
Perguruan Persilatan Guyon mulai pulih dari dampak pertempuran, tetapi ada ancaman yang muncul dari dalam. Cin Xiu, Mei Mei, dan Xian telah lama bekerja keras untuk membangun kembali perguruan dan mengembangkan nilai-nilai tawa, kebahagiaan, dan kedamaian. Namun, ada sekelompok murid yang merasa tidak puas dengan perubahan-perubahan ini.
Kelompok ini dipimpin oleh seorang murid bernama Zhen, yang sebelumnya adalah seorang pemimpin di perguruan sebelum Cin Xiu. Dia merasa bahwa perguruan telah menjadi terlalu lembek dan terlalu fokus pada nilai-nilai seperti tawa dan kebahagiaan. Dia percaya bahwa persilatan harus lebih keras dan lebih berfokus pada kekuatan.
Zhen dan kelompoknya mulai mengadakan pertemuan rahasia di perguruan, membahas rencana untuk mengambil alih kepemimpinan dan mengubah perguruan menjadi lebih keras. Mereka berencana untuk menyingkirkan Cin Xiu, Mei Mei, dan Xian dari jabatan pemimpin dan menggantinya dengan seseorang yang memiliki pandangan yang lebih keras tentang persilatan.
Suasana di perguruan menjadi tegang karena perselisihan antara kelompok Zhen dan kelompok yang setia pada Cin Xiu, Mei Mei, dan Xian semakin memanas. Cin Xiu, Mei Mei, dan Xian tidak ingin konflik yang lebih besar terjadi di perguruan mereka, tetapi mereka juga tidak ingin mengorbankan nilai-nilai yang mereka anut.
Pada suatu malam, ketika Cin Xiu, Mei Mei, dan Xian sedang berkumpul untuk membicarakan situasi ini, mereka mendengar keributan dari luar. Mereka segera bergegas ke luar dan menemukan bahwa kelompok Zhen telah menyerbu tempat-tempat penting di perguruan, mencoba mengambil alih kendali.
Zhen berdiri di tengah-tengah kerumunan, memandang Cin Xiu, Mei Mei, dan Xian dengan tatapan tajam. "Kami tidak setuju dengan cara perguruan ini dikelola!" kata Zhen dengan tegas. "Kami ingin mengembalikan perguruan ini ke jalan yang benar, yang sesuai dengan prinsip-prinsip persilatan sejati."
Cin Xiu, Mei Mei, dan Xian mencoba berbicara dengan tenang, mencoba menyelesaikan konflik ini tanpa pertumpahan darah. Mereka mengingatkan kelompok Zhen tentang pentingnya nilai-nilai yang mereka anut, tetapi Zhen dan kelompoknya tidak mau mendengar.
Ketegangan semakin meningkat, dan saat situasi tampak semakin tegang, ada kejutan tak terduga. Salah satu murid perguruan, seorang gadis bernama Lin, yang selama ini telah bersikap netral dalam konflik ini, berdiri di antara dua kelompok. Lin memiliki topi raksasa yang selalu dikenakannya, dan dia memegang topi itu di tangannya.
__ADS_1
Lin dengan lembut berkata, "Mungkin kita semua perlu mengambil nafas dalam sejenak dan berpikir tentang apa yang sebenarnya kita inginkan dari perguruan ini." Dengan lembut, dia melemparkan topi raksasanya ke atas, dan topi itu terbang tinggi di udara.
Semua mata tertuju pada topi raksasa yang melayang-layang di udara. Ada momen ketegangan yang hening, dan semua orang merasa seperti mereka sedang menunggu sesuatu yang tak terduga.
Tiba-tiba, topi raksasa itu mendarat di atas kepala Zhen, membuatnya terlihat sangat konyol. Lin dengan cerdik telah menggunakan topi itu untuk mengalihkan perhatian semua orang dari konflik yang sedang berlangsung.
Cin Xiu, Mei Mei, dan Xian melihat situasi ini sebagai peluang untuk mengakhiri ketegangan. Mereka kembali berbicara dengan kelompok Zhen, kali ini dengan lebih keras. Mereka menyampaikan pesan bahwa persilatan bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kekuatan dalam menjaga perdamaian dan kebahagiaan.
Ketika Zhen dan kelompoknya melihat betapa bodohnya mereka terlihat dengan topi raksasa itu, mereka akhirnya tersenyum dan mengakui kesalahannya. Mereka setuju untuk mengakhiri konflik ini dan bekerja sama untuk membangun perguruan dengan prinsip-prinsip yang seimbang antara kekuatan dan nilai-nilai tawa dan kebahagiaan.
Situasi yang tegang akhirnya mereda, dan perguruan Persilatan Guyon dapat melanjutkan perjalanan mereka dalam memperbaiki kerusakan yang telah terjadi akibat pertempuran. Tetapi ini adalah pengingat bagi semua orang bahwa persilatan bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kekuatan dalam menjaga nilai-nilai yang benar.
Cin Xiu, Mei Mei, dan Xian merasa lega bahwa mereka telah berhasil mengatasi konflik tersebut tanpa pertumpahan darah. Mereka tahu bahwa perguruan ini harus menjadi tempat yang mengajarkan kedamaian dan persahabatan, bukan tempat pertempuran yang tak berkesudahan.
Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal dalam pikiran Cin Xiu. Dia merasa bahwa dia harus berbicara secara pribadi dengan Zhen untuk mencari pemahaman yang lebih dalam tentang perasaan dan motivasi Zhen. Cin Xiu percaya bahwa setiap murid memiliki potensi untuk berubah dan tumbuh, dan dia ingin memberi Zhen kesempatan untuk merenung.
__ADS_1
Suatu hari, Cin Xiu mendekati Zhen yang sedang duduk sendirian di halaman perguruan. Zhen tampak dalam pemikiran yang mendalam, dan ketika dia melihat Cin Xiu mendekat, dia mengangkat kepalanya dengan ekspresi campuran antara bertahan dan ketidakpastian.
Cin Xiu duduk di dekat Zhen dan berkata dengan lembut, "Zhen, aku ingin tahu lebih banyak tentang apa yang kamu rasakan. Mengapa kamu merasa begitu kuat tentang pandanganmu tentang persilatan?"
Zhen terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Aku tumbuh dalam keyakinan bahwa kekuatan adalah segalanya. Ayahku adalah seorang kultivator yang sangat kuat, dan dia selalu mengajarkan padaku bahwa hanya dengan kekuatan, kita dapat melindungi yang kita cintai."
Cin Xiu mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia memahami bahwa latar belakang dan pengalaman masa kecil seseorang dapat memiliki dampak besar pada pandangan mereka tentang dunia. "Apa yang terjadi pada ayahmu?" tanya Cin Xiu.
Zhen menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Ayahku meninggal dalam suatu pertempuran yang hebat. Dia berjuang untuk melindungi keluarganya, tetapi pada akhirnya dia terluka parah. Itulah sebabnya aku selalu merasa bahwa kita harus selalu menjadi yang terkuat."
Cin Xiu merasa simpati terhadap Zhen. Dia tahu bahwa kehilangan orang yang dicintai bisa sangat sulit, dan pengalaman itu dapat membentuk pandangan seseorang tentang hidup. "Zhen," kata Cin Xiu dengan lembut, "aku mengerti perasaanmu dan pentingnya kekuatan. Tapi aku juga ingin kamu tahu bahwa persilatan bukan hanya tentang kekuatan fisik. Itu juga tentang kekuatan dalam menjaga kedamaian, kebahagiaan, dan persahabatan."
Zhen mengangguk, dan Cin Xiu melanjutkan, "Aku tidak ingin mengubahmu menjadi seseorang yang kamu tidak ingin menjadi. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa di perguruan ini, ada tempat untuk berbagai jenis pandangan dan nilai. Kami semua belajar satu sama lain, dan kita tumbuh bersama."
Zhen tampak merenung sejenak, kemudian dia tersenyum. "Terima kasih, Cin Xiu. Aku akan mencoba untuk lebih terbuka terhadap nilai-nilai yang kamu anut."
__ADS_1
Cin Xiu merasa senang mendengar itu. Dia percaya bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berubah dan tumbuh, asalkan mereka diberikan kesempatan dan dukungan yang tepat. Dia berharap bahwa Zhen akan menemukan kedamaian dalam dirinya dan menjadi bagian dari perguruan yang damai dan harmonis.
Saat matahari mulai terbenam di langit, Cin Xiu dan Zhen duduk bersama, berbicara tentang masa depan perguruan dan bagaimana mereka dapat bekerja sama untuk memastikan perguruan tetap menjadi tempat yang mengajarkan nilai-nilai yang benar. Di tengah suasana damai itu, mereka berdua merasa optimis tentang masa depan yang cerah untuk perguruan Persilatan Guyon.