
Lembah Angin adalah tempat yang terkenal dengan hembusan angin kencangnya dan tebing-tebing curam yang menjulang tinggi. Xian melangkah masuk ke dalam lembah ini, merasakan betapa kuatnya aliran energi persilatan yang mengisi udara. Langit mendung dengan awan-awan gelap, dan semburat petir yang menggelapkan awan-awan itu menandakan bahwa cuaca yang tidak stabil sedang mendekat.
Xian mengenakan pakaian biasa, yang cukup kontras dengan suasana serius Lembah Angin. Namun, satu hal yang benar-benar mencolok adalah sepatunya. Tanpa disadari, ia telah salah mengenakannya, sepatu kanannya di kaki kirinya dan sepatu kirinya di kaki kanannya. Hal ini membuatnya berjalan dengan susah payah, menggeliat dan bergoyang seperti bebek yang baru belajar berjalan.
Beberapa kultivator yang melihatnya hanya bisa tertawa melihat tingkah konyolnya. "Lihat, anak muda itu benar-benar datang dari desa," kata salah satu dari mereka, sambil terus berlatih dengan serius.
Xian, yang menyadari kesalahannya, memutuskan untuk mengambil situasi dengan humor. Dengan sebuah senyum genial di wajahnya, ia menghentikan beberapa kultivator yang sedang berjalan di dekatnya. "Hai, teman-teman! Tahu kan, angin di sini sangat kuat sampai-sampai sepatu saya bingung dan bertukar tempat!"
Beberapa kultivator terkekeh mendengarnya. Salah satu dari mereka, seorang kultivator berjubah merah dengan jenggot panjang, berkata, "Tidak pernah saya dengar alasan seperti itu sebelumnya. Kamu memang berbeda, anak muda."
Xian melirik sekeliling, menyadari betapa indahnya Lembah Angin meskipun cuacanya begitu mendung. Tebing-tebing yang tinggi membentuk dinding alami, dan di antara celah-celahnya, tanaman liar tumbuh subur. Beberapa bunga berwarna cerah berusaha mekar meskipun angin kencang, memberikan kontras indah dengan langit yang kelam.
Dia melanjutkan perjalanannya di dalam lembah, berusaha memperbaiki sepatunya saat ia berjalan. Setiap langkahnya yang membingungkan membuat beberapa kultivator yang melihatnya terpingkal-pingkal. Suara tawa mereka seolah menjadi bagian dari melodi Lembah Angin yang keras dan anggun.
Tak lama kemudian, Xian sampai di lapangan terbuka di tengah lembah. Lapangan ini terbuka luas, dan angin bertiup dengan sangat kuat di sini, membuat rambutnya berkibar liar. Di tengah lapangan, ia melihat seorang kultivator berdiri dengan tegak. Itu adalah Jian Feng, musuh bebuyutan Xian.
Jian Feng tersenyum sinis ketika melihat Xian yang masih bingung dengan sepatunya. "Kamu benar-benar datang dari desa, bukan?" ejeknya.
Xian tersenyum dan menjawab dengan santai, "Ya, saya memang datang dari desa, tetapi setidaknya saya tahu bagaimana bertukar sepatu dengan benar!" Dia kemudian melepaskan sepatunya dan menukarnya ke tempat yang seharusnya.
Jian Feng terkekeh. "Kamu adalah seorang bocah yang berani, tetapi kamu akan menyesal telah datang ke Lembah Angin ini." Dia lalu melangkah maju, mempersiapkan diri untuk pertarungan besar yang akan datang.
Xian telah membenarkan sepatunya dan siap untuk menghadapi musuh bebuyutannya, Jian Feng, yang telah muncul di tengah Lembah Angin. Dengan berjubah hitam yang berkibar di angin kencang, Jian Feng terlihat mengesankan. Aura mengerikan yang dipancarkannya membuat beberapa kultivator yang berada di sekitar mereka merasa gemetar.
__ADS_1
Xian memperhatikan wajah serius Jian Feng dan berkata dengan nada ringan, "Tenang saja, Jian Feng, itu hanya sepatu yang salah. Saya sudah siap sekarang." Dia mengangkat sepatunya yang telah dia benarkan dengan bangga.
Jian Feng memandang Xian dengan tatapan tajam. "Tidak ada tempat untuk lelucon di sini, Xian."
Namun, sebelum pertarungan dimulai, sesuatu yang tak terduga terjadi. Jian Feng, yang berusaha tampil menakutkan, tiba-tiba tersandung oleh sebuah batu yang tersembunyi di bawah pasir lembah. Ia hampir terjatuh namun dengan cepat mengambil kembali keseimbangannya.
Xian, yang melihat kejadian itu, tidak bisa menahan tawanya. "Wah, Jian Feng, sepertinya Lembah Angin ini benar-benar ingin bermain-main denganmu. Bahkan batu pun mendukung saya."
Sebagian kultivator di sekitar mereka juga tidak bisa menahan tawa mereka. Beberapa di antara mereka berkomentar dengan tawa, "Lembah Angin memang penuh kejutan."
Jian Feng, yang merasa malu karena insiden tersebut, mencoba untuk menjaga wajahnya tetap serius. "Kamu pikir ini lucu, Xian? Pertarungan ini akan membuktikan siapa yang tertawa terakhir."
Xian tersenyum dan mengangguk. "Tentu, mari kita mulai. Tapi, kalau kamu tersandung lagi, jangan salahkan batu itu. Ini semua urusanmu sendiri."
Angin semakin kencang, mendorong debu dan pasir lembah melintas di antara mereka. Xian merasakan energi persilatan yang berkumpul dalam dirinya, siap untuk dilepaskan dalam pertarungan yang akan segera dimulai. Di sisi lain, Jian Feng juga siap, matanya memancarkan tekad untuk mengalahkan Xian.
Kemudian, sebuah suara gemuruh terdengar di langit. Awan gelap di atas mereka semakin menghitam, dan kilat menyambar di langit. Hujan lebat mulai turun, dan percikan air hujan menyala-nyala ketika terkena energi persilatan yang dilepaskan oleh Xian dan Jian Feng.
"Tidak hanya angin yang kuat di sini, tetapi cuacanya juga tidak dapat diprediksi," kata Xian dengan senyum lebar, seolah-olah ia menikmati setiap momen pertarungan ini.
Jian Feng mengangguk, matanya masih fokus pada Xian. "Kamu mungkin seorang yang ceria, Xian, tetapi aku tidak akan meremehkanmu."
Saat hujan semakin lebat, kedua kultivator ini akhirnya meluncurkan serangan pertama mereka, mengirimkan gelombang energi yang kuat satu sama lain, menandai awal dari pertarungan besar ini di Lembah Angin yang anggun dan seru.
__ADS_1
Pertarungan antara Xian dan Jian Feng di Lembah Angin berlangsung sengit seiring dengan hujan yang semakin deras. Dua kultivator ini bergerak dengan cepat dan lincah, menghasilkan gelombang energi yang menggetarkan seluruh lembah. Suara gemuruh terus terdengar ketika serangan mereka bertemu di udara, menciptakan kilatan cahaya yang memotong langit yang mendung.
Xian dan Jian Feng berusaha memprediksi setiap gerakan lawan mereka. Xian dengan cepat berayun dan meluncurkan serangan dengan gaya yang tak terduga. Serangannya terkadang diiringi dengan bunga-bunga yang dilemparkannya ke udara, menambahkan elemen estetika yang unik pada pertarungan. Setiap kali bunga-bunga itu melayang di udara, hujan yang turun membuatnya berkilauan seperti berlian, menciptakan suasana pertarungan yang seolah menjadi semacam perayaan.
"Kamu benar-benar seorang yang aneh, Xian!" kata Jian Feng sambil menghindari serangan Xian. Tatapan tajamnya tetap fokus pada musuhnya, meskipun ia terkadang terganggu oleh keindahan bunga-bunga yang melayang.
"Kenapa harus serius terus, Jian Feng? Pertarungan ini bisa menjadi lebih menyenangkan!" jawab Xian sambil tersenyum. Dia kemudian melemparkan kembang api yang meledak di atas kepala Jian Feng, menciptakan dentuman yang membuat musuhnya terkejut.
Jian Feng dengan cepat menghindari kembang api dan melayangkan serangannya ke arah Xian. Dia merilis gelombang energi hitam yang menerjang ke arah Xian. Namun, Xian dengan lincah melompat ke samping, menghindari serangan itu dengan cukup mudah.
"Kamu cukup lihai, Xian, tapi jangan meremehkan aku!" kata Jian Feng dengan tegas. Ia kemudian merilis serangkaian serangan berturut-turut, menciptakan lonjakan energi yang mengancam Xian.
Xian bergerak dengan kecepatan kilat, menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Jian Feng. Dia kemudian mengambil beberapa langkah mundur dan mengumpulkan energi dalam dirinya. Dengan satu gerakan tangan, dia melepaskan serangan energi berkecepatan tinggi yang membentuk spiral mengagumkan saat bergerak menuju Jian Feng.
Jian Feng dengan cepat mengambil posisi bertahan, mencoba untuk menghentikan serangan Xian. Tubuhnya bergetar ketika ia merilis energi pelindung. Namun, serangan Xian terlalu kuat, dan energi pelindung Jian Feng hancur saat serangan itu mengenainya.
"Bagus sekali, Xian!" kata Jian Feng dengan senyum kecil, meskipun ia jelas merasa terdesak oleh serangan itu. "Tapi aku belum menyerah!"
Pertarungan terus berlanjut, dengan Xian dan Jian Feng saling berhadapan dengan kekuatan penuh. Hujan yang semakin lebat dan kilatan petir yang sesekali menerangi langit hanya menambah intensitas pertarungan mereka. Setiap gerakan, serangan, dan counterattack dibuat dengan keahlian tinggi dan ketangkasan yang luar biasa.
Di sekitar mereka, tanaman liar dan bunga-bunga di tepian lapangan terbawa oleh angin dan hujan. Beberapa kultivator yang sebelumnya hanya berdiam diri untuk menyaksikan pertarungan ini juga mulai merasakan kegembiraan. Mereka berteriak dan bersorak setiap kali Xian atau Jian Feng meluncurkan serangan spektakuler atau melakukan gerakan akrobatik yang mengesankan.
Suasana yang semakin meriah dan penuh semangat membuat pertarungan ini semakin istimewa. Dalam hujan deras dan angin yang kencang, Xian dan Jian Feng terus bertarung, menciptakan pertunjukan yang tak terlupakan di Lembah Angin yang anggun ini.
__ADS_1