
Suasana di kota Kerajaan Han Sang mulai ramai. Para penduduk dan kultivator dari berbagai wilayah berkumpul untuk merayakan kedamaian yang baru saja mereka capai setelah perselisihan yang panjang. Xian dan teman-temannya, Mei Ling, serta beberapa kultivator lokal, termasuk Kian, tengah sibuk bersiap-siap untuk perayaan besar yang akan datang.
Mereka berjalan-jalan di pasar yang dipenuhi dengan pedagang yang menjual berbagai perlengkapan perayaan. Deretan tenda-tenda warna-warni penuh dengan bendera, balon, dan hiasan-hiasan indah yang siap menghiasi jalanan kota. Di samping itu, ada pedagang makanan yang menjual makanan lezat yang akan dinikmati oleh semua orang nanti.
Xian, yang selalu penuh semangat, tertarik pada sebuah tenda yang menjual topi-topi aneh. Dia melihat satu topi raksasa yang tampak sangat lucu. Topi itu memiliki bentuk seperti jeruk dengan daun hijau besar di atasnya.
"Wow, ini lucu sekali!" kata Xian sambil memegang topi itu dan mengenakannya. Tidak butuh waktu lama bagi teman-temannya untuk tertawa terbahak-bahak melihatnya.
Mei Ling, yang tidak bisa menahan tawanya, berkata, "Xian, kau terlihat seperti jeruk raksasa yang hidup!"
Xian tersenyum lebar dan berkata, "Ha, memangnya ada yang salah dengan tampilan jeruk raksasa? Ayo, kita beli ini untuk perayaan nanti!"
Mereka lalu membeli topi jeruk raksasa tersebut, dan Xian dengan riang mengenakannya lagi. Kini, seluruh kelompok mereka terlihat seperti jeruk raksasa yang berjalan di antara kerumunan orang. Mereka tertawa dan berbicara dengan orang-orang sekitar, membawa keceriaan ke mana pun mereka pergi.
Saat mereka berjalan lebih jauh, Xian dan teman-temannya melihat sebuah tenda yang menjual permainan karnaval. Ada berbagai permainan yang menarik, seperti lempar piring kecil untuk memecahkan balon atau berlomba dengan kaki dalam karung.
Xian melihat seorang anak kecil yang berusaha dengan keras untuk memenangkan hadiah. Dia terlihat sangat frustrasi karena tidak berhasil. Tanpa ragu, Xian mengambil satu piring dan dengan cepat melemparkannya, mengenai balon dan membuatnya pecah. Anak kecil itu tersenyum bahagia, dan Xian memberinya topi jeruk raksasa sebagai hadiah. Dalam waktu singkat, anak-anak lain ingin mencoba permainan yang sama.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, membantu dalam persiapan perayaan dengan cara yang unik dan penuh tawa. Semua orang di sekitar mereka menikmati keceriaan yang mereka bawa, dan suasana hati semakin memanas menjelang perayaan damai yang akan datang.
__ADS_1
Perayaan damai di Kerajaan Han Sang mencapai puncaknya dengan pertunjukan seni yang spektakuler. Tepat saat matahari mulai tenggelam, panggung besar di tengah kota diterangi dengan cahaya berwarna-warni yang memukau. Para penari dan musisi dari berbagai wilayah tampil untuk memberikan pertunjukan yang mengagumkan.
Xian dan teman-temannya duduk di antara kerumunan yang menonton dengan penuh kagum. Mereka terpesona oleh keindahan gerakan tari dan harmoni musik yang memenuhi udara. Pertunjukan ini adalah cara yang sempurna untuk merayakan kedamaian yang baru-baru ini mereka capai.
Namun, yang membuat pertunjukan ini bahkan lebih istimewa adalah seorang seniman jalanan yang tengah menggambar di sisi panggung. Seniman ini tampaknya sangat terinspirasi oleh kehadiran Xian dan topi jeruk raksasanya yang lucu. Dia mulai menggambar karikatur Xian yang mengenakan topi jeruk itu dengan sangat cepat.
Ketika karikatur itu mulai muncul di kertas, orang-orang di sekitar mulai memperhatikan. Karikatur itu sangatlah lucu dan menggambarkan Xian dengan ekspresi wajah kocak dan topi jeruk yang besar di atas kepalanya. Semua orang yang melihatnya tidak bisa menahan tawa.
Xian, yang awalnya tidak menyadari apa yang sedang terjadi, akhirnya melihat karikaturnya dan tersenyum lebar. Dia bahkan berpose sambil mengenakan topi jeruk raksasa itu, membuat orang-orang semakin tertawa. Karikatur itu segera menjadi daya tarik utama, dan banyak orang berfoto bersama karikatur itu sebagai kenang-kenangan.
Setelah pertunjukan seni selesai, Xian dan teman-temannya berjalan-jalan di sekitar kota untuk merasakan semangat perayaan. Mereka bertemu dengan banyak orang yang tertawa dan bahagia, dan semuanya tampak begitu damai setelah perselisihan yang panjang.
Namun, di tengah kebahagiaan tersebut, mereka juga menyadari bahwa tidak semua orang di kota ini memiliki alasan untuk merayakan. Mereka melihat seorang ibu muda yang sedang duduk sendiri di trotoar, terlihat sangat sedih. Wajahnya yang pucat dan mata yang bersedih mencuri perhatian Mei Ling.
Ibu muda itu menatap Mei Ling dengan mata berkaca-kaca. "Kami kehilangan rumah kami selama perseteruan itu," katanya dengan suara gemetar. "Kami tak memiliki tempat tinggal lagi."
Xian, Mei Ling, dan teman-temannya mendengar cerita ibu muda itu dan merasa sangat tersentuh. Mereka sadar bahwa meskipun perayaan ini penuh tawa dan kegembiraan, masih ada banyak orang yang harus menghadapi kesulitan dan kehilangan. Dalam hati mereka, mereka bersumpah untuk mencari cara membantu orang-orang seperti ibu muda tersebut di masa mendatang.
Setelah berbicara dengan ibu muda yang kehilangan rumahnya, Xian, Mei Ling, dan teman-temannya merasa semakin bertekad untuk membantu mereka yang membutuhkan. Mereka mengumpulkan dana dari kultivator lokal dan penduduk kota untuk membantu membangun kembali rumah-rumah yang hancur selama perseteruan. Ini adalah langkah positif yang membuat mereka merasa lebih baik.
__ADS_1
Namun, di tengah semangat kebaikan ini, sebuah konflik yang tak terduga muncul. Beberapa kultivator dari luar kota datang ke Kerajaan Han Sang dengan niat yang tidak baik. Mereka tampaknya mencari permasalahan dan mengganggu perayaan damai.
Xian dan teman-temannya tahu bahwa mereka harus bertindak. Mereka menghampiri kelompok kultivator yang bermasalah ini dengan penuh kehati-hatian. Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh besar dengan tatapan tajam, berbicara dengan nada sombong.
"Kami tidak butuh bantuan dari kalian," kata pria itu dengan nada merendahkan. "Kami adalah kultivator yang kuat dan bisa menjaga diri kami sendiri."
Xian menjawab dengan tenang, "Kami tidak ingin masalah. Kami hanya ingin merayakan kedamaian bersama dengan semua orang."
Namun, pria tersebut tampaknya tidak puas dengan jawaban itu dan mencoba memprovokasi Xian dengan berkata, "Kamu, dengan topi jeruk raksasa itu, tampak seperti bodoh. Apakah kau benar-benar bisa melindungi dirimu sendiri?"
Teman-teman Xian yang lain merasa semakin marah melihat perlakuan pria itu, tetapi Xian memegang mereka agar tidak terlibat dalam konflik fisik. Dia tahu bahwa pertempuran tidak akan membantu siapa pun.
Pria itu terus melanjutkan provokasinya, mencoba membuat Xian dan teman-temannya kehilangan sabar. Xian, yang terkenal dengan tawanya, memutuskan untuk menggunakan kekuatan tawa untuk mengatasi konflik ini. Dia mulai bercerita lelucon yang sangat lucu, yang membuat semua orang yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak.
Para kultivator yang bermasalah itu juga tertawa, meskipun pada awalnya mereka mencoba menahan tawanya. Lelucon Xian mengubah atmosfer menjadi santai, dan suasana hati semakin membaik.
Namun, kejutan yang lebih besar datang saat seorang wanita dari kelompok kultivator bermasalah itu berbicara dengan tulus, "Kami sebenarnya datang ke sini karena kami juga ingin merayakan kedamaian. Kami telah menghadapi banyak konflik di wilayah kami, dan perayaan ini memberikan kami harapan untuk masa depan yang lebih baik."
Ternyata, kelompok kultivator ini adalah orang-orang yang juga mengalami penderitaan selama konflik. Mereka datang ke Kerajaan Han Sang dengan niat yang salah karena ketidakpercayaan mereka terhadap orang asing. Namun, setelah berbicara dengan Xian dan mendengarkan leluconnya, mereka menyadari bahwa perdamaian adalah yang terbaik.
__ADS_1
Xian dan teman-temannya merasa lega bahwa mereka berhasil meredakan konflik ini dengan tawa dan kebijaksanaan. Mereka mengundang kelompok kultivator bermasalah itu untuk bergabung dalam perayaan damai, dan semua orang akhirnya merayakan bersama dengan senang hati.
Peristiwa ini mengingatkan mereka bahwa kadang-kadang, tawa dan pemahaman dapat lebih efektif daripada kekerasan dalam menyelesaikan konflik. Dalam hati mereka, mereka bersumpah untuk terus memperjuangkan kedamaian dan kebahagiaan bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang atau perbedaan.