tegap dengan rambut hitam yang panjang dan mata tajam. Pria itu tersenyum lebar, dan itu adalah senyum yang tak bisa Xian lupakan.
"Lin Tao!" seru Xian dengan gembira sambil berlari mendekati pria itu.
Lin Tao, kultivator berpedang ulung yang terkenal di seluruh Kerajaan Han Sang, menyambut Xian dengan tangan terbuka. "Xian! Sudah lama tidak bertemu."
Mereka berdua berjabat tangan dengan erat, saling bertatapan dengan senyum ramah. Lin Tao adalah teman lama Xian dari masa lalu, dan mereka pernah berlatih bersama di sebuah perguruan silat sebelum mereka memulai petualangan masing-masing.
Xian mengusap jenggotnya yang sedikit tumbuh dan berkata, "Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Lin Tao? Terakhir kali kita bertemu adalah di perguruan itu, bukan?"
Lin Tao mengangguk. "Ya, benar sekali. Aku melanjutkan latihanku dan sekarang menjadi anggota klan pedang yang terhormat di sini di Han Sang. Bagaimana denganmu? Apa yang membawamu ke kota ini?"
Xian menceritakan perjalanan dan petualangannya sejak mereka terakhir bertemu. Dia bercerita tentang perguruan Persilatan Guyon, filosofi tawa, dan semua pengalaman menarik yang telah dia alami.
Lin Tao mendengarkan dengan penuh minat. "Itu semua terdengar luar biasa," katanya. "Aku senang mendengarnya. Apakah kamu masih aktif berlatih persilatan?"
Xian tersenyum. "Tentu saja! Aku masih latihan, meskipun aku lebih fokus pada filosofi Guyon sekarang. Tapi tentu saja, aku masih bisa menghadapi tantangan jika diperlukan."
__ADS_1
Lin Tao mengernyitkan keningnya. "Nah, kalau begitu, bagaimana jika kita mengadakan pertandingan persilatan? Aku ingin melihat seberapa kuat kamu sekarang."
Xian tersenyum lebar. "Mengapa tidak? Aku tidak pernah menolak tantangan. Kapan dan di mana kita akan bertarung?"
Lin Tao menunjuk ke lapangan terbuka yang terletak di luar kota. "Besok pagi, di sana. Kita akan bertarung secara adil, tanpa senjata atau kekuatan luar."
Xian mengangguk setuju. "Baiklah, aku akan datang besok pagi. Ini akan menjadi pertemuan yang menarik, Lin Tao."
Mereka berdua berbicara sebentar lagi sebelum berpisah untuk bersiap-siap. Lin Tao menghilang di antara kerumunan pedagang, sementara Xian kembali ke tempat ia menginap dengan semangat tinggi. Pertandingan persilatan besok pagi akan menjadi momen yang menarik dalam petualangannya di Kerajaan Han Sang.
Setelah berbicara dengan Lin Tao dan menyetujui tanggal dan tempat pertandingan, Xian kembali ke penginapannya untuk memulai persiapan. Dia tahu bahwa pertandingan besok pagi akan menjadi tantangan serius, meskipun mereka berdua telah memutuskan untuk menjadikannya sebagai pertarungan yang penuh humor.
Dia duduk di atas matras bambu di sudut kamar dan mulai merenung. Dia merenungkan lelucon-lelucon dan candaan-candaan yang telah dia pelajari selama perjalanannya. Xian tahu bahwa humor adalah senjata yang kuat, bahkan dalam persilatan.
Saat dia merenung, dia tersenyum sendiri mengingat salah satu lelucon favoritnya. Ini adalah lelucon tentang seorang kultivator yang mencoba melepaskan pedangnya selama pertarungan, tetapi pedang itu terlalu berat dan malah menimpanya. Lelucon itu sederhana tetapi lucu, dan Xian yakin bahwa itu bisa digunakan untuk mengendalikan situasi dalam pertandingan.
Sementara itu, Lin Tao juga bersiap-siap di tempat tinggalnya. Dia berlatih dengan pedangnya, merasakan bobot dan panjang senjata itu. Lin Tao adalah seorang ahli pedang yang sangat terampil, dan dia ingin memastikan bahwa dia dalam kondisi terbaiknya.
Dia juga merenungkan tentang pertandingan besok. Meskipun dia adalah seorang kultivator yang serius, dia menghargai gagasan humor dalam pertarungan. Dia percaya bahwa seni bela diri tidak hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kebijaksanaan dan kelincahan pikiran.
__ADS_1
Ketika malam tiba, Xian dan Lin Tao keduanya merasa siap untuk pertandingan besok pagi. Mereka telah bersiap fisik dan mental, dan keduanya memiliki rasa hormat satu sama lain. Meskipun pertarungan itu akan menjadi serius, mereka berdua tahu bahwa mereka juga ingin menghibur penonton dan menunjukkan bahwa seni bela diri bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kekerasan.
Mereka berharap bahwa pertandingan besok pagi akan menjadi momen yang tidak hanya menguji kemampuan mereka dalam persilatan, tetapi juga menghadirkan tawa dan kebahagiaan bagi semua yang menyaksikannya. Dengan pikiran itu, mereka pergi tidur, siap untuk hari yang menarik yang akan datang.
Xian duduk di kamarnya, tenggelam dalam pemikiran tentang lelucon yang akan dia gunakan selama pertandingan dengan Lin Tao. Dia tahu bahwa humor adalah senjata yang kuat, terutama dalam situasi yang tegang seperti pertarungan persilatan.
Dia mulai mengingat beberapa lelucon yang pernah dia dengar selama perjalanannya. Ada satu lelucon tentang seorang petani yang mencoba menjual ayam-ayamnya di pasar, tetapi ayam-ayam itu terlalu malas untuk bergerak. Lelucon itu selalu membuatnya tertawa, dan dia memutuskan bahwa ini bisa menjadi lelucon yang sempurna untuk mengendalikan situasi selama pertandingan.
Xian juga memikirkan candaan-candaan yang bisa digunakan untuk membuat Lin Tao tersenyum. Dia tahu bahwa humor yang bersifat saling menghormati akan lebih efektif daripada candaan yang menyinggung.
Setelah beberapa waktu merenung, Xian mulai tertawa sendiri saat dia membayangkan bagaimana dia akan menghadapi Lin Tao dengan lelucon-leluconnya. Dia yakin bahwa humor bisa menjadi senjata yang kuat untuk menjaga keseimbangan dalam pertandingan.
Sementara itu, Lin Tao juga mempersiapkan dirinya di tempat tinggalnya. Dia merenungkan tentang pertandingan besok pagi dan bagaimana dia bisa tetap serius dalam persilatan sambil menjaga suasana yang menyenangkan.
Lin Tao mengingat satu lelucon tentang seorang guru persilatan yang mencoba mengajar muridnya teknik bela diri yang rumit, tetapi muridnya malah berakhir dengan melompat-lompat seperti kera. Lelucon itu membuatnya tersenyum, dan dia memutuskan bahwa dia akan mencoba menjawab lelucon-lelucon Xian dengan lelucon-leluconnya sendiri.
Dengan pikiran itu, Lin Tao berlatih dengan pedangnya sambil sesekali mencoba mengucapkan lelucon dengan suara keras. Dia ingin memastikan bahwa dia siap untuk pertandingan yang akan datang, baik dalam hal persilatan maupun humor.
Sementara Xian dan Lin Tao bersiap-siap dengan cara mereka masing-masing, mereka memiliki satu tujuan yang sama: menjadikan pertandingan besok pagi sebagai momen yang menghibur dan mengesankan bagi semua yang menyaksikannya. Mereka tahu bahwa pertarungan tidak hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kebijaksanaan dan kelincahan pikiran. Dan dengan lelucon-lelucon mereka, mereka berharap bisa menciptakan pertandingan yang tak terlupakan.
__ADS_1