
Malam telah tiba, dan mereka kembali ke perkemahan mereka setelah sehari yang penuh dengan latihan dan eksplorasi di Gunung Es. Api unggun yang hangat segera mereka nyalakan, memberi cahaya dan kehangatan di tengah kegelapan malam. Langit penuh bintang-bintang di atas mereka, menciptakan lanskap langit yang memesona.
Xian, yang selalu penuh semangat, berkata, "Hari ini adalah hari yang luar biasa. Kalian semua melakukan pekerjaan yang luar biasa di bawah air terjun beku. Sekarang, mari kita merayakan pencapaian kita dengan cara yang kocak."
Mei, yang masih merasa semangat dari latihan sebelumnya, tersenyum. "Apa yang kita akan lakukan, Guru Xian?"
Guru bun bun, yang jarang terlihat tanpa ekspresi serius, juga ikut berbicara, "Saya merasa ini adalah ide yang menyenangkan, Guru Xian."
Xiu, yang selalu ceria, tidak sabar. "Tidak sabar menunggu! Mari kita lakukan!"
Mereka memutuskan untuk membuat patung es yang lucu di bawah cahaya api unggun. Mereka mencari rumpun-rumpun rumput kering dan memilih satu di antaranya untuk menjadi dasar patung es mereka. Mereka bekerja sama dengan penuh semangat, membentuk dasar patung dengan hati-hati.
Xian, yang memiliki keterampilan seni yang cukup baik, memimpin dalam membentuk wajah patung tersebut. Dia menggunakan beberapa batu kecil sebagai mata dan mulut, menciptakan ekspresi lucu yang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. Patung es itu dengan cepat mulai menyerupai salah satu murid mereka dengan ekspresi yang konyol.
Saat mereka bekerja, percakapan mereka dipenuhi dengan tawa dan candaan. Xiu berkata, "Guru Xian, patung ini benar-benar mencerminkan wajah kita saat kita pertama kali berada di bawah air terjun beku!"
Semua orang tertawa, termasuk Xian. "Kamu benar, Xiu. Kami semua merasa konyol pada awalnya, tetapi sekarang kita telah tumbuh lebih kuat dan bijaksana."
Mei juga ikut berbicara, "Ini adalah momen yang baik untuk mengingat semua perjalanan kita bersama. Kita telah melewati begitu banyak bersama-sama."
Patung es lucu itu akhirnya selesai, dan mereka semua duduk mengelilinginya, menikmati karya seni mereka yang unik. Ekspresi patung tersebut begitu lucu sehingga mereka semua tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Xian mengambil momen tersebut untuk memberikan pengajaran. "Seperti patung ini, kehidupan kita juga bisa konyol dan lucu pada saat-saat tertentu. Tetapi yang terpenting adalah kita selalu bisa menemukan kebahagiaan dan tawa dalam setiap momen, bahkan dalam kesulitan."
Guru bun bun mengangguk setuju. "Tawa adalah senjata yang kuat, seperti yang telah kita pelajari. Itu adalah bagian dari filosofi kita di Sekolah Persilatan Guyon."
Malam telah menjelang, dan suhu semakin dingin di Gunung Es. Namun, kehangatan api unggun yang berkobar memberikan keberanian kepada Xian dan murid-muridnya untuk berkumpul di sekitarnya. Cahaya api memancar dengan semangat, menciptakan lingkungan yang hangat dan penuh kehangatan.
Mei, yang selalu ceria, memulai ceritanya dengan senyuman. "Kalian semua ingat waktu ketika saya dan Guru Bun Bun berhadapan dengan kelompok rubah ekor-sembilan yang mencuri makanan kita di hutan?"
Guru bun bun tertawa dan mengangguk. "Tentu saja, Mei. Itu adalah pengalaman yang tak terlupakan."
Xiu, yang selalu siap untuk tertawa, bertanya, "Apa yang terjadi selanjutnya, Mei?"
Mei mulai bercerita, "Jadi, kita telah bersembunyi di belakang semak-semak, dan rubah-rubah itu berada di depan kami, makan dengan rakus. Guru Bun Bun dan saya merasa bahwa kami harus mengambil kembali makanan kita, jadi kami merencanakan serangan. Tapi, saat kami melompat keluar dari semak-semak, kami melihat kelompok rubah itu berubah menjadi rubah es yang bermain-main di atas es beku!"
Guru bun bun menambahkan, "Kami merasa sangat malu, tetapi itu adalah pelajaran yang berharga. Jangan pernah mengambil sesuatu dengan gegabah tanpa memahami situasi sepenuhnya."
Malam berlanjut dengan cerita-cerita kocak lainnya. Xiu menceritakan tentang kali dia hampir tergelincir di atas es beku saat mencoba mengejar burung salju yang berlarian di depannya. Mei bercerita tentang saat dia mencoba memasak makan malam di bawah air terjun beku dan akhirnya semua makanan mereka menjadi es. Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar cerita-cerita tersebut, dan suara tawa mereka bergema di malam yang sejuk.
Saat malam semakin dalam, mereka semua merasa hangat dan terhubung satu sama lain. Xian berkata dengan penuh rasa syukur, "Malam ini adalah contoh sempurna dari filosofi kita. Tidak peduli seberapa dinginnya cuaca atau seberapa besar tantangan yang kita hadapi, kita selalu bisa menemukan tawa dan kebahagiaan dalam setiap momen."
Guru bun bun menambahkan, "Kehangatan persahabatan kita adalah sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun di dunia ini. Ini adalah salah satu hal yang membuat perjalanan kita begitu berharga."
__ADS_1
Malam berlalu dengan mereka tetap berkumpul di sekitar api unggun, bertukar cerita dan tawa. Meskipun cuaca semakin dingin, kehangatan persahabatan mereka membuat mereka merasa hangat di hati. Mereka tahu bahwa momen-momen seperti ini adalah apa yang membuat perjalanan mereka begitu berarti, dan mereka merasa bersyukur atas setiap detik yang mereka habiskan bersama.
Pagi yang sejuk menyapa mereka di Gunung Es. Matahari terbit dengan lembut, memancarkan sinarnya yang hangat ke atas hamparan salju yang luas. Xian telah merencanakan sebuah kejutan untuk Mei dan guru bun bun sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan tekad mereka dalam menjalani perjalanan ini.
Xian berkata dengan senyum ramah, "Hari ini saya memiliki kejutan istimewa untuk kalian berdua. Kami akan mempelajari teknik kultivasi rahasia yang hanya dapat diajarkan di bawah sinar matahari di Gunung Es."
Mei dan guru bun bun yang awalnya tidak tahu apa yang diharapkan dari pagi ini, tersenyum dengan gembira. "Terima kasih, Guru Xian," kata Mei dengan penuh rasa syukur.
Guru bun bun juga menyatakan terimakasihnya. "Kami sangat bersyukur atas kesempatan ini."
Mereka berdiri di dekat puncak Gunung Es, di bawah sinar matahari yang hangat. Xian memulai dengan menjelaskan teknik-teknik kultivasi yang akan mereka pelajari. Dia memandu mereka dalam gerakan-gerakan yang tepat, membantu mereka merasakan aliran energi matahari yang kuat yang memancar dari langit.
Mereka berlatih dengan tekun, mengikuti setiap instruksi Xian dengan seksama. Mei dan guru bun bun merasa energi matahari itu menyelimuti mereka, memberi mereka kekuatan dan kebijaksanaan. Mereka merasa begitu terhubung dengan alam dan matahari yang memberi kehidupan pada dunia.
Xiu, yang selalu ingin tahu, bertanya, "Guru Xian, mengapa teknik ini hanya dapat diajarkan di sini?"
Xian tersenyum saat menjelaskan, "Gunung Es adalah tempat yang unik, di mana energi alam semacam ini sangat kuat. Teknik-teknik kultivasi yang kita pelajari di sini mengambil keuntungan dari energi matahari yang khusus di Gunung Es. Ini adalah bagian dari keajaiban alam yang kita nikmati di sini."
Saat pagi berlanjut, mereka semakin dalam dalam praktik kultivasi mereka. Mei merasa kekuatan dan ketenangan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, sedangkan guru bun bun merasa begitu dekat dengan alam semesta itu sendiri.
Setelah berjam-jam berlatih, mereka akhirnya selesai. Xian tersenyum dan berkata, "Kalian berdua telah melakukan dengan sangat baik. Saya bangga dengan perkembangan kalian. Sekarang, kita bersiap untuk melanjutkan perjalanan kita."
__ADS_1
Mei dan guru bun bun merasa begitu bersyukur atas pengalaman yang luar biasa ini. Mereka merasa bahwa mereka telah tumbuh lebih kuat dan bijaksana, siap menghadapi tantangan apa pun yang mungkin menunggu mereka di masa depan.
Mereka semua bersatu dalam rasa syukur dan semangat yang baru, siap melanjutkan petualangan mereka di dunia persilatan dengan kebahagiaan dan semangat yang membakar di dalam hati mereka. Gunung Es telah memberikan mereka pengalaman yang tak terlupakan dan pelajaran berharga tentang kultivasi dan kehidupan.