
Mengumpulkan berbagai jenis sampah dari berbagai negara yang berbeda-beda pula.
***
Di tambah di acara festival nanti, mereka akan mengadakan pesta dan praktek untuk pengambilan sampah yang tergeletak dimana-mana.
Bagas pun akan mengadakan seminar untuk menjelaskan betapa bermanfaatnya sampah, dan betapa berakibat buruknya sampah jika dibiarkan terus menumpuk.
Bagas mengadakan give away. Untuk mereka yang paling banyak mengumpulkan sampah. Bagas ingin mereka semua mengenali jenis sampah dan memisahkannya.
Hadiahnya mendapatkan berbagai peralatan yang terbuat dari sampah. Dan produk itu asli dibuat oleh perusahaan Bagas.
Acara tersebut Bagas beri nama 'trash can become crystals'. Ini melambangkan juga dari nama perusahaan Bagas yaitu Dream Khristal Jaya.
"Tuan, bolehkah saya bertanya. Apakah ada makna tersendiri dari nama perusahaan tuan?" Tanya Anya ragu.
"Hmm. Tentu saja." Jawab Bagas tersenyum.
"Jika boleh tahu, apa itu?"
"Dream Khristal Jaya. Yang artinya mimpi saya, tetapi juga memiliki makna mimpi menjadikan dunia ini menjadi kristal yang indah dan berkilau, juga berharga."
"Sampah sering dinilai sebelah mata. Kotor dan tak bernilai. Jadi, saya ingin mengubah asumsi itu." Jelas Bagas.
"Bagus sekali makna dan artinya tuan. Apakah tuan sendiri yang menamai dan memaknainya?" Tanya Anya.
"Tentu saja saya sendiri. Kamu tahu tidak, perusahaan saya akan menerima siapapun yang melamar kerja dan tentu saja sesuai profesi."
"Saya sangat sensi kepada sekertaris, karena ada kejadian yang sangat saya benci kala itu. Yang dilakukan oleh beberapa sekertaris pribadi saya."
"Apa itu tuan?"
"Secret." Jawab Bagas tersenyum.
"Hmm baiklah."
"Jika kamu mengunjungi pabrik dari pembuatan ini. Ada beberapa yang masih segar dan bugar. Ada juga yang usianya tidak muda lagi."
"Dan ada juga yang tunawisma. Kamu hanya melihat sekeliling kantornya saja, jadi semuanya terlihat sehat dan elegan." Jelas Bagas lagi.
"Emm.. saya sangat penasaran dan ingin mengunjunginya." Jawab Anya antusias.
"Besok, setelah saya menetapkan posisi kamu di festival nanti. Saya akan membawa kamu ke sana." Jelas Bagas.
"Bukankah saya hanya membuat puisi dan membacakannya?" Tanya Anya.
"Bukan. Itu hanya sampingan dari acara tersebut. Itu hanya have fun, tetapi memberikan pencerahan kepada semua yang hadir. Agar mereka mengambil pelajaran dari acara yang adakan."
"Puisi itu seperti makna tersurat, dari acara saya. Karena banyak makna tersirat, bukankah seharusnya kita juga menjelaskan sedikit makna tersurat?" Jelas Bagas.
"Ohh.. baiklah, saya harap posisi tersebut dapat sesuai dengan saya." Jawab Anya.
"Bagaimana sudah mengerti dengan isi proposal itu?" Tanya Bagas kemudian.
"Lumayan tuan. Emm mengapa acara festival ini diberi nama 'trash can become crystals'?" Tanya Anya.
"Kamu tahu artinya?" Tanya Bagas.
"Ya, 'sampah bisa menjadi kristal'." Jawab Anya.
"Iya memang sampah bisa menjadi kristal. Jika kita melakukan riset dan mendaur ulang limbah tersebut." Jawab Bagas.
"Emm... Saya juga menyetujui pendapat tuan. Tetapi, kenapa kristal yang dibuat sebagai perumpamaan?"
__ADS_1
"Karena itu nama saya." Jawab Bagas bangga dan menyombongkan diri. Mengangkat kedua bahunya, sambil berekspresi angkuh.
Anya memalingkan wajahnya dan mendelik muak.
"Hei! Jangan berekspresi seperti itu. Seakan-akan muak pada saya!"
"Memang iya."
"APA?"
"Tidak tuan, saya sudah memikirkan puisi yang cocok untuk festival nanti." Jelas Anya.
***
Di malam hari, Bagas dan Anya ke kantor. Vian dan beberapa karyawan juga ikut kerja lembur. Suasana kantor sepi, dan tidak banyak karyawan yang lalu-lalang. Di sekitar kantor.
Vian menyiapkan beberapa file di ruangan pribadinya. Sedangkan Bagas dan Anya berada di ruangan pribadi Presdir.
Anya membaca puisi yang sudah dia buat. Dan sedikit merevisinya. Anya mengetik semua puisinya ke word. Lalu, ia kirimkan lewat email kepada Bagas.
Bagas membacanya dan sangat kagum dengan isi tersebut. Bagas kemudian mentranslatekannya ke bahasa Inggris.
"Angel! Kamu membuat ini tanpa melihat referensi ataupun nyontek ke google?" Tanya Bagas.
"Tentu saja. Saya membuatnya sendiri, dengan pikiran saya tentunya." Jawab Anya.
"Kamu tidak menyukai referensi?"
"Tidak. Tetapi, jika sedang mumet sesekali pernah." Jawab Anya.
"Bagus. Saya menyukainya, dan besok mari kita berlatih." Ajak Bagas.
"Hmm terima kasih tuan, atas pujiannya. Besok bukankah kita akan ke pabrik?"
"Emm baiklah." Jawab Anya.
"Emm.. Angel!"
"Ya?"
"Bisa tolong ambilkan berkas saya?" Tanya Bagas.
"Iya tuan, bisa."
"Saya ingin memanggil Vian, tetapi dia juga sedang sibuk. Dan saya harus segera menyelesaikan masalah ini." Jelas Bagas.
"Iya baiklah, tidak masalah."
"Ke lantai ini. Dan ruangan ini, dengan nama Boni. Dia HRD saya. Kamu tahu bukan?"
"Em iya, sepertinya ini kak Boni yang saya kenal juga." Jawab Anya.
"Ah benarkah?" Tanya Bagas.
"Belum tentu." Jawab Anya kemudian.
"Baiklah hati-hati." Ucap Bagas.
"Kan masih di kantor tuan." Jawab Anya.
"Hati-hati ada yang mengikuti." Goda Bagas menakuti Anya.
"Hmm. Gak lucu." Ucap Anya kesal. Dan meninggalkan Bagas.
__ADS_1
***
Sesampainya di sana, Anya mengetuk pintu. "Tok tok tok. Permisi pak, saya-" Ucap Anya terhenti.
"Masuk!" Jawab Boni.
"Saya ingin membawa-"
"Pak Bagas sudah memberitahu. Ini berkasnya." Ucap Boni, lagi-lagi memotong perkataan Anya.
Mereka masih belum saling bertatapan.
"Terima kasih pak." Ucap Anya.
"Tunggu! Anya!" Ucap Boni sontak terkejut dan berdiri.
"Emm kak Boni?" Tanya Anya.
"Kamu bekerja di sini?" Tanya Boni.
"Em tidak, em iya." Jawab Anya bingung.
"Braakk.." Pintu dibuka kasar.
"Pak Bagas?" Tanya Boni.
"Tuan?" Tanya Anya.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Bagas.
"Em maaf tuan." Jawab Anya terhenti. Bagas menarik tangan Anya dan membawanya keluar.
Padahal Boni ingin menanyakan beberapa hal penting.
"Saya takut kamu diculik dedemit. Dan berkas ini sangat penting, dan diperlukan secepatnya. Kamu malah leha-leha." Ucap Bagas setelah di dalam lift.
"Maaf tuan. Saya tadi ingin segera pergi, tapi pak Boni menahan saya." Jawab Anya.
"Huuuh sudahlah. Ayo!" Ucap Bagas, setelah pintu lift terbuka.
Semuanya menyelesaikan pekerjaan masing-masing.
Anya menunggu Bagas terlalu lama, sehingga membuatnya bosan. Kemudian dia memutuskan untuk menonton drama Korea kesukaannya.
Hingga 00:00 tengah malam.
Akhirnya semua pekerjaan Bagas selesai.
Anya tertidur di sofa dengan posisi duduk di lantai, dan menyandarkan kepalanya ke sofa. Hp nya masih menyala, dan menayangkan adegan ciuman.
Bagas tersenyum nakal. "Hmm.. bocah ini suka film romantis dan ber-genre seperti ini." Ucap Bagas mematikan hp Anya.
Bagas menggendong Anya ke kamar, di ruangan kerja Bagas. Kemudian mereka tidur bersama di sana.
Tadinya mereka tidak berniat tidur di kantor. Namun, Anya tertidur pulas. Membuat Bagas, menggurungkan niatnya untuk pulang.
***
Visual🏵️🏵️🏵️
__ADS_1