
"Kamu kayak yang ngidam aja. Ini kan banyak tuh makanan buat di jalan." Jelas Bagas.
"Gak ada yang seger-seger itu bang."
***
"Bang.... Mau Rujak." Pinta Anya menuntut.
"Abang harus cari kemana Gel?"
"Kemana aja yang penting ada bang. Ini jadi mual lagi." Pinta Anya.
"Vian, searching dimana ada rujak di sekitar sini."
"Baik tuan." Jawab Vian patuh.
"Bang, saya mau abang yang cari. Abang yang beli juga. Bisa kan bang?" Pinta Anya.
"Permintaan kamu aneh banget sih!"
Anya cemberut. "Yaudah iya, abang yang searching sama abang yang beli nanti." Ucap Bagas mengalah.
Anya tersenyum lebar. "Itu baru abangku tersayang." Ucap anya mengecup sekilas bibir Bagas.
"Kurang lama sayang."
"Udah ah, kan belum dapet." Tolak Anya.
"Baek ada maunya!" Ucap Bagas manyun pada Anya. Anya hanya tersenyum menanggapinya.
"Di depan sono tuh Ian, ada rujak." Tujuk Bagas.
Vian pun mengangguk dan memarkirkan mobilnya. Bagas turun, dan Anya mengekor di belakangnya.
"Kok kamu turun sayang?" Tanya Bagas melihat Anya berjalan di belakangnya.
"Gak apa-apa, nemenin kamu bang." Jawab Anya tersenyum.
Anya memilih rujak jambu kristal dan rujak cingur atau rujak beraneka buah dan sayur.
"Abang suka rujak?" Tanya Anya setelah masuk ke dalam mobil, dengan rujak yang Bagas beli.
"Emm gatau, suka dikit mungkin." Ucapnya.
Anya memakan lahap rujaknya, Anya menawarkan pada Vian. Tapi Vian tidak suka rujak. Kemudian dia menyuapi Bagas. Alhasil Bagas lebih lahap daripada Anya.
"Kok jadi kamu sih bang yang ngabisin. Yang mau siapa yang makan siapa." Rengek Anya.
"Maafin baby, abisnya rujaknya enak banget. Nanti deh dibeliin lagi."
"Gak perlu, aku sekarang malah mau seblak." Ucap Anya kemudian.
"Dimana lah ada seblak, kamu tuh yah! Makan aja nih, bawaan yang udah disiapin. Sampe kita belanja ke supermarket kemarin." Jelas Bagas.
"Tuh bang! Itu seblak." Ucap Anya terbelalak melihat gerobak yang bertulisan seblak. Dan beberapa penjual kaki 5 di sampingnya.
"Vian berhenti di depan." Ucap Bagas.
"Baik tuan." Jawab Vian yang selalu patuh.
"Vian ayo turun, kita makan siang!" Ajak Anya.
"Sayang, kok malah Vian yang diajak?" Tanya Bagas cemburu.
"Abang kan pasti turun, kan mau beli seblak buat saya. Jadi, saya ajak Vian. Kasian dia harus ngisi perut dan istirahat kan." Jelas Anya santai.
"Yaudah deh, yok Vian!" Ajak Bagas akhirnya.
***
Anya memesan Seblak spesial, dengan semua topping. Sengaja dia memesan semua topping, karena tergiur ingin menyicipi semua toppingnya.
Bagas memesan bakso, sedangkan Vian memesan nasi goreng.
"Kamu suka banget sama seblak? Itu porsi berapa sih?" Tanya Bagas.
__ADS_1
"Emm suka banget. Dulu tuh dari masih sekola, sampe udah lulus pun hampir tiap hari saya makan seblak." Jelas Anya.
"Tapi itu yakin pasti abis?" Tanya Bagas melihat mangkok seblak yang metung.
"Pasti lah, sengaja saya pesen semua topping. Biar kenyang, sama biar ngerasain semua toppingnya." Jelas Anya yakin.
"Hmm bagus deh, takut mubajir nanti kalo gak abis."
Anya, Bagas, dan Vian menikmati makanan masing-masing. Di satu meja yang sama. Tiba-tiba..
"Sayang, nyomot dikit boleh ya!" Ucap Bagas meminta izin pada Anya.
"Boleh, tapi awas cuman nyomot. Jangan kek tadi rujak, sampe diabisin." Ucap Anya memperingati.
"Xixi maafin yah." Jawab Bagas nyengir kuda.
Satu suap masuk, cocok dilidah. Hingga suapan ke lima.
"Bang, beli aja napa. Nyomot terus punya saya." Ucap Anya kesal, melihat Bagas tak berhenti memakan seblak miliknya.
"Iya deh maaf." Jawab Bagas tersenyum kecut.
"Mas, mas pesen lagi ya, seblaknya satu. Yang pedes." Ucap Bagas memesan Seblak.
Setelah selesai makan, mereka pun melanjutkan perjalanan. Hingga tiba di bandara. Bagas sengaja menyiapkan pesawat terbang pribadi miliknya, dia ingin lebih leluasa dan nyaman.
"Tuh mobil tuan Bagas." Ucap salah satu karyawan Bagas.
"Oh iya." Jawab semua antusias dan senang.
Mereka menunggu Bagas sekitar 30 menit yang lalu, karena bis mereka tidak sering berhenti di jalan. Karena perjalanan ke bandara yang tidak terlalu jauh.
"Kalian nunggu lama?" Tanya Bagas, yang melihat ekspresi pada karyawannya.
"Hmm sekitar 30 menit tuan."
"Iya."
"Nggak juga tuan."
"Maaf ya lama, tadi kita beberapa kali berhenti di jalan." Jelas Bagas menggantung.
"Ada kendala tuan?" Tanya salah satu karyawannya.
"Iya, tadi istri saya muntah. Terus mau rujak, terakhir kita makan siang. Karena banyak pedagang kaki lima tadi di pinggir jalan." Jelas Bagas.
"Wah wah.. istrinya tuan hamil?"
"Lagi ngidam ya istrinya tuan?"
Tanya beberapa karyawannya.
"Loh kok kalian kepikiran ke sana?" Tanya Bagas.
"Kan tadi muntah sama mau rujak." Jawab salah satu karyawannya.
"Nggak kok, tadi saya cuman masuk angin aja." Jelas Anya.
"Yaudah yuk, kita naik pesawat." Ajak Bagas.
***
Akhirnya mereka pun sampai di Lombok. Disuguhi pemandangan yang indah dan sejuk. Pantai yang sangat mempesona, dengan Sunset di ujung pantai.
Pemandangan pantai Lombok pink, membuat mereka terpana. Mereka melihat suasana baru pantai, yang berwarna merah muda itu.
"Wow." Satu kata yang menggambarkan keindahannya. Mereka pun ke pantai berfoto ria.
Mereka semua speechless melihat pantai Lombok yang indah dan estetik ini.
"Kita ke villa dulu. Di sana villa saya, kita rapihkan dulu semua barang-barang yang kita bawa. Setelah itu, kita lanjut lagi main di pantai." Ajak Bagas pada semuanya.
Villa itu berlantai lima. Bagas memilih lantai paling atas, dan mengizinkan para karyawan di lantai bawah.
Sementara, Vian memilih kamar di lantai empat. Dia sengaja memilih kamar yang sepi, karena kebanyakan karyawannya Bagas memilih di lantai satu, dua dan tiga.
__ADS_1
Semuanya turun ke bawah, dan melanjutkan ke pantai. Pantai sangat indah di malam hari.
Dengan berbagai penerangan lampu yang mengkilap. Dan pemandangan yang begitu menarik.
"Sayang, kamu kenapa sih suka pantai Ancol. Kan pantai Bali, Lombok, Yogyakarta dan lainnya juga pada bagus." Tanya Bagas yang duduk di samping Anya, di tepi pantai.
"Kenapa ya, emm saya suka semua pantai. Yang di Indonesia maupun luar negeri, pokoknya tempat healing terbaik saya ya pantai."
"Tapi pantai Jakarta Ancol itu, memiliki historis tersendiri di hidup saya. Selain pemandangannya yang indah, banyak perusahaan-perusahaan menjulang tinggi di sekitarnya."
"Menambah keindahan, selain itu pemandangan kota di malam hari terlebih dekat dengan pantai itu sangat indah."
"Di pantai Ancol juga, saya memilik banyak kenangan manis di dalamnya, yang gak bisa saya lupain." Jelas Anya tersenyum berbinar saat menjelaskannya.
"Kenangan apa?" Tanya Bagas ingin tahu.
"Emm masa lalu yang tidak bisa saya lupakan." Jawab Anya.
"Masa lalu?"
"Ganti topik ya bang. Atau kita jalan-jalan?" Tanya Anya.
"Hmm yaudah jalan-jalan aja."
Setelah jalan-jalan di pinggir pantai. Anya berinisiatif mengajak Bagas naik perahu.
"Naik perahu yuk bang!" Ajak Anya.
"Mending naik kapal pesiar yuk!" Ajak Bagas menggenggam tangan Anya, dan membawanya berlari kecil.
"Punya abang?" Tanya Anya setelah naik kapal pesiar mewah.
"Hmm." Jawab Bagas mengangguk dan tersenyum tipis.
"Wah, saya bener-bener gak nyangka suami saya benar-benar kaya raya." Ucap Anya menggoda Bagas.
"Ah berlebihan kamu Gel!"
Hening...
"Foto yuk!" Ajak Anya memecah keheningan.
"Bentar, aku nyuruh dulu seseorang. Kebetulan ada temen saya yang suka foto-foto. Hasilnya bagus pula." Jelas Bagas.
Mereka pun berfoto ria. Hingga Bagas mengajak Anya untuk tidur di kapal pesiar miliknya. Yang difasilitasi dengan kamar yang romantis.
Anya pun hanya menurut, karena sangat menyukai nuansa laut dengan ombak yang terus terombang-ambing.
Anya dan Bagas merebahkan tubuh mereka. "Bang indah ya bulan sama bintang-bintangnya kelihatan." Ucap Anya menujuk ke atas, dimana kaca transparan itu terlihat tanpa penghalang.
"Iya, sengaja saya mendesain seperti ini. Agar bisa melihat indahnya langit malam, disinari oleh rembulan dan bintang-bintang." Jelas Bagas.
"Persis seperti salah satu impian saya." Jelas Anya.
"Tentu saja, di kapal pesiar melihat pemandangan malam bersama orang yang kamu cintai bukan?" Tanya Bagas tersenyum penuh arti.
"Kok abang tahu?" Tanya Anya tak mengerti.
"Hmm.." Bagas tersenyum tipis.
"Jangan bilang, abang yang mencuri diary saya?" Tanya Anya ngegas.
"Saya gak nyuri!" Sanggah Bagas.
"Terus?"
"Saya tidak sengaja menemukannya, dan saya membacanya. Di halaman terakhir, ada beberapa momen yang kamu inginkan, bersama orang yang kamu cintai atau suami kamu kelak. Jadi saya mencoba untuk mengabulkannya satu persatu." Jelas Bagas.
"Abang! Saya kan malu!" Ucap Anya yang pipinya sudah merona.
***
Visual🍁🍁🍁
__ADS_1