
Vian dan beberapa panitia, memberikan beberapa hadiah pada pemenang dan orang-orang yang sudah berpartisipasi.
***
"Acara telah selesai. Mari kita bersenang-senang!" Ucap Vian excited.
Music pun dinyalakan, berbagai minuman keras disediakan. Berbagai aktraksi dan seni Indonesia disuguhkan. Membuat kolega luar negeri kagum dan tidak ada rasa sesal, bekerja sama dengan pengusaha Indonesia.
Telebih Bagas pengusaha terkaya di Asia. Selain itu, dia sangat terkenal dan sukses diusianya yang masih muda.
Bagas kuliah selama 5 tahun, dan dia sudah lulus S3. Waktu yang sedikit itu, karena skripsi dan kecerdasannya yang melampaui batas.
Yang terkadang dapat mengalahkan dosen dan profesor. Membuatnya diberikan penghargaan untuk kuliah diwaktu yang singkat.
Di usia 23 tahun dia sudah merintis dari 0 perusahaannya. Dan Bagas mendapatkan penghargaan dari usahanya di usia 24 tahun. Dari sana Bagas terus berkembang menjadi pengusaha yang sukses.
Di usianya 25 tahun, hingga sekarang perusahaannya menjadi terkenal dan tersukses se-Asia.
Meskipun dingin dan tegas. Bagas memiliki hati yang lembut, dan senantiasa rendah hati kepada siapapun. Terkecuali, kepada orang yang merendahkannya.
"Vian, nanti gue bakal umumkan untuk melanjutkan festival ini di Yogyakarta. Dengan tetap pengembangan produk berjalan. Kita mengadakan beberapa kali festival, agar kolega kita tidak jenuh dan bosan berada di Indo." Jelas Bagas pada Vian.
"Okay. Gue setuju banget Gas." Jawab Vian.
***
Anya izin ke toilet. Dan Bagas tidak mengikutinya, karena Anya bersi keras agar Bagas tidak ikut dengannya. Karena dia hanya ke toilet.
"Mohon perhatian semuanya. Terima kasih atas partisipasi kalian semua, kolega kerja saya yang terhormat. Dan beberapa tamu undangan yang saya hormati juga."
"Saya berencana akan melanjutkan festival babak kedua di Yogyakarta. Tetapi, tetap dengan terus menjalankan kerja sama dalam pembuatan produk." Jelas Bagas menggunakan bahasa Inggris.
"Tuan!" Ucap salah satu kolega mengacungkan tangan.
"Iya?"
"Maksud tuan adalah, kita tetap membuat produk kerja sama kita. Tetapi, sesekali kita mengadakan festival lagi begitu?" Tanyanya.
"Iya begitu maksud saya. Agar tidak jenuh, dengan berbagai pekerjaan yang sedikit menguras otak. Sesekali, saya akan mengadakan kembali festival. Agar saya dapat mengenalkan budaya Indonesia yang beragam kepada kalian semua." Jawab Bagas tersenyum.
"Prok prok prok.." Semua orang bertepuk tangan senang.
Sementara itu*
"Brak brak brak..."
"Buka, tolong di luar ada orang?" Tanya Anya menggedor-gedor pintu.
"Brak brak brak.."
"Cekret." Seseorang membukakan kuncinya.
Dia menarik Anya kasar. Dan menjambak rambut Anya kuat, kemudian memasukkan kepala Anya ke wastafel yang dipenuhi air. Dia sengaja menyumbat salurannya, dan mengisinya dengan air.
"Blugbug blugbug.." Anya kehabisan nafasnya.
"Huah huah hahh.." Anya menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Kamu?" Tanya Anya.
"Iya ini saya. Puas kamu mengambil sesuatu yang seharusnya milik saya?" Tanyanya sangat marah.
Anya menepis kasar tangannya. "Saya sama sekali tidak ada urusan dengan kamu." Ucap Anya beranjak meninggalkannya. Namun...
Dia menjambak rambut Anya lagi. "Arrrghhh.." Ringis Anya.
"Mau sok? Lu sama sekali bukan tandingan gua!" Ucapnya melepaskan cengkraman di rambut Anya kasar. Hingga Anya terjerembab ke lantai.
"Bruuuggg.."
Anya segera berdiri, tidak ingin berdrama.
__ADS_1
"Jadi kamu ingin bermain kasar?" Tanya Anya di depan wajahnya.
"Plak.." Anya merasakan panas di pipinya.
Anya menatap tajam padanya. Ketika dia mengangkat lagi tangannya, Anya menahannya.
"Kamu pikir saya mudah ditindas hah?" Tanya Anya kesal.
"Plak.." Anya menampar kasar padanya.
"Lu! Berani-beraninya lu nampar gue?" Dia memberontak dan mencakar tangan Anya.
Kemudian mendorong Anya dan menginjak kaki Anya dengan haknya yang tinggi. Anya terjerembab ke ujung wastafel yang tajam. Membuatnya berdarah dibagian kepalanya.
Anya kembali berdiri. Dia ingin kembali menampar pipi Anya. Namun...
"Agggghh..." Dia terkejut tangannya ada yang menahan dari belakang.
"Bagas?"
"Mela!"
"Bagas! Dia menyerangku, lihat.." Ucapnya tak tahu malu, memperlihatkan pipinya yang sedikit merah.
Sedangkan Anya, di kaki, tangan, pipi, kepalanya banyak memar dan bahkan kepalanya berdarah.
Anya melipat kedua tangannya, sambil memutar bola matanya kesal.
"Heh.. bisa-bisanya ngadu kecentilan begitu!" Ucap Anya kesal.
"Kau!" Ucap Mela yang ingin menyerang Anya lagi.
Bagas menepiskan tangannya, dengan sangat kasar. Dan mengacuhkan Mela.
Bagas merangkul bahu Anya dan membawanya keluar dari toilet.
"Ayo, saya obati." Ucap Bagas lembut.
Bagas mengangkat satu tangannya pada Mela. Mengisyaratkan untuk tetap diam.
"Gas, ini aku! Kamu?" Ucapnya terhenti.
"Gue gak habis pikir sama lo. Lo kan sahabat gue, gue baru tahu. Lo punya sisi yang sangat kasar. Gue tahu lo yang ngunci Anya dan menganiaya Anya. Gue tadinya gak mau ngomong sedikit pun, karena lo pernah jadi sahabat gue."
"Tapi, lo gak tahu malu. Sekarang dan seterusnya, hubungan kita tidak ada apa-apa lagi. Meskipun hanya teman, apalagi sahabat." Jelas Bagas tanpa melihat Mela.
"Aarrrggghhhhh.... Sialan, Anya lihatlah pembalasan gue!" Teriak Mela setelah Bagas pergi.
***
Bagas membawa Anya ke Vila. Kali ini, sengaja dia menyewa vila bukan hotel. Bagas ingin memberikan hal yang baru untuk Anya.
"Tuan? Saya minta maaf, saya tidak ingin merusak hubungan tuan dan kak Mela. Tapi, karena saya-"
"Ssssstttttsss..." Bagas menghentikan ucapan Anya, dengan masih mengobati luka-luka Anya.
"Saya sama sekali tidak merasa hubungan saya dirusak, oleh kamu. Dia sendiri yang merusak hubungan kita." Ucap Bagas kemudian.
"Saya merasa tidak enak tuan." Ucap Anya menundukkan kepalanya.
"Jangan dipikirkan!"
"Ini kepala kamu kenapa sampai berdarah begini?" Tanya Bagas memperban kepalanya Anya.
"Saya terbentur ujung wastafel tuan."
"Dia yang dorong?" Tanya Bagas. Dan Anya mengangguk.
"Ini tangan kamu, dicakar?" Tanya Bagas lagi.
"Iya tuan. Bukankah dia seperti kucing?" Jawab Anya sambil sedikit bercanda.
__ADS_1
"Kucing terlalu imut, dia seperti harimau." Balas Bagas. Mereka pun tertawa renyah.
"Kamu juga juga ditampar?" Tanya Bagas melihat ujung bibir Anya berdarah.
"Iya. Saya membalasnya karena kesal. Tapi, dia malah memberontak." Jelas Anya.
"Saya melihat ada genangan air di wastafel. Jangan-jangan dia..?" Tanya Bagas terhenti.
"Iya, dia lelepin saya." Jawab Anya kesal.
"Lelepin?" Tanya Bagas tertawa kecil.
"Heheeehem... Eh maksud saya dia memasukkan kepala saya kesana. Saya sampai kehabisan nafas." Jelas Anya tertawa.
"Hmm saya mengerti. Terkadang kamu, memakai bahasa Sunda ya? Tapi, sedikit saya paham kok." Jawab Bagas tersenyum.
"Ini kaki kamu kenapa biru begini?" Tanya Bagas melepaskan sepatu Anya.
"Dia menginjak kaki saya. Mana high heelsnya tinggi banget." Jelas Anya mencontohkan cm nya dengan tangannya.
Membuat Bagas tertawa dan geleng-geleng kepala.
"Saya kira kamu introvert, tetapi kamu condong ke ekstrovert ternyata." Ucap Bagas tersenyum dan masih mengobati luka-luka Anya.
"Ah tuan. Saya itu introvert, karena tuan sangat menyeramkan." Ucap Anya terdiam.
"Apa? Memangnya saya setan?"
"Bukan setan. Tapi semacam iblis hahahah.." Jawab Anya tertawa.
"Kau!"
"Tidak tuan, saya bercanda. Tuan memang dingin dan tegas. Juga kejam, kepada orang yang mengusik tuan. Jadi saya mengerti." Jawab Anya.
"Baiklah. Sekarang kamu mau makan?"
"Tidak. Saya ngantuk." Jawab Anya sedikit menguap dan menutup mulutnya.
"Baiklah ayo tidur!"
"Tuan sudah makan?" Tanya Anya.
"Belum. Sebaiknya saya makan kamu!" Ucap Bagas menggoda Anya.
"Tuan!"
"Ya? Mau?"
"Jelas tidak. Vila ini besar. Sebaiknya kita pisah kamar." Jelas Anya.
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Sesuai kontrak. Karena kamu, sama sekali belum habis kontrak!" Ucap Bagas.
***
Visual🌸🌸🌸
Vila Bali💚💚💚
__ADS_1