
Setelah pertandingan yang mengejutkan di mana Xian memenangkan pertandingan dengan tarian ayam yang aneh, suasana di arena turnamen menjadi gempar. Penonton dan peserta lain tercengang oleh apa yang telah mereka saksikan. Namun, ada satu orang yang tidak merasa senang dengan kekalahan tersebut: lawan Xian.
Lawannya, seorang pria yang berkulit gelap dengan rambut panjang dan mata tajam, merasa sangat marah dan malu. Dia merasa bahwa dia telah dihina oleh gerakan tarian ayam yang tidak pantas dalam pertandingan serius.
Setelah Xian keluar dari arena dengan senyuman besar di wajahnya, lawannya keluar dengan langkah-langkah berat dan muka yang muram. Dia tidak bisa menerima kekalahannya begitu saja.
Saat berjalan menuju ruang tunggu, lawan Xian berbicara dengan sahabatnya, seorang kultivator berpengalaman yang telah mengikuti turnamen ini. "Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Saya tidak bisa menerima bahwa saya kalah karena gerakan tarian ayam yang bodoh!"
Sahabatnya mengangguk. "Kamu benar, teman. Kita harus melakukan sesuatu untuk memulihkan kehormatanmu."
Mereka tiba di ruang tunggu, di mana murid-murid Guyon masih tertawa dan bergembira. Lawan Xian mendekati Xian dengan wajah marah dan menantang. "Kau pikir gerakan tarian ayam itu adalah cara yang pantas untuk memenangkan pertandingan? Aku menganggap ini sebagai penghinaan!"
Xian tetap tenang dan menjawab, "Saya memahami bahwa Anda merasa kesal. Tapi kami hanya menggunakan filosofi kami dalam pertandingan. Tawa adalah bagian dari kekuatan kami."
Lawan Xian semakin marah. "Ini adalah pertandingan serius, bukan sirkus! Saya menantangmu untuk pertandingan ulang. Tanpa tarian ayam!"
Murid-murid Guyon yang hadir di ruang tunggu tersebut merasa sedikit khawatir. Mereka tahu bahwa Xian bisa mengalahkan lawan ini lagi dengan kekuatannya yang sebenarnya, tetapi mereka juga ingin menghormati permintaan lawan.
Xian memikirkan sejenak dan kemudian setuju. "Baiklah, saya menerima tantanganmu. Kita akan bertarung tanpa gerakan tarian ayam."
Pertandingan ulang pun dijadwalkan untuk beberapa hari kemudian. Lawan Xian berlatih dengan keras dan bertekad untuk membalas kekalahannya. Dia ingin membuktikan bahwa dia adalah kultivator yang serius dan tidak bisa dianggap remeh.
Ketika hari pertandingan ulang tiba, suasana di arena begitu tegang. Penonton dan peserta lainnya sangat ingin melihat apakah Xian akan berhasil mengalahkan lawannya lagi tanpa menggunakan gerakan tarian ayam.
Xian dan lawannya berdiri berhadapan di tengah arena. Mereka siap untuk bertarung tanpa kompromi. Pertandingan dimulai, dan keduanya langsung saling menyerang dengan cepat dan kuat.
Lawan Xian terbukti lebih berpengalaman daripada yang sebelumnya. Dia menghindari setiap serangan Xian dengan cermat dan melancarkan serangan balik yang tajam. Xian harus berjuang keras untuk mengikuti tempo pertandingan yang intens ini.
Waktu berlalu, dan pertandingan semakin memanas. Penonton terus menahan napas saat mereka melihat dua kultivator hebat ini bertarung dengan sengit. Tidak ada tarian ayam yang aneh kali ini, hanya pertarungan serius.
Tapi pada akhirnya, Xian berhasil menemukan celah dalam pertahanan lawannya. Dengan serangan yang cepat dan tiba-tiba, dia mengalahkan lawannya dan memenangkan pertandingan.
Lawan Xian merasa sangat marah dan frustrasi. Dia merasa bahwa dia telah mencoba yang terbaik, tetapi tetap kalah. Dia meninggalkan arena dengan langkah-langkah yang berat, muka yang muram, dan harga diri yang terluka.
Xian keluar dari arena dengan senyuman bangga. Dia tahu bahwa dia telah membuktikan bahwa filosofi Guyon adalah kekuatan yang sejati dan bisa digunakan dalam pertandingan yang serius. Dia berharap lawan ini bisa belajar dari pengalamannya.
__ADS_1
Murid-murid Guyon kembali merayakan kemenangan guru mereka, tetapi mereka juga merasa sedikit kasihan pada lawan Xian yang merasa terhina. Mereka tahu bahwa kebahagiaan adalah kekuatan, tetapi juga harus diaplikasikan dengan bijak dalam dunia persilatan yang keras ini.
Setelah Xian berhasil mengalahkan lawannya yang merasa terhina, suasana di arena turnamen sedikit mereda. Namun, ada dua murid dari sekolah persilatan lawan yang merasa sangat marah dan ingin membalas kehormatan sekolah mereka.
Mereka maju dengan langkah tegas dan berdiri di tengah arena. Keduanya adalah kultivator yang berpengalaman dan memiliki reputasi baik di dunia persilatan. Mereka ingin membuktikan bahwa kekalahannya sebelumnya bukanlah representasi dari kekuatan sejati sekolah persilatan mereka.
Xian melangkah maju dengan tenang, membawa sebuah cambuk suapaya tidak terlalu membahayakan lawannya.
"Kalian ingin pertarungan yang adil, bukan?" tanya Xian kepada dua murid lawan tersebut.
Mereka mengangguk, tetapi wajah mereka masih penuh dengan keinginan untuk membalas kekalahan sebelumnya. Mereka tahu bahwa meskipun hanya bersenjata cambuk, Xian adalah kultivator hebat yang harus diwaspadai.
Pertandingan dimulai, dan dua murid lawan tersebut dengan cepat meluncurkan serangan mereka. Mereka bergerak dengan kecepatan kilat, mencoba untuk mengalahkan Xian secepat mungkin.
Xian, bagaimanapun, tidak tergoda oleh kecepatan mereka. Dengan pergerakan yang lincah, dia menghindari serangan mereka sambil tetap tenang. Cambuknya berputar-putar di udara, siap untuk menyerang balik.
Tetapi tiba-tiba, Xiu, salah satu murid Guyon yang memiliki cambuk ajaib, melangkah maju. Dia telah melihat betapa seriusnya pertarungan ini dan ingin membantu guru mereka.
Xiu berdiri di samping Xian, cambuk ajaibnya bergerak dengan gemilang di tangan. "Guru Xian, izinkan saya membantu."
Xian mengangguk dan bersiap untuk berkolaborasi dengan muridnya. Mereka berdua dengan gesit bergerak bersama, cambuk mereka berputar-putar dan membentuk lingkaran pelindung di sekitar mereka.
"Kami harus bekerja sama dengan baik, Xiu," kata Xian kepada muridnya.
Xiu mengangguk dan dengan cermat mengatur gerakan cambuknya untuk saling melengkapi dengan Xian. Mereka mulai memasang tekanan pada kedua murid lawan tersebut.
Suasana di arena menjadi semakin tegang. Penonton menahan napas saat mereka melihat pertempuran dua cambuk ajaib yang kuat melawan dua kultivator yang berpengalaman.
Kedua murid lawan tersebut berjuang keras untuk menghindari cambuk-cambuk tersebut, tetapi mereka semakin tertekan. Mereka tahu bahwa mereka berada dalam situasi yang sulit.
Xian dan Xiu terus bekerja sama dengan sempurna. Cambuk-cambuk mereka berputar-putar dengan cepat, menciptakan pusaran energi yang membingungkan kedua murid lawan tersebut.
Akhirnya, kedua murid lawan tersebut tidak bisa lagi menghindari cambuk-cambuk tersebut. Mereka terluka dan terdesak, akhirnya harus mengakui kekuatan Xian dan Xiu.
Pertandingan berakhir, dan Xian dan Xiu keluar dari arena dengan senyuman kemenangan. Mereka telah membuktikan bahwa kekuatan tim dan kerja sama adalah kunci untuk mengatasi lawan yang tangguh.
__ADS_1
Dua murid lawan tersebut, meskipun terluka dan terhina, harus mengakui bahwa Xian dan Xiu adalah kultivator yang kuat dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Mereka pergi dengan rasa hormat yang mendalam.
Penonton memberikan tepuk tangan meriah untuk pertunjukan yang luar biasa ini. Mereka telah menyaksikan pertarungan yang sengit dan kolaborasi yang indah antara guru dan murid.
Sementara itu, Xian dan Xiu kembali ke ruang tunggu dengan senyuman besar di wajah mereka. Mereka tahu bahwa mereka telah menunjukkan bahwa filosofi Guyon bukan hanya tentang tawa dan kebahagiaan, tetapi juga tentang kekuatan dan kemampuan. Mereka siap untuk menghadapi pertandingan berikutnya dengan semangat yang lebih besar.
Setelah kemenangan gemilang mereka dalam pertarungan melawan dua murid lawan yang kuat, Xian dan Xiu kembali ke ruang tunggu sekolah persilatan Guyon. Suasana di ruangan itu sangat riang, dengan murid-murid yang masih merayakan kemenangan mereka.
Namun, saat Xiu berjalan melewati sebuah meja kayu yang terletak di salah satu sudut ruangan, sesuatu yang tak terduga terjadi. Cambuk ajaibnya yang masih berada dalam keadaan aktif dan bertenaga secara tidak sengaja menyentuh meja itu.
Sentuhan yang ringan itu ternyata cukup untuk mengirimkan gelombang energi yang kuat ke dalam meja kayu. Dalam sekejap, meja itu hancur berkeping-keping, serpihan kayu berserakan di lantai, dan suara hancuran yang keras memecah keheningan ruangan.
Saat meja itu hancur, reaksi awal semua orang di ruangan adalah terkejut. Murid-murid Guyon yang merayakan kemenangan mereka segera berhenti merayakan dan beralih pandang ke arah Xiu dan meja hancur. Mereka tercengang melihat apa yang baru saja terjadi.
Xiu sendiri tampak sangat kaget. Dia memegang cambuk ajaibnya dengan perasaan bersalah, dan matanya terbelalak saat dia melihat kerusakan yang telah dia sebabkan. Dia segera berlutut dan mulai mengambil serpihan-serpihan kayu yang berserakan di lantai.
"Maaf, maaf sekali semuanya," kata Xiu dengan suara gemetar. "Ini benar-benar tidak disengaja. Cambuk saya tiba-tiba melepaskan energi."
Xian, yang juga terkejut oleh kejadian tersebut, segera berusaha menenangkan muridnya. "Tenang, Xiu. Ini adalah kecelakaan, dan semua orang bisa memahaminya. Yang penting, apakah kamu baik-baik saja?"
Xiu mengangguk, tetapi raut wajahnya masih penuh dengan penyesalan. "Saya baik-baik saja, Guru Xian. Tapi meja ini... Saya tidak bermaksud untuk merusaknya."
Sebagian besar murid Guyon mulai tersenyum dan bersorak mendengar penjelasan Xian. Mereka tahu bahwa kejadian tersebut memang tidak disengaja, dan Xiu adalah murid yang baik hati dan berbakti kepada sekolah.
Namun, ada satu murid yang tetap tampak marah dan tidak puas. Dia adalah seorang murid dari sekolah persilatan lawan yang sebelumnya telah kalah dalam pertarungan melawan Xian dan Xiu. Kekalahan mereka telah membuatnya merasa marah dan malu, dan sekarang meja hancur ini menjadi pemicu kemarahannya.
Dia melangkah maju dengan langkah berat, matanya berkilat dengan kemarahan. "Kalian pikir kalian bisa merusak meja ini dan lolos begitu saja? Ini adalah pelanggaran serius terhadap aturan dan etika turnamen!"
Xiu dan Xian mencoba menjelaskan bahwa itu adalah kecelakaan, tetapi murid tersebut tidak mendengarkan alasan mereka. Dia tetap marah dan bersikeras untuk melaporkan insiden ini kepada panitia turnamen.
Sebuah keributan pun terjadi, dengan beberapa murid Guyon yang mendukung Xiu dan Xian, sementara yang lain mencoba meredakan kemarahan murid sekolah lawan. Suasana di ruangan itu menjadi semakin tegang.
Sementara itu, Xiu terus membersihkan serpihan kayu dengan wajah yang penuh penyesalan. Dia merasa sangat bersalah atas kejadian ini dan ingin memperbaikinya dengan cara apa pun yang bisa dia lakukan.
Akhirnya, panitia turnamen datang untuk menenangkan situasi. Mereka mendengarkan penjelasan Xiu dan Xian, dan setelah mempertimbangkan keadaan, mereka memutuskan bahwa itu adalah kecelakaan yang tidak disengaja.
__ADS_1
Murid dari sekolah persilatan lawan tetap merasa marah, tetapi mereka akhirnya menerima penjelasan panitia turnamen dan meninggalkan ruangan dengan perasaan kesal. Keributan pun mereda, dan suasana kembali tenang di ruangan itu.
Xiu, yang masih merasa sangat bersalah, berterima kasih kepada Xian karena telah memberinya dukungan dan bimbingan selama insiden tersebut. Xian menjawab dengan senyuman dan memberikan nasihat tentang kehati-hatian