Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 60 - Hamil Lagi?


__ADS_3

Sedangkan Michaell sibuk ngemil. Rachell yang tertidur pulas, tak terusik oleh keributan orang tuanya.


***


8 bulan kemudian.


Rachell ulang tahun yang ke satu tahun. Dan Bagas merayakannya di panti asuhan. Dengan membagikannya beberapa Snack dan uang pada anak-anak yatim piatu.


"Kamu modifikasi gimana lagi, anak kita?" Tanya Bagas melihat Rachell.


"Apaan sih kamu, emangnya motor apa?"


"Ya maka dari itu, jangan di macem-macemin anak kita!"


"Aisss anak bunda, kenapa nutup muka gitu? takut ya sama ayah?"



Bagas hanya membuang nafas panjang, dan mendekati Rachell.


Mereka pun langsung berangkat ke panti.


Setelah acara do'a dan sambutan. Bagas langsung membagikan semua hadiahnya.


"Gak kerasa Rachell udah cepet nih gedenya." Ucap Anya.


"Iya dan M² makin gede aja." Jelas Bagas.


"Hmm.. kamu gak makan bang?" Tanya Anya.


"Ayo kita makan?" Ajak Bagas.


"Gak ah, saya gak nafsu." Balas Anya merasa mual.


Tiba-tiba kepalanya terasa berat dan pusing. "Sayang, kita pulang aja yuk. Lagi pula acaranya udah selesai. Sepertinya saya tidak enak badan nih." Ajak Anya.


"Yaudah sayang, ayo kita pulang."


"Vian. Kita pulang!" Ucap Bagas pada Vian.


"Kenapa gak nyantai dulu aja Gas?"


"Anya lagi gak enak badan." Jawab Bagas.


"Oh oke. Ayo pamit dulu, ke pemilik panti."


Di tengah perjalanan.


"Vian, mampir ke RS!" Pinta Bagas.


"RS Dream Khristal Jaya?" Tanya Vian.


"Emang menurut lo, RS mana lagi?"


"Hmm."


"Loh kenapa sayang?" Tanya Anya.


"Kamu kan gak enak badan. Jadi, lebih baik kalo diperiksa." Jelas Bagas.


"Saya gak apa-apa. Istirahat sebentar juga pulih." Balas Anya.


"Udah nurut aja!" Pinta Bagas.


Anya pun hanya bisa pasrah.


Setibanya di RS pribadinya.

__ADS_1


"Nyonya Anya tidak apa-apa. Beliau bukan sakit, tetapi sedang mengandung. Itu adalah efek dari hamil muda." Jelas dokter Ana spesialis kandungan.


"APA?" Tanya Anya dan Bagas kompak.


"Hmm?" Tanya dokter Ana melongo dan heran.


"Kamu hamil lagi sayang?" Tanya Bagas.


"Anya gak tahu bang. Tapi, sepertinya Anya memang telat datang bulan." Jawab Anya gelagapan.


"Kapan terakhir mens?" Tanya dokter Ana.


"Tanggal 6 kemarin dok." Jelas Anya.


"Emm usia kandungannya diperkirakan 1 bulan." Jelas dokter Ana.


"Pantas saja tadi saat pemeriksaan, dialihkan ke spesialis kandungan." Jelas Bagas.


"Sayang... Kamu?" Anya bertanya dan takut Bagas tidak menerima kehamilannya.


"Iya sayang? Saya sangat bahagia, kita kan memang sama-sama mau punya 5 anak. Baru punya 3, tinggal 2 lagi. Sekarang otw 4. Tentu saja saya sangat bahagia." Jelas Bagas yang peka.


***


1 bulan kemudian.


"Ohh dia sedang mengandung lagi? Sudah setahun setelah kejadian di Padang waktu itu, dan mereka terlihat semakin bahagia saja." Ucap Mela yang sedang memperhatikan keluarga kecil Bagas di balik kaca dalam mobilnya.


Mela memperhatikan Bagas yang sedang mengelus perut Anya, sambil tersenyum bahagia sebelum berangkat ke kantor.


Mereka bercengkrama di depan rumahnya, Anya selalu mengantarkan Bagas sampai gerbang utama.


"Sudah cukup strategi gue buat balas dendam." Ucapnya lagi.


"Hallo. Lo bawa dia ke atas gedung, dorong dia sampai jatuh dari gedung!" Ucap Mela dalam panggilan.


"Baik bos." Balas preman suruhan Mela.


Bagas yang berdiri di atas, sedang memperhatikan dari atas alat kerja yang ingin dia jadikan produk air mancur dan air terjun. Untuk membunuh virus gatal-gatal yang sedang marak terjadi.


"Tuk... Tuk.." Suara sepatu preman itu terdengar oleh Bagas.


Ketika Bagas ingin menoleh ke belakang. Kepalanya dipukul keras oleh kayu jati. Membuat Bagas tak sadarkan diri dan terjatuh dari atas gedung.


"Byuuuuurrrr......"


Untunglah Bagas terjatuh ke kolam yang berisi air mancur dan air terjun buatannya itu.


Semua bawahannya yang berada di bawah panik dan sigap menolong Bagas, dan membawanya ke rumah sakit.


Vian yang baru tiba, setelah meeting dengan Clint dari Belanda. Kolega bisnis nya Bagas. Dengan cekatan berlari, mendekati Bagas.


"BAGAS!" Teriak Vian panik.


"Pranggggg..." Cangkir yang sedang Anya pegang terjatuh.


"Astaghfirullah."


"Bibi. Tolong bantu beresin ya bi. Biar anak-anak sama saya." Pinta Anya.


"Baik non."


Perasaan Anya menjadi tidak enak. Tak karuan.


"Aduh.. semoga tidak ada apa-apa." Ucapnya mengelus dada.


"Assalamualaikum, sayang." Ucap Rara yang baru tiba, lalu berlari ke arah Anya yang sedang berada di lantai 1. Di ruang tamu dekat dengan pintu masuk.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam."


Rara menghambur ke pelukan Anya. "Mamah? Kok gak ngabarin mau ke sini? Kalo gitu kan Anya bisa masak atau bikin apa kek buat mamah." Tanya Anya.


"Gak usah sayang, mamah sengaja ke sini. Baru pulang arisan. Mamah kangen sama kamu dan anak-anak." Jawab Rara melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap Anya.


"Mamah gak kangen sama bang Bagas?" Tanya Anya, karena nama Bagas tidak Rara sebut.


"Kenapa harus kangen, dia sering ke kantor papah. Jadi sering ketemu deh. Gak jarang juga suka mampir ke rumah mamah." Jelas Rara.


"Emm gitu mah. Yaudah makan siang yuk, kebetulan tadi ART udah masak." Ajak Anya.


Rara hanya mengangguk.


"Drett.... Drettt...."


Hp Anya terus berdering. "Hallo assalamualaikum. Kenapa Vian?" Tanya Anya setelah menjawab teleponnya.


"Wa'alaikumsalam Nya. Emmm anu,, anu Nya..."


"Kenapa Vian?"


"Bagas di rumah sakit." Jawab Vian akhirnya.


"APA?"


"Kenapa? Dia gak apa-apa kan?"


"Dia terjatuh di atas gedung. Dan menurut pemeriksaan ada luka di belakang kepalanya. Semua bawahannya sudah mencari tahu siapa pelakunya. Dan Bagas masih kritis, dia koma Anya." Jelas Vian tak tega.


"Apa? Hiks... Hiks... Saya akan ke sana sekarang." Jelas Anya sambil menangis.


"Saya jemput Anya, kamu sedang hamil. Tidak baik untuk mengemudi sendiri, apalagi keadaan sedang seperti ini. Saya takut kamu kenapa-kenapa nanti." Ucap Vian khawatir.


"Emm baiklah." Anya segera memutuskan sambungan teleponnya.


"Sayang ada apa?" Tanya Rara.


"Mah.. Bagas koma di rumah sakit, jatuh dari gedung." Ucapnya memeluk Rara.


"APA? Yang bener sayang? Kamu gak salah denger kan?" Tanya Rara.


"Gak mah. Vian barusan ngabarin." Jelas Anya.


"Saya akan telepon papah nya Bagas, dia sedang di kantor." Ucap Rara mencoba untuk tenang.


"Mah, papah pasti sibuk juga. Mamah kabarin aja dulu, saya akan ke sana. Tapi, Anya gak mungkin bawa ketiga anak-anak. Anya boleh titip sama mamah?"


"Iya sayang, kalo gitu kamu duluan. Nanti mamah nyusul sama papah." Jawab Rara akhirnya.


"Makasih mah."


"Sayang, kamu gak nyetir sendiri kan? Mamah khawatir kamu sedang hamil, dan perasaan kamu sedang tidak baik." Tanya Rara khawatir.


Untungnya Rara sedang main ke rumah anaknya, untuk bertemu menantu dan cucu-cucunya.


"Gak kok mah, nanti Vian jemput. Soalnya supir tadi nganter bi Inem belanja." Jelas Anya.


"Syukurlah. Hati-hati di jalan ya sayang."


Rara segera menelpon Bima dan memberinya kabar mengenai Bagas.


Sedangkan Anya sudah naik mobil bersama Vian.


***


Visual🌵🌵

__ADS_1




__ADS_2