
Bagas memeluk Anya dari belakang, mencium bau tubuh Anya yang wangi kalem dan yang khas.
***
"Kenapa bibir kamu monyong begitu?" Tanya Bagas memperhatikan raut wajah Anya.
"Tidak." Jawab Anya berjalan ke arah kamar mandi.
Menyikat gigi dan mandi. Bagas menunggu Anya di depan pintu kamar mandi.
"Aggghhhh.. tuan mengagetkan saya!" Teriak Anya.
"Hhmm sedang bertapa kamu?"
"Tidak."
"Lama sekali."
"Mengapa tuan tidak mengetuknya dan menyuruh saya keluar?"
"Sudah." Jawab Bagas berbohong.
"Tapi tidak ada suara."
"Ya bertapa memang harus fokus." Jawab Bagas, masuk ke dalam.
"Hmm.."
Setelah Bagas selesai mandi. Bagas mengajak Anya berjalan-jalan dan menikmati kota Bali bersama.
"Em tuan!" Panggil Anya tersenyum manis.
"Hmm?"
"Tuan ingin tahu sesuatu tidak?" Tanya Anya tersenyum.
"Ya?"
"Ketika usia saya 7 tahun. Saya selalu ingin ke pantai Bali, berlibur dengan ayah, bunda dan juga kakak." Jelas Anya menundukkan kepalanya.
"Lalu?"
"Tetapi semua keinginan itu hancur. Ketika usia saya 8 tahun." Lanjut Anya murung.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kedua orang tua saya sering bertengkar. Beda dengan bertengkar seperti biasanya, bahkan mereka sering bertengkar dan melakukan kekerasan satu sama lain, di depan saya." Ucapnya berkaca-kaca.
"Setelah itu, apa yang terjadi?" Tanya Bagas mulai khawatir.
"Saya selalu melarang mereka bertengkar. Terlebih, ketika di depan saya. Kakak saya berusia 13 tahun kala itu. Tentu saja, dia belum pulang sekolah. Dia tidak banyak tahu, karena kakak saya cenderung introvert." Jelas Anya.
"Apa semua itu membuat kamu trauma?"
"Tentu saja. Saya mengira, setelah bertahun-tahun lamanya. Bahkan sudah lebih dari 10 tahun lamanya. Saya akan baik-baik saja."
"Namun ternyata semuanya sama. Masih sakit, dan terus bertambah. Semakin saya banyak melihat keharmonisan orang lain dengan ayahnya, dan keluarga lengkapnya. Itu membuat saya sesak." Ucapnya terisak.
Bagas membawa Anya duduk, di tepi pantai. Di kursi yang terhalangi dengan rimbunnya pepohonan.
"Kamu boleh melanjutkan semua cerita kamu!"
"Hiks.. Saya ingin semuanya kembali seperti semula. Saya tahu, keluarga saya memang sangat sederhana dan serba berkecukupan."
"Meskipun begitu, saya menginginkan mereka rujuk kembali. Tetapi semuanya sirna. Ketika usia saya 10 tahun. Saya mendapat kabar, kalo ayah saya sudah menikah lagi. Dengan janda beranak dua."
"Saya ingin menutup mata dan telinga. Saya belum siap mendapat kabar buruk itu. Dan yang lebih parahnya, setelah satu tahun mereka bersama."
"Mereka memiliki seorang putri. Dan tuan tahu, apa yang dia katakan. Yang hingga saat ini masih menyakiti saya?" Lanjut Anya.
"Apa?"
Bagas memeluk Anya hangat.
"Dari semua itu, ada hal yang paling saya sesali dan sakit yang tidak bisa terobati." Lanjut Anya melepaskan pelukannya dan menatap langit.
"Apa?"
"Bahwa di usia saya yang menginjak 16 tahun. Bunda saya mengatakan bahwa, saya bukanlah anak yang diinginkan. Saya sudah pernah digugurkan dan gagal. Hiks.." Jelas Anya menutupi tangisnya dengan kedua tangannya.
Bagas terkejut, dan memeluk Anya.
"Bunda memang sering mengatakan banyak hal menyakitkan. Seperti, saya adalah bebannya. Saya adalah anak tak diinginkan. Dia ingin membunuh saya." Jelas Anya.
"Dan banyak kata-kata kasar. Bukan hanya itu, ketika saya masih kecil. Saya sering menerima pukulan dan siksaan kasar darinya. Hingga saya sering kabur dan bersembunyi."
"Ketika uwa saya belum meninggal. Saya juga sering mengindap di rumahnya tanpa pamit. Tetapi, sekarang sudah tidak ada lagi pelarian." Keluh Anya.
"Ketika masih kecil, saya sering menangis sendiri di kamar sambil memeluk foto ayah. Dan terkadang saya menelepon dan mengadu padanya. Tetapi, setelah ayah menikah. Saya menghentikan kebiasaan itu."
"Sakit. Sangat sakit rasanya, sampai-sampai saya merasa tidak hidup dan tidak mati." Lanjutnya menahan sesak.
__ADS_1
"Keluarkan semuanya Angel! Katakan semuanya!" Ucap Bagas mengelus kepalanya.
"Ketika ayah dan bunda berjualan ke hiburan. Saya tidur sendiri dan memeluk pakaian mereka. Dengan begitu saya merasakan kehadiran mereka."
"Terkadang, saya ikut berjualan dengan mereka. Meskipun saya harus tidur di dalam lemari kompor yang sempit dan panas. Tetapi, saya merindukan itu semua. Daripada kesepian begini, dan komunikasi kita yang kurang."
"Saya tidak mempercayai, bahwa ketika bunda mengatakan saya pernah digugurkan itu adalah nyata. Tetapi, beberapa bulan dari itu."
"Ketika saya dan kakak saya, jalan-jalan bersama ayah. Ayah tiba-tiba mengatakan hal yang sama. Meskipun bunda mengatakan pergi ke dokter dan diberi obat. Namun, tak ingin dia minum."
"Dia menolak meminumnya dan membuang obat penggugur kandungan tersebut di toilet. Karena itu adalah keinginan ayah."
"Bunda mengatakan itu, karena saya sering membela ayah. Karena saya cenderung dekat dengan ayah. Sedangkan kakak, cenderung dekat dengan bunda."
"Tetapi... ayah mengatakan hal serupa. Ayah mengatakan dulu saya pernah digugurkan ke dukun beranak. Tetapi, tidak berhasil. Dan saya tidak menanyakan alasannya. Tentu saja mereka pasti menyalahkan satu sama lain."
"Saya tidak mempercayai mereka, karena sekejam-kejamnya mereka. Mereka tidak menganggap saya anak yang harusnya gugur. Meskipun, banyak perkataan dan tindakan bunda yang mengarah ke sana."
"Apa semua ini membuat kamu tenang?" Tanya Bagas lembut.
"Ya. Tentu saja, saya lebih tenang dan bersyukur. Mereka mengatakan kenyataan bahwa, saya bukan anak yang diinginkan dan pernah digugurkan." Jawab Anya.
"Tetapi, bunda selalu mengatakan.. saya anak yang dia inginkan. Tetapi, mengapa dia melakukan hal itu?" Tanya Anya.
"Saya bukan anak haram.." Ucap Anya menangis sejadi-jadinya.
Bagas memeluk erat Anya. "Angel, dengarkan saya. Semuanya akan baik-baik saja. Semua kesakitan yang kamu rasakan. Bahkan di awal orang tua kamu tahu, bahwa kamu ada. Mereka sudah ingin menyakiti kamu."
"Dan banyak hal lainnya juga yang menyakiti kamu, setelah lahir. Hingga saat ini, semua itu akan sirna. Dengan kebahagiaan yang akan kamu temukan nanti di depan, di ujung lorong yang kamu lewati selama ini." Ucap Bagas menenangkan Anya.
"Pasti ada cahaya indah yang menyambut. Waktu akan mengantarkan kamu, kepada titik itu. Percayalah.." Lanjut Bagas.
***
Visual🌼🌼🌼
Anya dan Bagas selama beberapa hari di Bali 💚
__ADS_1