
"Kamu itu sebenernya bekerja apa sih?" Tanya Bagas disela dia menyarap sarapannya.
"Saya tuan?" Tanya Anya.
***
"Siapa lagi!"
"Saya hanya pengacara tuan." Jawab Anya datar.
"Pengacara?" Tanya Bagas tak mengerti. "Mana mungkin si Angel ini menjadi pengacara?" Batinnya.
"Pengangguran banyak acara. Hehe" ucapnya tak serius.
Bagas menahan tawanya. Karena wibawanya tidak boleh jatuh di hadapan Anya, alhasil dia hanya tersenyum smrik.
"Kau! Jawab apa pekerjaan mu?" Kesal Bagas.
"Emm saya dulu pernah magang tuan, cuma beberapa bulan saja. Setelah itu, saya menjadi pengasuh tuan." Jelas Anya pasrah.
"Ah akhirnya kamu mengakui juga, sebagai pengasuh saya." Jawab Bagas senang.
Anya tersenyum miris.
"Ayo!"
"Anya itu siapa sih?" Tanya salah satu ART -nya Bagas.
"Gak tahu, dia pacarnya atau apa?" Tanya yang lainnya.
"Dia pengasuh nya, tidak dengar tadi?" Jawabnya.
"Bagaimana mungkin, seorang pengasuh bisa merubahnya sedrastis ini." Tanyanya heran.
"Iya, dan semalam saya lihat mereka berenang dan bersanda gurau." Jelas salah satu yang lainnya.
"Saya juga lihat waktu itu, Anya memiliki banyak tanda merah di lehernya."
"Yang lebih parah, semalam saya lihat den Bagas cium. Em kasih nafas buatan padanya."
Ucap beberapa ART-nya Bagas yang sibuk bergosip.
"Hei! Bekerja, kalian mengapa bergunjing seperti itu! Kalo den Bagas dengar bagaimana?" Ucap bi Inem. Menjadi penengah yang baik.
Semuanya pun kembali bekerja.
***
Sepanjang perjalanan Anya yang di samping Bagas, hanya terdiam. Merasakan sekujur tubuhnya panas dingin.
"Sudah sampai tuan!" Ucap supir pribadi Bagas , membukakan pintu mobilnya.
"Ayo!" Ajak Bagas dingin.
"Ba-baik tuan."
Semua karyawan menyambut kedatangan Bagas. Ada yang menyapa, tersenyum, dan menundukkan kepalanya tanda hormat.
Tetapi, dibalik itu para karyawan memandang Anya jijik dan merendahkan Anya. Menatapnya tajam, dan berbisik menjelekkannya.
Tentu saja Anya merasakannya, tak terkecuali Bagas. Namun, dia terlihat acuh padanya.
"Lihat deh, itu Anya yang kemarin melamar sebagai sekertaris itu kan?" Ucap salah satu karyawan Bagas.
"Iya dia lulusan SMK. Tapi, katanya pintar." Jawab yang lainnya.
__ADS_1
"Kata si Cika dia menodai pak Bagas. Makanya pak Bagas menghentikan interview kemarin, dan meminta pertanggungjawaban darinya."
"Ah benarkah?"
"Iya, Cika kemarin mendengar perbincangan mereka, ketika dia ingin memberikan segelas Hot chocolate."
"Wah benar-benar wanita hina."
Beberapa Gunjingan para karyawan, yang terdengar. Ketika Anya sudah melewati mereka. Tetapi, masih terdengar di telinga. Entah sengaja atau bagaimana.
"Khemm..." Dehem Vian melewati karyawan yang sedang bergunjing. Semuanya kaget dan tersenyum pada Vian.
***
"Tuan saya sudah membuat jadwal meeting hari ini dengan Clint dari Jerman." Ucap Vian pada Bagas.
Vian selalu menghargai dan menghormati Bagas , ketika di kantor. Lebih tepatnya di depan karyawan. Tidak berprilaku seperti selayaknya teman dekat.
"Baiklah. Atur semuanya!" Jawab Bagas, yang juga profesional.
"Gas, lu minum miras?" Bisik Vian di telinga Bagas.
"Kenapa?" Jawab Bagas, bertanya balik.
"Sepagi ini? Lu gila? Kita mau ketemu Client loh ini." Tanya Vian terkejut.
"Lu tangani seperti biasa, gue ada urusan lain." Jawab Bagas santai.
"Baik bos."
"Ah iya, siapa mata-mata yang ada di rumah gue?" Tanya Bagas, setelah mereka sampai di ruangan Presdir.
Setelah sampai di ruangannya, Bagas meminta Anya mengikutinya dan menutup pintu.
"Cika. office girl pribadi lu!" Jawab Vian, setelah duduk di sofa. Sedangkan Bagas, duduk di kursi kerjanya.
"Iya Gas, ternyata setelah selesai kerja di kantor. Dia jadi ART lu di sana. Menyamarkan dirinya." Jelas Vian sedikit emosi.
"Jadi siapa?" Tanya Bagas lagi.
"Jadi Cika tetep. Tapi penampilannya yang dia rubah." Jawab Vian santai.
"Gue kenapa ga nyadar yah." Binggung Bagas.
"Emang bego." Ucap Vian tanpa filter.
"APA!" Teriak Bagas, tak terima.
"Gak papa bro, santei. Lebih parahnya lagi, dia bergosip tentang Anya." Jelas Vian.
Seketika, Anya menatap Vian.
"Apa? Apa yang dia gosipkan?" Tanya Bagas tak sabar.
***
"Waktu itu, dia mau ngasih lu hot chocolate, tapi gak sengaja nguping pembicaraan Lo sama Anya. Katanya lu minta pertanggungjawaban Anya, dan dia ngira Anya macem-macem ke Lo!" Jelas Vian.
"Maksud Lo, Anya perkosa gue gitu?" Tanya Bagas memperjelas.
Anya menatap tajam pada Bagas. Bagas hanya tersenyum smrik.
"Ya mungkin dia ngiranya gitu. Tapi, yang lebih parah barusan dia gosip lagi. Anya di bawa ke rumah Lo, padahal Lo tahu kan, kalo rumah itu."
"Rumah rahasianya Lo. Dia menceritakan semua kelakuan Lo sama Anya selama di sana. Dia benar-benar mantau Lo." Jelas Vian geram.
__ADS_1
"Apa yang dia ceritakan?" Tanya Bagas, tak kalah geram.
"Pertama, saat pertama kali Lo bawa orang asing ke rumah Lo. Yang padahal semua kerabat lo aja gak tahu." Jelas Vian pelan-pelan dan detail.
"Kedua, Lo nyuruh bi Inem bawa air es seember. Yang dia kira Lo bakalan enak-enak sama Anya."
"Yang ketiga, dia liat Lo nyiram Anya pake air es itu. Dan Lo buka bajunya Anya dan bercumbu di kamar Lo, lebih tepatnya di ruang ganti." Jelas Vian sedikit excited.
"Ke empat, dia liat Lo berenang malem-malem sama Anya. Bersanda gurau, ngasih nafas buatan ke Anya pas tenggelam, dan ngajarin Anya renang."
"Kelima, Lo sarapan masakan Anya. Padahal sekalipun Lo ga pernah nyentuh masakan rumah, dimana pun itu."
"Meskipun menunya sama, lebih parahnya Lo menghabiskan makanan itu dengan anggur merah yang lu teguk habis. Dilayani oleh Anya, dan lu gamau dilayani ama ART lain."
"Segitu aja sih, yang gue tau. Gue sengaja deketin dia, buat ngungkapin semuanya. Awalnya gue liat gerak-geriknya yang mencurigakan. Gue ikutin, dan berhasil." Jelas Vian panjang lebar.
"Benar-benar penguntit yang berbahaya. Dia bukan hanya memberikan informasi pada majikannya, tapi menyebar luaskan berita itu, yang menurut kesimpulan dia sendiri." Ucap Bagas geram.
"Apa yang harus gue lakuin ke dia?" Tanya Vian tak sabar.
"Gue punya ide." Ucap Bagas cerdik.
***
Untuk menghukum penguntit yang menyebabkan Bagas teracam, dan Anya dipermalukan. Bagas sudah merancang rencana hebat.
"Setelah gue perhatiin, dan gue pancing biar dia cerita. Ternyata dia suka sama Lo Gas. Makanya, dia deketin ortu Lo!" Jelas Vian pada Bagas.
"Seriously?" Tanya Bagas tak percaya.
"Iya. Lu tahu kan, nyak lu pasti nerima dia karena memberi info penting tentang Lo." Lanjut Vian.
"Iya juga sih. Tapi, masa nyokap gue gak nyadar sih?"
"Nyokap lu emang nyadar, yakali dia gak nyadar. Tapi, dia memanfaatkan keadaan ini." Jelas Vian peka.
"Yaudah skip. Sekarang, gue mau bikin rencana cemerlang nih." Jelas Bagas memberikan kode dan menjelaskan setiap inci dari rencananya.
"Oke, sekarang gue udah paham." Jawab Vian, setelah mendengarkan Bagas dengan cermat.
"Bawa Cika ke apartemen gue, yang di Jakarta!" Pinta Bagas tersenyum smrik.
"Oke!"
"Anya, kamu juga ikut saya!" Ajak Bagas, menatap Anya yang hanya menyimak mereka.
"Tapi, apa tugas saya tuan?" Tanya Anya, tak mengerti.
"Ya membantu recana saya berjalan mulus!" Jawab Bagas ketus.
Bagas menjelaskan apa yang harus dilakukan Anya, dengan rinci. Anya paham, dan mengikuti arahan Bagas.
"Vian, lu kirim pakaian pelayan caffe yang waktu di Itali!" Pinta Bagas, tersenyum nakal.
"Ah siap!" Vian manggut-manggut mengerti.
***
visualš¤
__ADS_1