
Langit bersemu merah jingga saat Xian melangkah mendekati gerbang megah Istana Emas. Cahaya mentari senja menyoroti detail-detail ukiran naga dan feniks yang menghiasi pintu gerbang, menciptakan efek bayangan yang mempesona. Semilir angin berhembus, membawa aroma bunga sakura yang bersemi di sekitar istana.
Sebagai seorang pemuda desa yang baru pertama kali datang ke pusat politik persilatan, detak jantung Xian berdebar kencang. Dia menghela napas, menghirup udara segar dan berusaha meredakan kegugupannya.
Pada pintu gerbang, dua penjaga berseragam emas dengan simbol naga berkilauan memandangnya dengan ekspresi curiga. Salah satunya, seorang pria berjanggut tebal, bertanya dengan nada tajam, "Siapa kamu dan apa tujuanmu di sini?"
Dengan upaya untuk terlihat percaya diri, Xian menjawab, "Nama saya Xian, datang atas undangan dari Pangeran Hitam."
Penjaga yang lain, seorang wanita dengan rambut diikat tinggi, mengangkat alisnya. "Ah, jadi kamu pemuda itu. Kami mendengar kabar tentangmu." Ekspresi wajahnya berubah menjadi penasaran, namun tetap waspada.
Saat mereka berbicara, seorang kultivator senior berjalan mendekat. Pria berusia paruh baya itu mengenakan jubah biru tua yang panjang dengan hiasan berlian berkilauan. Bagian belakang jubahnya memiliki ekor yang mengalir, dan tanpa disadari oleh Xian, dia melangkahi ekor jubah tersebut saat berjalan.
"Apa yang sedang terjadi di sini?" tanya kultivator senior tersebut dengan suara yang dalam dan otoritatif.
Sebelum Xian bisa menjawab, jubah kultivator itu tiba-tiba terlepas, memperlihatkan ****** ******** yang berwarna pink dengan motif panda yang lucu. Semua orang di gerbang, termasuk Xian, menatap dengan mata terbelalak. Sejenak, hening.
Kultivator senior itu berbalik, wajahnya memerah ketika dia menyadari keadaannya. "Bagaimana ini bisa terjadi?!"
Xian, yang pada awalnya kaget, kemudian berusaha menahan tawa. "Maafkan saya, Tuan," katanya sambil berusaha keras untuk tidak tergelak. "Saya tidak sengaja melangkahi jubah Anda."
Wanita penjaga itu mencoba menutupi senyumnya dengan tangannya, sementara pria berjanggut memalingkan wajahnya, tapi Xian bisa melihat bahu pria tersebut bergetar, menahan tawa.
Kultivator senior itu meraih jubahnya dan dengan cepat mengenakannya kembali. Dengan harga diri yang terluka, dia berkata dengan suara gemetar, "Pastikan kamu berhati-hati langkahmu di dalam istana, pemuda. Di sini bukan tempat untuk kelalaianmu."
Xian mengangguk cepat, "Tentu, Tuan. Terima kasih atas pengertian Anda."
Setelah insiden itu, Xian diberikan izin untuk memasuki Istana Emas. Saat berjalan, dia bisa mendengar bisik-bisik dari para kultivator yang membicarakan kehadirannya. Namun, yang paling menonjol dalam pikirannya adalah kejadian lucu di gerbang. Meskipun dia tahu bahwa banyak intrik dan konspirasi menunggunya, dia yakin dengan humor yang dia bawa, dia bisa menghadapi segala tantangan.
Langit telah mulai gelap ketika Xian tiba di ruang rapat istana. Dia diiringi oleh seorang pelayan berpakaian mewah yang membawanya melewati koridor panjang yang diterangi oleh lampu-lampu kaca kristal yang berkilauan. Ruang rapat tersebut berlokasi di dalam bangunan yang mewah dan besar, dengan dinding-dinding yang dihiasi dengan mural epik yang menggambarkan sejarah persilatan.
__ADS_1
Xian merasa gugup saat dia memasuki ruangan tersebut. Terdapat beberapa meja panjang dengan kursi-kursi mewah di sekelilingnya. Sejumlah kultivator senior dan pemimpin sekolah persilatan duduk di meja-meja tersebut. Mereka terlihat serius dan berwibawa, dan beberapa dari mereka memandang Xian dengan pandangan tajam.
Seorang pria tua yang mengenakan jubah merah berdiri di depan meja utama. Dia adalah Pangeran Hitam, tuan rumah acara tersebut. Dengan suara yang tenang namun tegas, dia berkata, "Kita telah berkumpul di sini untuk membahas masa depan dunia persilatan. Dan kita juga memiliki tamu istimewa hari ini."
Semua mata segera tertuju pada Xian, yang merasa semakin gugup di bawah sorotan perhatian mereka.
Pangeran Hitam kemudian melanjutkan, "Xian, pemuda dari desa, membawa dengan dia batu giok yang sangat istimewa. Batu giok ini memiliki potensi besar dan akan membawa perubahan besar bagi dunia persilatan kita. Mari kita dengarkan apa yang dia miliki untuk kita sampaikan."
Sebagai seorang pemuda desa, Xian tidak pernah menghadiri rapat sebesar ini. Dia berdiri di depan semua orang dengan tangan yang sedikit gemetar. "Terima kasih atas kesempatan ini," katanya dengan hormat. "Saya memiliki batu giok yang, seperti yang Anda katakan, memiliki kekuatan luar biasa. Namun, saya juga harus mengakui bahwa saya masih belum sepenuhnya memahami potensi sebenarnya dari batu ini."
Pangeran Hitam mengangguk. "Itu mengerti. Kita akan bekerja sama untuk menggali potensi batu giok ini. Sekarang, mari kita bicarakan rencana untuk menghadapi ancaman yang semakin besar di dunia persilatan."
Saat rapat berlangsung, Xian mencoba sebaik mungkin untuk memahami percakapan yang rumit dan serius di sekelilingnya. Namun, mata Xian tertuju pada sebuah vas kristal besar yang diletakkan di atas meja. Vas itu dipenuhi dengan cairan bening yang tampak menggoda.
Xian merasa tenggorokannya kering karena kegugupan, dan tanpa berpikir panjang, dia mengira vas tersebut adalah tempat minuman yang disiapkan untuk para tamu. Dia dengan cepat mengambil vas tersebut dan mencoba untuk meminumnya.
"Wait, itu bukan minuman!" teriak salah satu kultivator senior, tetapi sudah terlambat. Xian sudah meneguk seteguk cairan dari vas tersebut.
Xian merasakan efek cairan itu dengan cepat. Matanya melebar, dan tiba-tiba dia merasa sangat bersemangat. Mimik wajahnya berubah menjadi ceria, dan dia mulai tertawa keras.
"Ha-ha-ha! Ini benar-benar membuatku merasa hidup!" Xian tertawa dengan penuh semangat, seakan-akan semua kekhawatiran dan kegugupannya menghilang begitu saja.
Para kultivator yang tadinya serius tidak bisa menahan tawa mereka. Mereka semua tertawa bersama dengan Xian. Tidak ada yang bisa memahami apa yang terjadi, tetapi tawa mereka meredakan ketegangan yang ada di ruangan tersebut.
Setelah sejenak tertawa bersama, rapat dilanjutkan dengan suasana yang jauh lebih santai. Pangeran Hitam berbicara, "Sepertinya kita semua membutuhkan sedikit humor dalam rapat ini. Sekarang, mari kita lanjutkan diskusi."
Xian, meskipun masih dalam keadaan semangat yang tinggi, mencoba untuk tetap fokus pada percakapan. Namun, setiap kali dia melihat vas itu, dia tidak bisa menahan senyumnya.
Rapat berlanjut dengan suasana yang lebih ringan, dan Xian, meskipun tanpa sengaja, telah membawa humor ke dalam pertemuan serius tersebut. Dia mungkin telah membuat kesalahan dengan minuman, tetapi tawa yang dia bawa ke dalam ruangan itu membantu dalam mengurangi ketegangan dan mempererat ikatan di antara para kultivator yang hadir.
__ADS_1
Ketika rapat berakhir, Xian merasa lega dan senang bisa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Dia belajar bahwa kadang-kadang, humor bisa menjadi jalan untuk mengatasi intrik dan konspirasi dunia persilatan yang rumit.
Pintu ruang rapat terbuka, dan Xian keluar dengan senyuman di wajahnya. Saat dia berjalan kembali melalui koridor panjang menuju luar istana, dia tidak bisa menahan tawanya sendiri. Meskipun tanpa sengaja, Xian telah memulai sebuah cerita yang akan dikenang oleh semua orang yang hadir dalam rapat misterius tersebut.
Ruang latihan di Istana Emas adalah ruangan yang luas dengan lantai marmer yang mengkilap dan langit-langit yang tinggi. Cahaya lilin yang lembut tergantung di sekitar ruangan, menciptakan atmosfer yang misterius. Di ujung ruangan, Xian berdiri dengan tangan terlipat di depan dadanya, menatap Pangeran Hitam yang berdiri tegap di sisi lain.
Pangeran Hitam adalah seorang kultivator berpengaruh dengan pakaian yang menonjolkan statusnya. Dia memegang sebuah pedang yang panjangnya sekitar tiga kaki, dan pedang tersebut tampak bercahaya dengan kekuatan yang kuat. Matanya menatap tajam ke arah Xian, dan dia berkata, "Kita akan melihat sejauh mana kemampuanmu, pemuda desa. Persiapkan dirimu!"
Xian menelan ludah, merasa tekanan dari tatapannya. Dia merasa bahwa saat ini dia harus menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Namun, dia juga tidak ingin kehilangan humor yang selalu melekat pada dirinya. Dengan berani, dia bertanya, "Tuan Pangeran, apa itu tongkat bercahaya yang Anda pegang? Apakah kita akan menari-nari seperti di pertunjukan?"
Para saksi yang hadir di ruangan itu terdiam sejenak, mereka tidak yakin apa yang harus mereka pikirkan tentang pertanyaan Xian. Pangeran Hitam sendiri merasa heran, sebelum akhirnya tersenyum, "Tidak, pemuda. Ini adalah pedang pusaka yang dapat menghancurkan batu-batu besar dengan satu pukulan. Kita akan berduel untuk mengukur kekuatanmu."
Xian melihat pedang itu dengan perasaan tertegun. "Oh, begitu," katanya dengan nada yang lebih serius. "Baiklah, mari kita mulai."
Mereka berdua mengambil posisi mereka, dan Pangeran Hitam melangkah maju dengan cepat, pedangnya mengiris udara. Serangan pertama itu datang dengan kecepatan yang mengesankan, tetapi Xian dengan cepat menghindarinya dengan melompat ke samping. Dia berusaha mengumpulkan energi dalam tubuhnya, tetapi masih merasa terbebani oleh kegugupan.
Pangeran Hitam terus menyerang, pedangnya berputar dan berkilat di udara. Xian berusaha menghindari serangan itu, tetapi merasa bahwa dia terusik oleh keraguan dan kebingungannya sendiri.
Mereka terlibat dalam pertarungan sengit, dan meskipun Xian mencoba yang terbaik untuk menghindari pedang Pangeran Hitam, dia tampaknya tidak dapat menemukan celah untuk melawan balik. Dia merasa semakin tertekan dan frustasi, dan dia tahu bahwa dia harus mencari cara untuk mengatasi ketidakpastian dan ketakutan yang menghantuinya.
Tiba-tiba, dalam satu serangan yang cepat, Pangeran Hitam meluncurkan dirinya ke depan dan mendaratkan pukulan kuat di dada Xian. Xian terlempar ke belakang, jatuh ke lantai dengan keras. Para saksi menahan nafas mereka, mengharapkan Xian untuk bangkit kembali.
Xian merasa sakit di seluruh tubuhnya, tetapi dia mengejutkan semua orang dengan tersenyum. Dia bangkit dengan cepat dan berkata, "Baiklah, saya rasa ini sudah cukup tarian dengan tongkat bercahaya Anda. Sekarang, mari kita menari-nari seperti di pertunjukan!"
Semua orang di ruangan itu tertawa, termasuk Pangeran Hitam. Ternyata Xian hanya terluka sedikit dan masih memiliki semangat untuk berbicara dengan humor. Dia telah memecahkan ketegangan dan membuat semua orang merasa lebih santai.
Pangeran Hitam mengangguk dan menarik napas dalam-dalam. "Kau memiliki semangat yang kuat, pemuda. Tapi kamu juga harus meningkatkan kultivasi dan kekuatanmu."
Dengan hormat, Xian menjawab, "Terima kasih atas pelajaran ini, Tuan Pangeran. Saya akan belajar lebih keras lagi."
__ADS_1
Mereka mengakhiri pertarungan dengan salam hormat, dan Xian meninggalkan ruangan latihan dengan senyuman di wajahnya. Dia mungkin telah kalah dalam pertarungan fisik, tetapi dia telah memenangkan hati orang-orang dengan humor dan semangatnya yang tak tergoyahkan.
Di luar ruangan, Xian menghirup udara segar dan merasa bangga dengan dirinya sendiri. Dia tahu bahwa dia masih memiliki banyak yang harus dipelajari dalam dunia persilatan, tetapi dia juga tahu bahwa humor dan semangatnya akan selalu menjadi senjata terbesarnya.