Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Guru Misterius


__ADS_3

Dekap hangat matahari pagi menelusuri pinggiran sungai Bunga Giok. Cahaya itu bermain-main di atas permukaan air, menciptakan tarian cahaya yang berkilauan. Rerimbunan pohon bambu di sekitar pinggiran sungai berbisik lembut, bergoyang seirama dengan desiran angin.


Xian berdiri di tengah-tengah adegan damai ini, kaki telanjangnya menapak batu-batu halus di tepi sungai, mengambil posisi awal dari gerakan kultivasi dasarnya. Keningnya berkerut, fokus pada setiap hembusan napas dan gerakan tangannya yang melukis pola di udara. Pada saat-saat seperti ini, dia sepertinya benar-benar menjadi satu dengan alam sekitarnya.


Namun, di tengah konsentrasi mendalamnya, sebuah gelombang energi mengejutkannya. Aura yang begitu kuat dan mendalam mengganggu keseimbangan energinya. Mata Xian terbuka lebar, mengawasi kabut aneh yang mendadak muncul dari hulu sungai. Dari balik kabut muncullah sosok laki-laki tua dengan jubah kelabu yang dikenakan longgar, tongkat jati di tangannya mengeklik dengan ritmis di atas batu.


Xian, yang terkejut, berbicara pertama, "Siapa Anda? Mengapa Anda datang ke tempat ini?"


Lelaki tua itu tersenyum, mata sipitnya berkilau dengan kecerdasan dan pengalaman. "Namaku Maestro Ling," ujarnya dengan suara serak namun tegas. "Aku mendengar kabar tentang pemuda dengan potensi besar di desa ini. Dan, sepertinya, aku telah menemukannya."


Xian merasa waspada, "Mengapa Maestro seperti Anda tertarik pada seorang pemuda desa seperti saya?"


Sebelum Maestro Ling dapat menjawab, aroma manis mencengkeram perhatian mereka. Seorang pedagang kaki lima dengan gerobak kayu kecil penuh dengan jajanan desa muncul dari jalur setapak, mengumumkan dagangannya. "Pancake! Bakpao manis! Semua segar dari oven!"


Mata Maestro Ling berbinar, dan dengan semangat muda yang tak terduga dari seorang pria tua seperti dia, dia berkata, "Ah! Pancake favoritku! Tunggu sebentar, pemuda."


Tanpa menunggu persetujuan Xian, Maestro Ling berjalan cepat menuju pedagang, memilih beberapa pancake dan bakpao. "Betapa indahnya rasa pancake yang baru saja dimasak," katanya dengan penuh semangat, mengunyah dengan antusias.


Xian mengikuti dengan rasa bingung dan hiburan. "Maestro Ling," katanya perlahan, "kenapa Anda begitu bersemangat tentang pancake?"


Maestro Ling menepuk pundak Xian, wajahnya berseri-seri. "Pemuda, hidup ini bukan hanya tentang kultivasi dan pertarungan. Kita harus menikmati kesenangan sederhana yang ditawarkan oleh dunia ini. Pancake pagi ini adalah salah satunya."


Mimik wajah Maestro Ling saat berbicara tentang pancake adalah campuran antara kebahagiaan anak kecil dan nostalgia. Sedangkan Xian, wajahnya yang semula waspada kini berubah menjadi rileks, senyum tipis muncul di bibirnya.


Mereka duduk bersama di tepi sungai, menikmati pancake dan bakpao sambil mendengarkan suara alam. Setelah sarapan singkat itu, Xian menatap Maestro Ling dengan penuh harap, "Jadi, apa tujuan Anda datang ke sini, Maestro?"


Dengan tatapan serius, Maestro Ling menjawab, "Aku di sini untuk melatihmu, Xian. Ada potensi besar di dalam dirimu, dan aku ingin membantumu menggapainya."


Cerita berlanjut dengan pembahasan antara Maestro Ling dan Xian tentang pelatihan dan petualangan yang akan datang.


Mereka berdiri di tepi sungai Bunga Giok, refleksi matahari pagi memantul di air dengan gemerlap, membuat semuanya tampak seperti mimpi. Maestro Ling, dengan jubah kelabu longgarnya yang diterbangkan angin, melihat Xian dengan tatapan yang menembus.


"Xian," mulai Maestro Ling, suaranya dalam dan resonan, "Aku telah mengamati gerakan kultivasimu. Ada kekuatan murni di dalam dirimu yang jarang aku temui."

__ADS_1


Xian, meskipun terkesan, tetap mempertahankan kewaspadaannya. "Terima kasih atas pujian Anda, Maestro. Tapi saya hanya seorang pemuda desa yang belajar dasar-dasar."


Dengan gerakan cepat dan cekatan, Maestro Ling mengambil sebatang ranting kering di tanah dan dengan sekejap, ranting itu berubah menjadi serangkaian bunga indah yang bersemi. "Dasar-dasar?" gumam Maestro, "Kekuatan sejati bukan hanya tentang trik atau ilusi. Ini tentang mengerti esensi alam dan menjadi satu dengannya."


Xian, dengan mata terbelalak, menatap bunga-bunga tersebut. "Bagaimana Anda melakukannya?"


Maestro Ling menunjukkan senyum tipis, "Pemahaman yang mendalam tentang alam dan energi adalah kunci kultivasi sejati. Dan aku percaya, aku bisa membimbingmu untuk mencapai potensi penuhmu."


Sejenak, Xian menatap ke dalam mata Maestro Ling, mencari kebenaran di balik kata-katanya. Setelah sesaat, dia bertanya, "Mengapa Anda ingin melatih saya? Apa yang Anda peroleh dari ini?"


Tongkat jati Maestro Ling mengetuk tanah dengan lembut. "Terkadang, tujuan sejati seorang Maestro bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk generasi berikutnya. Dunia persilatan membutuhkan lebih banyak kultivator yang benar-benar mengerti makna kekuatan."


Keduanya berjalan perlahan menuju kamp latihan Xian. Suara langkah kaki mereka bercampur dengan desir angin yang melewati daun-daun pohon dan rerimbunan bambu. Di tengah perjalanan, Maestro Ling berhenti mendadak, mengarahkan perhatiannya ke ladang bunga yang luas di sisi jalan. Bunga kamboja, mawar, dan chrysanthemum bermekaran dengan penuh semangat, menciptakan palet warna yang mengagumkan.


"Ayo," katanya dengan suara lembut, "Kita kumpulkan beberapa bunga untuk teh."


Xian, yang tadinya terpesona dengan pengetahuan Maestro, kini melihat sisi lain darinya. "Anda suka teh bunga, Maestro?"


Mereka menghabiskan waktu di ladang, dengan hati-hati memilih bunga terbaik. Gerakan tangan Maestro Ling begitu halus, seakan setiap bunga adalah mahakarya yang berharga. Xian, meski awalnya canggung, segera menemukan ritmenya sendiri.


"Apakah Anda yakin tentang ini, Maestro?" tanya Xian saat mereka melanjutkan perjalanan. "Saya hanyalah seorang pemuda desa dengan sedikit pengetahuan tentang kultivasi."


Maestro Ling, menatap jauh ke cakrawala, mengatakan, "Itulah sebabnya aku di sini, Xian. Aku melihat potensi di dalam dirimu, dan dengan bimbinganku, kita bisa mencapai ketinggian yang belum pernah kamu bayangkan."


Xian menghela napas, memutuskan untuk menerima tawaran itu. "Baiklah, Maestro Ling. Ajarilah saya."


Dengan senyum lebar, Maestro Ling menepuk punggung Xian dengan kasih sayang. "Pertama, mari kita buat teh."


Keduanya melanjutkan perjalanan, dengan hati penuh harapan dan tekad untuk masa depan yang cerah di dunia persilatan.


Matahari terbit dengan kemegahan, memberikan aura emas yang menyinari hamparan lapangan luas di pinggiran desa. Dedaunan bersemburat dengan embun pagi, dan suara burung-burung menyambut pagi dengan kicauannya yang merdu.


Xian berdiri tegap di tengah lapangan, nafasnya teratur, mengatur ritme energi di dalam tubuhnya. Di sebelahnya, Maestro Ling dengan mata tajam memperhatikan setiap gerakan Xian, menilai dan mengoreksi.

__ADS_1


"Pikiran, tubuh, dan jiwa harus menjadi satu, Xian," kata Maestro Ling dengan suara yang dalam dan tenang. "Tanpa keseimbangan antara ketiganya, kultivasi sejati tidak mungkin dicapai."


Xian mengangguk, "Saya mengerti, Maestro. Tapi bagaimana saya tahu bahwa saya sudah mencapai keseimbangan tersebut?"


Maestro Ling tersenyum tipis, "Ketika kamu tidak perlu bertanya, maka kamu akan tahu."


Sebelum Xian bisa merespons, terdengar tawa riang anak kecil yang mendekat. Seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun dengan layang-layang berwarna biru di tangannya berlari mendekat. Rambut hitamnya berterbangan, wajahnya memerah karena semangat.


"Maestro Ling!" serunya dengan mata berbinar, "Saya mendengar Anda adalah ahli layang-layang! Bisakah Anda bermain dengan saya?"


Maestro Ling menoleh, wajahnya yang biasanya serius kini berubah menjadi hangat. "Ah, Xiao Lin! Bagaimana kamu tahu aku di sini?"


Xiao Lin, dengan semangat tak terkendali, menjawab, "Semua orang di desa tahu Anda datang, Maestro! Dan mereka juga mengatakan Anda adalah master layang-layang terbaik!"


Xian melihat dengan rasa bingung namun tertarik. "Maestro, Anda ahli layang-layang?"


Dengan mata berbinar, Maestro Ling menjawab, "Layang-layang adalah salah satu cara untuk memahami angin, Xian. Dan angin adalah bagian penting dari kultivasi." Kemudian dia menoleh ke Xiao Lin, "Baiklah, tantangan diterima!"


Mereka berlari ke ujung lapangan yang lebih terbuka. Maestro Ling dengan cepat menyiapkan layang-layang merah miliknya. Xiao Lin, dengan antusiasme, melepaskan layang-layang birunya ke udara.


"Ingat, Xian," kata Maestro Ling sambil menarik tali layang-layangnya, "Dalam setiap aktivitas, ada pelajaran kultivasi. Dengan layang-layang, kita belajar merasakan dan mengendalikan angin."


Xian mengamati dengan kagum bagaimana Maestro Ling dengan mudah mengendalikan layang-layangnya, membuatnya bergerak lincah di udara, menari-nari seolah memiliki jiwa sendiri. Xiao Lin, meski terlihat berjuang, tetap bertahan dengan layang-layangnya, tertawa riang setiap kali berhasil menghindari serangan layang-layang Maestro Ling.


"Maestro," tanya Xian sambil mengamati, "Apakah semua ini benar-benar relevan dengan kultivasi?"


Maestro Ling menarik tali layang-layangnya, membuatnya berputar cepat di udara, "Semua hal, Xian, dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks, memiliki hubungan dengan alam. Kultivasi sejati adalah tentang memahami hubungan tersebut dan menjadi satu dengannya."


Saat matahari mencapai puncaknya, permainan layang-layang pun berakhir. Xiao Lin, dengan napas terengah-engah, menghampiri Maestro Ling, "Anda memang hebat, Maestro!"


Maestro Ling menepuk kepala Xiao Lin dengan kasih sayang, "Kamu juga hebat, Xiao Lin. Terus latihan, ya?"


Xiao Lin mengangguk dan berlari pergi, meninggalkan Maestro Ling dan Xian kembali ke sesi latihan mereka. Namun, Xian sekarang memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang apa artinya kultivasi dan bagaimana menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

__ADS_1


__ADS_2