Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 52 - Ulang Tahun M²


__ADS_3

Bagas hanya diam, karena malu sudah merajuk pasal kostum anaknya.


***


1 minggu kemudian


Anya dan Bagas sudah menggunakan pakaian serasi. Gaun dan jas yang sangat elegan, membuat keduanya terlihat semakin cantik dan tampan.




Marchell dan Michaell sangat cocok dengan pakaian ulang tahun couple nya. Sengaja Anya memakaikannya baju lucu.




Anya memang banyak mengoleksi baju lucu seperti itu.


"Sayang, bulan depan kamu juga ulang tahun." Ucap Anya yang berada di dalam mobil, dengan Bagas dan kedua anaknya. Tentu saja Vian yang nyetir.


"Iya sayang. Kenapa?"


"Mau sekalian dirayakan bersama?" Tanya Anya.


"Gak, saya sudah punya rencana." Jawab Bagas tenang.


"Rencana apa?" Tanya Anya penasaran.


"Secret." Jawab Bagas tersenyum smrik.


"Kenapa mesti rahasia-rahasiaan? Kan yang ultah kamu, bukan saya." Tanya Anya sinis.


"Udah ah sayang, nanti juga kamu tahu. Ini juga kejutan untuk kamu." Jelas Bagas.


"Whatever you want." Balas Anya acuh.


"Udah dong, jangan marah. Cantiknya ilang tuh!" Ucap Bagas mencubit hidung Anya.


Anya hanya cemberut tanpa merespon apapun.


"Tuan, sudah sampai." Ucap Vian sopan.


"Buka pintunya." Perintah Bagas.


"Baik tuan." Balas Vian.


Anya menginjakkan kaki kiri kemudian kaki kanannya. Dia menggendong Marchell.


Semua karyawannya berdiri di samping kiri dan kanan menyambut Presdir dan keluarganya.


Anya tersenyum elegan, Bagas menyusul Anya dengan menggendong Michaell, sangat berkharisma.


"Malam tuan."


"Malam nyonya."


"Malam twins baby boy."


"Malam pak Vian."


"Malam." Jawab semuanya serempak. Kali ini Bagas menjawab sapaan karyawannya.


Mereka berjalan elegan melewati para karyawannya. Vian tak kalah keren dari majikannya, ya meskipun dia masih setia menjomblo.


(Ada yang mau sama Vian gak? Direstuin author nih wkwk)


***


Acara pun dimulai, MC sudah membuka acara. Bagas sengaja memanggil ustadz untuk mendo'akan anaknya.

__ADS_1


Dan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, juga untuk penutupan do'a.


"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga..." Nyanyi Bagas, Anya, Vian dan para karyawan.


Anya dan Bagas mewakili kedua anaknya untuk meniup kue ulang tahunnya. Yang sangat besar dan tinggi.


Setelah penutupan acara. Bagas, Anya dan kedua anaknya kembali difoto.


Bagas sengaja memanggil fotografer profesional kepercayaannya untuk mengabadikan momen tersebut.


Dari awal hingga akhir momen tersebut difoto dan dividio oleh beberapa sang fotografer.


"Sayang, saya izin ke toilet." Ucap Anya menitipkan Marchell pada Bagas.


"Kamu kenapa sayang? Wajah kamu pucat begitu?" Tanya Bagas khawatir.


"Gak apa-apa, mungkin saya cuma kecapean aja." Balas Anya.


"Saya temani ya?" Tawar Bagas.


"Gak usah sayang, mereka bagaimana?" Balas Anya mengkhawatirkan kedua anaknya.


"Ada Vian." Jawab Bagas.


"Ya sudah, kamu panggil dulu." Ucap Anya.


Tiba-tiba Anya yang sudah tidak tahan lari turun ke bawah. Lantai terdekat, untuk ke toilet. Dia menemukan wastafel dan memuntahkan isi perutnya.


"VIAN!" Teriak Bagas. Vian pun segera menghampiri Bagas.


"Titip mereka!" Pinta Bagas kemudian berlari ke bawah.


Vian pun menjaga Marchell dan Michaell. Membuat para karyawan senang, dan menghampiri anak bosnya itu.


Karena mereka tidak berani bermain dengan anaknya Bagas jika di sana ada Bagas.


"Uuuhh lucu banget sih kalian."


"Pak Vian boleh yah kami main dengan mereka?" Tanya salah satu karyawannya.


"Boleh, boleh. Asal gak di apa-apain." Balas Vian becanda.


"Ya gak lah pak, masa iya kami ngapa-ngapain anaknya Presdir."


Di sisi lain..


"Ueekk.. hueeekk.." Anya sangat mual dan memuntahkan isi perutnya.


"Sayang! Kamu kenapa hm?" Tanya Bagas membantu Anya, memijat tengkuknya.


"Gatau nih. Mual banget, saya juga lemas dan pusing." Ucap Anya lemas.


Tiba-tiba Anya mendengar suara 'nging' yang sangat nyaring, pandangannya tiba-tiba gelap. badannya lemas tak bisa bergerak. Dan..


"Argg.... Bruukk.." Anya lemas dan terjatuh di pangkuan Bagas.


"Sayang?" Tanya Bagas menompang tubuh Anya sigap.


Bagas menggendong Anya ala bridal style. Dia menuju ke mobil pribadinya.


"Vian, Lo ke bawah. Gue udah di mobil!" Ucap Bagas, untunglah dia membawa kunci serep.


"Kenapa?" Tanya Vian.


"Tut... Tutt..." Sambungan terputus.


Untunglah acara tersebut sudah selesai dan ditutup. Para karyawan masih menikmati hidangan dan berbincang-bincang.


"Kalian nikmatilah pestanya. Saya duluan!" Ucap Vian pada para karyawan. Sambil membawa kedua anaknya Bagas.


"Bapak mau pulang?"

__ADS_1


"Kemana tuan Bagas?"


Tanya para karyawan.


"Tidak apa-apa, kita hanya ingin istirahat. Lanjutkan saja!"


***


Di mobil*


"Mau ke rumah sakit dulu?" Tanya Vian.


"Iya, kita ke rumah sakit untuk mengecek kondisi Anya." Balas Bagas.


"Baiklah."


Marchell dan Michaell tertidur di kursi depan, pinggir Vian. Sedangkan Anya masih setia duduk di pangkuan Bagas yang masih memejamkan matanya.


"Emmm.. dimana ini?" Tanya Anya siuman.


"Kamu sudah bangun?" Tanya Bagas tanpa menjawab pertanyaan Anya.


"Hmm."


"Kita ke rumah sakit ya?" Tanya Bagas.


"Gak usah sayang, kita pulang aja. Saya tidak apa-apa kok, saya juga ingin segera tidur." Jawab Anya.


"Hah? Dimana Marchell dan Michaell?" Tanya Anya teringat pada kedua anaknya.


"Tidak perlu syok begitu sayang. Mereka juga anak-anak saya, mana mungkin saya meninggalkan mereka. Itu mereka, di depan tertidur. Sepertinya mereka juga kelelahan." Jawab Bagas.


Anya hanya menganggukkan kepalanya dan kembali tidur, dia masih setia di pangkuan Bagas.


Bagas dan Vian menggendong Marchell dan Michaell ke kamar Bagas dan Anya.


Sedangkan Anya berjalan pun pelan, karena masih pusing.


"Gas, gue pamit pulang." Pamit Vian berjalan ke luar kamar Bagas.


"Oh iya, masalah di kantor sudah di handle oleh-" Ucap Vian kembali menghampiri Bagas, namun terpotong oleh Bagas.


"Gue dah tahu. Pesta tersebut dari awal sampai akhir memang sudah dihandle. Dan itu memang pekerjaan mereka. Lu pulang aja, lu juga pasti lelah." Jawab Bagas cepat.


Vian hanya mengangguk.


Keesokan harinya*


"Sayang, kamu mau ikut ke kantor?" Tanya Bagas yang sedang memakai dasinya.


Biasanya Anya yang selalu membantunya. Kali ini, Anya tak berdaya dan hanya tertidur lemas.


"Gak sayang, hari ini saya benar-benar lelah." Jawab Anya.


"Saya gak akan pergi, kalo begitu." Ucap Bagas khawatir. Dia duduk di samping Anya dan mengecek suhu tubuhnya.


"Gak apa-apa, pergilah. Kamu ada meeting hari ini." Jawab Anya, dia memang masih sekertaris pribadi Bagas.


"Ada Vian sayang, dia bisa handle." Jawab Bagas mengusap rambut panjang Anya.


"Tidak perlu, kasian Vian. Dia selalu mengantikan kamu sayang."


"Yasudah, kalo ada apa-apa kamu harus telepon saya." Ucap Bagas mengecup kening, turun ke kelopak mata kanan dan kiri, kemudian pipi kanan dan kiri, lalu ke hidung, ke dagu dan terakhir bibir. Di sana dia lebih lama dan **********.


"Hmm." Respon Anya mengangguk, setelah Bagas selesai dengan aksinya.


Bagas menciumi kedua anaknya yang masih tertidur pulas.


"Bye. Twin baby boys." Ucap Bagas mencium kedua anaknya.


***

__ADS_1


__ADS_2