Lee Xian, Kultivator Guyon

Lee Xian, Kultivator Guyon
Kabar yang Mencemaskan


__ADS_3

Malam telah turun di Desa Qinglian, dan angin sepoi-sepoi menerpa pepohonan yang menari-nari. Lee Xian, seorang pemuda berwajah tegas dengan rambut hitam yang menjuntai di pundaknya, duduk di dalam ruang tengah perguruan guyon yang terletak di tepi desa. Dia tengah merenung, fokus pada bola giok di tangannya yang mengeluarkan cahaya yang tenang.


Tiba-tiba, pintu perguruan terbuka dengan keras, dan seorang penduduk desa masuk dengan nafas terengah-engah. "Lee Xian! Lee Xian!" serunya, "Kami punya kabar yang buruk!"


Xian mengangkat wajahnya dan meletakkan bola gioknya dengan hati-hati. "Apa yang terjadi?"


Penduduk desa itu duduk di depan Xian, wajahnya tampak cemas. "Anak kecil, Xiao Ming, yang pernah Anda temui di padang pasir, dia menghilang! Kami mendengar bahwa dia berada dalam bahaya di hutan yang berbahaya."


Xian segera bangkit dari duduknya, ekspresinya serius. "Xiao Ming? Bagaimana bisa?"


"Kami tidak tahu persisnya," jawab penduduk desa itu, "Tapi kami sangat khawatir. Kami membutuhkan bantuan Anda, Lee Xian. Anda adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkannya."


Xian merenung sejenak, lalu dengan tegas berkata, "Tentu saja, saya akan pergi menyelamatkannya. Saya akan meminta bantuan murid-murid saya." Dia segera pergi mencari Cin Xiu dan Mei Mei, murid-murid setianya.


Beberapa saat kemudian, mereka berkumpul di ruang tengah perguruan guyon. Cin Xiu, seorang wanita muda dengan cambuk sakti yang selalu ada di pinggangnya, tampak serius. Mei Mei, gadis ceria dengan mata yang selalu berbinar, juga siap untuk bertindak.


Xian menjelaskan situasinya dengan cepat. "Xiao Ming, anak kecil yang saya temui di padang pasir, menghilang, dan kami mendengar bahwa dia berada dalam bahaya. Saya perlu bantuan kalian untuk menyelamatkannya."


Cin Xiu mengangguk, "Kami siap membantu Anda, Guru. Kita harus cepat bertindak."


Mei Mei tersenyum cerah, "Tidak masalah! Kami akan membawa Xiao Ming kembali dengan selamat."


Mereka segera bersiap-siap, mengumpulkan perbekalan dan persiapan yang diperlukan untuk perjalanan mereka. Angin malam masih berhembus sepoi-sepoi di luar, dan bulan purnama menghiasi langit dengan keindahannya.


Cin Xiu dan Mei Mei mencoba mengajarkan Xiao Ming beberapa teknik dasar kultivasi dengan cara yang lucu. Mereka berdua mengelilingi Xiao Ming yang tampak kecil di antara mereka.


Cin Xiu dengan serius menjelaskan, "Xiao Ming, untuk menjadi seorang kultivator yang kuat, Anda harus belajar mengumpulkan energi dalam tubuh Anda. Ini adalah dasar-dasar kultivasi."


Mei Mei menambahkan dengan riang, "Tapi jangan terlalu serius! Ingat, latihan kultivasi juga harus menyenangkan. Mari kita coba sesuatu yang lucu. Cobalah merasa seperti Anda adalah pohon yang tumbuh dan mengumpulkan energi dari matahari!"


Xiao Ming mencoba mengikuti instruksi mereka dengan penuh semangat, berdiri tegak dengan tangan di atas kepala, berpura-pura menjadi pohon. Semua tiga dari mereka tertawa ceria, dan suasana di perguruan guyon terasa penuh dengan kebahagiaan.

__ADS_1


Kemudian, Xian kembali ke dalam ruang perguruan dengan berita bahwa mereka telah siap untuk berangkat. Mereka harus segera memulai perjalanan mereka ke hutan berbahaya di mana Xiao Ming diberitakan hilang. Dengan tekad yang kuat, mereka bersiap untuk misi penyelamatan yang berbahaya dan penuh tantangan.


Pagi telah tiba ketika Xian, Cin Xiu, dan Mei Mei bersiap untuk memulai perjalanan mereka ke padang pasir. Mereka telah mempersiapkan perbekalan yang cukup untuk beberapa hari ke depan, membawa air, makanan, serta perlengkapan kultivasi yang diperlukan. Suasana matahari pagi yang cerah memancarkan sinar hangat, mengingatkan mereka akan tugas penting yang menunggu.


Mereka berdiri di depan pintu perguruan guyon, dan Xian memberi instruksi, "Kita harus hati-hati dan waspada dalam perjalanan ini. Kami akan berjalan sepanjang hari menuju padang pasir. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang."


Cin Xiu mengangguk setuju, "Kita harus bersatu dalam misi ini dan menjaga satu sama lain. Persahabatan kita adalah kekuatan kita."


Mei Mei tersenyum cerah, "Kami pasti akan membawa Xiao Ming kembali dengan selamat, Guru. Kami tidak akan meninggalkan satu teman pun."


Mereka mulai berjalan menuju padang pasir dengan hati yang penuh semangat. Seiring mereka berjalan, matahari naik lebih tinggi di langit, dan udara terasa kering dan panas. Namun, kebersamaan mereka dan tekad untuk menyelamatkan Xiao Ming membuat perjalanan ini terasa lebih mudah.


Selama perjalanan, mereka berbicara tentang makna persahabatan dan kesetiaan. Cin Xiu berkata, "Ketika kita memulai perjalanan ini, kita memahami bahwa kita akan saling melindungi. Persahabatan sejati adalah tentang selalu ada untuk teman-teman kita, baik dalam kebaikan maupun kesulitan."


Mei Mei menambahkan, "Kehidupan ini seperti sebuah guyonan yang besar. Terkadang kita harus tersenyum di tengah badai dan hujan. Kita harus belajar untuk menertawakan diri sendiri dan tidak terlalu serius."


Xian mengangguk, "Anda berdua benar. Kita akan menghadapi berbagai rintangan dalam perjalanan ini, tetapi kita akan mengatasi semuanya bersama-sama."


Saat mereka mendekati padang pasir, mereka melihat panorama yang indah. Gurun yang luas dan pasir putih yang terhampar di bawah matahari membuat mereka merasa seolah berada di dunia yang berbeda. Angin gurun yang sejuk melintas dan mengibaskan kerudung Mei Mei.


"Cantik, bukan?" Mei Mei berkata sambil menutup mata untuk merasakan hembusan angin. "Meskipun ini adalah tempat yang keras, alam ini tetap mempesona."


Cin Xiu menimpali, "Seperti hidup itu sendiri, Guru. Meskipun kita menghadapi tantangan dan kesulitan, kita harus menemukan keindahan dalam setiap momen."


Xian melihat gurun yang luas dan berkata dengan penuh semangat, "Kita akan menemukan Xiao Ming dan membawanya kembali ke rumah. Tidak ada yang bisa menghentikan kita."


Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke dalam padang pasir yang tak berujung, penuh dengan tekad dan semangat untuk menyelamatkan teman mereka. Meskipun tantangan dan bahaya menunggu, mereka yakin bahwa persahabatan mereka dan keinginan untuk menjadikan kehidupan sebagai sebuah guyonan yang indah akan membimbing mereka melalui perjalanan yang berat ini.


Xian, Cin Xiu, dan Mei Mei telah memasuki padang pasir yang luas dan tidak bersahabat. Terpaan angin berdebu dan pasir yang menghantam mereka membuat perjalanan menjadi semakin sulit. Mereka memutuskan untuk terus bergerak dengan hati-hati, menjaga mata mereka terbuka untuk tanda-tanda bahaya.


Tiba-tiba, badai pasir yang ganas muncul di langit. Awan debu dan pasir berputar-putar, menutupi matahari dan menciptakan kabut tebal. Mereka segera mencari tempat berlindung untuk melindungi diri mereka dari serangan debu yang tajam.

__ADS_1


"Cepat! Kita harus mencari tempat perlindungan!" Xian berteriak melalui terpaan angin kencang.


Mereka berlari ke sebuah batu besar yang tergeletak di tengah padang pasir dan berlindung di baliknya. Hembusan angin yang kuat menerpa batu itu, dan mereka berusaha menjaga matanya tetap tertutup.


Cin Xiu melihat ke arah Xian dan Mei Mei dan berkata, "Kami harus bersabar. Badai pasir ini akan berlalu."


Mei Mei menjawab dengan cemas, "Tapi bagaimana jika Xiao Ming berada di luar sana? Dia mungkin dalam bahaya!"


Xian mencoba menenangkan Mei Mei, "Kita akan mencari tahu setelah badai ini berlalu. Yang penting sekarang adalah kita tetap aman."


Mereka menunggu dengan sabar, dan setelah beberapa waktu, badai pasir mulai mereda. Awan debu dan pasir perlahan-lahan berkurang, dan sinar matahari kembali bersinar.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka melalui padang pasir yang sekarang tampak lebih tenang. Namun, mereka sadar bahwa bahaya masih mengintai di sekitar mereka. Makhluk-makhluk padang pasir yang aneh muncul dari pasir yang panas, mencoba mengganggu perjalanan mereka.


Mei Mei mengeluarkan cambuk saktinya dan dengan cekatan membantai makhluk-makhluk itu. "Kita harus waspada. Makhluk-makhluk ini mungkin tidak besar, tapi mereka sangat licik."


Cin Xiu dengan cambuk sakti di tangannya juga ikut membantu, "Kita harus menjaga kecepatan dan tidak membiarkan mereka mendekati kita."


Mereka terus bergerak, memotong jalan melalui makhluk-makhluk padang pasir yang terus berdatangan. Perangkap misterius yang ditinggalkan oleh musuh-musuh mereka juga membuat perjalanan semakin berbahaya. Mereka harus waspada terhadap jebakan yang bisa muncul kapan saja di bawah pasir.


Cin Xiu memperingatkan mereka, "Jangan menginjak sembarang tanah. Itu bisa menjadi perangkap."


Mei Mei menunjuk ke arah jejak-jejak di pasir dan berkata dengan ceria, "Jika kita tidak ingin terjebak, kita harus berjalan dengan hati-hati seperti kucing! Seperti ini!" Dia mulai melangkah dengan ringan, mengikuti jejaknya sendiri.


Mereka mengikuti jejak Mei Mei dengan hati-hati, berusaha untuk tidak terperangkap dalam jebakan yang tersembunyi. Perjalanan mereka menjadi semakin menegangkan karena mereka harus tetap waspada terhadap bahaya yang ada di sekeliling mereka.


Cin Xiu dan Mei Mei mencoba mengatasi situasi sulit dengan guyonan dan humor. Ketika mereka melihat batu yang terlihat aneh di tengah padang pasir, Mei Mei berkata, "Apa ini, Guru? Batu bertuah atau batu sakti yang akan memberikan kita kekuatan tambahan?"


Cin Xiu tersenyum dan menjawab dengan guyonan, "Sayangnya, Mei Mei, batu ini hanya sebuah batu biasa. Tapi kita bisa membawanya pulang sebagai kenang-kenangan!"


Semua tiga dari mereka tertawa ceria, meskipun mereka tahu bahwa bahaya masih mengancam mereka di padang pasir yang ganas ini. Dengan tekad yang kuat dan semangat yang tinggi, mereka melanjutkan perjalanan mereka, siap menghadapi semua tantangan yang ada di depan.

__ADS_1


__ADS_2