
Kaki Xian melangkah perlahan di atas tanah leluhurnya, yang dikelilingi oleh pohon-pohon tua dan udara segar dari pegunungan yang menjulang di kejauhan. Di bawah sinar matahari yang hangat, dia memandang ke rumah kayu kecil yang akan menjadi sekolah persilatan barunya.
Pagi itu, berbagai murid muda dari berbagai latar belakang berkumpul di depan rumah kayu itu. Mereka berasal dari desa sekitar dan wilayah terdekat, dan masing-masing memiliki alasan unik untuk belajar di Sekolah Persilatan Guyon. Di antara mereka, ada Xiu, seorang pemuda berhati baik yang ingin melindungi desanya dari perampok; Mei, seorang gadis yang ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa menjadi kultivator kuat; dan Wei, seorang anak tukang kayu yang penasaran dengan kekuatan kultivasi.
Xian, mengenakan jubah sederhana dengan gaya yang khas, berdiri di depan mereka dengan senyum lebar di wajahnya. "Selamat datang, teman-teman," sambutnya dengan suara hangat. "Kalian semua adalah bagian dari awal yang baru untuk Sekolah Persilatan Guyon. Di sini, kita akan belajar tentang kekuatan, persahabatan, dan yang paling penting, tawa."
Dia kemudian memandu para murid ke dalam rumah kayu. Di dalam, mereka menemukan ruangan besar yang dihiasi dengan seni klasik Cina dan tatami untuk meditasi. Tampaknya sederhana, namun udara dalam ruangan itu penuh dengan energi yang damai.
Mengelilingi meja bulat di tengah ruangan, Xian duduk bersama para murid. "Pertama-tama, kita akan mulai dengan meditasi untuk meresapi energi alam. Ini adalah fondasi kultivasi kita," ucapnya dengan serius.
Para murid mengikuti instruksi Xian dengan cermat. Mereka duduk dengan kaki bersila, mata tertutup, dan mencoba memusatkan perhatian mereka. Namun, ada satu murid, Yang, yang tampaknya begitu bersemangat sehingga ia tidak bisa duduk diam. Ia mencoba minum ramuan yang seharusnya untuk meditasi, tetapi ramuan itu mengandung campuran yang salah. Setiap kali ia mencoba berbicara, ia mengeluarkan gelembung-gelembung berwarna pelangi yang melayang di sekitarnya.
Xian hampir tidak bisa menahan tawanya ketika ia melihat muridnya yang satu ini. "Jangan khawatir, Yang," kata Xian, mencoba untuk tetap serius. "Tawa adalah bagian dari meditasi juga. Kita semua belajar dengan cara yang berbeda."
Suasana yang kocak ini membuat semua orang tersenyum, dan gelembung-gelembung pelangi itu malah menjadi simbol persahabatan mereka. Mereka melanjutkan meditasi mereka, kali ini dengan lebih tenang, membiarkan energi alam meresapi tubuh mereka.
Selama berhari-hari berikutnya, Xian membimbing para murid dalam latihan-latihan dasar kultivasi. Mereka belajar tentang cara mengendalikan energi dalam tubuh mereka, mengembangkan kemampuan bertarung, dan memahami filosofi Guyon tentang tawa dan kegembiraan.
Suasana alam sekitar sekolah pun menjadi bagian integral dari proses pembelajaran. Mereka melakukan latihan di bawah pepohonan yang rindang, merasakan angin sepoi-sepoi, dan mendengarkan nyanyian burung di pagi hari. Xian sering kali mengajak mereka untuk berjalan-jalan di sekitar hutan untuk merasakan keseimbangan alam.
Pada suatu sore yang cerah, Xian membawa para murid ke tepi sungai yang mengalir di dekat sekolah. Mereka duduk di sana, merenung dan meresapi kedamaian alam. Kemudian, dengan tawa yang khas, Xian melompat ke dalam sungai dengan pakaian lengkapnya.
Para murid tertawa terbahak-bahak saat melihat Xian berenang dan bermain-main di sungai. Mereka segera bergabung, melemparkan satu sama lain ke dalam air dan menikmati momen-momen kesenangan yang tidak terduga.
Saat matahari perlahan tenggelam di cakrawala, mereka semua duduk di sekitar api unggun yang dinyalakan oleh Xian. Mereka berbicara tentang impian mereka, mengenai apa yang ingin mereka capai melalui kultivasi, dan bagaimana mereka ingin membawa kegembiraan dalam perjalanan mereka.
Kisah para murid di Sekolah Persilatan Guyon telah dimulai dengan tawa dan kegembiraan. Mereka telah menemukan guru mereka yang unik dan lingkungan yang mendukung perkembangan mereka. Di bawah matahari terbenam yang indah itu, mereka bersama-sama mengulang lagu tema sekolah mereka yang berbunyi, "Tertawa, Kultivasikan, Berprestasi."
Sebuah babak baru telah dimulai, dan mereka siap untuk menghadapinya dengan semangat dan tawa yang tak terhentikan.
Matahari terbit dengan hangat di langit biru yang cerah saat hari festival tiba. Di Sekolah Persilatan Guyon, para murid dan penduduk desa bekerja keras mempersiapkan festival besar untuk merayakan pembukaan sekolah. Bendera merah dan putih dengan lambang sekolah berkibar di seluruh tempat, dan aroma makanan yang lezat mengisi udara.
__ADS_1
Xian, mengenakan jubahnya yang paling cerah, berjalan dengan antusias di antara para muridnya yang sedang sibuk dengan persiapan. "Kalian semua luar biasa!" katanya, tersenyum. "Festival ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan."
Mei, yang telah menjadi salah satu murid terdekat Xian, menyambutnya dengan antusias. "Tentu saja, Guru Xian! Kami akan membuat festival ini luar biasa."
Sementara itu, beberapa sekolah persilatan dari sekitar negeri telah datang untuk memberikan selamat atas pembukaan sekolah baru ini. Mereka mendirikan tenda-tenda dan stan-stan mereka, menampilkan seni bela diri dan barang dagangan mereka.
Suasana alam di sekitar sekolah semakin memeriahkan festival. Pegunungan yang menjulang tinggi di kejauhan memberikan latar belakang yang indah. Pepohonan rindang dan bunga-bunga yang bermekaran menambahkan warna dan kehidupan pada pemandangan tersebut.
Ketika matahari mencapai puncaknya, sebuah panggung besar dibangun di tengah lapangan festival. Xian dan para muridnya menyiapkan diri untuk acara utama festival. Xiu, pemuda yang bercita-cita untuk melindungi desanya, berbicara dengan antusias kepada Mei. "Saya benar-benar bersemangat tentang kontes tarian ayam yang akan diadakan nanti. Ini akan menjadi momen yang lucu!"
Mei tertawa. "Benar sekali, Xiu! Guru Xian selalu punya ide-ide unik."
Saat waktu tiba untuk acara utama, para murid berkumpul di panggung dengan kostum-kostum ayam yang kocak. Mereka mengenakan kepala ayam yang besar dan bersiap untuk tampil. Xian, yang tampak begitu bersemangat, memimpin mereka. "Saatnya untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa kultivasi juga bisa menyenangkan!"
Para tamu dari sekolah persilatan lainnya dan penduduk desa berkumpul di sekitar panggung dengan rasa ingin tahu. Panggung itu dilapisi dengan jerami, menambah nuansa pertanian yang lucu.
Xian berdiri di tengah panggung, mengambil napas dalam-dalam. "Kawan-kawan, mari kita mulai tarian ayam kami!" teriaknya dengan semangat.
Seorang master persilatan dari sekolah lain, Shi Wuxia, yang awalnya skeptis tentang festival ini, tertawa terbahak-bahak melihat penampilan mereka. "Ini adalah tarian ayam terbaik yang pernah saya lihat!" ucapnya sambil mengusap air mata tawa dari matanya.
Saat tarian berakhir, panggung dipenuhi tepuk tangan dan sorak sorai. Xian dan para muridnya tersenyum lebar, merasa senang karena mereka telah berhasil menghibur semua orang.
Festival berlanjut dengan permainan, pertunjukan seni bela diri, dan makanan enak. Suasana yang penuh tawa dan kegembiraan mewarnai seluruh festival, dan semua orang merasa terhubung satu sama lain melalui momen-momen kocak yang telah mereka bagikan.
Pada akhir festival, Xian berdiri di atas panggung sekali lagi, kali ini bersama para tamu dari sekolah persilatan lainnya dan penduduk desa. "Terima kasih semuanya atas dukungan kalian dan telah datang ke festival kita. Hari ini, kita telah belajar bahwa kultivasi bisa menyenangkan, dan tawa adalah bahasa universal yang menghubungkan kita semua."
Para tamu dan penduduk desa bersorak, mengakui kebijaksanaan kata-kata Xian. Mereka meninggalkan festival dengan hati yang ringan dan tawa yang masih mengalir dalam hati mereka.
Festival pembukaan sekolah telah menjadi sukses besar, tidak hanya merayakan pembukaan Sekolah Persilatan Guyon, tetapi juga mengingatkan semua orang akan pentingnya tawa dalam hidup. Dan begitulah, festival meriah itu menjadi kenangan yang tak terlupakan di hati semua orang yang hadir, menjadi simbol dari apa yang Sekolah Persilatan Guyon yakini: kultivasi dengan tawa.
Suasana di Sekolah Persilatan Guyon begitu damai dan penuh semangat ketika Xian memulai pelajaran pertamanya tentang filosofi Guyon. Para murid berkumpul di luar, di bawah matahari yang hangat, dengan angin sepoi-sepoi yang meniup lembut.
__ADS_1
Xian berdiri di tengah-tengah mereka, wajahnya penuh semangat. "Hari ini, kami akan belajar tentang pentingnya tawa dalam kultivasi. Tawa bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga bisa menjadi senjata yang kuat dalam perjalanan kita."
Mei, salah satu murid yang paling dekat dengan Xian, mendengarkan dengan antusias. "Tawa sebagai senjata? Bagaimana itu mungkin, Guru Xian?"
Xian tersenyum dan menunjuk ke sekitar mereka. "Lihatlah alam ini. Pohon-pohon, sungai, dan burung-burung yang bernyanyi. Mereka semua adalah bagian dari harmoni alam. Dan tawa adalah cara kita untuk bergabung dengan harmoni itu. Dengan tawa, kita bisa merasakan kebahagiaan, menghilangkan tekanan, dan menenangkan pikiran kita."
Para murid mendengarkan dengan serius. Mereka tahu bahwa apa pun yang diajarkan Xian pasti memiliki makna yang mendalam.
Xian melanjutkan, "Sekarang, sebagai demonstrasi, saya akan memperkenalkan kepada kalian 'seni menangis sambil tertawa'." Ia kemudian berpura-pura terluka parah, berjalan dengan goyah, dan akhirnya jatuh ke tanah dengan ekspresi kesakitan yang berlebihan.
Para murid terkejut dan khawatir. Mei berlari mendekati Xian dengan cepat. "Guru Xian! Apa yang terjadi? Apakah Anda baik-baik saja?"
Xian, sambil menahan tawa, bangkit dari tanah dan tiba-tiba terbahak-bahak seolah-olah sebelumnya dia tidak merasakan sakit sama sekali. Para murid terdiam sejenak, kemudian tiba-tiba mereka pun ikut tertawa melihat tindakan konyol guru mereka.
Xiu, yang selalu bersikap serius, bahkan ikut tertawa. "Guru Xian, Anda benar-benar luar biasa! Saya hampir percaya bahwa Anda benar-benar terluka!"
Xian menjawab sambil tertawa, "Itu sebenarnya tujuannya, teman-teman. Dalam situasi yang sulit, kita bisa menggunakan tawa untuk mengubah suasana hati kita dan membuat diri kita lebih kuat. Tertawa adalah cara kita untuk menghadapi rintangan dengan lebih mudah."
Para murid merenungkan kata-kata Xian dengan serius, lalu mereka mulai mempraktikkannya. Mereka mulai tertawa terbahak-bahak, seolah-olah mereka adalah bagian dari sebuah kelompok penghibur yang gila. Tetapi seiring berjalannya waktu, mereka merasa bahwa suasana hati mereka benar-benar berubah. Rasa tegang dan cemas berubah menjadi kebahagiaan yang tulus.
Mei tertawa dengan keras, mengelilingi para murid lainnya. "Ini sangat menyenangkan! Saya merasa lebih ringan sekarang!"
Xian tersenyum puas. "Itu yang saya bicarakan. Tawa adalah alat kuat yang kita miliki untuk menjalani perjalanan kultivasi ini dengan sukacita."
Pelajaran berlanjut dengan praktik tawa dan meditasi untuk meresapi energi alam. Para murid belajar untuk membawa kebahagiaan ke dalam setiap tindakan mereka dan menggunakan tawa untuk mengatasi stres dan ketegangan.
Pada akhir pelajaran, mereka duduk di bawah pohon-pohon rindang, merasakan energi alam yang mengalir melalui mereka. Matahari perlahan tenggelam di cakrawala, dan suasana yang damai dan penuh kebahagiaan masih terasa di sekeliling mereka.
Mei mengangkat wajahnya ke langit senja dan tersenyum. "Terima kasih, Guru Xian. Kami telah belajar pelajaran berharga hari ini."
Xian tersenyum dan melihat matahari terbenam. "Kultivasi bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kekuatan jiwa. Dan tawa adalah kuncinya. Mari kita terus berkembang bersama, teman-teman."
__ADS_1
Mereka semua duduk bersama, merenungkan pelajaran hari ini dan merasa terhubung dengan alam yang indah di sekitar mereka. Dalam keheningan yang tenang, mereka merasa persatuan yang mendalam dengan filosofi Guyon dan kekuatan tawa yang mereka miliki untuk menghadapi perjalanan mereka di dunia persilatan.