Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 40 - Mengobati


__ADS_3

Seburuk apapun Bagas, dia tidak pernah melawan orang tuanya. Meskipun, sering bertindak tidak sopan pada mereka.


***


Sementara itu, Bagas langsung ke kamar Anya. Erik dan Yara terkejut. "Gas? Biar gue obati." Ucap Erik kemudian.


"Kalian pulanglah, Anya sudah diperiksa?" Jawab Bagas.


"Sudah. Ini salep, dan obatnya." Ucap Erik.


"Ok, pulanglah. Nanti gue transfer seperti biasa." Ucap Bagas.


"Gas, bukan itu yang gue minta. Gue obati dulu ya." Ucap Erik khawatir.


"Gak perlu, gue lagi pengen sendiri. Gue gapapa, udah biasa. Sono pulang!" Pinta Bagas.


"Yaudah Gas, kita pamit." Ucap Erik pamit, Yara hanya tersenyum tipis.


Bagas menatap wajah Anya serius, dia mengingat-ingat perkataan para ART- nya. Ternyata memang benar, kehadiran Anya dapat merubah banyak hal.


"Gue udah cinta banget sama Angel? Gak, gak mungkin. Ini cuma, karena gue iba." Jawabnya cepat.


"Hmmm..." Anya terbangun dan membuka matanya perlahan. Dilihat sekitarnya, terlihat asing.


"Sudah bangun?" Tanyanya dingin.


"TUAN? Tuan kenapa, ini kenapa tuan?" Tanya Anya kaget, dan memegangi pipi Bagas spontan.


"Aaisshh.." Ringisnya.


"Ah maaf tuan, biar saya obati." Ucap Anya beranjak dari tempat tidur. Dan mencari kotak P3K, sedangkan Bagas masih duduk di tepi ranjangnya.


"Ah ini dia." Ucap Anya setelah menemukannya, di nakas.


"Tuan?"


"Hmm.."


"Bolehkah saya mengobatinya?" Tanya Anya memastikan.


"Tidak."


"Kenapa tuan?"


"Kamu tidak melihat luka pada tubuhmu?" Tanya Bagas kesal.


"Emm.. sudah tidak apa-apa tuan, tidak perlu khawatir." Jawab Anya tersenyum.


"Khawatir? Kamu pikir saya khawatir?" Sanggah Bagas.

__ADS_1


Hening..


"Saya hanya ingin menegaskan, lindungi dulu diri sendiri. Baru orang lain!" Ucap Bagas dingin.


Anya seakan mengacuhkan perkataan Bagas. Dia membuka kotak P3K itu, dan mulai mengobati Bagas. Yang anehnya lagi Bagas menerimanya, tanpa menolak sedikit pun.


"Tuan, bolehkah saya bertanya?"


"Hmm?"


"Ini kenapa?" Tanya Anya.


"Papah, dia memukul saya." Jawab Bagas apa adanya.


"Bukan karena saya kan tuan?" Tanya Anya, takut.


"Memangnya karena siapa lagi?" Jawab Bagas ambigu.


"Maksud tuan?"


"Papah meminta menjelaskan apa hubungan saya dan kamu. Ketika para ART saya tidak ada yang menjawab, papah memukul saya." Jelas Bagas.


"Tuan. Maafkan saya, seharusnya memang dari awal saya tidak menyinggung tuan." Jelas Anya.


"Dan perihal di hotel itu. Sebenarnya saya ikut dengan kakak, karena menunggu beliau lama. Dan saya tidak tahan untuk ke toilet. Jadi, saya buru-buru."


"Saya ingin bertanggung jawab, dan menjelaskan. Tentu saja kata maaf tidak cukup, tapi saya terlanjur kebelet. Jadi, saya ke toilet dulu."


"Ketika saya kembali, tuan sudah tidak ada di sana. Bahkan, kakak saya ingin bertanggung jawab pun. Tuan tidak mau." Jelas Anya lagi.


"Hah.. kenapa baru menjelaskan sekarang? Lagi pula, sekarang kamu sudah berada di perangkap saya. Jadi, sangat sulit untuk keluar begitu saja." Jelas Bagas.


***


Anya dan Bagas sedang masa pemulihan. Mereka saling merawat satu sama lain.


"Tuan hari ini akan ke kantor?" Tanya Anya khawatir.


"Iya. Hari ini saya ada meeting, yang sangat penting." Jawab Bagas.


"Mengenai apa tuan?" Tanya Anya penasaran.


"Meeting, mengenai acara festival babak 2 nanti. Di Yogyakarta, semua karyawan yang saya pilih. Telah menyiapkan beberapa ide nya, jadi saya harus memilih langsung. Ide siapa yang paling bagus." Jelas Bagas.


"Tidak bisakah tuan, hanya memeriksa proposalnya saja?" Tanya Anya.


"Tentu saja tidak. Saya mesti melihat, cara mereka menyampaikan presentasi mereka bagaimana. Dan saya harus mengajukan pertanyaan secara langsung pada mereka. Dan perkembangan apa nantinya yang terjalin, jika ide mereka dipilih." Jawab Bagas menjelaskan.


"Kalo begitu saya juga harus ikut." Pinta Anya.

__ADS_1


"Mengapa?"


"Karena saya, juga akan memberikan proposal untuk pengajuan tersebut." Jawab Anya yakin.


"Maksud kamu?"


"Saya sudah menyiapkan proposal untuk festival babak 2. Karena saya sangat menyukai festival ini, demi kebersihan dan kesehatan lingkungan kita."


"Demi kemajuan negara kita, banyak manfaat yang terkandung dalam festival ini. Maka dari itu, saya ingin berpartisipasi penuh." Jelas Anya.


"Kamu jangan bercanda Angel!" Ucap Bagas tak percaya.


"Tentu saja saya serius. Apakah pantas, saya bercanda mengenai hal ini?"


"Lantas?"


"Saya serius tuan!" Ucap Anya meyakinkan.


"Angel. Saya sedang menyiapkan segalanya dengan matang. Jika itu semua, kamu lakukan karena merasa iba. Dengan luka yang saya alami. Maka urungkan niatmu itu!" Ucap Bagas tegas.


"Tuan!"


"Angel! Yang harus kamu khawatirkan adalah, diri kamu sendiri. Bagaimana keadaan kamu sekarang."


"Lihatlah! Memar dan darah kamu masih basah, di sekujur tubuh kamu itu." Pinta Bagas melihat Anya dari atas sampai bawah iba.


"Tuan, tidak sepantasnya tuan berkata demikian. Luka yang tergores ini, ditorehkan oleh tuan sendiri." Ucap Anya kecewa.


"Sudahlah. Lebih baik kamu keluar sekarang." Pinta Bagas.


Bagas tidak ingin dikasihani. Terlebih, oleh orang yang dia cintai. Namun, perkataannya pun telah menorehkan luka, pada Anya. Bagas terlanjur salah paham dengan apa yang Anya katakan.


"Baik. Saya akan keluar! Tetapi, lihatlah dulu proposalnya!" Pinta Anya kekeh.


Anya menyimpan proposalnya. Kemudia keluar dari ruang kerja pribadi Bagas. Dia teramat kecewa, dia memutuskan untuk pergi ke lantai 1. Membantu bi Inem memasak.


Bagas membuka dan membaca proposal yang Anya simpan di meja kerjanya. Bagas melihat kepergian Anya, yang diliputi rasa kecewa. Bagas pun memijat keningnya, pusing dengan apa yang terjadi.


"Dia ternyata telah bekerja keras. Dan sangat berniat untuk berpartisipasi dalam festival tersebut, tapi gue terlalu bawa perasaan."


"Membuat kesalahpahaman ini, memperkeruh keadaan saja." Ucapnya menyesal.


***


Visual 🌼🌼🌼



__ADS_1


__ADS_2