
Seiring langkah mereka meninggalkan hutan salju, kejutan menanti. Di hadapan Xian dan anak-anak desa terhampar desa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Pemandangan desa tersebut seolah keluar dari lukisan - rumah-rumah kecil dengan atap bersalju, jalan-jalan yang diterangi oleh lampion, dan anak-anak yang berlarian sambil tertawa riang.
"Desa apa ini?" tanya Xian dengan rasa penasaran.
Seorang anak laki-laki menjawab, "Kami tidak tahu, Tuan. Tapi sepertinya mereka sedang merayakan sesuatu."
Xian memperhatikan lebih detail dan melihat banyak warga desa yang tengah sibuk membuat patung salju dengan berbagai bentuk dan ukuran. "Ini adalah festival salju," kata seorang anak perempuan dengan mata berbinar.
Mereka memasuki desa dan disambut dengan hangat. Seorang pria tua dengan jenggot putih panjang mendekati Xian. "Selamat datang, pendatang. Apakah kau ingin ikut serta dalam festival kami?"
Xian membungkuk hormat. "Terima kasih atas sambutannya. Saya mencari bahan langka, tetapi festival ini tampak menarik."
Pria tua itu tertawa. "Festival ini hanya terjadi sekali setahun. Mengapa tidak kau coba ikut serta? Mungkin setelah itu, kita bisa membahas bahan yang kau cari."
Tertarik dengan ajakan tersebut, Xian memutuskan untuk bergabung dalam kompetisi membuat patung salju. Anak-anak desa yang tadi bersamanya juga ikut serta. Xian memilih tempat di sudut lapangan dan mulai bekerja dengan tekun.
Dia memutuskan untuk membuat replika patung dirinya sendiri. Menggunakan teknik kultivasi yang ia miliki, Xian mampu memahat salju dengan detail yang mengejutkan - dari lipatan pakaian, rambut yang terurai, hingga ekspresi wajah yang tajam. Orang-orang desa berkerumun, terpesona dengan karya Xian.
Seorang gadis muda dengan mata almond dan rambut hitam berkata, "Kau benar-benar memiliki talenta, Tuan."
Xian tersenyum. "Terima kasih, tapi ini pertama kalinya saya melakukan ini."
Ketika kompetisi berakhir, Xian mendapatkan pujian dari banyak orang. Pria tua yang tadi menyambutnya mengajak Xian ke rumahnya. "Kau mencari bahan langka, bukan?" tanyanya.
Xian mengangguk. "Ya, saya mencarinya untuk meningkatkan kultivasi saya."
__ADS_1
Pria tua itu tersenyum misterius. "Mungkin aku bisa membantu. Tapi itu cerita untuk nanti. Sekarang, nikmati dulu festival ini."
Malam itu, Xian berbaur dengan warga desa, menikmati kehangatan mereka, musik, tarian, dan makanan khas festival. Meski tujuan utamanya adalah mencari bahan langka, Xian menyadari pentingnya menikmati setiap momen dalam hidup. Festival Salju Desa Tersembunyi menjadi salah satu kenangan terindah dalam perjalanan Xian.
Ketika matahari mulai menurun dan langit berubah menjadi warna merah muda, suasana di Desa Tersembunyi menjadi semakin tegang. Sebuah tradisi kuno sedang berlangsung, yang tidak disangka-sangka oleh Xian: sebuah perang bola salju antara dua kelompok dominan di desa.
"Setiap tahun, kita mengadakan perang bola salju untuk menentukan kelompok yang akan memimpin desa untuk satu tahun ke depan," jelas seorang pemuda dengan tato naga di lengannya.
Xian mengangkat alisnya, kagum. "Perang bola salju? Untuk memimpin desa?"
Pemuda itu mengangguk. "Tidak sekadar permainan, Tuan. Ini adalah soal kehormatan dan tradisi."
Sebelum Xian sempat bertanya lebih lanjut, sebuah bola salju dilemparkan ke arahnya, memaksa dia untuk mengelak. Dia melihat sumbernya, seorang gadis muda dengan ekspresi tantangan di wajahnya.
"Siap untuk bergabung, pendatang?" tantang gadis itu.
Dengan cepat, Xian ditempatkan di salah satu kelompok, bersama pemuda bertato naga dan beberapa anak-anak desa yang ia temui sebelumnya. Mereka memberi tahu Xian aturan permainannya dan strategi mereka.
Ketika perang dimulai, bola salju terbang ke segala arah. Suara tawa dan teriakan bergema di seluruh desa. Xian, dengan keahliannya dalam kultivasi, mampu mengelak dan melempar bola salju dengan kecepatan luar biasa.
Namun, saat salah satu anggota kelompoknya terjatuh, Xian mendapat ide gila. Menggunakan teknik kultivasinya, dia mulai mengumpulkan salju, memadatkannya, hingga membentuk bola salju raksasa yang hampir seukuran rumah.
Semua mata tertuju pada Xian, termasuk musuh-musuhnya yang berhenti sejenak, terpana. Dengan sebuah usaha besar, Xian mendorong bola salju raksasa tersebut ke arah kelompok musuh, memenangkan perang untuk kelompoknya dengan cara yang spektakuler.
Desa bergema dengan tepukan dan sorakan. Pemuda bertato naga menepuk bahu Xian. "Itu adalah gerakan paling epik yang pernah saya lihat! Terima kasih, Tuan Xian."
__ADS_1
Gadis yang menantang Xian tadi datang mendekat, "Aku harus mengakui, pendatang. Kau benar-benar memukau."
Xian memberi senyum miring. "Hanya sedikit trik dari dunia luar."
Malam telah memeluk Desa Tersembunyi dengan mantel gelapnya ketika Xian didekati oleh seorang tetua desa yang berjalan dengan tongkat kayu bermotif naga. Rambutnya putih, bertaburan salju, dan matanya memiliki kedalaman yang menunjukkan kebijaksanaan. Mereka duduk di dekat api unggun, di mana penduduk desa berkumpul, menikmati musik dan tarian.
"Tuan Xian," mulai tetua itu dengan suara parau, "Saya mendengar Anda mencari bahan langka dari Gunung Es."
Xian mengangguk, "Ya, Tuan. Saya datang jauh-jauh untuk itu. Apakah Anda tahu di mana saya bisa menemukannya?"
Tetua itu tertawa pelan, "Tidak semudah itu, pemuda. Tapi melihat apa yang telah Anda lakukan untuk desa kami malam ini, saya akan memberi tahu Anda."
Dengan cermat, tetua itu menggambarkan sebuah gua di lereng utara Gunung Es, di mana kristal es langka tumbuh. Xian mendengarkan dengan saksama, menghafal setiap detail.
Sebelum fajar menyingsing, Xian bersiap untuk pergi. Dia melihat anak-anak desa bermain, melempar bola salju dan tertawa riang. Terinspirasi, Xian memutuskan untuk memberikan mereka sebuah perpisahan yang tak terlupakan.
Dia memanggil anak-anak dan dengan senyuman lembut, mengajari mereka beberapa trik sederhana dari kultivasinya. Membuat bola salju terbang dan berputar di udara, atau membuat patung salju bergerak seolah-olah hidup. Anak-anak itu terpaku, mata mereka berbinar dengan kekaguman.
"Sekarang kalian punya trik khusus sendiri untuk perang bola salju tahun depan," kata Xian dengan senyuman.
Pemuda bertato naga mendekat, "Kau benar-benar seseorang yang luar biasa, Tuan Xian. Semoga perjalananmu selanjutnya lancar."
Xian mengangguk, "Terima kasih atas semua kebaikan kalian. Saya akan selalu mengingat Desa Tersembunyi."
Matahari mulai menyinari Gunung Es, menciptakan refleksi yang mempesona. Xian mendaki ke lereng utara, mengikuti petunjuk dari tetua desa. Udara semakin dingin, tetapi tekadnya tak goyah. Setelah beberapa jam, dia menemukan gua yang dijelaskan tetua. Dalam gua itu, terdapat kristal es berkilau yang dicarinya. Dengan hati-hati, dia mengumpulkannya, menyadari betapa berharganya bahan langka tersebut.
__ADS_1
Ketika Xian keluar dari gua, dia melihat panorama Gunung Es yang memukau. Refleksi sinar matahari pada kristal es menciptakan tarian cahaya yang mempesona. Menghela napas panjang, Xian bersyukur atas petualangannya dan semua yang telah dia pelajari.
Dia tahu, meskipun tujuannya telah tercapai, petualangannya masih jauh dari berakhir. Tetapi untuk saat ini, dia siap untuk kembali ke desanya, membawa pengetahuan dan cerita tentang Desa Tersembunyi yang ajaib.