
Hari berikutnya di desa dimulai dengan Xian yang penuh semangat untuk berlatih dalam persiapan lomba lari karung yang akan datang. Meskipun ia memiliki kekuatan kultivasi yang hebat, Xian sadar bahwa lomba ini bukan hanya masalah kekuatan fisik, tetapi juga memerlukan keterampilan teknis dan keseimbangan tubuh yang baik.
Dia tahu bahwa pelatihan serius diperlukan jika ia ingin memiliki peluang menang dalam lomba tersebut. Xian pergi ke pinggir ladang yang luas di luar desa, tempat dia tahu dia bisa berlatih tanpa mengganggu penduduk desa.
Xian memutuskan untuk menciptakan metode pelatihan yang unik dan lucu untuk mengasah kemampuannya dalam lomba lari karung. Dia berdiri di tengah ladang dengan sehelai karung yang besar dan cemberut di tangan.
Pertama, Xian memutuskan untuk melakukan meditasi di dalam karung. Dia meletakkan karung itu di tanah dan duduk di dalamnya dengan kaki bersila. Matanya ditutup, dan dia mencoba untuk meresapi energi alam dengan tubuhnya.
Seiring berjalannya waktu, beberapa warga desa yang lewat melihat adegan ini dengan keheranan. Mereka tidak bisa menahan senyuman saat melihat Xian duduk di dalam karung dengan serius, seakan bermeditasi dengan karung sebagai bimbingan spiritualnya.
Namun, Xian tidak hanya bermeditasi. Ia juga menciptakan apa yang dia sebut sebagai "latihan energi karung." Dia berdiri di atas karung dan mencoba menggerakkan karung tersebut hanya dengan energi dalam tubuhnya. Ini adalah latihan yang sangat aneh, tetapi Xian yakin itu akan membantunya mengendalikan tubuhnya saat lomba nanti.
"Wah, Xian benar-benar mengambil serius persiapan lomba ini," kata seorang warga desa kepada yang lain sambil tertawa.
Beberapa orang lainnya bahkan bergabung dengan Xian dalam latihan aneh ini. Mereka melompat-lompat di atas karung dan mencoba menggerakkan mereka dengan energi dalam tubuh mereka. Itu menjadi pemandangan yang lucu dan riuh, dengan orang-orang terjatuh dan berguling-guling di atas karung-karung mereka.
Xian, sementara masih mencoba menciptakan teknik-teknik anehnya, tersenyum melihat semangat yang ditunjukkan oleh penduduk desa. Dia tahu bahwa lomba lari karung ini lebih dari sekadar kompetisi; itu adalah cara desa untuk bersenang-senang bersama dan merayakan persatuan mereka.
Setelah berjam-jam berlatih, Xian dan penduduk desa meletakkan karung-karung mereka dan duduk bersama di bawah pohon besar yang tumbuh di pinggir ladang. Mereka tertawa bersama-sama, berbagi cerita, dan merasakan persahabatan yang erat. Meskipun latihan mereka mungkin aneh, itu adalah cara yang sempurna untuk merayakan semangat komunitas yang kuat di desa mereka.
Xian merasa bahwa meskipun lomba lari karung ini akan menjadi tantangan yang menyenangkan, hal terpenting adalah pengalaman dan kenangan yang ia bagikan dengan penduduk desa yang ia sebut sebagai keluarganya. Dalam kedamaian dan kebahagiaan mereka, mereka merasa lebih dekat satu sama lain daripada sebelumnya.
__ADS_1
Matahari terbenam dengan gemilang di hari festival desa yang penuh kegembiraan. Seluruh desa berkumpul di lapangan utama, yang didekorasi dengan ratusan lampion berwarna yang menerangi malam. Suasana desa dipenuhi dengan tawa, nyanyian, dan suara musik dari berbagai alat musik tradisional.
Lomba-lomba tradisional seperti panjat pinang, balap karung, dan tarik tambang dimulai. Semua penduduk desa antusias berpartisipasi atau mendukung para peserta. Tetapi acara yang paling dinantikan adalah lomba lari karung, yang menjadi acara puncak festival.
Xian yang telah berlatih dengan keras untuk lomba lari karung bersiap untuk memasuki arena. Dia mengenakan baju tradisional desa dan tersenyum lebar sambil berjalan menuju garis start. Sebagian besar penduduk desa tahu bahwa Xian memiliki kekuatan kultivasi yang luar biasa, dan mereka sangat penasaran dengan penampilannya di lomba ini.
Ketika starter mengumumkan awal lomba, Xian segera melompat ke dalam karungnya dan mulai melaju dengan cepat. Dia merasa sangat percaya diri, tetapi pada saat yang sama, dia ingin memberikan penampilan yang lucu dan menghibur bagi penduduk desa.
Saat dia berlari dengan karung di punggungnya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Tanpa sengaja, Xian melepaskan sedikit kekuatan kultivasinya untuk memberikan dorongan tambahan. Hasilnya, ketika ia melompat, ia melakukannya dengan sangat tinggi, melewati semua peserta lainnya.
Dia melayang di udara dengan karungnya, seperti seorang pahlawan yang melompat dari bukit tinggi. Orang-orang di sekitarnya berteriak dan bersorak, campuran antara kekaguman dan tawa. Xian sendiri terkejut dengan tinggi lompatannya dan mencoba mengendalikannya.
Namun, ketika ia mendarat, ia tidak berhasil mendarat dengan baik di lapangan lomba. Alih-alih berakhir di garis finish, ia malah mendarat di tengah-tengah bazaar makanan yang dipenuhi dengan pengunjung yang sedang menikmati hidangan lezat.
"Maafkan aku, sepertinya aku melewatkan garis finish," kata Xian sambil tertawa. Tindakannya yang kocak ini membuat semua orang tertawa, dan suasana menjadi lebih hidup.
Sementara itu, di lapangan lomba, peserta lain akhirnya mencapai garis finish, dan pemenang lomba lari karung diumumkan. Meskipun Xian tidak memenangkan lomba itu, ia berhasil menciptakan momen yang tak terlupakan dan menghibur bagi semua orang yang hadir.
Setelah insiden itu, Xian bergabung kembali dengan penduduk desa di lapangan utama. Mereka bersama-sama menikmati pertunjukan musik tradisional dan tarian, serta makanan lezat dari bazaar. Semua orang merasa bahagia dan bersyukur atas momen yang indah ini yang mempererat persaudaraan mereka.
Pada akhirnya, festival tahunan desa berakhir dengan gemerlap kembang api yang menerangi malam. Xian, meskipun mungkin tidak memenangkan lomba, tahu bahwa momen-momen seperti ini adalah yang paling berharga dalam hidupnya. Dan sambil melihat kembang api berkilau di langit malam, ia merasa bersyukur telah kembali ke desa yang ia panggil sebagai rumah.
__ADS_1
Malam itu, langit di atas desa bersinar penuh bintang. Penduduk desa berkumpul di sekitar api unggun besar yang menyala di tengah lapangan utama. Mereka duduk di sekeliling api unggun, merasa hangat oleh nyala api dan mengelilingi oleh keramaian yang penuh canda tawa.
Xian duduk bersama teman-temannya, berbagi cerita dan kenangan dengan antusiasme. Mereka mengingat momen-momen indah dari masa kecil mereka, petualangan mereka bersama, dan semua yang telah mereka alami bersama selama bertahun-tahun.
Cerita tentang perjalanan Xian yang menakjubkan juga menjadi sorotan. Penduduk desa duduk dengan kagum, mendengarkan kisah petualangan yang penuh dengan keajaiban dan tantangan.
Namun, malam itu Xian merasa terinspirasi untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ia ingin berbagi pengalaman baru yang ia pelajari selama petualangannya, khususnya tentang tarian kultivasi yang ia temui. Dia berdiri dan menyatakan niatnya.
"Bagaimana jika kita mencoba tarian kultivasi yang ku pelajari?" tawarnya dengan semangat.
Penduduk desa mengangguk antusias, ingin mencoba sesuatu yang baru. Mereka mulai mengikuti Xian yang memimpin gerakan-gerakan tarian yang kompleks, mengikuti irama musik yang terdengar di sekitar mereka.
Namun, segera terungkap bahwa tarian kultivasi ini jauh lebih rumit daripada yang mereka bayangkan. Gerakan yang harus diikuti memerlukan keseimbangan dan ketepatan yang sangat tinggi. Penduduk desa mulai tersandung, berjalan ke arah yang berlawanan, dan melakukan gerakan yang salah.
Xian berusaha untuk membimbing mereka dengan sabar, tetapi situasi semakin kacau. Tawa riang pun pecah di antara mereka saat mereka saling terjatuh dan bertabrakan satu sama lain.
Akhirnya, mereka semua menyadari bahwa tarian kultivasi ini mungkin terlalu sulit untuk mereka kuasai dalam waktu singkat. Mereka akhirnya memutuskan untuk beralih ke tarian desa tradisional yang mereka kenal dengan baik.
Xian dengan senang hati bergabung dalam tarian desa tersebut, meskipun gerakan-gerakan itu jauh lebih sederhana. Mereka berdansa dengan penuh semangat, melupakan kekacauan sebelumnya, dan merayakan persatuan mereka sebagai sebuah desa.
Malam itu, bawah langit penuh bintang, penduduk desa menari dengan gembira. Mereka tertawa, bernyanyi, dan berbagi kebahagiaan. Meskipun tarian kultivasi mungkin tidak berhasil, mereka tahu bahwa yang terpenting adalah momen bersama yang mereka nikmati saat itu.
__ADS_1
Xian merenung tentang perjalanan hidupnya dan betapa berharganya momen-momen sederhana seperti ini. Dia merasa bersyukur telah kembali ke desa ini, di mana dia selalu diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga dan teman-temannya. Dan sambil menatap langit penuh bintang, dia tahu bahwa dia telah menemukan kembali akarnya dan tempat di mana hatinya merasa benar-benar berada.