Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Kelompok Kultivator Pasir Putih


__ADS_3

Xian dan Lu Chen terus melanjutkan latihan mereka di bawah matahari yang terik, namun ada perasaan gelisah yang mengganggu pikiran Xian. Dia merasa ada sesuatu yang tidak dia ketahui, sesuatu yang tertutup oleh kerahasiaan Lu Chen.


Pada suatu hari, ketika mereka duduk di teras rumah mereka setelah latihan, Xian tidak tahan lagi. "Tuan Lu Chen," katanya dengan ragu, "saya ingin tahu lebih banyak tentang kelompok kultivator yang Anda sebutkan sebelumnya, Pasir Putih."


Lu Chen menatap jauh ke kejauhan, seolah-olah dia sedang merenungkan masa lalunya yang jauh. Akhirnya, dia menghela nafas dalam-dalam dan mengangguk.


"Benar, Pasir Putih adalah kelompok kultivator yang saya dirikan bersama beberapa teman setia saya," ungkapnya. "Kami adalah sekelompok individu yang memiliki tekad yang sama untuk membawa perdamaian dan kebahagiaan ke seluruh Kerajaan."


Xian menatap Lu Chen dengan mata penuh rasa ingin tahu. "Tapi mengapa Anda tidak pernah membawa saya bertemu dengan mereka? Saya merasa seperti ada banyak yang saya tidak tahu tentang Anda."


Lu Chen tersenyum lembut. "Ada alasan mengapa saya tidak membawa Anda bertemu dengan mereka, Xian. Kelompok Pasir Putih adalah kelompok yang bergerak di balik layar. Kami bekerja di bawah identitas yang berbeda-beda untuk menjalankan misi kami dengan aman."


Xian masih bingung. "Apa misi sebenarnya dari kelompok Pasir Putih ini? Dan mengapa Anda memilih saya sebagai murid Anda?"


Lu Chen menjawab dengan hati-hati, "Misi Pasir Putih adalah menjaga keseimbangan kekuatan di Kerajaan ini. Kami melindungi orang-orang yang lemah dari ancaman para kultivator jahat dan monster buas. Dan saya memilih Anda, Xian, karena melihat potensi besar dalam diri Anda. Saya ingin melatih Anda menjadi kultivator yang kuat dan bijaksana, yang dapat melanjutkan misi kami di masa depan."


Xian merenung sejenak. Dia mengerti sekarang mengapa Lu Chen tidak pernah membawa dia bertemu dengan kelompoknya. Misi mereka adalah misi berbahaya yang membutuhkan kerahasiaan dan perlindungan.


Namun, dia masih ingin tahu lebih banyak tentang kelompok ini. "Bagaimana saya bisa membantu?" tanyanya.


Lu Chen tersenyum dan mengangkat secangkir teh panas. "Anda telah membantu dengan menjadi murid saya, Xian. Latihan Anda akan menjadi kontribusi yang besar untuk kelompok ini di masa depan. Kami akan terus melatih Anda agar Anda bisa mencapai potensi Anda yang penuh."


Mereka melanjutkan percakapan mereka, membahas detail tentang misi-misi yang telah mereka lakukan dan berbagai tantangan yang mereka hadapi. Xian semakin tertarik pada kelompok Pasir Putih dan tekad mereka untuk membawa kebaikan ke dunia.

__ADS_1


Suasana alam di sekitar rumah mereka tetap indah seperti biasa. Hutan yang rindang, sungai yang mengalir dengan tenang, dan bunga-bunga liar yang bermekaran di padang rumput. Xian mulai merasa bahwa dia telah menemukan tempatnya di dunia ini, di bawah bimbingan Lu Chen dan bersama kelompok Pasir Putih.


Pada suatu pagi, ketika Xian sedang berlatih teknik pedangnya di luar, dia merasa kehadiran seseorang yang mendekat. Dia berbalik dan terkejut melihat seorang wanita berdiri di depannya. Wanita itu memiliki rambut hitam panjang dan matanya berkilat dengan kecerdasan.


"Saya mengenal Anda, Xian," kata wanita itu dengan ramah. "Nama saya Thio Ling, dan saya adalah anggota dari kelompok Pasir Putih."


Xian mengangguk, masih agak tercengang oleh kehadiran Thio Ling. "Salam kenal, Thio Ling. Bagaimana Anda tahu siapa saya?"


Thio Ling tersenyum. "Kami selalu memantau perkembangan para kultivator muda yang berpotensi, dan Anda adalah salah satu dari mereka. Kami telah mendengar tentang kemampuan pedang Anda dan keberanian Anda dalam melindungi warga sipil. Itulah mengapa saya datang ke sini."


Xian merasa sedikit malu karena dipuji oleh anggota kelompok Pasir Putih. "Apa yang membawa Anda ke sini, Thio Ling?"


Thio Ling menjawab, "Kami memiliki sebuah misi yang membutuhkan kehadiran Anda, Xian. Misi ini akan menguji kemampuan Anda sebagai seorang kultivator dan juga akan membantu kami dalam menjalankan misi besar kami."


Thio Ling memberikan detail tentang misi tersebut, yang melibatkan perjalanan ke daerah yang jauh dan berbahaya. Misi ini akan menguji semua yang telah Xian pelajari dari Lu Chen dan juga akan membawanya lebih dekat kepada kelompok Pasir Putih.


Setelah menerima instruksi dari Thio Ling, Xian segera bersiap-siap untuk perjalanan yang akan datang. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan besar bagi dirinya untuk membuktikan diri dan membantu kelompok Pasir Putih dalam misi mereka. Dan dengan tekad yang kuat, dia bersiap untuk menghadapi segala rintangan yang akan datang dalam perjalanan ini.


Xian bersiap-siap untuk perjalanan yang akan membawanya ke daerah berbahaya bersama Thio Ling, anggota kelompok Pasir Putih. Mereka berdua berdiri di luar rumah Lu Chen, menatap pemandangan indah yang melingkupi mereka. Matahari terbit perlahan, menerangi langit dengan warna-warni yang memukau.


Thio Ling memandang Xian dengan serius. "Perjalanan ini akan sangat berbahaya, Xian. Kami akan menuju ke sebuah daerah yang dipenuhi dengan monster buas dan kultivator jahat. Kita harus selalu waspada dan berusaha menjaga kekuatan kita."


Xian mengangguk, merasa semakin bersemangat. "Saya siap, Thio Ling. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk membuktikan diri saya kepada kelompok Pasir Putih."

__ADS_1


Thio Ling tersenyum. "Anda memiliki semangat yang luar biasa, Xian. Itu adalah salah satu alasan mengapa Anda dipilih untuk misi ini. Sekarang, mari kita berangkat."


Mereka berdua meninggalkan rumah Lu Chen dan memulai perjalanan mereka ke daerah berbahaya yang telah dijelaskan oleh Thio Ling. Saat mereka melangkah lebih dalam ke dalam hutan yang rimbun, suasana alam sekitar berubah. Hutan yang tadi penuh dengan kehidupan sekarang terasa lebih sunyi dan misterius. Bayang-bayang pohon-pohon yang tinggi menutupi langit, menciptakan perasaan dingin yang merambat di sepanjang tulang belakang.


"Mereka menyebut tempat ini sebagai Hutan Bayangan," kata Thio Ling, "karena cahaya matahari hampir tidak pernah menyentuh tanah di sini. Ini adalah tempat yang sangat berbahaya, dan kita harus hati-hati."


Xian mengangguk, memegang erat pedangnya. Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka, menembus hutan yang gelap dan sunyi. Percakapan mereka terputus saat mereka lebih fokus pada kewaspadaan mereka terhadap lingkungan di sekitar mereka.


Setelah beberapa hari berjalan, mereka tiba di suatu tempat yang tampaknya penuh dengan kabut tebal. Kabut itu sangat tebal sehingga Xian hampir tidak bisa melihat tangan yang diulurkan. Mereka berdua berhenti sejenak, mencoba mencari jalan keluar dari kabut yang menyelimuti mereka.


"Tidak pernah ada kabut seperti ini di sini sebelumnya," kata Thio Ling dengan nada khawatir. "Kita harus hati-hati, Xian."


Mereka terus berjalan, tetapi semakin dalam mereka masuk, semakin tebal kabutnya. Mereka tidak bisa melihat apa pun kecuali kabut putih yang menyilaukan. Namun, Xian merasa ada sesuatu yang aneh. Dia merasa seperti ada mata yang mengawasinya di balik kabut.


Tiba-tiba, serangga berukuran besar muncul dari dalam kabut, mengepung Xian dan Thio Ling. Serangga-serangga itu memiliki rahang yang tajam dan kulit berwarna hitam mengkilap. Mereka segera meluncurkan serangan.


Xian dan Thio Ling mengambil sikap bertahan, menghadapi serangga-serangga tersebut. Mereka menghindari serangan-serangan yang datang dengan cepat dan berusaha untuk melawan. Meskipun serangga-serangga itu kuat, Xian dan Thio Ling berhasil mengatasi mereka satu per satu.


Setelah pertempuran yang panjang dan melelahkan, Xian dan Thio Ling melanjutkan perjalanan mereka melalui kabut tebal. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka belum selesai, dan bahaya masih mengintai di depan.


Sementara itu, di tempat lain, sekelompok kultivator jahat yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang misterius memantau pergerakan Xian dan Thio Ling melalui bola kristal ajaib. Mereka tersenyum jahat saat melihat dua kultivator yang mereka anggap sebagai ancaman.


"Kita akan menyambut kedatangan mereka dengan kejutan yang tak terduga," kata pemimpin kelompok itu dengan senyum licik.

__ADS_1


Di dalam kabut tebal Hutan Bayangan, Xian dan Thio Ling melanjutkan perjalanan mereka dengan hati-hati, tidak menyadari bahwa bahaya yang lebih besar sedang mengintai di depan.


__ADS_2