
Hari itu, matahari terbit dengan gemilang di ufuk timur, menerangi tempat perpisahan yang terjadi di depan pintu gerbang perguruan Guyon. Cin Xiu dan Wei berdiri di sana, siap untuk melanjutkan tugas mereka sebagai pelindung perguruan. Mereka telah belajar banyak selama petualangan mereka bersama Xian, dan sekarang mereka akan mengembangkan ilmu mereka di bawah bimbingan para sesepuh.
"Kalian berdua harus tetap berpegang pada ajaran Guyon," kata Xian dengan serius. "Ingatlah selalu tekad kita untuk membawa kedamaian dan kebahagiaan ke seluruh Kerajaan."
Cin Xiu dan Wei mengangguk dengan penuh tekad. Mereka tahu bahwa tugas mereka akan berat, tetapi mereka siap untuk menghadapinya.
Xian melanjutkan, "Kalian berdua memiliki bakat yang besar, dan saya yakin kalian akan menjadi kultivator yang hebat. Saya akan selalu berdoa untuk keselamatan kalian."
Mereka berpelukan satu sama lain sebelum akhirnya berpisah. Cin Xiu dan Wei melangkah perlahan menuju pintu gerbang, meninggalkan Xian yang tersenyum melihat mereka pergi.
Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya, Xian melanjutkan perjalanannya yang tertunda. Tujuannya adalah mencari Lu Chen, seorang kultivator tua yang telah menjelajahi dunia ini selama puluhan tahun. Lu Chen adalah seorang yang bijaksana dan memiliki banyak pengalaman, dan Xian telah berjanji untuk bergabung dengan kelompok kultivator yang dipimpin olehnya.
Perjalanan Xian membawanya melalui berbagai medan dan lanskap yang beragam. Dia melewati pegunungan yang tinggi, lembah yang dalam, dan padang rumput yang luas. Setiap langkah yang dia ambil membawanya lebih dekat ke tujuannya, dan semakin dia mendekati tempat bertemunya dengan Lu Chen, semakin kuat tekadnya.
Setelah berhari-hari berjalan, Xian akhirnya tiba di sebuah desa kecil yang terletak di tengah hutan. Desa ini adalah tempat kediaman Lu Chen. Orang-orang di desa itu memberi tahu Xian di mana dia bisa menemui kultivator tua itu.
Xian tiba di rumah sederhana Lu Chen. Dia mengetuk pintu dengan hati-hati, dan segera pintu itu terbuka. Seorang pria tua dengan jenggot putih panjang yang mengalir keluar dari dagunya tersenyum lebar saat melihat Xian.
"Hai, Xian, akhirnya anda datang" kata Lu Chen dengan suara hangat. "Aku sudah menunggumu sejak lama"
Xian menjelaskan tujuannya untuk bergabung dengan kelompok kultivator yang dipimpin oleh Lu Chen. Lu Chen mendengarkan dengan serius dan kemudian mengangguk.
"Kamu adalah kultivator muda yang berbakat," kata Lu Chen. "Tapi perjalanan ini tidak akan mudah. Kamu harus bersiap untuk menghadapi berbagai rintangan dan bahaya di dunia ini."
Xian mengangguk, "Saya siap, Tuan Lu Chen. Saya ingin belajar dari Anda dan berkontribusi untuk membawa kedamaian dan kebahagiaan ke Kerajaan."
Lu Chen tersenyum lagi, "Baiklah, kita akan mulai pelatihanmu besok. Hari ini, kamu bisa istirahat sejenak."
Xian merasa lega dan bersyukur bahwa dia telah menemukan guru yang bijaksana dalam perjalanan hidupnya. Dia tahu bahwa perjalanan ini adalah awal dari petualangan baru yang akan menguji kemampuannya, tetapi dia telah berjanji untuk tetap setia pada tekadnya.
Xian tinggal di rumah sederhana Lu Chen yang terletak di tengah hutan. Setiap hari, dia dan Lu Chen terlibat dalam pelatihan yang intens. Lu Chen adalah seorang guru yang bijaksana dan sabar, dan dia tahu bagaimana mengasah kemampuan Xian dengan baik.
__ADS_1
Pagi itu, Xian duduk di bawah pohon rindang di halaman rumah Lu Chen. Matahari terbit perlahan di langit, mengirim sinar hangat yang menyinari punggungnya. Dia sedang dalam meditasi, mencoba untuk memusatkan energi qi-nya.
Lu Chen mendekatinya dengan langkah pelan. "Baik, Xian. Sekarang coba hembuskan energi qi-mu dengan lebih lembut, seperti angin yang meniup daun-daun ini," katanya sambil menunjuk pada daun-daun yang bergerak perlahan karena angin.
Xian menutup matanya dan mengikuti instruksi Lu Chen. Dia mencoba untuk mengendalikan energi qi-nya dengan lebih halus, merasakannya mengalir dengan lembut melalui meridiannya seperti aliran air yang tenang. Dia merasa energi dalam dirinya semakin terkendali.
Lu Chen tersenyum puas. "Bagus, Xian. Kamu semakin menguasai pengendalian energi qi-mu. Ini adalah langkah pertama menuju kekuatan sejati."
Xian merasa bangga dengan kemajuannya, tetapi dia tahu bahwa masih banyak yang harus dia pelajari. Mereka melanjutkan latihan mereka sepanjang pagi, berfokus pada teknik kultivasi dan keterampilan bertarung. Lu Chen mengajarkan Xian berbagai gerakan dan teknik, menggambarkannya dengan jelas dan teliti.
Saat siang hari tiba, mereka beristirahat di bawah pohon rindang. Lu Chen mengambil sepotong roti dan membaginya dengan Xian. Mereka duduk bersebelahan, menikmati makanan mereka di bawah sinar matahari yang hangat.
"Xian, kamu harus tahu bahwa perjalanan ini akan penuh dengan rintangan," kata Lu Chen serius. "Kamu akan menghadapi musuh yang kuat dan berbahaya, dan kamu harus selalu siap."
Xian mengangguk, "Saya siap, Tuan Lu Chen. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik."
Lu Chen tersenyum, "Itu yang saya harapkan. Tetapi jangan lupakan juga untuk menjaga hatimu tetap terbuka. Kultivasi bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kebijaksanaan dan kebaikan hati."
Beberapa bulan berlalu, dan Xian telah menjadi seorang kultivator yang handal di bawah bimbingan Lu Chen. Mereka telah mengembangkan ikatan yang kuat, dan Xian merasa seperti Lu Chen adalah keluarganya sendiri.
Suatu pagi, saat mereka sedang berlatih teknik pedang di halaman rumah, Xian menghentikan gerakan dan menatap Lu Chen dengan serius. "Tuan Lu Chen, saya ingin tahu mengapa Anda memilih saya sebagai murid Anda. Ada begitu banyak kultivator muda di luar sana. Mengapa saya?"
Lu Chen tersenyum lembut, "Kamu adalah seorang yang berbakat, Xian, tetapi yang lebih penting, kamu memiliki hati yang baik dan tekad yang kuat. Saya melihat potensi besar dalam dirimu, dan saya yakin kamu dapat menjadi seorang yang hebat."
Xian merasa haru mendengar kata-kata itu. Dia berterima kasih kepada guru dan teman yang telah memberinya kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Dia tahu bahwa petualangannya masih panjang, tetapi dia siap untuk menghadapinya dengan kebijaksanaan dan kebaikan hati.
Begitulah, Xian melanjutkan latihan dan petualangannya di bawah matahari bersama Lu Chen.
Hari-hari terus berlalu, dan Xian terus melanjutkan pelatihannya di bawah bimbingan Lu Chen. Mereka menjalani rutinitas yang ketat, membangun kekuatan dan keterampilan Xian dengan tekun. Namun, di tengah latihan yang intens, mereka juga menemukan waktu untuk bersantai dan tertawa bersama.
Pagi itu, Xian dan Lu Chen berdiri di puncak bukit yang tinggi di luar rumah mereka. Angin sejuk pegunungan menerpa wajah mereka saat matahari terbit perlahan dari balik cakrawala.
__ADS_1
"Kamu semakin kuat, Xian," kata Lu Chen dengan bangga. "Kemampuanmu dalam pengendalian energi qi terus meningkat. Sekarang, kita akan berlatih teknik pedang. Ini adalah keterampilan yang akan sangat berguna dalam pertempuran."
Xian mengangguk dan menarik pedangnya. Mereka mulai berlatih gerakan-gerakan dasar, dan Xian mencoba untuk mengikuti setiap instruksi dengan baik. Lu Chen adalah guru yang teliti dan sabar, dia memberikan perhatian khusus terhadap setiap gerakan yang dilakukan Xian.
Namun, di tengah latihan mereka, Xian tergelitik oleh sesuatu yang dia lihat di langit. Sebuah kelompok burung elang terbang tinggi di atas mereka, mengitari langit biru dengan elegan. Xian tersenyum dan menghentikan latihannya sejenak.
"Apakah kamu melihat mereka, Tuan Lu Chen?" tanyanya, menunjuk ke arah langit.
Lu Chen mengangguk, "Ya, mereka adalah burung elang. Hewan yang indah dan kuat."
Xian menatap burung elang dengan kagum. "Saya selalu terpesona oleh kebebasan mereka. Mereka bisa terbang begitu tinggi dan jauh."
Lu Chen tertawa lembut, "Itu karena mereka memiliki sayap yang kuat dan kemampuan yang luar biasa. Seperti halnya kita, Xian, jika kita berlatih dengan tekun, kita juga dapat mencapai tinggi yang luar biasa dalam kultivasi kita."
Xian tersenyum dan melanjutkan latihannya dengan semangat yang baru. Dia merasa terinspirasi oleh kata-kata Lu Chen dan berjanji untuk terus berusaha keras.
Setelah latihan selesai, mereka kembali ke rumah sederhana mereka di tengah hutan. Mereka duduk di teras sambil menikmati secangkir teh panas.
"Tuan Lu Chen," kata Xian, "bisakah Anda menceritakan pengalaman Anda selama menjelajahi dunia ini? Saya ingin tahu lebih banyak tentang perjalanan Anda."
Lu Chen mengangguk dan tersenyum, "Tentu, Xian. Saya telah menjelajahi banyak tempat selama puluhan tahun. Saya pernah bertemu dengan kultivator hebat, menghadapi bahaya besar, dan melihat keajaiban alam yang luar biasa."
Dia mulai menceritakan cerita-cerita dari masa lalunya. Cerita-cerita tentang pertarungan sengit, pertemuan tak terduga, dan tempat-tempat indah yang pernah dia kunjungi. Xian mendengarkan dengan penuh perhatian, terpesona oleh cerita-cerita itu.
Namun, di tengah cerita-cerita serius itu, mereka juga menemukan waktu untuk guyonan dan tawa bersama. Lu Chen tidak hanya seorang guru yang bijaksana, tetapi juga seorang teman yang baik.
Suasana alam sekitar mereka juga membantu menciptakan momen-momen yang tak terlupakan. Pada sore hari, mereka sering berjalan-jalan di hutan yang rindang, mendengarkan suara burung dan air mengalir dari sungai kecil di dekatnya.
Malam hari mereka habiskan di bawah bintang-bintang yang bersinar terang. Mereka duduk di sekitar api unggun, membagikan kisah-kisah hidup mereka dan bercanda satu sama lain. Kegembiraan mereka terpancar dalam tawa yang mengisi malam.
Begitulah, Xian melanjutkan pelatihan dan petualangannya bersama Lu Chen. Mereka tidak hanya menjadi guru dan murid, tetapi juga teman sejati yang mendukung satu sama lain. Di bawah matahari yang bersinar terang, mereka terus berlatih dan tertawa bersama, siap menghadapi segala rintangan yang akan datang dalam perjalanan mereka.
__ADS_1