Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 10 - Selera Bagas


__ADS_3

"Ah siap!" Vian manggut-manggut mengerti.


***


Selera Bagas memanglah wanita seksi, dan berkelas. Bermake-up natural Korean look, namun pakaiannya memang haruslah seksi. Tak apa tidak tinggi dan ramping, yang terpenting apa yang dia pakai.


Sementara itu, setelah pakaian yang diminta Bagas sampai di tangan Bagas. Anya diminta untuk memakainya. Tentu saja setelah mereka sampai di apartemen Bagas.


"Hah? Tuan serius, pakaian seperti ini? Kurang bahan, dan sangat terbuka. Tidak ada pakaian lain lag-" Jelas Anya terpotong.


"PAKAI!" Teriak Bagas marah.


Anya pun bergegas memakainya, meskipun terasa tidak nyaman. Pakaian pelayan yang seksi, dress pendek sepaha yang seksi. Berwarna putih dan hitam. Dengan beberapa aksesoris.


Bagas menelan salivanya, terg*da dengan penampilan Anya.


"Nice!" Ucap Bagas terpukau.


"Wah Anya kau sangat cantik dan seksi. Maukah kau menjadi pendamping ku?" Tanya Vian terpesona. Dan sedikit becanda, ya walaupun serius dengan apa yang dirasakannya.


"YAH! AWAS AJA LU! GUE GOROK, BERANI-BERANINYA NATAP PUNYA GUE! SONO!" Teriak Bagas, yang sebenarnya cemburu.


"Wah pawangnya ngamok. Bye!" Balas Vian tak berdosa.


Sambil menunggu Cika datang. Vian menyuruh bawahan Bagas, untuk mengantarkan Steak dan anggur merah yang Bagas pesan.


"Bawa saja ke kamar no 1." Perintah Vian sopan.


"Baik pak!" Ucap pria pengantar hidangan itu, bergegas untuk mengantarkannya ke kamar Bagas. Sebelum Cika datang.


"Wah aku harus cegah dia masuk dulu!" Ucap Vian, melihat Cika sudah sampai di apartemen Bagas.


"Hai Cika! Gimana kabarnya?" Tanya Vian, mendekati Cika.


"Baik!" Jawab Cika tak sabar ingin menemui Bagas.


"Ah sabar dong!" Goda Vian.


"Saya udah gak sabar pak Vian, jangan halangi saya!" Ucap Cika, berusaha melewati Vian.


"Bagas lagi siap-siap dulu!" Balas Vian santai.


"Siap-siap buat apa?" Tanya Cika berbinar.


"Buat nangkep Lo lah!" Batin Vian kesal. "Buat apa lagi?" Jawab Vian tersenyum smrik.


"Ahhhahaha ternyata pak Bagas so sweet ya." Ucap Cika tersipu.


Setelah melihat pengantar hidangan tadi keluar, Vian mempersilahkan Cika masuk. Tentu saja, setelah menghubungi Bagas.


"Tok tok tok!"


"Masuk!" Ucap Bagas santai.


"Selamat malam pak Bagas!" Ucap Cika setelah masuk, dan genit pada Bagas.


"Malam baby!" Bagas mendekati Cika, dan memasang wajah menggodanya.


"Ah pak Bagas!" Ucapnya geli, ketika Bagas membelai rambutnya.


Cika ingin nyosor mencium bibir Bagas. Namun, Bagas memalingkan wajahnya. "Tidak semudah itu baby!"


"Ah pak Bagas, kenapa?" Tanya Cika geram, tak sabaran.


"Kita nikmati hidangan dulu yah!?" Jawab Bagas berpura-pura romantis.

__ADS_1


Setelah itu, Bagas memberikan kode dengan memetik jari kanannya. Agar Anya keluar dan memberikan hidangan pada mereka.


Sontak Cika syok dengan kehadiran Anya, yang masuk ke kamarnya. Padahal, ketika dia masuk. Dia tidak melihat ada seseorang, di sudut ruangan sekalipun.


"Kenapa baby? Kau mengenalnya?" Tanya Bagas pura-pura tidak tahu.


"Tidak." Jawab Cika cepat.


"Kenapa sekaget itu?" Tanya Bagas, memojokkan Cika.


"Emm dia berpakaian sangat seksi!" Jawab Cika memberikan alasan.


"Ah begitu! Karena semua bawahan saya memang harus begitu." Jelas Bagas, tersenyum nakal.


"Dia siapa pak?" Tanya Cika, ingin memastikan kedudukan Anya.


"Ah dia? Hanya pelayan dan pengasuh saya. Kenapa?" Jawab Bagas, memainkan peran.


"Emm kenapa harus semuda dan secantik itu?" Tanya Cika jengah.


"Ah dia cantik yah, dan muda. Kamu iri padanya?" Jawab Bagas, berbalik bertanya. Untuk menggoda Cika.


"Tentu saja tidak, pasti lebih muda saya. Dan lebih cantik saya." Jawab Cika cepat, dan percaya diri. Dengan angkuh.


"Berapa umurmu?" Tanya Bagas.


"30 tahun pak!" Jawab Cika tersenyum senang.


"Ah dia 20 tahun aja belum!" Jawab Bagas tersenyum smrik.


"Hmm.. tapi usia pak Bagas kan hampir 27 tahun?" Tanya Cika memastikan.


"Iya, masih lebih muda dari kamu bukan?" Jawab Bagas, kembali memojokkan Cika.


"Hmm.. apa itu menjadi masalah?" Tanya Cika kecewa.


"Ahh baiklah." Jawab Cika lega.


***


Bagas memasukkan obat perangsang pada salah satu anggur merah. Namun, tanpa sengaja Cika mengambil gelas Bagas. Dan menukarnya, karena ingin terlihat romantis. Justru menjadi malapetaka bagi Bagas.


Mereka menghabiskan hidangan, yang disajikan Anya. Anya hanya memantau, setelah selesai dia keluar dari kamar. Dan merapikannya, dengan menyimpan semuanya ke dapur. Lalu mencucinya karena merasa bosan.


Sementara itu, Bagas merasakan hawa panas. Dia terus mengotak atik AC, agar lebih dingin lagi. Namun, tetap merasa tak nyaman.


"Jangan-jangan gelas tadi tertukar. Sialan, wanita ini sudah mengetahuinya atau bagaimana. Dan kenapa gue bisa seceroboh itu, tidak melihat dia mengambil gelas yang mana, yang seharusnya mengambil gelas yang telah aku persiapkan." Batin Bagas geram.


Bagas mempercepat aksinya. "Ahh kamu tahu, kenapa saya memanggil kamu ke sini!" Tanya Bagas kemudian.


Vian yang merasa kodenya sudah disebutkan buru-buru masuk kamar Bagas. "Dia mengacaukan rencana. Kenapa jadi cepet banget sih?!" Ucap Vian merasa aneh.


Vian mendorong kencang pintu kamar Bagas. "Malam Cika!" Ucapnya menatap Cika yang tidak sabaran, dan melihat Bagas yang terlihat sedang tidak nyaman.


"SELESAIKAN!" Perintah Bagas, lalu keluar mencari Anya.


"PAK BAGAS! Kau mau kemana?" Tanya Cika tak mengerti.


***


"Ah akhirnya, saya menemukan kamu!" Ucap Bagas memeluk Anya dari belakang. Yang sedang merapikan peralatan makan.


"Kamu kapan ganti baju hmm?" Tanya Bagas.


"Tuan?" Tanya Anya kaget.

__ADS_1


"Ahhh aroma kamu, saya sangat menyukai aroma strawberry yang manis dan kalem seperti ini. Lekukan tubuhmu yang seksi, kurus namun berisi dan akhhh bua* ini yang sangat aku sukai!" Ucapnya tak bisa mengendalikan dirinya.


"Tuan! Lepaskan saya! Sadar tuan! Anda kenapa tuan?" Anya panik dan berusaha melepaskan pelukan Bagas.


"Angel diamlah! Tolong saya, saya terjebak olehnya. Dan kamu, seharusnya kamu juga teliti memberikan gelas pada saya. Mengapa tertukar hmm?" Ucap Bagas berbisik seksi.


Bagas mengangkat tubuh Anya ala bridal style. Membawanya ke kamar sebelah.


Setelah sampai, Bagas mengunci pintunya. Dan melemparkan Anya ke ranjang yang tak kalah besar dari kamarnya yang tadi.


"Baby! Bantu Daddy ahhhhhhhh..." Ucapnya menaiki tubuh Anya. Dan mencium lehernya, dan semakin ke bawah.


Sontak Anya bangun dan mengigit tangan Bagas. "Aaaaghhhhhh.. Angel kau!"


Anya segera berlari ke arah pintu, namun kuncinya Bagas lemparkan ke atas lemari yang tinggi. Bagas mengejarnya, namun Anya menghindar dan berlari ke arah jendela. Anya melihat ada kolam renang di bawahnya. Lantai yang mereka tempati adalah lantai 15, sangat tinggi dan beresiko.


Namun Anya lebih memilih mati, daripada harus kehilangan keperawannya sebelum menikah. Dia selalu gagal ketika Bagas menodainya, namun kali ini tidak boleh.


Anya membuka jendela, sambil membenarkan pakaiannya yang tadi hampir terbuka semua. Lalu, dia mengambil aba-aba untuk meloncat ke bawah sana.


"Angel! Berhenti! Jangan berani-beraninya untuk meloncat ke bawah sana!" Ucap Bagas memperingati.


"Tidak tuan, saya lebih baik mati. Daripada harus kehilangan keperawanan saya, sebelum menikah!" Jawab Anya yakin.


"Jadi dia masih perawan?" Tanya Bagas dalam hati.


"Baiklah, saya tidak akan mengambil keperawanan kamu! Jadi kemarilah!" Bujuk Bagas dengan berusaha menarik tangan Anya.


"Tidak! Jangan mendekat!" Tolak Anya, mundur.


"Tidak Angel! Ayo sini!" Bujuk Bagas was-was.


Namun, Anya memilih meloncat. Bagas hampir meraih tubuhnya, namun yang dia dapatkan hanya rompi yang Anya pakai.


"Byuuuuuuurrrrrr...."


Melihat Anya melompat dari ketinggian, meskipun ke dalam kolam. Membuatnya panik, dan tidak punya pilihan selain ikut melompat.


"Byuuuuuuurrrrrr..."


Tidak banyak orang yang menyaksikan, karena malam hari. Namun, Vian yang mendengar keributan. Setelah menyelesaikan tugasnya. Dan memberikan Cika pada pihak berwajib. Vian segera melihat ke kamar sebelah.


"Sial, dikunci!" Ucap Vian panik.


Namun, Vian memiliki kunci cadangan. Dilihatnya, kamar yang sangat berantakan. Vian melihat ada rompi yang dikenakan Anya. "Tapi dimana mereka?" Ucap Vian panik.


Vian tahu Anya sudah berganti pakaian, karena tidak nyaman. Meskipun yang dipakainya masih seksi.


"Ah tidak mungkin kan mereka melompat ke bawah sana, yang benar saja." Ucap Vian tertawa heran.


"Tapi, bagaimana jika..." Ucapnya terhenti.


"HAH! BAGAS! ANYA!" Teriaknya, melihat mereka yang berada di bawah sana di kolam renang tepatnya. Vian bergegas turun ke lantai 1, dan menemui mereka di kolam.


Anya tenggelam karena dia belum bisa berenang. Sementara itu, Bagas menangkap tubuhnya dan membawanya ke atas kolam.


Memberikan pertolongan kepada Anya yang tenggelam dan kehabisan nafas, bahkan sudah diberikan nafas buatan. Namun, Anya masih tidak sadarkan diri.


Denyut nadinya melemah. Bagas semakin panik dibuatnya. Entah merasa bersalah, ataukah Bagas yang mulai mencintainya.


***


VisualšŸŽ


__ADS_1




__ADS_2