
Setelah menghabiskan waktu bersama, mereka pun pulang.
***
4 bulan kemudian.
"Sayang, kamu yang tenang yah. Kamu sudah terbiasa bukan menghadapi situasi seperti ini?" Tanya Bagas duduk di sebelah Anya.
Anya terbaring lemah. "Hmmm..." Respon Anya yang sedang mengatur nafasnya.
"Anak-anak sama siapa?" Tanya Anya.
"Sama orang tua kita, tenang aja." Jawab Bagas.
Anya mengangguk paham.
" Nyonya Anya, tuan Bagas. Kita akan pindah ke ruangan bersalin." Ucap sang dokter kandungan, setelah memeriksa Anya baru pembukaan berapa.
"Nyonya Anya harus tenang ya. Jangan panik, meskipun ini persalinan ketiga. Pasti ada rasa takut bukan?" Tanya dokter Ana.
"Iya dok. Walaupun Anya udah ngelahirin 3 kali, termasuk si kembar. Masih aja ada gugupnya." Jawab Anya santai.
"Tentu saja pasti gugup, berapa sering pun kamu melahirkan. Saya tahu perjuangan kamu dari awal pernikahan, dan pertama kalinya mengandung. Hingga saat ini." Jelas Ana.
"Iya dok."
"Kamu ibu yang hebat!" Puji dokter Ana.
"Semoga ya dok." Jawabnya tertawa kecil.
Beberapa menit kemudian.
"Tarik nafas sayang." Ucap Bagas yang menemani persalinan.
"Huhhh... Haaahh..."
"Ayo sayang, kamu pasti bisa." Ucap Bagas menyemangati.
Anya memegang erat tangan Bagas. Kemudian berpindah ke rambut. "Aduh.. sayang sakit dong. Lepasin sayang." Ucap Bagas mencoba melepaskan tangan Anya.
"Heeeekkkk.... Huuhh haaahhh... Heeeekkk.."
"Owekkkk... Oweeee..."
Bayi pun lahir dengan selamat dan persalinan normal.
Sementara itu, bayinya dokter Ana simpan di perut Anya sebentar. Anya dan Bagas memegangnya sambil tersenyum.
"Cantik banget mirip sama kamu sayang." Ucap Bagas.
Anya tersenyum. "Pasti dia sepintar kamu." Jawab Anya.
"Saya bersihkan dulu ya." Ucap suster mengambil bayinya.
Setelah dibersihkan dan dipakaikan pakaian bayi. Bagas segera mengadzaninya.
***
4 bulan kemudian.
Acara ulang tahun Rachell yang kedua. Richaell Prinsiska Angella anak ke empat Anya dan Bagas sudah menginjak usia 4 bulan.
Anya menggendong bayinya. Bagas bersama Rachell dan Marchell juga Michaell mendampingi mereka.
Marchell dan Michaell sudah 3 tahun 8 bulan. Sebentar lagi mereka 4 tahun. Melihat anak-anaknya yang semakin besar. Tumbuh dengan baik, membuat Anya dan Bagas sangat terharu bahagia.
"Ayo sayang tiup lilinnya." Ucap Anya.
Anya, Bagas, Marchell, Michaell, dan juga Rachell meniupnya bersama. Tentu saja, Richaell belum bisa tiup lilin.
__ADS_1
Setelah acaranya selesai. Bagas dan Anya membuka satu persatu kadonya. M² ikut-ikutan mau buka kado.
"Buna mau bantu." Ucap Marchell.
"Michaell pun."
"Sini-sini sayang." Ucap Bagas.
Richaell di simpan di ayunan bayi dekat mereka. Sementara Rachell sibuk makan kue ulang tahunnya.
"M² mau sekolah gak?" Tanya Anya.
"Nda ah Bun, masih kecil." Jawab Michaell.
"Marchell sebenalnya mau Buna. Tapi, Michaell maca ditinggal." Jawab Marchell.
"Nanti kalian sekolah TK usia 6 tahun aja. Sekarang kan SD harus genap 7 tahun. Biar pas waktu juga, dan kalian udah siap yah." Jelas Anya mencium satu persatu anaknya.
"Iya Buna." Jawab keduanya dan mencium pipi Anya bersamaan.
"Ayah gak dicium nih?" Tanya Bagas.
Mereka pun berjalan mendekati Bagas dan menciumnya bersamaan.
"Yuk siap-siap kita berenang di kolam." Ajak Bagas.
"Hole hole..." Ucap M² girang.
Bagas mengajari anak-anaknya untuk berenang. M² dan Rachell berenang memakai pelampung.
"Ayo kita ke kolam yang kecil." Ajak Bagas membawa anak-anaknya ke kolam yang di sudut. Khusus anak-anaknya.
Sementara itu, Anya mengendong bayinya. Richaell yang masih kecil. Duduk di kursi dekat kolam. Anya ingin ikutan, tapi dia memikirkan Richaell.
Dia semakin mendekati kolam, dan duduk di tepi kolam. Kakinya masuk ke air, masih mengendong bayinya. Melihat suami dan anak-anaknya yang sedang asyik berenang.
"Sayang, mau ikutan?" Tanya Bagas peka.
"Bi, titip Richaell." Ucap Anya berdiri dan memberikan anaknya pada bi Inem.
Anya ganti baju, memakai baju yang lebih ringan untuk berenang. Sementara itu, bi Inem duduk sambil menjemur Richaell.
"Byuuuuurrrr..."
Tanpa aba-aba Anya loncat ke kolam. Menciptakan cipratan air. Bagas dan anak-anak heboh.
"Buna!"
"Wow..."
"Hole.."
Anya memikirkan ide untuk mengerjai suaminya. "Ayah! Ayah... Tolongin."
"Ayah. Tolongin Bunda." Teriak Anya.
"Jangan bercanda. Kamu kan udah lumayan bisa renang?" Respon Bagas.
"Aaaaa.... Tolong!"
Kemudian Anya tak muncul lagi ke atas kolam. Dia semakin jatuh ke dasar kolam. Bagas mulai panik. "Sayang!"
"Buna!" Teriak M².
"Angel!"
Bagas segera berpindah ke kolam yang dalam. Yang masih sekolam dengan kolam kecil khusus untuk anaknya.
Bagas terus menyelam ke dasar kolam. Melihat Anya yang jatuh semakin dalam, dan kedua matanya terpejam. Membuat Bagas takut, dia kemudian mengangkat Anya.
"Sayang!"
__ADS_1
Bagas menidurkan Anya ke tepi kolam. Dia menekan-nekan dadanya Anya, beberapa kali. Dia mengingat kejadian dulu.
Bagas tak ragu memberikan nafas buatan. Meskipun di depan anak-anaknya dan bi Inem.
"Den Bagas, non Anya gak apa-apa kan?" Tanya bi Inem mendekati Bagas dan Anya.
"Gak tahu bi." Jawab Bagas, kemudian memberikan nafas buatan.
Bagas memberikan nafas buatan sambil menekan-nekan dadanya. Bergantian melakukan hal yang sama.
Anya membuka matanya, ketika Bagas masih memberikan nafas buatan. Anya tersenyum dan memegang kedua pipi Bagas.
"Kamu becanda? Kamu bo'ong?" Tanya Bagas setelah melepas nafas buatannya.
Anya mengangguk sambil tersenyum. "Ahh rese." Ucap Bagas meninggalkan Anya. Dan kembali berenang ke kolam kecil khusus anak-anaknya.
"Sayang!" Panggil Anya. Anya mengejar Bagas dan memegang lengannya." Maafin yah."
Bagas diam memasang wajah dinginnya. Sambil mengawasi anak-anaknya. Anya mencium sekilas bibir Bagas. "Cup.."
Bagas masih diam dengan wajah datar. "Sayang?" Tanya Anya.
Kemudian setelah beberapa menit berenang Bagas membawa anak-anaknya dan memandikan anak-anaknya. Anya berusaha mencairkan suasana juga membantu memandikan anak-anaknya.
"Kamu marah sayang?" Tanya Anya.
"Nggak." Jawab Bagas dingin.
"Maafin, Anya cuma iseng tadi. Mau lihat aja-"
"Bawa mereka ke kamar." Potong Bagas.
"Sayang!"
"Bi, jagain anak-anak ya." Pinta Anya kepada ART yang lain. Karena bi Inem masih mengasuh Richaell.
Anya menarik lembut lengan Bagas. "Ayo kita berenang. Anya baru sebentar berenang." Ajak Anya.
"Gak usah." Jawab Bagas.
"Tapi Anya mau berenang Abang!" Tegas Anya.
"Berenang aja sendiri."
"Gak bisa dong." Jawab Anya.
"Kenapa? Bukannya tadi bohong ya?"
"Iya, maafin Anya bang. Anya ka-"
"Udah deh. Gak usah diperpanjang!"
"Abang!"
"Apa?"
Anya pun meninggalkan Bagas dan berenang sendiri. Untuk menenangkan hatinya. Mau tak mau Bagas mengikuti Anya. Untuk memperbaiki masalah tersebut.
"Yang salah siapa, gue juga yang harus ngalah." Keluh Bagas setelah Anya pergi.
Akhirnya mereka berenang berdua. Awal-awal masih diem-dieman. Lama-kelamaan semakin dekat dan romantis.
Pasutri yang udah kadaluarsa ini masih saja seperti ABG yang baru pacaran.
***
Visual🪩🪩🪩
__ADS_1