Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Pertemuan Pertama dengan Dewa Persilatan


__ADS_3

Ketika matahari terbit di ufuk timur, Xian berdiri di depan pintu gerbang desa dengan tas petualangannya yang penuh. Hatinya berdebar-debar karena dia akan memulai perjalanan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia telah mendengar cerita-cerita tentang Gunung Abadi sejak kecil, tetapi hanya sekarang dia merasa siap untuk menghadapinya. Legenda mengatakan bahwa Dewa Persilatan, kultivator legendaris tertinggi, tinggal di puncak gunung ini, dan Xian ingin menguji kemampuannya.


Dalam perjalanan menuju Gunung Abadi, Xian harus melewati hutan lebat yang sunyi. Ranting-ranting besar yang menjulang dan pepohonan raksasa membentuk terowongan hijau di atasnya. Suara angin yang melalui dedaunan dan nyanyian burung membuat suasana alam begitu mendalam. Kaki Xian melangkah dengan hati-hati, mencoba menghindari jebakan yang mungkin ada di sepanjang jalan. Setelah beberapa jam berjalan, Xian akhirnya mencapai tepi hutan dan memasuki dataran terbuka yang terhampar luas.


Cahaya matahari yang menyinari langit menjelang tengah hari memberikan kehangatan pada Xian saat dia melanjutkan perjalanannya. Namun, dia tidak beristirahat lama. Angin kencang tiba-tiba muncul, menghantamnya dengan kuat dan hampir membuatnya terjatuh. Dia harus menahan topi penjelajahannya agar tidak terbang begitu saja. Tapi Xian tidak terpengaruh oleh cuaca buruk ini, ia hanya tertawa dan mengucapkan, "Hei, Gunung Abadi, aku datang!"


Seiring dia mendaki lebih tinggi, pemandangan yang ada di depannya semakin indah. Gunung-gunung menjulang dengan puncak-puncak yang tertutup awan, dan matahari yang menjelang senja memberikan kilauan keemasan pada langit. Xian mulai merasa kegirangan yang luar biasa mendekam di dalam dirinya, dan dia semakin mantap dengan setiap langkah yang dia ambil.


Setelah berjalan beberapa jam, Xian merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon rindang. Dia meletakkan tas petualangannya dan duduk bersila, mengambil beberapa biji buah kering yang dibawanya. Namun, sambil merenung, dia mendapatkan ide aneh. Dia melihat sekitarnya, mencari batu dan ranting yang bisa digunakan sebagai alat memasak.


"Kenapa tidak mencoba memasak di tengah hutan ini?" gumamnya sambil tersenyum. Dia mulai mencari batu datar yang cocok untuk digunakan sebagai alas. Setelah menemukan yang cocok, dia mencari ranting yang bisa digunakan sebagai sumpit. Tanpa terlalu banyak pikir, dia mulai merapikan tempat duduknya dan menumpuk batu-batu kecil di tengahnya untuk membuat api.


Setelah beberapa usaha dan banyak tawa karena kekonyolan rencananya, Xian akhirnya berhasil membuat api kecil. Dia meletakkan biji buah kering di atasnya dan mencoba memasaknya. Namun, angin kencang datang lagi, kali ini membawa asap dari api yang bergoyang-goyang. Xian mencoba meniup api agar lebih besar, tetapi malah memicu angin lebih keras, dan asap serta buah-buahan kering yang terbakar terbawa angin, menghantam sekelompok monyet yang ada di dekatnya.


Para monyet itu langsung terkejut dan berteriak-teriak. Mereka langsung berlarian sambil mencoba menghindari buah-buahan yang terbang di sekeliling mereka. Xian tertawa melihat pemandangan ini dan mengejar monyet-monyet itu.


"Kalian ingin makan malam juga, kan?" kata Xian dengan nada lelucon. Namun, dia tidak bisa mengejar monyet-monyet yang cepat itu. Akhirnya, monyet-monyet itu menghilang di hutan, meninggalkan Xian dengan wajah penuh tawa.


Setelah kejadian itu, Xian kembali ke tempat duduknya dan makan dengan tenang, meskipun makanannya telah terbang ke mana-mana. Dia merasa bahwa kejadian lucu itu adalah hiburan terbaik selama perjalanan ini. Dengan hati yang bahagia, dia melanjutkan pendakiannya menuju puncak Gunung Abadi, siap untuk menghadapi apa pun yang menantinya di sana.


Setelah perjalanan yang melelahkan, Xian akhirnya tiba di puncak Gunung Abadi. Puncak gunung itu sendiri terhampar luas, dan langit biru cerah yang menyertainya menambah kesan megah. Di tengah puncak yang luas itu, Xian melihat seorang figur berdiri di bawah pohon besar yang merindangi tempat itu. Dewa Persilatan, yang konon begitu kuat dan hebat, berdiri di sana dengan tatapan tajam yang memandang Xian.


Cahaya matahari membuat Dewa Persilatan terlihat lebih kuat, dengan rambutnya yang panjang dan putih tergerai oleh angin. Pakaian putihnya berkibar dengan gagahnya. Dia memiliki pedang besar di pinggangnya, dan energi spiritual yang kuat terasa mengalir dari tubuhnya.


"Cukup berani kamu telah mencapai sini," kata Dewa Persilatan dengan suara serak yang terdengar seperti gemuruh petir. "Tapi apakah kamu memiliki apa yang diperlukan untuk menghadapiku?"


Xian, meskipun agak terintimidasi oleh penampilan Dewa Persilatan, tetap tenang. Dia menyusun kata-kata dengan hati-hati, "Saya datang untuk menguji kemampuan saya dan belajar dari Anda, Dewa Persilatan. Saya ingin tahu apa yang membuat Anda begitu kuat."

__ADS_1


Dewa Persilatan tersenyum tipis. "Kamu adalah pemuda yang berani," katanya. "Saya akan memberimu kesempatan untuk membuktikan dirimu sendiri. Pertama, kita akan bertarung."


Namun, sebelum pertarungan dimulai, Xian tidak bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan sifatnya yang suka iseng. Dia melihat Dewa Persilatan sedang berdiri di dekat tumpukan daun kering yang telah ditepuk-tepuknya dengan sapu besar. Tanpa sadar, Xian bertanya, "Apakah Anda adalah petugas kebersihan gunung ini, Tuan?"


Dewa Persilatan mengerutkan kening, seolah-olah terkejut oleh pertanyaan itu. "Petugas kebersihan gunung?" ulangnya. "Tidak, saya adalah Dewa Persilatan, penjaga Gunung Abadi."


Xian mengangguk, meskipun tidak terlalu yakin. "Baiklah, Tuan Dewa Persilatan, jika Anda sudah siap untuk memberi tahu saya apa yang perlu saya lakukan untuk membuktikan diri, saya siap."


Dewa Persilatan mengangguk serius. "Kita akan bertarung, dan saya akan melihat apakah kamu memiliki potensi yang sesuai untuk mendalami seni bela diri. Bersiaplah!"


Mereka pun berdua bersiap untuk pertarungan. Dewa Persilatan mengeluarkan pedangnya dengan kemahiran yang luar biasa, sementara Xian merentangkan kedua tangannya dengan sikap siap bertarung. Cuaca di puncak gunung berubah menjadi lebih serius, awan-awan hitam mulai menggelapkan langit.


Percakapan terhenti ketika pertarungan dimulai. Dewa Persilatan melaju maju dengan kecepatan kilat, mengayunkan pedangnya dengan keahlian yang menakutkan. Xian, bagaimanapun, bergerak dengan keanggunan yang mengejutkan. Mereka bertarung sengit, berputar-putar di puncak gunung, serangan dan pertahanan saling bertukar.


Mimik muka Dewa Persilatan tampak serius dan penuh konsentrasi, sementara Xian tersenyum dengan wajah penuh semangat. Dia menghindari serangan Dewa Persilatan dengan gerakan yang lincah dan cepat, seolah-olah dia sedang menari di atas awan. Keduanya adalah penari ulung dalam pertarungan ini, dengan energi spiritual yang kuat mengalir di sekitar mereka.


Xian melompat ke atas pohon terdekat dan melompat dari satu ranting ke ranting lainnya dengan lincahnya. Dia mendarat di belakang Dewa Persilatan dan berbisik dengan lembut, "Saya pikir, Anda perlu lebih banyak pelatihan dalam menari, Tuan Dewa Persilatan."


Dewa Persilatan, yang terkejut oleh keahlian Xian, tidak bisa menahan tawa. "Kamu benar, pemuda," katanya. "Tarianmu mengalahkan tarianku. Kamu memiliki bakat yang luar biasa."


Mereka berdua akhirnya berhenti bertarung dan duduk bersama di bawah pohon rindang. Cuaca yang tadinya gelap mulai cerah lagi, dan suasana di puncak gunung menjadi lebih ringan.


"Kamu mungkin memiliki sesuatu yang luar biasa dalam dirimu," kata Dewa Persilatan kepada Xian. "Saya akan mengajarmu beberapa hal tentang seni bela diri jika kamu bersedia belajar."


Xian tersenyum dan merasa puas dengan pencapaian ini. Dia tahu bahwa perjalanan ini baru saja dimulai, dan banyak hal menarik yang akan dia pelajari dari Dewa Persilatan.


Setelah pertemuan mereka yang penuh semangat di puncak Gunung Abadi, Dewa Persilatan memutuskan untuk memberi Xian ujian pertamanya. "Kami akan menguji kemampuan fisikmu," kata Dewa Persilatan dengan tegas. "Kita akan melihat seberapa kuat tubuhmu."

__ADS_1


Mereka memilih sebuah dataran luas di puncak gunung yang terbuka, dengan hamparan rumput hijau yang tersusun rapi. Angin sejuk bertiup perlahan-lahan, menciptakan atmosfer yang tenang. Dewa Persilatan dan Xian berdiri di ujung dataran, siap untuk memulai pertarungan fisik mereka.


Mereka mulai pertarungan dengan mengikuti serangkaian gerakan yang cepat dan gesit. Dewa Persilatan adalah lawan yang tangguh, dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Namun, Xian tidak kalah semangat. Dia bergerak dengan gesit dan lincah, mencoba menghindari serangan-serangan Dewa Persilatan.


Selama pertarungan, Dewa Persilatan menyempatkan diri untuk berbicara dengan Xian. "Kamu memang memiliki kemampuan yang luar biasa," katanya, sambil menyerang Xian dengan serangan kungfu yang memukau. "Tetapi kekuatan fisik juga sangat penting dalam seni bela diri."


Xian tertawa ringan, meskipun sedikit terengah-engah akibat usahanya. "Saya tahu itu, Tuan Dewa Persilatan. Saya selalu suka bermain-main dengan teman-teman saya di desa dalam pertarungan fisik. Tapi Anda adalah lawan yang berbeda!"


Dewa Persilatan tersenyum, sementara keringat mulai membasahi wajahnya yang tampan. "Kamu memang pintar, tetapi jangan terlalu santai!" katanya, lalu dengan cepat mengirim tendangan ke arah Xian.


Saat itu, sesuatu yang tak terduga terjadi. Tiba-tiba, sepatu Xian terikat dengan benang rumput yang melintang di rumput hijau. Xian kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah dengan canggungnya. Dewa Persilatan, yang sebelumnya begitu serius, tidak bisa menahan tawa saat melihat Xian terjatuh dengan gemulainya.


Xian bangkit dengan cepat, merasa agak malu. "Maafkan saya, Tuan Dewa Persilatan," kata Xian dengan tersenyum. "Ini hanya kecelakaan kecil."


Dewa Persilatan mencoba mengendalikan gelakannya. "Tidak apa-apa, pemuda. Kita semua membuat kesalahan."


Mereka melanjutkan pertarungan dengan semangat baru. Xian dengan tekad yang lebih besar untuk membuktikan dirinya, dan Dewa Persilatan dengan peningkatan keterbukaan terhadap murid muda yang bersemangat ini. Pertarungan berlanjut dengan serius, tetapi di mata mereka terdapat cahaya persahabatan dan rasa hormat yang tumbuh.


Seiring berjalannya waktu, Xian mulai mengatasi kelemahan-kelemahannya dan mampu mengimbangi Dewa Persilatan dengan lebih baik. Wajah mereka dipenuhi keringat, tetapi semangat untuk belajar dan berkembang tidak pernah padam.


Akhirnya, setelah pertarungan yang panjang dan melelahkan, Dewa Persilatan berhenti dan tersenyum pada Xian. "Kamu melakukan dengan baik," katanya. "Kamu memiliki potensi yang besar dalam seni bela diri."


Xian tersenyum lebar. "Terima kasih, Tuan Dewa Persilatan. Saya sangat bersyukur atas peluang ini."


Dewa Persilatan mengangguk puas. "Ini baru awal dari perjalananmu, pemuda. Ayo lanjutkan perjalanan kita, dan saya akan mengajari kamu banyak hal yang berharga."


Mereka berdua meninggalkan dataran luas itu, persahabatan mereka semakin kuat setelah pertarungan fisik yang penuh tawa dan semangat. Dan begitu pula petualangan Xian dalam dunia persilatan yang menantang.

__ADS_1


__ADS_2