Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Penemuan Batu Giok


__ADS_3

Dedaunan bambu berbisik-bisik di bawah belaian angin pagi yang lembut. Sunyi. Di tengah kebun bambu yang rimbun, seorang pemuda sedang duduk bersila, matanya terpejam, dan napasnya teratur. Xian, pemuda desa yang dikenal dengan sifatnya yang ceria dan penuh lelucon, kini tenggelam dalam kedalaman meditasinya. Di tangannya, sebuah batu giok kecil yang bersinar dengan cahaya hijau lembut memancarkan aura mistis.


"Ternyata energi dalam batu giok ini luar biasa," gumam Xian sambil merasakan gelombang energi yang meresap ke dalam tubuhnya. Batu giok ini bukan batu biasa, ini adalah warisan dari kultivator legendaris di desanya.


Seiring matahari yang mulai meninggi, Xian merasa tenaganya bertambah beberapa kali lipat. Dia membuka matanya dan menatap batu giok dengan kagum. "Aku harus berhati-hati dengan ini," pikirnya.


Tiba-tiba terdengar suara keramaian. Xian menoleh dan melihat seorang pedagang keliling dengan kereta penuh barang dagangannya sedang memasuki desa. Dari jauh, Xian bisa mendengar tawanya yang riang.


"Ayo, ayo! Lihat koleksi boneka tanganku yang menarik! Dijamin membuatmu tertawa!" teriak pedagang tersebut.


Xian, yang selalu penasaran, segera menghampiri pedagang itu. "Halo, tua-tua! Apa yang kau jual hari ini?" tanyanya sambil menunjuk keranjang berisi boneka tangan yang beraneka ragam.


Pedagang itu tertawa, "Haha! Kau pasti Xian! Aku dengar cerita tentang pemuda yang selalu mencari hiburan. Boneka tangan ini sempurna untukmu!"


Xian tertarik. Dia mengambil satu boneka tangan yang menyerupai naga dan mencobanya. "Hei, bagaimana cara memainkannya?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.


Pedagang itu tersenyum dan dengan cepat memperagakan. "Begini, kau masukkan jari-jarimu ke dalam boneka dan gerakkan seperti ini." Ia memainkan boneka tangan lain yang menyerupai harimau, membuat gerakan memangsa.


Mata Xian berbinar-binar. "Ini menarik!" katanya sambil tertawa. "Baiklah, aku akan membeli beberapa. Mungkin bisa kubuat pertunjukan boneka tangan di desa nanti malam."


Pedagang itu tertawa puas. "Terima kasih, pemuda. Semoga boneka ini membawa keceriaan untukmu dan teman-temanmu."


Selesai bertransaksi, Xian berjalan pulang sambil memainkan boneka tangan barunya. Namun, dia tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata telah memperhatikannya sejak tadi. Mata-mata tersebut termasuk murid-murid Sekolah Persilatan Elang Putih yang sedang melakukan misi rahasia.


"Hei, kau melihatnya? Itu batu giok di tangan pemuda itu. Kita harus melapor kepada Master Ling," bisik salah satu dari mereka.


Sementara itu, Xian yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi, berjalan pulang dengan langkah ringan, sambil menikmati angin sejuk yang bertiup, dan rasa damai yang diberikan oleh batu giok di tangannya. Namun, kebahagiaan ini mungkin tidak akan bertahan lama.


Dekap malam memeluk desa dengan bintang-bintang yang berkelipan di langit, menerangi jalanan batu kuno dan atap-atap rumah yang tertutup salju. Dalam kegelapan, beberapa sosok berjubah hitam bergerak diam-diam, mengepakkan masing-masing seperti elang yang mengintai mangsanya. Mereka adalah murid-murid dari Sekolah Persilatan Elang Putih yang sedang dalam misi rahasia.

__ADS_1


Di sebuah lapangan terbuka, Xian dan beberapa temannya sedang bersiap untuk memulai pertunjukan boneka tangan. Obor-obor berpendar sekitar mereka, menciptakan atmosfer yang hangat dan akrab.


"Xian, apa kau yakin bisa memainkan boneka tangan ini dengan baik?" tanya Li Wei, sahabatnya, sambil mengejek.


Xian tersenyum lebar, "Kau akan terkejut, teman! Tonton saja!" jawabnya sembari mempersiapkan boneka naga di tangannya.


Sebelum pertunjukan dimulai, seorang gadis bernama Mei Ling mendekat ke Xian. "Hei, aku dengar ada murid-murid Elang Putih yang datang ke desa. Kau harus hati-hati," bisiknya dengan ekspresi cemas.


Xian mengangkat alisnya, "Kenapa mereka datang? Mereka mencariku?" tanyanya dengan serius, wajahnya menunjukkan sedikit kekhawatiran.


Mei Ling mengangguk, "Kabar tentang batu giokmu telah menyebar. Mereka mungkin ingin mencarinya."


Xian menghela napas, "Baiklah, aku akan berhati-hati. Terima kasih, Mei Ling," ujarnya sambil tersenyum pada Mei Ling. Dia kemudian berfokus kembali pada pertunjukan yang akan dimulai.


"Baiklah, mari kita mulai!" seru Xian dengan semangat. Dengan gerakan cepat dan lincah, Xian memainkan boneka naga dan harimau yang saling beradu kekuatan. Dia menggunakan suaranya yang khas untuk membuat boneka-boneka tersebut berbicara, dan mengajak Li Wei untuk bergabung.


"Kau pikir kau bisa mengalahkanku, naga tua?" tanya boneka harimau dengan suara Li Wei.


Pertunjukan berlangsung dengan meriah. Namun, di balik kerumunan, dua murid Elang Putih sedang berbicara diam-diam.


"Jadi, dia pemilik batu giok itu?" tanya murid pertama, menunjuk Xian yang sedang asyik memainkan boneka.


Murid kedua mengangguk, "Ya, kita harus mencari tahu di mana dia menyimpan batu itu."


Namun, sebelum mereka bisa bergerak, Li Wei yang tajam matanya, mendekati mereka dengan cepat. "Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya dengan tegas.


Kedua murid Elang Putih itu terkejut, mereka berdiri dan siap untuk beraksi. Namun, dengan gerakan cepat, Xian berdiri di antara mereka dan Li Wei, memegang boneka naga dan harimau di tangannya.


"Hei, hei! Tidak perlu bertarung. Lihat, naga dan harimau ini siap beraksi!" ujar Xian sambil memainkan boneka-boneka itu, mencoba meredakan ketegangan.

__ADS_1


Kedua murid Elang Putih tampak bingung, namun kemudian tertawa melihat kelucuan Xian. "Kau memang aneh, pemuda," kata salah satunya.


Xian tersenyum, "Itu yang membuatku istimewa." Mereka perlahan meninggalkan lapangan, namun Xian tahu bahwa ini bukan pertemuan terakhir mereka.


Matahari terbit dengan malu-malu di ufuk timur, memancarkan cahayanya yang lembut melalui celah-celah dedaunan pohon pinus di desa itu. Aroma segar tanah dan dedaunan pagi menyelimuti udara, namun suasana yang biasanya damai, hari ini, terganggu oleh kehadiran beberapa sosok berjubah hitam yang masuk ke desa dengan wajah serius.


Tepat di tengah desa, Xian sedang mempersiapkan panggung untuk pertunjukan boneka tangan berikutnya. Ia sedang memeriksa beberapa boneka ketika mendengar derap langkah yang kencang mendekat. Saat menoleh, ia melihat empat murid Sekolah Persilatan Elang Putih berdiri tegak di depannya, dipimpin oleh seorang pemuda dengan aura yang kuat.


"Kau Xian?" tanya pemuda tersebut dengan suara yang tegas.


Xian, berdiri dengan percaya diri namun tetap bersikap ramah, menjawab, "Ya, aku Xian. Ada yang bisa kubantu?"


Pemuda itu menunjuk batu giok yang berkilau di leher Xian. "Kami dari Sekolah Persilatan Elang Putih. Kami mendengar kau memiliki batu giok langka. Serahkan padaku!"


Xian mengangkat alisnya, sedikit terkejut namun tetap tenang. "Batu giok ini hadiah, kenapa aku harus menyerahkannya?"


Pemuda tersebut melangkah maju, postur tubuhnya menunjukkan ancaman. "Karena jika tidak, kami akan mengambilnya dengan kekerasan."


Xian menarik napas dalam-dalam. Sebagai seorang yang penuh damai dan cinta hiburan, dia tidak ingin pertarungan. Dengan cepat ia mengambil satu boneka tangan dan berkata, "Sebelum itu, apa kalian mau melihat pertunjukan boneka tangan?"


Para murid Elang Putih saling pandang dengan kebingungan. Pemuda pemimpin mereka tampak kesal. "Ini bukan waktu untuk main-main!"


Tapi Xian, dengan cepat mulai memainkan boneka, menggambarkan kisah seorang pahlawan yang mencoba menyelamatkan desanya dari serangan monster dengan humor dan aksi heroik. Gerakannya cepat, suaranya berbagai nada, menceritakan kisah dengan penuh semangat.


Beberapa warga desa yang penasaran mulai berkerumun, tertarik dengan pertunjukan yang dibawakan Xian. Mereka tertawa, bertepuk tangan, dan larut dalam cerita. Bahkan beberapa murid Elang Putih, termasuk pemuda pemimpin, mulai terhibur dan lupa dengan misi mereka.


Selesai pertunjukan, Xian memberi hormat dan berkata, "Terima kasih telah menonton. Semoga kalian terhibur. Jika ada yang ingin berbicara denganku, mari kita bicara dengan damai."


Pemuda pemimpin Elang Putih menatap Xian dengan ekspresi campur aduk antara kagum dan kesal. "Kau benar-benar aneh," katanya. "Tapi, hari ini aku akan membiarkanmu. Namun, pertarungan kita belum berakhir."

__ADS_1


Xian tersenyum, "Semoga saat itu tiba, kita bisa bicara sebagai teman, bukan musuh."


Pemuda tersebut mengangguk, lalu memimpin murid-muridnya meninggalkan desa. Xian menatap mereka pergi, berharap kedamaian bisa tetap bertahan di desa itu.


__ADS_2